Bunda of Arabia (Behind The Scene)

Pengalaman pertama memang biasanya yang paling berkesan ;).

hdr-4-jhn.jpg

***

Bunda of Arabia (Behind The Scene)

By : Jihan Davincka

***

“Bunda of Arabia” tadinya adalah judul novel yang ingin saya buat. Tapi kala itu saya berpikir saya tak pandai menulis fiksi. Jadi, judul itu menganggur saja.

Di penghujung 2011, setelah (sangat) aktif menulis di blog mamaSejagat dan ceritaJeddah, saya menyadari satu hal, “Saya suka sekali menulis!”

Saat itu saya menghitung ada puluhan postingan dari saya di mamaSejagat, dan puluhan postingan lain yang saya edit. Dan belasan postingan yang saya tulis tentang negara lain, yang diceritakan teman saya via message. Tapi saya menuliskan nama teman saya sebagai penulisnya. Hehehe.

Begitu tergila-gilanya saya menulis. Gak apa deh, yang penting blognya ramai dan saya ada alasan menulis. Toh, foto-fotonya dari teman saya itu.

Saya menuliskan kalimat ini di catatan resolusi 2012 saya :

Mamasejagat was some kind of sign to remind me of how much I loved writing when I was just a kid. It led me to create another blog : ceritaJeddah. Then I truly realized how I still love writing until now, and tadaaaaa … suddenly we get one resolution for 2012 : writing something more serious than a casual post on my blogs (a book perhaps? :P)”
Resolusi iseng saja. Tapi yang iseng-iseng ini justru mengganggu jadwal tidur selama berhari-hari di awal bulan Januari itu. Akhirnya daripada gak bisa tidur, why not? Let’s write a book!

***

Tapi dasar sok keren, saya pikir sekedar menerbitkan sebuah buku saja kayaknya terlalu biasa-biasa. Bagaimana kalau pakai deadline? Ya, jangan 1 tahun. Yang menantang, dong! Saya pun menantang diri sendiri, “Do it in 3 months! From the scratch!

Jadilah tanggal 1 April 2012 saya jadikan tanggal keramat. Di tanggal itu nanti buku pertama saya akan terbit, whatever it takes!

Nama pun bukan penulis, ketika googling dan menemukan berbagai artikel mengenai berapa lama biasanya sebuah buku terbit, saya langsung layu. Rata-rata minimal 3-6 bulan. Itu pun levelnya udah penulis tenar, bukan orang macam saya yang out of nowhere tiba-tiba merasa pengin nerbitin buku. Hehehe. Siapa lu?

Tapi anehnya, sifat keras kepala saya malah meluap-luap, “Masa sih tidak ada cara lain?” Jadilah saya colek-colek Mbah Google dan menemukan banyak sekali informasi tentang Indie publishing. Serasa bertemu jodoh, dalam hati saya bersorak, “Eureka! Eureka!

***

Nah, sekarang mulai menulis. Karena memang buku pertama ini mengandung misi ‘terselubung’ (misinya saya ceritakan di minggu depan, ya), saya memilih bentuk antologi. Sejujurnya, ini tantangan baru lagi. Saya tahu pasti mengedit tulisan orang jauuuhhhhh lebih susah daripada menulis sendiri.

Teman-teman saya disini tak banyak yang suka menulis. Dimulailah bergerilya mencari kontributor. Saya ceritakan misi saya. Belum ada yang tertarik. Saya arahkan tema apa saja yang saya mau. Sudah ada yang tertarik tapi mengaku tak bisa menulis.

Tapi layar sudah terkembang, pantang surut ke daratan. Saya bujuk tanpa henti (via BBM, inbox di facebook, ada yang saya samperin ke apartemennya) satu per satu, orang yang saya incar kisahnya. Saya bujuk, saya wawancara, akhirnya mereka mulai menulis.

Namanya saja mereka banyak yang menulis pertama kali, saya sudah memprediksi akan banyak sekali mengedit tulisan mereka. Nekad, ya. Sementara saya juga cuma penulis boong-boongan, hehehe.

Hasil berburu kontributor dengan intensif membuahkan sebuah naskah dalam tempo 3 minggu. Jangan ditanya sepetnya mata ngedit tulisan tiap malam, hehehe. Hey, there’s no such thing called free lunch! Mana ada sih yang enak-enak untuk mendaki puncak pengharapan ;).

Tapi, begitu naskah selesai, jalannya masih panjaaaaannnggg…

522016_206055992838871_1253662978_n.jpg

***

Sesungguhnya, rasa gentar itu sudah selalu menghantui dari awal. Sejak mencanangkan proyek menerbitkan buku 3 bulan saja, kadang-kadang lutut sudah bergetar.

