Daftar Presiden RI : Seribu Wajah Presiden Indonesia

Daftar Presiden RI : Akhir-akhir ini, entah hanya untuk sekadar mengolok-olok kepemimpinan Jokowi yang dianggap hanya sekadar boneka dan ‘lemah’ … atau memang mendadak pada ngefans sama Bung Karno –> banyak beredar tulisan-tulisan atau video-video yang menggambarkan sepak terjang presiden pertama Indonesia yang memang bikin semangat selalu sontak membuncah-buncah itu ^_^.

Lucu juga, sih, orang-orang yang dulu menyerang Bung Karno yang ‘tidak islami’, istrinya banyak bla bla bla, sekarang juga ikut-ikutan memuja hihihi. Apa pun demi menjatuhkan Jokowi la yawww :v :v :v. Kalau dulu menyerang dari sisi ‘keislaman’ sekarang ganti konsep lagi ni yeeee :p.

Daftar Presiden RI
Presiden RI ke-7 : Joko Widodo

For sure, i’m one of Bung Karno’s biggest fans. Ngefans sama Bung Karno, terpesona sama Pakde Jokowi dan tentu saja … Fendy Pradana adalah aktor idolaku sepanjang masa #eh hahahahhahahahaha :v :v :v. Inget Nyai Kembang nih gara-gara Mak Fardelyn posting-posting soal Sembara hihihihi :p.

Bung Karno memang bukan orang biasa. Entah sudah berapa buku biografinya yang pernah saya baca. Tapi makin dibaca kita jadi makin sadar, segitu besar keistimewaan beliau, toh Bung Karno itu juga manusia biasa ;).

Cara yang cukup tepat (menurut saya) untuk menunjukkan ‘kelemahan’ Bung Karno adalah dengan membaca lebih banyak soal Bung Hatta :). Mungkin terpikir dengan ‘mundur’nya Bung Hatta dari tampuk kekuasaan duet maut tokoh proklamator ini, otomatis menunjukkan Bung Karno lebih jawara daripada beliau :).

Untuk saya, lebih cocok jika dibilang … tiada satu yang melampaui yang lain. Bukan masalah siapa yang lebih keren siapa yang lebih bersifat ‘pemimpin’. Karena keduanya … BEDA! :). Baik Bung Karno dan Bung Hatta, sama-sama mencita-citakan kesejahteraan dan kemakmuran bagi bangsa yang mereka kawal sejak remaja, tampil berdua di podium di 17 Agustus 1945 hingga akhirnya terus memimpin bersama sampai akhir 50 an. Sebelum pecah kongsi hehehe :p.

Daftar Presiden RI
Presiden RI 1 : Soekarno

Justru kalau saya bilang, dengan tidak mengurangi kekaguman kepada Bung Karno, Bung Hatta juga mengajarkan hal yang tidak kalah pentingnya. Mengalah untuk kedamaian. Bung Hatta, yang belakangan sudah tidak merasa cocok dengan Bung Karno yang dari dulu memang rada-rada ‘narsis’ (perhatikan ada tanda kutipnya ya Kakaaaa :p), memilih untuk mundur dan berlalu begitu saja. Tidak berusaha menggalang kekuatan untuk melawan.

Di masa-masa pra kemerdekaan dan pergerakan era sebelum 1945, Bung Hatta tak pernah berusaha merecoki sepak terjang Bung Karno yang memang lebih suka “tampil sendiri”. Gaya orasinya yang bak singa mengaum di atas podium memang dirasa cocok untuk membakar semangat perjuangan kaum muda yang butuh disatukan untuk melawan penjajah.

Tapi apa yang terjadi setelah kemerdekaan sudah direbut? Bung Karno tidak berubah. Sementara Bung Hatta sudah mulai melihat ‘something was wrong’.

Bung Hatta lebih menginginkan agar kepemimpinan yang dibina bisa menularkan semangat yang sama hebatnya. Bisa menciptakan”Soekarno-soekarno” baru dan tidak terfokus pada satu orang. But again… Bung Karno tidak berubah :).

Melihat Bung Karno vs Bung Hatta seperti melihat dua sosok sanguinis-koleris vs melankolis-phlegmatis, gak, sih? Hehehe. Dimana secara psikologis, konon dunia tak akan mungkin berputar dengan sempurna tanpa kehadiran keempat tipe ini ;).

