“Ujian Nasional” ala Kurikulum Amerika Serikat?

Kurasa sih, kalau kiblat kita adalah negara-negara yang menganut sistem “welfare state” (kesejahteraan bersama) seperti sebagian besar Eropa Barat, Kanada, dan Australia, ya pasti urut dada, deh, hihihihi.

Sekadar penyeimbang, dengan sistem pendidikan yang nampak semanis madu begitu, tolong diingat ada PAJAK YANG CUKUP DAHSYAT yang harus dibayar oleh kalangan profesionalnya πŸ™ˆπŸ™ˆ.

Karena kami datang dari Arab Saudi yang gaji gross persis gaji nett, kaget banget terima slip gaji pertama di Irlandia.

“Gilak! Dirampok!” Gitu kata suami saya πŸ€£πŸ€£πŸ€£.

Dibandingkan dengan Eropa-Kanada-Australia, pajak di Amerika Serikat tidak sebesar itu. Tapi inget, di “welfare state” umumnya sanggup menyediakan sistem pendidikan yang merata sampai ke pedalaman yang mungkin rumahnya cuma sebiji dua biji sisanya hutan dan sawah πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜.

“Welfare state” juga memberikan sistem kesehatan yang bisa dibilang “merata”. Sesuai makna harfiah “kesejahteraan bersama”, susah senang kita tanggung sama-sama.

Ah, indahnya dunia. Enggak juga kalok gaji lu udah ada di level potongan pajak 35% πŸ˜πŸ˜πŸ˜.

Kalian tahu kan,ada pembalap senior Jerman yang memilih tinggal di Swiss (segala harta benda tarok di Swiss walo WN masih Jerman πŸ˜). Swiss tidak termasuk Uni Eropa dan punya sistem perpajakan yang tidak sekejam Jerman (buat orang-orang berpenghasilan tinggi). And he’s not the only one.

Tidak sedikit pesohor-pesohor dunia asal Eropa yang memilih hengkang ke US demi biar “hartanya tidak dirampok” pemerintah πŸ˜πŸ˜πŸ˜.

Kembali ke topik sistem pendidikan … what will happen if you live in a country yang jumlah penduduknya di atas 100 juta orang?

Tidak banyak negara yang punya penduduk segabruk yang bisa menyamai “privilege” kehidupan ala orang-orang di “welfare state” ;).

Tapi kalau kita sederhanakan dengan terminologi negara dengan kekuatan ekonomi yang besar, surprisingly, dua negara teratas adalah Amerika Serikat dan China.

Dari survei-survei PISA atau apaan lah itu kemarin yang ramai, kedua negara ini masuk dalam negara-negara yang dianggap punya sistem pendidikan lumayan mumpuni.

Tapi jangan dikira, kurikulumnya se”rileks” di Eropa-Kanada-Australia 🧐😁.

Public school di Amerika Serikat menggunakan sistem zonasi yang ketat. Aturannya simpel. Kalau orang tua murid tidak sanggup membayar atau menyewa properti di pemukiman mewah, ya silakan nikmati public school seadanya.

Yup, public school diongkosi oleh PBB lokal πŸ˜. Kasarnya, situ tajir ya sekolah lu bagus, kalo gak tajir ya mutu sekolahnya gitu deh.

Makanya, di USA, sekolah swasta itu menjamur dan banyak peminat. Persis kayak di mana? Ya kayak di Indonesiaaaaaaaaaa πŸ€£πŸ€£πŸ€£.

Kami pernah nyangkut di Texas setahun. Jadi anak-anak saya (#boy1 dan #boy2 sempat menikmati public school gratis setahun). We did our research dan sudah paham kalau sekolahan di Texas ya mayan kerja keras jugak.

Karena segala apartemen disewain kantor di tempat yang mentereng dapatlah kami public school rating 9/10. One of the best di daerah situ.

Mereka kenal UJIAN NASIONAL gak sih? Bukan cuma UJIAN NASIONAL di tingkat akhir elementary school, tapi TIAP TAHUN sejak kelas 3 SD! πŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆπŸ˜….

Saya pikir ujian biasa-biasa aja kayak di Ireland. Ireland juga ada ujian kompetensi tiap tahun loh. Tapi ya ujiannya gak dibikin extravaganza macam ujian nasional gitu yang bikin enyak babe gak bisa tidur hahahaha.

Di tiap negara bagian di USA mereka punya tes standar tahunan buat siswa elementary sejak kelas 3 tadi itu. Di Texas namanya STAAR Test (State of Texas Assessments of Academic Readiness – Test).

Ujiannya dah macam EBTANAS/UN gitu. Diadakan di AULA sekolah. Jadi siswa di kelas lain biasanya libur kalo ada STAAR TEST. Tegang kali pun. Waktu mengantar dia ke bus sekolah di hari STAAR-Test udah kayak nganterin anak mau UMPTN hahahaha.