Saat hampir putus asa mencari kontributor, saya sudah lemas. “Ah, sudahlah. Lanjutin kapan-kapan aja, deh. Lagian kok sinting mau nerbitin buku 3 bulan.”

Saat naskah sudah jadi. Berburu indie publishing tidak kalah melelahkannya. Siapalah saya, cuma blogger doang gitu, lho. Info hanya mengandalkan Google. Sempat takut dengan beberapa peristiwa penipuan via penerbit indie ini. Duh, apa mundur saja, ya?

Setelah menghubungi 5 penerbit, akhirnya menemukan satu yang cocok. Ini pun deg-degan sangat. Untung salah satu teman dekat saya disini kenal baik dengan pemiliknya.

Ya sudah, korek isi tabungan hasil berkarir 7 tahun kemarin.

***

Selesai sampai disitu? Belum ternyata, saudara-saudara! Inilah puncaknya. Penerbit indie memang asoy, naskah kita tak akan tertolak. Tapiiii… penerbit tidak mengurusi marketing dan sales nya. Itu tanggung jawab penulis. Mereka hanya bantu proses distribusi. Onde mandeee, siapa yang mau beli buku ini?

Tapi ya sederhana saja ternyata. Jual saja door to door. Ada internet, pikir saya. Kirim message saja banyak-banyak. Oiya, saya malas mentag orang lain di wall mereka. Saya pikir itu kurang sopan. Karena saya juga tidak suka bila nama saya dipajang di barang dagangan orang lain. Hehehe. Kecuali mereka minta izin lebih dulu.

Saya message satu persatu via inbox FB. Message nya kan sama tinggal copy-paste saja dan mengganti beberapa bagian yang dirasa perlu, hehehe. As simple as that ;). Melelahkan sangat tapi.

Awalnya respons sangat minim. Ya, lagi-lagi ciut. “Bego sih, nekad langsung cetak 800.” Tapi ya gimana lagi, terus saja saya menyebar message secara personal. Chatting satu persatu. Pokoknya tutup mata dulu dengan hasil. Lakukan saja yang terbaik semampunya.

Saya terbakar dengan kalimat dari Ust. Salim A Fillah, “Keajaiban kadang memancar dari sumber yang lain. Bukan dari jalan yang kita susuri atau jejak-jejak yang kita torehkan dalam setiap langkah menjalani usaha.
Begitulah keajaiban datang. Terkadang tak terletak dalam ikhtiar-ikhtiar kita.”

Jadi…just do your best! Let Allah takes care the rest!

Menjelang buku terbit, entah kenapa, mendadak banyak yang tertarik. Satu persatu
mulai membalas message. Tiba-tiba banyak teman yang menawarkan jadi reseller. Anehnya, saya tidak pernah menghubungi mereka. Ternyata mereka tahu dari teman saya yang lain. See? Begitulah keajaiban datang. Terkadang tak terletak dalam ikhtiar-ikhtiar kita ;).

***

So far, cetakan pertamanya habis dalam tempo 10 hari sejak terbit. Tapi kalau terbit secara indie, sebelum buku benar-benar terbit, kita sudah harus hunting pembeli, lho.

Sekarang saya sedang melanjutkan ikhtiar untuk cetakan ke-2 nya hehehe.

Benar-benar belajar banyak hal dari pengalaman yang satu ini. Satu yang utama, saya pikir, setelah menjalani banyak tahapan yang ‘melelahkan’, saya kapok. Enggak lho, saya makin cinta menulis. Berusaha agar makin mahir. Kalau membaca lagi naskah “Bunda of Arabia”, ah, saya sungguh tidak puas.

Dan satu kesimpulan saya yang mungkin tercantum dalam kalimat ini (saya ambil dari Running Quotes from George Sheehan), bahwa :

It’s very hard in the beginning to understand that the whole idea is not to beat the other runners. Eventually you learn that the competition is against the little voice inside you that wants you to quit.”
Benar juga. Sebenarnya dalam setiap mimpi yang berusaha kita gapai, dalam setiap langkah kita untuk mendekat padanya, ada satu musuh dalam diri yang sukar terlihat makanya terlihat susah ditaklukkan : “a little voice inside you that wants you to quit.”

Melawan diri sendiri itu intinya. Melawan bisikan-bisikan yang dihembuskan oleh batin sendiri, “Udahlah, ngapain capek-capek. Berhenti aja. Emang gak mungkin kali. Jangan sotoy, deh.”