Pasca beberapa lama setelah merdeka, Bung Hatta sudah merasa ini saatnya mereka berpikir “Ayo kita lakukan ini bersama-sama” dan mengajak rakyat sebagai ‘rekan’. Kita, kita, kita. Bukan lagi mencocok hidung mereka dengan berdiri sendirian di garis terdepan. Sementara sepetinya Bung Karno tetap berpikir, “Saya sanggup melindungi kalian. Kalian aman bersama saya. Sayalah penyelamat kalian. Percayakan pada saya.” Saya, saya, saya.

Hmm…Sounds familiar, no? 😉

Untuk alasan yang sama dengan Bung Hatta (idih, siapa emang lo? nyama-nyamain diri sama bung Hatta, ngaca woi ngacaaaaaa hehehe), di Pilpres kemarin saya lebih condong kepada sosok Jokowi :).

Daftar Presiden RI
Gambar : fototokoh.com

Bung Karno masih terpikir soal harga diri bangsa di mata negara lain dengan sibuk nyinyirin Malaysia dan ribut-ribut menantang si Negeri Jantung Dunia, Bung Hatta lebih ingin agar pemerintahan terfokus dengan ekonomi kerakyatan via konsep Koperasi-nya :).

Kira-kira mungkin Bung Hatta bilang gini, “Rakyat lapar, No. Orang lapar kok disuruh nyolot, No. Kenyangin dulu perutnya, No. Kasihan pada enggak sekolah. Sekolahin yuk, No. Biar pinter. Biar nanti mereka bisa bantu kita.”

Sementara Bung Karno menampik, “Cuy, harga ini, Cuy. Harga diri! Buat apa mereka kenyang kalau mereka terjajah.”

“Lah, sekarang penjajahnya ada di dalam, No.”

“Nope. Pokoknya kita harus lawan Amerika!”

Bung Karno mungkin masih terbuai dengan cara-cara di masa-masa pergerakan sebelum kemerdekaan melawan penjajah dan siapa saja di luar sana. Tapi Bung Hatta sudah ingin berpusat pada kondisi di dalam negeri.

Saya kutipkan pengantar dari tulisan saya tentang Bung Hatta tempo hari,

Sebuah tulisan Bung Hatta di tahun 1962, hanya perlu dicetak ulang untuk menggambarkan situasi negeri ini sekarang :

“Dimana-mana orang merasa tidak puas. Pembangunan tak berjalan sebagaimana mestinya. Kemakmuran rakyat masih jauh dari cita-cita. Sementara nilai uang makin merosot.

Perkembangan demokrasi pun terlantar karena percekcokan politik. Pelaksanaan ekonomi daerah terlalu lamban sehingga memicu pergolakan daerah. Tak banyak yang puas dengan jalannya pemerintahan di tangan partai-partai.”

Kita nyaris tak perlu mengubah satu kata pun :(.

—–

Benarlah bila salah satu buku biografi Bung Hatta itu berbunyi, “Hatta, Jejak Melampaui Zaman.” Daya analitisnya yang tajam dan mendalam sudah sanggup menembus problema masa depan :D. Jiaaaah, dah lama gak denger kata “Problema” hihihihi.

Sebenarnya ya, kalau membaca beberapa buku sejarah tentang akhir kepemimpinan Bung Karno, sang pemimpin pertama ini pun sudah ‘mencium’ gelagat tidak beres. Keputusan Bung Karno untuk menghapus Pileg justru untuk ‘membatasi’ ruang gerak PKI yang makin membesar.

Bung Karno sudah paham jika telah beliau terjebak diantara ‘cinta segitiga’ antara kepemimpinannya, rongrongan PKI, dan terjangan ‘Geng Motor’ eh ‘Geng Angkatan Darat’ maksudnya hihihi.  Nasakom yang diusung Bung Karno saat itu tengah menggali kuburannya sendiri.

Inilah bedanya orang Sanguinis sama Melankolis, ya. Sanguinis itu cenderung optimis. Mereka seolah selalu melihat jalan cerah di depan sana. Impulsif dan sering kurang pertimbangan. Sementara Melankolis seakan selalu bisa menemukan masalah di setiap tikungan yang diambil. Penuh pertimbangan dan biasanya sangat hati-hati dalam bersikap.