Dan itu diulang sampai kelas 8 gusti Allah πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜….

Nanti hasilnya bisa dilihat dan digunakan sebagai salah satu parameter kualitas sekolah secara umum. Kayak di mana? Kayak di Indonesiaaaaaaaa 🀣🀣🀣🀣.

Ada grade-gradenya jugak. Anak saya kelas 3 waktu itu. Tentu dengan bimbingan TIGER MOM yang sudah meraung sejak beberapa bulan sebelum tesΒ πŸ™ˆπŸ˜, walau dia pindahan dari Ireland, tentu hasilnya –> mendapatkan grade tertinggi, MASTER, di semua mata pelajaran 😎😎😎.

Eh, cuma 2 deng pas kelas 3 : Math and Reading kalau gak salah.

Pas kelas 4 ditambah WRITING. Kelas 5 ada SCIENCE. Kelas 6, 7, 8 ada tambahan lagi. Pokokknya makin susah lah intinya. Kelas 9 ke atas ya tambah ribet pastinyaaaaaa.

Kita berbicara tentang Negara Jantung Dunia yaaaaaa, bukan negara ecek-ecekΒ :p. Negara di mana banyak inovasi bermunculan menjadi penguasa dunia. Negara yang menjadi tempat kuliahnya si Mendikbud kita yang terbaruΒ #ehΒ :p.

Saya tidak bisa cerita banyak soal Cina selain keheranan suami saya waktu assignment ke Cina beberapa tahun lalu. Di jam pulang kantor suami terheran-heran melihat banyak anak sekolah berkeliaran di jalan.

Dia nanya ke temennya. Temannya menjawab santai, “Lah, emang jam pulang sekolah kan?”

Jam 5 sore, jam pulang sekolah anak-anak level SMP kalau gak salah. Suami langsung keringat dingin πŸ€£πŸ€£πŸ€£. Betapa dia memuja China yang kekuatan ekonominya sudah melampaui Jepang. Ternyata, tidak sedikit “harga” yang harus dibayar.

China kejam ya? Ya coba aja bayangin lu harus ngurusin lebih dari 1 milyar anak vs cuma punya puluhan juta anak.

Jepang sendiri tidak bisa dianggap hura-hura. Dulu temen saya ada yang ngomel karena ada siaran radio yang narasumbernya sotoy bilang di Jepang gak ada PR sampai kelas 6. Dese ngamuk, “Gak ada PR mbahmu!!!!!” πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚.

Oiya, Irlandia ada PR setiap hari sejak TK A / Junior Infant β˜ΊοΈβ˜ΊοΈβ˜ΊοΈβ˜ΊοΈ. ((SETIAP HARI)) literally πŸ˜ŽπŸ˜ŽπŸ˜Ž. Dibandingkan Eropa Daratan, Republik Irlandia memang tidak santai-santai amat, sih :D. Umur 4 tahun di sekolah dah belajar baca-tulis-hitung secara teratur, boooo ;).

Timur Tengah gak usah dibahas. Makin stres nanti hahahaha.

Saya tidak mendukung UJIAN NASIONAL atau semacamnya. Tapi hanya menawarkan perspektif lain soal SISTEM PENDIDIKAN DI DUNIA INI :). Yang sungguh tidak ada adil jika dibandingkan secara “kasat mata” tanpa mempertimbangkan kestabilan politik, kekuatan ekonomi, sistem sosial budaya, JUMLAH PENDUDUK (huruf besar nih hahahaha) dst dst dst.

Fakta bahwa INDONESIA adalah negara kepulauan terbesar juga jangan disepelekan. Bekerja sebagai business analyst di area Supply-Chain Distribusi di Unilever dulu, kenyang daku mendengar keluhan user yang KPI-nya jungkir balik karena beratnya medan distribusi di Indonesia :(.

SEmentara harus bersaing dengan Thailand yang jelas-jelas satu daratan doang. Menang banyak mereka. Dulu jalan tol aja belom ada di Sumatera. Lah apa kabar Indonesia Timur? Itu jangan dikira bukan kendala besar.

Duh, ini belum bahas tingkat KORUPSI yang disangka gak ada hubungannya tapi adalah JIWA UTAMA setiap kebijakan pemerintah termasuk urusan pendidikan :(.

Ah, bosan meracau soal ginian mulu. Tapi ya gimana, setiap ada yang memuja-muja welfare state, sungguh kuselalu merasa harus turun gunung dan bersenandung lagu Sherina favorit saya, “Lihat segalanya lebih dekat dan kau akan mengerti …” πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°.

BINDING US TOGETHER

Video ini dari salah satu vlogger soal makanan favorit keluarga saya hehehe. Food Ranger, pasti sudah banyak yang tahu.