Kemenangannya bukan terletak saat bukunya akhirnya terbit. Terbit lebih cepat dari target, 25 maret udah terbit. Yayyyy. Tapi pada kemenangan-kemenangan kecil dalam tiap pertarungan untuk menaklukkan bisikan-bisikan tadi. Mengusir jauh-jauh keinginan untuk berhenti saat garis finishnya malah sudah di depan mata.

Anggaplah kita sedang berlari. Boleh menurunkan kecepatan. Tak salah bila langkah melambat. Tentu tak masalah sekali-sekali berhenti mengelap keringat dan mengumpulkan nafas. Yang tidak boleh itu…melepaskan sepatu anda, menepi di lintasan lari dan menunduk putus asa sambil berbisik : “I’m never gonna make it.” Siapa yang tahu, ketika anda menyerah dan berbalik, justru garis finishnya tinggal beberapa meter lagi.

Jadi, cari garis start nya. Pasang sepatu. Mulailah…mulailah berlari. Jangan mengizinkan ayunan langkah terhenti sebelum anda yakin bahwa garis finish telah terlewati ;).

buku-boa.jpg

 

“Bunda of Arabia : Bahagia, Meski Mungkin Tak Sebebas Merpati”

Gilaaakk, sebenernya ada banyaaaaakkk banget yang mau diceritain di balik penerbitan buku “Bunda of Arabia” ini.

Eh, nerbitin buku?? Iyaaaaaaaa ^_^.

Buku antologi ini berisi kumpulan kisah ibu-ibu asal Indonesia yang sedang bermukim di Jeddah. Gue adalah penggagas dan sekaligus penulis di buku antologi ini. Teman-teman yang berhasil gue provokasi untuk ikut menulis ada 8 orang : Teteh Euis, Mbak Vica, Dini, Mira, Aina, Ismiyati, Alfiani, dan Rani.

Ajaib deh, gue ‘lempar’ ide di tanggal 9 januari. 12 Januari mulai pada bergerak. Akhir februari kita ‘lempar’ naskah ke penerbit Indie, dan voila… “Bunda of Arabia” terbitlah sudah di tanggal 25 Maret kemaren! Bukan main, 2 bulan 13 hari saja! Hahahaha, jangan tanya drama nya kayak apa, penggagas dan pemimpin proyeknya adalah Drama Queen nomor satu *nunjukDiriSendiri*.

Tapi belajar banyak hal dari proyek buku ini yang tentu akan gue share selengkapnya disini, tapi nanti ;).

Sampe sekarang rasanya juga gak percaya kenekatan ini bisa membuahkan hasil, hahaha. Dan yang lebih surprais lagi, bukunya ludes 800 eksemplar dalam tempo 10 hari! Cetakan pertama langsung habis dan segera meluncur ke cetakan ke-2.

Loh? Dikit amat? Iyaaaa, buku ini terbit secara Indie :P. Ada kok alasannya kenapa mesti terbit indie, duh, kapan-kapan pengen euy curhat panjang lebar ;).

Berikut ini tentang bukunya dulu deh, ya ;).

Here we go

***

Bahagia, Meski Mungkin Tak Sebebas Merpati

by : Jihan Davincka

***

Burung merpati bukan hal langka di Saudi. Mereka mengepakkan sayap hampir di seluruh penjuru wilayah Saudi. Asyik aja mereka berputar-putar di udara. Tidak perlu mereka payah-payah berburu makanan. Hampir tiap saat, ada saja orang yang melemparkan makanan ke kawanan mereka. Hidup hanya untuk terbang dan makan. What a life :).

Burung sering dilambangkan sebagai simbol kebebasan. Hanya dengan mengembangkan kedua buah sayap, seekor burung bisa melesat kemana mereka suka. Beterbangan di udara, hinggap di dahan dan ranting, atau sekedar duduk berkicau dimana saja.

******

Saudi, negara ladang minyak yang menjanjikan banyak harapan kepada para pendatang yang terhembuskan takdir untuk datang merantau. Gaji tanpa pajak, biaya hidup yang cukup murah, sehingga kesempatan untuk berkontribusi berupa devisa yang lebih besar untuk tanah air terbuka lebar.

Kemana para pekerja formal kita? Mengapa tak banyak yang mencoba merengkuh rejeki di negara yang mengharapkan banyak tenaga profesional asing ini? Kepiawaian pekerja formal negara kita harusnya lebih dari cukup untuk disejajarkan dengan ribuan tenaga kerja dari negara lain yang berdesakan ingin bekerja disini. Persaingan tak begitu sengit, tidak sesengit kesempatan untuk meraup kesempatan di negara-negara maju.

Salah satu alasan utama adalah : keluarga. Terutama bagi mereka yang sudah beristri. Bukan rahasia, Saudi dikenal tak ramah untuk para perempuan, terlebih yang berasal dari Indonesia. Keengganan para istri kadang sanggup menghentikan langkah para pencari nafkah untuk bertolak ke Saudi.