Bung Karno itu yakin sekali kepemimpinannya sanggup menjembatani kaum nasionalis, agama dan komunis. Cita-cita yang mulia. Sayang sekali, hingga tulisan ini dipublish, ketiganya hampir tak mungkin untuk hidup rukun bareng-bareng :(.

Soal ilmu agama, keduanya sama patennya. Jangan karena cap ‘genit’ yang  menempel padanya lantas kalian mengira Bung  Karno tak paham agama ;). Saya pribadi sangat kagum dengan buah pikiran Bung  Karno yang cocok dengan kesislaman yang saya tahu. Sebagian besar, tentu tak semuanya :D. Banyak yang sering mempertentangkan Buya Hamka dan Bung Karno. Padahal perselisihan mereka bukan di ranah akidah ;).

Walau hubungan politik Bung Karno tidak begitu harmonis dengan baik Bung Hatta maupun Buya Hamka, tapi personally … mereka selalu bersahabat karib :). Ibarat kata kalau dulu ada Facebook, mereka nyolot-nyolot-an di wall tapi enggak pernah sampai unfriend atau unfollow. Hahahahaha.

Sutan Syahrir pun, pasca dilumpuhkannya PRRI/Permesta, menolak untuk ikut bergosip soal Bung Karno dalam tahanan bersama petinggi-petinggi PSI yang lain saat dijebloskan ke penjara oleh Bung Karno. PSI ditengarai terlibat dalam pemberontakan. Sutan Syahrir tidak mau menjelek-jelekkan atau ikut mengkritisi Bung Karno. Mungkin sadar diri juga dan demi nostalgia masa lalu dimana mereka bersatu padu dalam perjuangan meraih kemerdekaan.

Daftar Presiden RI
Perdana menteri RI 1 : Sutan Syahrir

Kalau Bung Hatta yang asli Bukittingi, sih, dari kecil sudah dibesarkan dengan didikan keislaman yang kental khas Ranah Minang di daerah asalnya. Anak pesantren beneran hehehe. Bung Karno sendiri belajar agama dari buku-buku dan pergaulan luas dengan hampir semua kalangan agamis di masa itu :).

Dari Bung Karno kita belajar menumbuhkan harga diri bangsa di kancah internasional. Bung Hatta menyempurnakannya dengan menegaskan bahwa harga diri adalah sesuatu yang intrinsik. Dari dalam ke luar. You never shine if you don’t glow ;).

Kedua bapak bangsa ini punya ‘wajah’ masing-masing untuk  memperbaiki  bangsa. And so do the other Indonesian leaders :).

Soeharto menyadari kesalahan kepemimpinan Bung Karno dan berusaha memperbaikinya. Sayangnya, nafsu duniawi tak terelakkan. Bertahun-tahun berkuasa, pembangunan bertopang pada utang luar negeri yang mungkin sebagian masuk kantong sendiri :p. Asyik menumpuk utang mungkin dikiranya dolar bakal dua ribu perak terus hhihihi.

Daftar Presiden RI
Presiden RI 2 : Soeharto

Lalu duaaarrrr!!! Tahun 1998, pembangunan yang berdiri di atas pondasi yang rapuh lebur berkeping-keping tak kuasa melawan krisis ekonomi dunia. Ambruk begitu saja akibat beban utang yang membludak.

Dan kalian asyik saja menyalahkan pemerintahan Megawati yang jual sana sini :p. Apa tahu kondisi ekonomi Indonesia saat itu? :). Macam aset itu punya Megawati pribadi aje. Yuk ah, keputusan jual sana sini itu adalah keputusan bersama antara legislatif dan eksekutif demi mengatasi retaknya perekonomian di masa itu. Bisa saja memang itu bukan keputusan yang tepat. Tapi situ punya solusi apa emangnya? :p.

Presiden RI 5 : Megawati Soekarno Poetri

Begitu pun dengan almarhum Gus Dur yang begitu gigih mempertahankan kemajemukan bangsa dalam satu ikatan yang kuat. Tidak banyak negara di dunia yang punya keragaman budaya/agama seperti Indonesia dan tidak larut dalam perang saudara.