Yang satu ini tentang salah satu pemukiman muslim di wilayah Cina. Hidupnya normal-normal aja kok. Ini di luar wilayah Xinjiang yang memang area konflik –>

Salah satu negara favorit suami dalam urusan perut saat assignment ya Cina ini hehehe. Sampai kusempat khawatir pas dia Wuxi (China), jangan-jangan dese gak mau pulang πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ™ˆ.

Lucunya, di tim suami kan mayoritas engineer dari India (di kantor Ireland sini). Sebut saja ABC, engineer India yang dikirim ke Cina sebelum suami, eeeehhh orangnya stres minta pulang karena gak bisa makan! πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Makanya digantiin sama suami saya. Terus temen lain di tim pada heran, “Si ABC mah dikirim ke Cina mau mati minta pulang, si Dani ke Cina dah kek ketemu surga makanan” πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜Ž.

Masakan Cina memang lebih lekat ke lidah kita ya. Walau kami sekeluarga juga doyan makanan India-Pakistan-Arab.

Gambar : pixabay.com

Tapi sebaliknya, orang India merasa aneh dengan nasi putih polos ala orang Indonesia. Apa rasanya, tanya teman saya pas saya undang ke rumah hidangin nasi putih + soto ayam.

Mereka sehari-hari makannya nasi biryani. Sepolos-polosnya nasi India tetap ada beberapa rempah dan garam, jadi tetap ada rasanya.

Orang Cina sebaliknya. Mirip dengan orang Indonesia. Malah Cina ini mayoritas noodle dan sup yang lebih ke arah gurih bening. Kontras dengan kari-karian ala India-Pakistan-Ara yang kental dan kaya rempah, manis-asem-pedas menyatu semua.

Belum lagi jenis nasinya. Di area Asia Selatan dan Timur Tengah mereka mengenal nasi basmati. Asia Timur dan Tenggara lebih familiar dengan long grain, jenis beras khas Indonesia kayak kita.

Itu beda banget. Kalau basmati lebih kering dan tidak lengket.

Keluarga kami suka dua-duanya. Saya simpel aja, pas di Jeddah, karena long grain lebih murah kami makan long grain tiap hari. Pindah ke Ireland, basmati lebih murah, ya kami makan basmati. Di Texas, tergantung yang mana yang diskon, hidup jangan dibikin susah πŸ€‘πŸ€‘πŸ€‘πŸ€£πŸ€£πŸ€£.

Seorang teman India pernah iseng beli beras long grain dan nanya ke saya, “Gimana ya cara masak beras gituan biar gak lengket?” Lah gimana, ya emang kudu lengket kaaaaannnn 🀣🀣🀣. Kita malah makin pulen makin doyan.

Nasi pulen, yummy ^_^ (gambar : ichibansushi.co.id)

Orang India gak suka makan segala jenis noodle/mi hihihi. Tapi ada dulu tetangga di gedung lama dari Pakistan yang tergila-gila sama mi goreng karena dia pernah kuliah di Brunei. Sedihnya, dia tahu Thailand, Malaysia, bahkan Australia tapi dia gak tahu kalo ada negara yang namanya Indonesia πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…πŸ™ˆ.

Ini hal yang umum banget, kok. Gak usah baper. Indonesia memang tidak terkenal buat orang India :p. Sementara kalian suka ngerumpiin India miskin bla bla bla, orang India kenal Indonesia aja kagak hahahaha.

Tetangga Pakistan ini juga suka sate dan kecap manis tapi jarang bikin masakan Indonesia karena suami dan anak-anaknya gak suka. Waktu saya hamil muda dan mau pingsan kalau lihat dapur (hahaha), dia rajin mengirimkan nasi biryani dan sup-sup (dia buat yang bening loh) buat kami.

Baik Cina maupun India, keduanya sangat ketat dengan selera lidah. Di mana pun mereka merantau, sangat menjaga selera tradisional.

Mungkin karena itu ke mana pun merantau atau traveling, yang namanya restoran India atau restoran Cina itu adaaaaaa aja ^_^.

Saya suka masakan India maupun Cina. Enak semuaaaaaaaa. Sejak tinggal di Ireland, jadi rajin bikin biryani dengan panduan teman-teman India di sini. Kalau yang mi goreng atau dumpling-dumpling-an mah, gak osah diajarin, memang bukan menu aneh ya buat lidah Indonesia kita.

Olahan noodle, masakan khas Cina yang juga umum di Indonesia ^_^

Justru saya paling enggak doyan Eropa-eropaan, kecuali lagi diet ketat hahahaha. Nah masakan yurop yang cuma panggang ama tabur-tabur secukupnya + sayur mentah sebanyak mungkin ini sangat pas kalo lagi kepepet nurunin berat badanΒ πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜….

Makan dikit aja udah kenyang soalnya gak selera kali ya hahahahahaha.

Kalau tidak salah, selera Eropa dikenal dengan istilah kontinental, sementara masakan Asia lekat dengan sebutan Oriental.

Tidak sedikit loh orang-orang Eropa yang tergila-gila dengan selera nusantara. Salah satu suami teman Indonesia di sini yang asli Irlandia sukaaaa banget sama ayam woku dan apa pun yang pedas-pedas hehehe.

Ah ya, masakan Meksiko juga nampaknya cocok buat lidah Asia. Selain mereka juga terbiasa makan nasi, bumbunya juga lebih variatif.

Salah satu cara paling asyik dan mudah untuk berkenalan dengan budaya masyarakat lain ya MELALUI MAKANAN.

Suka merasa sedih kalo ada yang sebar-sebar kebencian bahkan kepada kelompok yang sebenarnya LEBIH BANYAK PERSAMAANNYA dengan kita ketimbang perbedaannya :(.

Mungkin yang begini-begini enaknya diajak makan semeja dan menggragas bersama πŸ€£πŸ€£πŸ€£.

Kelian jangan lupa ya, Indonesia pun walau satu negara tapi kulinernya ampuuuunnnn, sumpah variatif abis. Terasa banget di keluarga kami karena suami asli Minang yang lahir dan besar di Jawa VS saya yang dari lahir sampai SMA tinggalnya di Sulawesi.

Suami terheran-heran dengan tambahan kacang tanah yang udah digiling halus ke dalam Coto Makassar atau Sop Saudara. Tapi enak kan Baaaaannnggg. Dese doyan πŸ˜‹πŸ˜Ž.

Sebaliknya saya dulu juga gak kebayang masak pakai kembang lawang itu kek mana, karena ini salah satu bumbu khas masakan Sumatera. Ternyata enaaaakkk πŸ˜πŸ˜πŸ˜.

Anak-anak kami tetap dicekokin masakan nusantara tiap hari. Gak papah, lidahnya udah susah beraksen Indoensia asli yang penting perutnya tetap fasih dengan cita rasa Soto Padang atau Sop Saudara, dua masakan khas daerah masing-masing kesayangan Papa-Mama nya πŸ˜‹πŸ˜‹.

Anw, got this somewhere di belantara Google –> FOOD is the ingredient that binds us together <3.

So true.

Jadi … masak apa kita hari iniiiiiiiiii πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°.

Daftarin Anak SMP di Irlandia, Langsung diterima Tanpa Tes? Kok?

Bulan kemarin anak saya mendaftar SMP di sini, I live in a little town in Republic of Ireland. Terus denger cerita temen yang mau balik Indonesia yang daftarin anaknya sekolah di sekolah internasional Jakarta.

It’s pretty hard to let them belajar di kurikulum nasional. Jadi mereka memilih sekolah internasional.

Surprisingly, saya pikir asal mau bayar, langsung cuuussss. Lah masih kena waiting list. Katanya mesti tes dulu dan itu harus dilakukan sebelum Juni. Karena peminat banyak. Whaaattt?? Ribetnyaaaaa. Padahal bayarnya mahal ye kaaaan :D.

Sementara itu, minggu lalu dah dapat kabar kalau anak kami udah diterima di SMP lokal sini hihihihihi.

Prosesnya mudah sekali. Tinggal datang ke sekolah, lihat-lihat, nonton pidato-pidato bla bla bla, pihak sekolah mamerin sekolahnya, sekolah buaguuuussss <3. Terus udah. Pulang dan tunggu kabar. Gak ada tes gak ada apa pun. Sesimpel masukin nama doang sama nama SD (primary school) nya.

Terus tau-tau diterima hahahahaha.

Salah satunya lebih karena SISTEM PERSAINGAN HAMPIR TIDAK ADA. Penduduknya sedikiiiiiiitttt. Beberapa kali saya dengar kabar ada sekolah yang di-SHUT DOWN karena kekurangan murid dan pemerintah tidak bersedia mendanai lagi πŸ˜…πŸ™ˆ.

Ngomongin kualitas juga gak usah terlalu khawatir antara kota kecil vs kota besar. Gitu-gitu juga kok. Hampir sama. Gak sulit menjaga kualitas sekolah di negara penduduk cuma 5 juta ini.

Anak saya pas saya bilangin di Jakarta itu ada 10 juta penduduk, dia bengong hahahaha. Masa iya katanya satu kota jumlah penduduknya bisa lebih besar daripada di satu negara? Abis itu ya kita ngobrolin Cina dan India serta USA, which is easier karena dulu pernah tinggal di Texas.

Anak saya terasa kok perubahan nyata dari Ireland ke Texas dulu. Di Texas teman jauuuuhh lebih banyak, banyak award-award (semacam rengking tipis-tipis hihihihi). Di Ireland mana adaaaaaaa. Santuuuuuyyyyy hahaha.

Lah ngapain jugak, wong nanti tinggal daftar ke SMP lokal kemungkinan diterima 90% tanpa tes, kok. When in Ireland, kasarnya … we can see THE FUTURE.