Myanmar saja yang keragaman sukunya cuma seuprit dengan 2 agama yang menonjol masih terus berkutat dalam urusan ginian. Berbangga hatilah jadi orang Indonesia 🙂.

Daftar Presiden RI
Presiden RI 4 : Abdurrahman Wahid (Gus Dur)

Pak Habibie yang berjuang sama ribetnya walau cuma punya waktu kurang dari setahun untuk mengembalikan dolar sempat ke angka 6500 perak ya waktu itu :). Tapi di akhir masanya, orang-orang malah lebih ingat soal Timor Timur yang akhirnya lepas pasca referendum di era Pak Habibie.

Tapi habis muncul di Mata Najwa di awal tahun 2014 ini, orang-orang ngefans lagi sama beliau. Labil amat sih jadi orang hihihi :p.

Daftar Presiden RI
Presiden RI 3 : BJ Habibie Gambar : tempo.co

And then here comes SBY dan JK. Salah satu duet terbaik mungkin pasca Soekarno-Hatta :). Walau di tahun 2009, SBY mentalak JK hehehe :p.

Di akhir kepemimpinan Pak SBY, jangan nyinyir aja kauuuu. 😀 Akuilah, perekonomian negara kita tidak lebih buruk dalam 10 tahun pemerintahan beliau ;). Mungkin, suatu hari pun kita bakal bikin kaos bergambar SBY lagi nyengir dengan tulisan “Piye kabare, sing penak jamanku toh?” Hahahahahahhaha.

Wakil Presiden RI (2x) : Jusuf Kalla

Macam meme gambar Soeharto yang beberapa tahun terakhir ini sedang hits dengan tulisan bernada sama :D. Padahal di tahun 1998, Pak Harto jadi musuh bersama gitu :p.

Siapa pun mereka, diantara sekian banyak pro dan kontra, pasti pernah terselip dalam hati masing-masing untuk memperjuangkan cita-cita yang sama, mimpi yang sama untuk kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. Mari berprasangka baik :D.

“Respect was invented to cover the empty place where love should be.”
― Leo Tolstoy

If it’s almost impossible to love them, at least … show some respect ;).

Jadi, terima kasih atas 10 tahun yang memang tidak indah-indah banget ini ya, Pak SBY. Semoga jasa-jasa Bapak bagi pembangunan bangsa ini bisa terus dikenang dan mendapat balasan terbaik dari Allah SWT :). Lebih dan kurangnya semoga bisa menjadi pembelajaran untuk presiden Indonesia berikutnya.

Walau tidak mengapa kalau  kita mengkritisi asal tujuannya memang untuk perbaikan.

Thanks for everything, ya, Pak SBY. Salah satu vote untuk Bapak di tahun 2009 itu datang dari saya yang bela-belain tetap nyoblos ke KBRI Tehran waktu itu :D.

Dengan penuh hormat, terima kasih ^_^.

Presiden RI 6 : Susilo Bambang Yudhoyono

***

 

Tentang Jokowi : A History in The Making

Pemilihan Presiden Amerika Serikat di tahun 1864 adalah pertaruhan luar biasa bagi Abraham Lincoln dan cita-cita besarnya untuk menghapuskan perbudakan di seantero federasi. Perang sipil telah lebih dahulu pecah antara “Utara” yang pro amandemen dan “Selatan” yang pro perbudakan.

Ditengarai, lawan Lincoln akan ‘setengah hati’ memperjuangkan amandemen ini. Kandidat lawan di kubu sebelah sudah diprediksi akan memilih “berdamai” dengan Konfederasi di “selatan”. Mungkin … akan sia-sia saja selama ini perjuangan untuk melepaskan Amerika Serikat dari belenggu perbudakan.

Pemilihan 1864 berlangsung di tengah-tengah perseteruan sengit Perang Sipil antara The Union (“utara”) vs Konfederasi (“selatan”).

Abraham Lincoln akhirnya berhasil terpilih kembali dan terus memperjuangkan amandemen dan menuntaskan Perang Sipil dengan “selatan” di musim semi tahun 1865.

Harga yang harus dibayar Lincoln untuk perjuangannya memusnahkan perbudakan sangat mahal … nyawanya sendiri. Lincoln tewas terbunuh beberapa hari setelah Konfederasi menyerah dan mengakhiri 4 tahun Perang Sipil yang berlangsung sejak tahun 1861 silam.