When I’m taking about the FUTURE, itu satu paket sama bayangan kita terhadap anak-anak setelah lulus sekolah. Harus kuliah? Gak osah mah. Lulus SMA sudah boleh apply-apply kerjaan di supermarket dengan gaji yang cukup layak.

Terus nanti kalau mereka menikah dan punya anak, ya udah kebayang juga, wong sekolah gratis kok sampai gede, ada child benefit, ada tunjangan ana-unu kalau misalnya nganggur kelamaan, ada tunjangan sewa rumah segala (for emergency only ya).

Karena ibaratnya, asal mau dan tidak pilih-pilih, cari kerja di Irlandia tidak bisa dibilang susah. Lowongan pekerjaan gak pernah kurang-kurang rasanya. Slot buat 2-3 orang paling yang apply maksimal 10.

Di Jakarta, waktu masih kerja di MLI, pernah ngobrol sama HR soal lowongan pekerjaan admin yang sebenarnya cuma butuh lulusan SMA. Tapi yang apply bujubuneng, butuh cuma 5 orang, aplikasi yang masuk lebih dari 100!

Lulusan S2 pun ada. Mau tidak mau, HR harus melalukan “sistem kompetisi”. Akhirnya dicek IPK segala. Ya abis kadang bingung mau gimana menurut HR. Diambil lulusan SMA beneran ya perusahana juga gak mau rugi, kalo ada lulusan S1 ngapain ambil anak SMA?

Kalau lulusan S1 ada yang dari negeri, mereka prefer yang negeri. Kalau sama-sama dari negeri, ya terpaksa dicari lagi yang IPK palingn tinggi. Kalau mau wawancara satu-satu ribeeeeettt, apalagi cuma level admin bukan MANAGEMENT TRAINEE.

Tetangga atas saya tuh di Ireland sini, istri cleaning service di perkantoran, suaminya delivery pizza, sepatu-sepatu anaknya gonta ganti.

Anaknya suka main ke apartemen saya, sahabatan dengan anak-anak kami. Kusuka bingung sepatunya gak pernah sama hahahahaha. Merek gak usah sebut, stres kau nanti πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚.

Mereka ini anaknya satu tapi mobilnya 2! Karena dua-duanya kerja. Kerjanya ya itu tadi. Suaminya dulu-dulu pernah jadi tukang listrik terus kerja di restoran, sekarang jadi supir buat delivery.

Tempo hari saya ngobrol dengan sang isitri soal jaket dese yang terbaru. “Wow, cool coat” kata saya sambil mengedipkan mata. Dia cekikikan, “From Zara, very good price.”

Clening service di Indonesia coba di-data berapa yang bisa beli mantel di Zara? Jangan yang seken ye kaaan hahahaha.

Kerjaan-kerjaan kayak gitu tetap menawarkan gaji yang tidak jomplang. Bisa halan-halan ke negara-negara Eropa daratan. Bisa pakai baju-baju bermerek, pokoknya gak akan keliatan status sosialnya kalau cuma papasan di jalan.

That’s the life they had (mostly) in western europe. Kayaknya mirip sama Aussie dan Canada ya. Di US yo jelas bedaaaaaaa hahahaha. Gak seindah itu :p.

Saya tidak punya jawaban SISTEM PENDIDIKAN TERBAIK apakah yang cocok buat Indonesia. Cuma kumerasa agak nganu aja kalau kita terlalu sering berkaca mentah-mentah dari negara-negara yang menerapkan sistem “welfare state” dengan berbagai kondisi yang jauh berbeda dengan Indonesia :(.

Waktu tinggal di Bern(Swiss), sering ketemu mas-mas yang nenteng gitar naik tram. Mau kerja, katanya. Kerjanya ya gitu jadi pengamen di stasiun. Bajunya rapi, area tinggalnya juga lumayan. Ternyata semacam pengamen “resmi” khusus di stasiun itu. Bisa hidup layak euy πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯° .

Bagai surga memang di Swiss, tapi surga mendadak mati lampu begitu kuterpaku dengan harga barang-barang di supermarket dan tentu saja … pajaknya yang aduhai walau tidak sesadis Jerman-Belanda.

Beda banget dengan Arab Saudi, yang gajinya turah-turah tanpa pajak, tapi tetep aja suka disangka pembokat hahahaha. Soal living in Saudi, saya udah sering cerita yes? Onak duri banyak tapi soal gaji, luar biasaaaaaaaaa mana kerjanya santai pula kata suami πŸ€‘πŸ€‘πŸ€‘πŸ€‘.

Gusti Allah, adakah hidup di dunia yang senyaman di Indonesia urusan keramahan dan kuliner murah-murah, gaji Timur Tengah (waktu era tanpa pajak hahaha), teknologi secanggih US, sistem pendidikan santuy yang macam Finlandia (katanya), jumlah penduduk kek Ireland, pemandangan alam ala Swiss (minus winter hahahaha).

Uniknya, yang terkenal “ngeri” urusan otak malah etnis Cina dan India. Mereka sering dikritik karena terlalu kejam soal pendidikan ke anak. Tapi diaspora mereka terus menyebar “mengancam” dunia di mana-mana.

Sampai-sampai konon beberapa uni di US harus “membatasi” dan sedikit diskriminatif soal etnis saking banyaknya 2 etnis ini di sana. Sik, sik, nanti kucari sumbernya kutaro di kolom komentar, ya (y)

Jadi gimana? Ya gak gimana-gimana. Ya emang rumit kok. Sekadar mengamati aja kuudah merasa tet-tot, gak kebayang jika harus menjadi pemangku kebijakan.

Begitulah. C’est la vie.

review film korea yang bagus Parasite 2019

Review Film Korea yang Bagus (2019) : PARASITE

Jarang-jarang ini review film korea yang bagus. Ada kok yang bagus. Salah satunya ya si PARASITE ini ^_^.

Info awal bahwa film ini pemenang Cannes, bahkan saya sudah nonton acara standing ovationnya di Paris, dan sedikit rumpian bahwa sutradaranya memang ‘complicated’ membuat saya bener-bener NONTON filmnya dengan SANGAT SERIUS hihihihi.

review film korea yang bagus 2019 : Parasite

Walau sejam pertama filmnya nampak ringan menghibur, saya tetap konsen nontonnya. Saya gak ketawa sama sekali karena tahu ni film pasti ‘nganu’ di akhir hahahaha. Spesialnya kan memang begitu. Kejutan di pertengahan sampai akhir.

Terus terang saya sedikit bingung dengan orang-orang yang mempertanyakan mengapa Mr.Kim harus mengambil tindakan ekstrim begitu di klimaks film menjelang akhir.

Salah satu kerennya film ini memang begitu. Topik yang sebenarnya rumit ditampilkan lebih sederhana. Gak ada percakapan-percakapan menusuk . Mengalir ringan semuanya. Muluuuuusssss (y).

Makanya nontonnya gak boleh terlalu rileks kayaknya, ya. Walau awalnya sangat komedi :p.

Parasite, kisah mengenai Keluarga Kim (suami – Kim Tae, istri Kim-Choong, anak laki-laki Kim-Woo, anak perempuang Kim-Jong) yang miskin dan hidup di slum-area di bangunan semi basement di pemukiman kumuh.

Mereka berempat akhirnya mendapat pekerjaan sebagai supir, ART, guru les buat anak-anak, di rumah Keluarga Park (dengan formasi anggota keluarga yang sama). Keluarga Park sangat tajir, compared to keluarga kim.

Kita disuguhkan fakta betapa cerdas-cerdasnya Kim-Woon dan Kim-Jong sebenarnya, but another facts bahwa anak-anak orang kaya juga banyak yang jenius itu memang pedih, Jendral!

Review film korea yang bagus 2019 Parasite

Seandainya DUNIA bisa lebih adil. Kaya pasti bego, ganteng/cantik pasti goblok, then life will be fair enough. But it’s not :'(.

One day, keluarga Park mau kemping sekeluarga untuk merayakan ulang tahun Park-Da Song, anak bungsu laki-laki mereka. Rumah ditinggalkan kosong hanya ada Kim-Choong buat jaga rumah.

Begitu keluarga Park pergi, seluruh keluarga Kim berkumpul di rumah Mr.Park buat hepi-hepi joy-joy di sana mumpung rumah ditinggal majikan. Mereka pun mabuk-mabukan di ruang tengah.

Semua yang konyol-konyol sirna seketika waktu petir menyambar di ruang tengah itu. Keren SCENE ini. Walau kita tidak tahu apa yang akan terjadi, somehow suasana otomatis sudah mencekam. Hujan turun makin deras.

As for me, langsung naro cemilan dan duduk mematung mempersiapkan mental hahahaha. Sumpah udah kerasa dada berdentum-dentum. Betul saja. BEL pintu halaman pun BERBUNYI.

Keluarga Kim pandang-padangan, “Siapa tuh malam-malam begini?” Makin dag dig dug.

review film korea yang bagus Parasite 2019

Muncul wajah Moon Kwang (mantan ART di rumah Park sebelum keluarga Kim sabotase semua pekerjaan di sana buat mereka sekeluarga) di layar saat bel terjawab.

“Saya ketinggalan sesuatu di basement. Saya boleh ya mampir bentar.”

Wajah Moon Kwang yang bengkak akan terjawab nanti.

Moon Kwang pun masuk. Makin mencekam. Pintu menuju basement yang digambarkan sebagai kotak persegi berwarna hitam makin bikin stres hahahaha.