Lincoln ditembak dari jarak dekat oleh seorang ekstrimis pro perbudakan saat tengah menonton pertunjukan dalam teater :'(.

Gambar : en.wikipedia.com
Gambar : en.wikipedia.com


Konon, di pemilihan 1864 tersebut, keunggulan Lincoln sebanyak ratusan ribu suara dari pihak lawan didapatkan dari dukungan kuat militer dan pasukan “The Union” yang sengaja ditarik untuk melakukan vote dan memenangkan Lincoln. Seluruh pasukan diminta pulang dari perbatasan dan nyoblos di daerah asal masing-masing 😀.

Jangan salah, alquran turun di tengah-tengah perbudakan yang masih merajalela. Alquran tidak melarang perbudakan kala itu tapi menjanjikan “imbalan besar” bagi mereka yang membebaskan hamba sahaya .

Tuhan ingin kita belajar, Tuhan tidak ingin pendidikan moral secara instan. Tuhan ingin umat manusia melewati proses ini. Lalu menyadari dengan sendirinya bahwa persamaan hak dalam kemanusiaan antara sesama tanpa memandang warna kulit dan suku bangsa adalah naluri yang tak bisa ditolak . Betapa Tuhan yang Mahatahu dan Mahabijaksana 🙂.

“Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu?
(yaitu) melepaskan budak dari perbudakan,atau memberi makan pada hari kelaparan, (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau kepada orang miskin yang sangat fakir.” [QS. Al-Balad :12-16]

Siapa yang tahu, apa yang terjadi jika Lincoln gagal mempertahankan posisinya sebagai presiden terpilih di Amerika Serikat di tahun 1864? Akankah sejarah penghapusan perbudakan dari Negeri Jantung Dunia tersebut akan benar-benar tercipta?

Setelah sekian lama dunia berputar dalam ketidakadilan, Lincoln berani mengambil keputusan besar untuk memimpin PERUBAHAN! Perubahan yang tidak kecil dan tak akan bisa dijalankan tanpa dukungan suara untuk kembali memenangkan tahta sebagai orang nomor 1 di Negeri Paman Sam waktu itu.

Apakah takdir akan tetap menuliskan kisah yang sama jika perolehan suara Lincoln jeblok di Pemilu 1864 tersebut?

Sejarah kembali mengajarkan hal yang penting. Seringkali untuk perubahan besar, kita harus melewati jalan yang tidak mudah.

Siap berubah untuk Indonesia? Nyoblos yok nyoblos jangan ribut di media sosial saja  :D.

Your support doesn’t count, your vote does.

Salam 2 jari, jangan lupa pilih Jokowi 

#Jokowi9Juli

your vote does

Until You Do Understand :)

Asap tebal membubung tinggi. Kilat-kilat api sesekali terlihat. Jam 3 dinihari, suasana yang biasanya sunyi karena ditinggal lelap oleh hampir semua penghuninya, mendadak hiruk pikuk.

Orang-orang berteriak di jalan. Pedagang-pedagang mendadak terjaga.

Berlomba dengan suara sirine mobil pemadam kebakaran, semua pedagang bergegas pergi. Tentu berharap menyelamatkan barang-barang yang masih bisa dibawa pergi. Termasuk almarhum bapak yang sudah melesat dengan Vespa hijau tuanya sebelum saya dan seluruh saudara saya terbangun karena kegaduhan di seputar rumah.

“Cepakko, cepakko … Sallonu! ” (Cepatlah, cepatlah … Lambat sekali!)

“Pepeeee … pepeeeee ….” (apiiii, apiiii).

1991, Pasar Sentral Makassar terbakar. 

Gambar : blog.sman3mks.com
Gambar : blog.sman3mks.com

Saya tidak begitu ingat kakak-kakak saya pada ngapain, ya, waktu itu. Yang jelas saya dan adik perempuan saya memanjat di teras di lantai 3. Kami sama sekali tidak risau. Bahkan kegirangan melihat situasi saat itu. Curiosly watching, full of excitement. Namanya anak-anak, gampang senang kalau lihat situasi ramai 😀.

Orang-orang berlarian dengan heboh. Serba sibuk. Termasuk daeng-daeng becak yang mendadak menjadi rebutan subuh-subuh.

Rumah saya di Jalan Pajennekang waktu itu jaraknya mungkin hanya 100 m dari Pasar Sentral Makassar. Pemukiman menengah ke bawah. Rumahnya cukup padat. Suasananya ya tidak terlalu terawat gitu, deh. Bilang kumuh aja kaleeee biar lebih singkat. Hahaha  *gengsiAtuh* –> *benerinPoni*.

Entah apa yang ada dalam pikiran bapak, ya, waktu itu. Tentu saja, kebakaran akan membuat para pedagang tak bisa berjualan minimal selama beberapa hari. Sumber penghasilan ya dari pasar saja. Ibu membantu dengan menjahit gorden tapi kan transaksinya juga di pasar, pelanggannya ya sesama pedagang di pasar yang sama.

Jangan dikata yang dijual seprei-seprei sekelas yang dijual di King Koil, yak . Kalau tak salah, sebagian besar dijual di harga 5-20 ribu rupiah saja per potong.

Kelambunya bukan model kelambu jepang yang keren kayak kemah mini itu. Bukaaaaaan. Hahaha. Kelambunya hanya kain biasa yang tidak punya tiang penyangga sama sekali. Sesuai harganya yang hanya berkisar dari 10 ribu hingga 30 ribu rupiah.

Baunya itu lho boooo. Hihihi. Masih inget saya peningnya kepala kalau rumah di penuhi kain kelambu yang baunya menyengat itu.

Kelambu tempo dulu (gambar : blueriders.blogspot.com)
Kelambu tempo dulu (gambar : blueriders.blogspot.com)

***

Beredar rumor pasar sengaja dibakar. Ini bukan kehebohan pertama kalinya. Sudah beberapa kali ada kebakaran. Tapi kecil-kecilan. Kali ini, api melalap hampir seluruh lantai 1.

Siapa yang tega membakar pasar?

Jadi begini, gosipnya sih, Pemda sudah beberapa kali berinisiatif membongkar bangunan pasar. Secara memang sudah mengenaskan dan joroknya minta ampun. Duh, paling ogah deh kalau disuruh mampir ke kios. Hihihi.

Kalau terpaksa ke kios, melihat saya jutek, ibu biasanya membujuk, “Kita makan pisang ijo nanti. Ato mau ko ikan bakarnya Daeng Salaji? Ato kita pi makan Sop Saudara di lantai 2. Ko suka to nasi campurnya?””

Makanannya sih enak, lalat dan bau tempatnya yang enggak tahan huhuhu. Belagu amat sih ini anak penjual seprei hahaha *nyengirTuanPuteri* 😀.

Tapi para pedagang ogah pindah ke penampungan. Pemda juga tidak pernah benar-benar jelas mengatur soal penampungan ini. Alasan klasik dari para pedagang, takut pelanggan pada lari.

Mungkin cara cepat untuk mengatasi kebawelan para pedagang-pedagang kecil tersebut ya dengan satu cara ampuh yang cukup mudah, bakar saja gedungnya! :'(

Mana ada cerita Bapak Walikota datang berkunjung dan bersilaturahmi. Ada juga preman-preman pasar wara wiri menebar ketakutan dan rumor-rumor.

Bapak saya itu termasuk pedagang eceran. Bukan grosiran. Sementara pedagang grosir biasanya adalah mereka dengan modal yang besar. Menjual grosiran ya pasti jatuhnya murah, kan? Dengan uang banyak, pedagang grosiran bisa ‘main mata’ agar bisa mendapatkan lokasi kios yang strategis.

Sementara yang modalnya pas-pasan seperti umumnya pedagang eceran ya harus banyak-banyak berdoa saja 😀.

Gedung baru tidak hanya mengganggu zona nyaman para pedagang kecil. Tapi ya namanya gedung baru yang rencananya dibangun secara modern itu pasti ongkos sewanya juga ‘baru’ alias mihil.

Pedagang eceran seperti bapak dan teman-temannya ya pasti khawatir bila pelanggan yang mungkin ‘bingung’ dengan kondisi pasar baru nanti akan mudah terjaring oleh pedagang grosiran. Pedagang grosir juga banyak yang ‘bandel’, dengan modal kuat, mereka berani menjual barang satuan dengan harga grosir.