Di situlah semua kekacauan bermula. I know, kalau kurang sabar nontonnya, penonton pasti pengin maki-maki keluarga Kim.

Adegan makin mencekam karena keluarga Park tiba-tiba menelepon mengabarkan bahwa mereka akan balik malam itu juga karena HUJAN DERAS.

review film korea yang bagus 2019 : Parasite

Makanya, banyak pesan dan ruwetnya hidup manusia di dunia ini yang berusaha digambarkan oleh film dengan scene-scene sambil lalu.

Percakapan di ruang tamu antar Keluarga Kim sebelum geledek menyambar misalnya, banyak hal mendalam yang dibahas, bukan hanya obrolan receh orang miskin yang lagi mabuk.

Kim-Tae yang merenungkan nasib supir sebelumnya dan berdoa semoga si supir mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Kim-Jong yang apatis, “Hadeeeehhh, malah mikiran orang lain. Emang kita ini kurang miskin apa?”

Waktu Kim-Tae sambil tersenyum bilang, “Mrs Park itu RICH and NICE.” We know, dia ingin menghardik istrinya yang galak dan ngamukan.

review film korea yang bagus 2019 : Parasite

Tapi Kim-Choong nyolot balik, “Jangan begok. She is NICE because SHE IS RICH. Gue juga kalok tajir pasti bisa kek gitu.”

Bahkan sedikit peliknya masalah rumah tangga tergambar ketika Kim-Tae naik pitam ingin memukul Kim-Choong yang sudah menghinanya sebagai kecoak penakut yang tidak bisa berbuat banyak bagi keluarga mereka.

Dari sini dan adegan-adegan sebelumnya, seharusnya sudah TERBACA ‘beban’ seorang Kim-Tae. Lihat kan adegan orang lain pipis di jendela rumah keluarga Kim. Gimana Kim-Tae nampak udah mati rasa, ya mau gimana lagi, gak ada gunanya dikasih papan peringatan segala macam. Tapi istri dan anaknya tetap menyindir.

Kumpulkan semua serpihan ini untuk bisa memahami mengapa Kim-Tae, si kepala keluarga, akhirnya (terlihat) IMPULSIF dan melakukan hal itu kepada Mr. Park. Sebenarnya itu bukan hal yang impulsif.

review film korea yang bagus 2019 : Parasite

Adegan percakapan Mrs Park di mobil kepada seorang teman di atas mobil, sehari setelah banjir besar di malam terkutuk itu saat hujan deras melanda kota.

Saat Kim-Tae galau rumahnya dan belasan rumah tetangganya banjir karena derasnya hujan dan membuat mereka mengungusi, Mrs Park malah cekikikan di telepon, “Ish, hujan gede semalam membawa berkah. Gak jadi kemping tapi kita mau pesta kebon. Yaaaayyyyy senangnya.”

((HUJAN MEMBAWA BERKAH)) aduuuuuhhh πŸ˜°πŸ˜°πŸ˜°πŸ˜°.

Mrs Park berbicara di ponsel sambil menutup hidung karena bau badan Kim-Tae.

Bersama scene-scene lain saat bolak balik anggota keluarga Park ngerumpiin badan keluarga Kim yang mereka anggap bau apek.

It’s a strong SCENE here. Untuk membantu penonton memahami tindakan Kim-Tae jelang akhir film yang kita sangka hanya dipicu oleh hal sepele. Itu bukan HAL SEPELE :'(.

review film korea yang bagus 2019 : Parasite

Bahkan anggota keluarganya yang lain pun bingung melihat tindakan Kim-Tae di pesta ulang tahun Park-Song itu.

Saya sendiri, begitu Mr Park sibuk minta kunci mobil kepada Kim-Tae yang harus menyaksikan ketiga buah hatinya meregang nyawa, sudah pengin loncat sendiri ke tempat lokasi buat nusuk Mr Park πŸ˜­πŸ˜­πŸ˜­πŸ˜­.

Memang tidak adil buat Mr Park. Memangnya salah jadi orang kaya? Tapi apa ini adil buat Kim-Tae?

Kim-Tae bukan orang jahat loh. We can clearly see he was such a warm-heart. Lucu-lucu gemes, pemalas juga enggak, and strongly looooveeeeee his family, no matter betapa seringnya dia dinyinyirin istri dan anak-anaknya sendiri.

Kalau orang lain bahas film sampai ke mana-mana, kuingin bahas karakter manusia secara individu saja. Ada yang bahas sampai kapiltalisme vs sosialisme. Hati-hati, emang kalian pernah ketemuan langsung dengan orang yang tinggal di negara sosialis, to hear the full story? ;).

Pantes kalangan SJW paling meributkan film ini :p.

Semoga kita sadar betapa besarnya pengaruh situasi dan kondisi terhadap keputusan-keputusan yang diambil oleh individu di saat-saat tertentu. Terlepas dari seperti apa karakter aslinya. Baik untuk kasus Mr Park dan Mr Kim.

Bahwa orang baik-baik yang karakternya dominan tenang bercahaya kalau ditaruh dalam “penjara bawah tanah” yang dimodifikasi se-nganu mungkin, dalam tempo beberapa hari saja bisa mengubah KARAKTER asalnya :(. Catat, DALAM HITUNGAN HARI.

Baca di buku Tipping Point deh. Buku pop yang membahas hal-hal model begini dengan bahasa ringan. Terjemahannya pun baguuussss (y).

Beratnya tekanan hidup bisa memaksa manusia biasa untuk “cross the line”. Bahwa jadi orang kaya itu ya memang PRIVILEGE tersendiri. Berhentilah kampanye basi macam, “Punya banyak uang belum tentu bahagia.”

Dan tentu saja pesan yang cukup EKSPLISIT yang mewarnai dari awal sampai akhir film :

“Poverty os a worst form of violance.” (Mahatma Gandhi)

Siapa sebenarnya Moon Kwang? Ada apa di basement? Apa yang dilakukan Kim-Tae di klimaks jelang akhir film itu? Bagaimana nasib Kim-kim lainnya? Ke mana akhir cerita bermuara?

Selamat menonton!

New-Daily Vlog : Jemput Anak dari Sekolah di Irlandia

Sudah lama enggak ngobrol-ngobrol soal keseharian di Irlandia, nih. Sibuk nulis-nulis macem-macem hehehe.

Ini sebenarnya video bulan lalu. Baru sempet tulisannya di blog. Waktu itu bikin vlog pas jemput bocah (si bungsu) dari sekolah. Gak pakek gimbal makanya goyang-goyang gambarnya :(.

Ini dia videonya :

Gimbal ponsel tuh bulky banget. Di sini kotanya sangat sepi dan tidak begitu banyak orang. Takutnya kalau bawa gitu-gituan mudah menarik perhatian depan umum, bisa disangka macem-macemΒ :p.

Di sekolah anak saya di Athlone, anak TK dan kelas 1 wajib dijemput oleh orang tua/guardian nya. Jadi nanti pas pulang, gurunya hand over satu per satu anak-anak ke ortu/guardian masing-masing.

Kalau sudah kelas 2 ke atas baru boleh pulang sendiri. Jadi begitu ke luar dari kelas, guru sudah tidak perlu mengawasi.

Soal sekolah anak di Irlandia sudah pernah saya bikin vlognya juga kok :

Jam masuk sekolah enak banget, jam 9.20 hihihihi. Siang banget yaaaaa :p. Anak TK A dan B (junior infant dan senior infant) pulangnya jam 2 siang. Kelas 1 sampai kelas 6 pulang jam 3 siang.

“Kok masuk sekolah siang amat, gak jam 7 pagi?”

Suasana jam 7 pagi di Ireland pas musim gugur dan musim semi tuh masih gelap gulita. Baru masuk subuh jam segitu πŸ˜πŸ˜πŸ˜.

Piye mau nganter anak sekolah jam 6 gitu ya πŸ˜†πŸ˜…πŸ™. Dingin banget pulak πŸ™„πŸ˜₯. Apalagi ini kota kecil, ke mana-mana masih banyak yang jalan kaki, tanpa bus, tanpa kendaraan pribadi.

#Boy1 dan #Boy2 kalau pulang sekolah sudah bisa jalan sendiri ke rumah. Rame-rame dengan temen-temennya yang juga tinggal di gedung apartemen yang sama dengan kami.

#Boy3 ya jelas masih harus dijemput di depan pintu gedung :D.

Guru di kelasnya #Boy3 lakik boooo. Mulai tahun ajaran ini mulai banyak guru-guru laki-laki. Wali kelasnya #boy3 cakep euy hihihi. Jadi cepet ni lipstik abis secara lipstikan mulu kalau mau jemput, padahal biasanya enggak hahahahaha #ngakakGenit.

Pas pergi sih bisa cepet, jarak 1 km dari apartemen ke sekolah bisa ditempuh dalam 10 menit atau kurang.

Pas pulang jangan harap dah hahahaha. Soalnya #Boy3 ini maunya nemplok sana sini. Segala pager, rumput, rumah orang, mau dimampirin semua πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…. Cek aja tuh di videonya hehehe.

DI vlog keliatan kan, liat toko dikit mau masuk, segala mau dibeli hahahahaha. Jadi bisa makan waktu minimal 20 menit jalan kaki dari sekolah ke apartemen abis jemput dese :D.

Vlog ini sekadar kenang-kenangan saja. Siapa tahu takdirnya harus pindah dari Irlandia kan, jadi suatu hari bisa lihat-lihat video ini sambil senyum-senyum mengenang kota Athlone ^_^.

Video lain tentang kehidupan sehari-hari di Athlone :