Kalau sudah terbakar, ya enggak pakai banyak cing cong. Bapak dan teman-temannya ya cuma bisa bersyukur barang selamat semua dan mau tak mau terpaksa setuju kalau pasar direnovasi . Voila! Gampang kan 😀. Bakar saja pasarnya!

Logikanya ya masalah komunikasi saja, ya. Saya rasa bapak pun senang kok kalau pasar direnovasi. Saya ingat, bapak itu memamerkan denah pasar yang baru pada kami dengan bangga. Katanya nanti pasarnya bagus dan modern. Ada tangga jalan segala!

Padahal sebelum-sebelumnya suka mengeluh agak takut kalau diusir dari pasar lama untuk proses renovasi.

Yang dibutuhkan oleh pedagang kecil macam bapak saya ya adanya kepastian dan jaminan 🙂. Mereka hanya ingin didengarkan. Hanya ingin dimengerti apa sebenarnya kekhawatiran dan concern mereka bukan hanya dianggap keras kepala dan tidak peduli dengan rencana jangka panjang penataan kota.

Mereka berdagang kan bukan hanya sekadar hobi atau lucu-lucuan untuk mengisi waktu luang. Ya buat ngasih makan anak-anaknya. Anak 7 boooo hehehe. Berapa sih untungnya tiap hari? Untung per potong kelambu paling banter 5 ribu rupiah.

Pasar itu buka 7 hari dalam seminggu. Enggak ada liburnya. Hari minggu pun, pagi-pagi bapak sudah melesat pergi untuk mencari rezeki. Saingan banyak.

Makanya, saya suka sakit hati kalau dulu ada kenalan yang ngomel-ngomel karena supirnya tahu-tahu minta berhenti karena mau cari tempat kerja dengan gaji lebih besar. Supir mengaku, anaknya ada 3. Eh kenalan saya malah mengumpat, “Dasar gak punya otak. Sudah tahu miskin, punya anak banyak pula! Gitu deh kalau kurang berpendidikan.”

Puk-puk almarhum bapak dan mama *pelukSatuSatu*.

Kalau kata suami teman saya di Jeddah dulu saat kami jenguk di kelahiran anaknya yang ke-4, “Tuhan itu punya kalkulator sendiri. Ya kalau kita pakai kalkulator kita sebagai manusia biasa untuk memahami hitung-hitungan Tuhan ya enggak akan pernah cocok.”

Kadang, logika manusia ya jangan dipakai untuk memahami aturan Tuhan. Ketetapannya ya begitu, jangan membunuh anakmu hanya karena kamu takut mereka miskin. Akulah yang akan memberi rezeki 🙂.

Kok bahas ginian, soalnya saya tahu sebagian besar teman bapak itu kondisinya ya gitu. Anak segambreng dengan mata pencaharian hanya sebagai pedagang di pasar sentral . Hahahaha. Takutnya ada yang suka menyerang dan menuduh itu salah para pedagang kecil sendiri . Saya percayanya sama Tuhan saja. Rezeki dari Allah, orang tua cuma salah satu perantara 😉.

Singkat cerita, pedagang dialokasikan ke tempat penampungan. Namanya darurat, tempatnya jelek banget . Sembari bangunan baru diselesaikan, disitulah para pedagang berdesakan berbulan-bulan tetap berusaha mencari rezeki.

Bangunan baru pun jadi. Benar kata Bapak, ada tangga jalannya! Hahahaha. Sayang sekali, sebelum pasar rampung 100% dan siap digunakan, serangan jantung membawa beliau pergi untuk selama-lamanya. 5 menit doang di ruang emergency.

Sekitar bulan Juni 1992, pasar baru siap beroperasi.

Seperti yang bisa diduga, pedagang grosir dengan modal kuat menguasai semua pos strategis. Almarhum bapak kebagian tempat di belakang. Padahal beliau sudah sempat senang karena tepat di depan kios ada tangga jalan. Tangga jalannya akhirnya mati sendiri karena jarang dilewatin orang 🙁.

No wonder, cuma bertahan 3 tahun, mama yang memang tak terlalu punya bakat berdagang terpaksa menjual kios. Bangkrut ceritanya hehehe. Disusul dengan jual-jual yang lain-lainnya juga 😀.

But look at us now, like I’ve said before. Hidup seperti roda pedati. Kadang di atas kadang di bawah. Rezeki datangnya PASTI dari Allah . Anak penjual seprei kemaren abis jalan-jalan dari London tuh hahaha 😛.

***

Berbekal pengalaman pribadi itulah, saya benar-benar tersihir saat membaca artikel berjudul “Joko Widodo, Walikota Surakarta, Wali Kaki Lima” di Majalah Tempo tahun 2008 silam. Topiknya saat itu kalau gak salah tentang 10 pemimpin daerah berprestasi. Masih ada 9 nama lain selain Jokowi. Tapi yang melotok dalam pikiran ya si walikota kurus kering satu ini hihihi.

jokowi culun hehe

Terharu sekali membaca caranya memindahkan pedagang-pedagang dari lokasi tertentu. Diajak makan siang! Mimpi apa tuh pedagang-pedagang kecil diajak lunchdate sama Pak Walikota hehehe. Biasanya kalau pasar mau ‘diapa-apain’ yang datang ya petugas satpol atau preman untuk menebar ketakutan minimal.

Padahal kan si walkot gak usah capek-capek. Bakar saja pasarnya! Mau gak mau, suka gak suka, pasti pedagang pindah sendiri. Mereka ngomel juga paling cuma sebentar. Seperti almarhum bapak yang tadinya dongkol tapi lama-lama ya cuma pasrah dan seorang diri saja berusaha membangkitkan harapan untuk peruntungan di bangunan baru nanti. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa dan memberi termpat terbaik untuk salah satu pencari nafkah terhebat yang pernah saya kenal ini 🙂.

Ingat betul saya diceritakan di artikelnya, acara pemindahan pasar alih-alih penuh gontokan dan amarah, malah menjadi seperti festival seni ^_^. Para pedagang bikin arak-arakan dan diiringi tarian dan lain-lain saat berjalan bersama menuju lokasi pasar yang baru :).

Makanya, tahun 2012 tahu ada Jokowi di Pilkada DKI, enggak pikir panjang langsung memberikan dukungan penuh!   . 4 tahun berlalu, enggak lupa saya sama beliau 🙂. Malah makin bangga begitu tahu, di tahun 2010, periode ke-2 kepemimpinannya, Jokowi memperoleh sekitar 90% perolehan suara 😉.

Kala itu, saat hater dan lover belum tercipta. Agar kita tidak lupa karena apa dulu beliau bisa begitu cepat merebut simpati banyak orang 😉.

Tempo hari saya membaca komentar di wall orang di FB, katanya kita akan cenderung memilih pemimpin yang sama dengan kita hehehe. Itu dia, mungkin saya cenderung pilih Jokowi ya karena saya rasa beliau mewakili hal-hal yang selalu saya inginkan dari seorang pemimpin. Kesederhanaan dan pengertian 🙂.

Biarlah dibilang pencitraan. Untuk saya pribadi, sepakat dengan si Adian Napitupulu, “Itu bukan pencitraan. Itu adalah keberpihakan” 🙂.

Gebrakannya dalam menghadapi ‘orang-orang kecil’ membuat saya ingin mengutip quote yang ini : “…Treat people with understanding when you can, and fake it when you can’t until you do understand.”
― Kim Harrison

Tentu manusia tak ada sempurna. Pastilah ada lemahnya ini si Pak Jokowi hehe.

Tapi kita kan berharapnya bukan pada orang per orang. Tapi pada kebaikan-kebaikan dan nilai-nilai baik yang ada pada Jokowi. Berharapnya ya sama Tuhan saja, dong. Harga mati itu ^_^.

Semoga Jokowi sanggup terus mempertahankan keberpihakannnya pada masyarakat kecil yang masih mendominasi di seluruh Indonesia. Pekerjaan berat memang. Teramat berat. Tapi manusia bisa bertahan itu salah satunya karena harapan, kan? . Harapan agar Allah SWT senantiasa menjaga orang-orang baik dan melindunginya selalu.

Untuk #IndonesiaBaru, Jokowi for RI 1!. 😉

Salam damai ^_^.

stand full

***