******

Ternyata ada banyak hal-hal menyenangkan yang tersimpan rapi entah dimana. Hal-hal seru yang gaungnya terlalu lemah karena tertimbun banyaknya kisah-kisah dengan nada berbeda tentang kota ini. Meskipun memang tak dipungkiri, kehidupan sehari-hari perempuan di kota Jeddah masih memiliki banyak ‘dinding pembatas” dibandingkan banyak wilayah lain di belahan dunia sana.

Kami mencoba mengangkat kota Jeddah dan kehidupan perempuannya dari sisi yang sedikit berbeda. Kami hadirkan :

“Bunda of Arabia : Bahagia, Meski Mungkin Tak Sebebas Merpati”

Percayalah, kebahagiaan tidak pernah bergantung kepada dimana kita tinggal, kemana kita pergi, bahkan pada berita yang mencecoki mata dan telinga kita. Bahagia itu dari dalam. As we’ve known that HAPPINESS is not given, it is made. Bahagia selalu bisa diciptakan. Hidup dimana pun pasti perlu perjuangan.

******

Diterbitkan secara indie. First printing of 800 copies sold out in its first 10 days!

Cetakan keduanya akan segera dihadirkan di tanggal 25 April 2012 ini.
Mariiii, pre order boleh, lho.

Boleh mention saya di @davincka
Atau email ke davincka@yahoo.com dengan subject : BUKU
Atau message ke inbox saya di facebook, id saya : Jihan davincka, email : davincka@yahoo.com

PM saya lewat Multiply juga monggo.

Untuk daerah Jakarta dan sekitarnya, harganya cukup 35 ribu rupiah saja, sudah termasuk ongkir ;).

Salam
JIHAN on behalf of
-Bunda of Arabia-

Negeri Paman Syam….

Wiidddiiihhh… di Amerika nih Bu? Hihihihi, enggak lah. Itu kan ada Y nya booo :P… Syam dalam bahasa Arab berarti Matahari. Karena di negara ini Matahari nya sungguh sangar, maka kita sebut saja Negeri Paman Syam.

Beberapa waktu lalu terjadi percakapan seperti ini antara gw (G) dan majikan gw a.k.a suami (S)

S : tau si X kan… yang baru dateng dari Jakarta 3 bulan lalu

G : oiya…tau,tau.. (idih, keliatan ye kerjaan kita berdua gosipin orang mulu hehehehe)

S : Dia mau cabut dek, gag mau kerja disini lagi. Mau pulang ke Jakarta.

G : eh kenapa? bukannya betah ya?

S : gag tau juga. Katanya istri nya ogah diajak kesini.

G : ooohhh…

Gw sangat-sangat maklum dengan alasan itu. Secara tahun lalu pas suami dapet iqamah (semacam PR gitu) dan udah ngajakin gw ikutan kesini, gw mendadak panas dingin. Takutnya stenga mati. Dan mulailah google kiri kanan nyari-nyari info tentang Jeddah. Ada memang 1 blog yang ngasi info cukup lengkap soal Jeddah, tapi nulisnya lempeng aja dan empunya blog adalah laki-laki! dan blog yang lain yg gw baca malah bikin gw tambah keringet dingin. Teringat salah satu kalimat di blog salah satu perempuan Indonesia yang tinggal di Jeddah, kira-kira isinya begini : “Berada di negeri ini membuat saya merasa berada dalam salah satu titik terendah dalam hidup saya!” aduuuhhh, ngeri sangatttttt….

Gw ampe bingung, diapain aja sih cewe-cewe itu di Jeddah? ada juga info tentang beberapa pantai buat wisata disini. Isinya : kotor, gag ada fasilitas, panas, bla bla bla… tambah lemes lah gw :(. Terus ada yang bilang cuaca nya itu panassss benerrrr bikin hati bawaannya pengen berantem terus. Ck ck ck… gw kan gampang tersulut ya booo biarpun di cuaca sejuk hihihihi, jadi apaaaa gw di Jeddah nanti huhuhuhu, begitulah gw mengisi hari-hari keberangkatan dengan gundah *saelaaahhhh* …. bingung pula di Jeddah ada mal gag ya? kalo perempuannya wajib ber abaya hitam di mal jualan baju apaan dong? ada gag ya brand-brand internasional gitu? terus apa pula itu abaya hitam? betah apa pake baju item panas-panas gitu…

Pokonya tahun lalu udah pasrah lah. Gw pikir ya sudahlah, mudah-mudahan diberi kesabaran dan itung-itung kan bisa umroh gratisan kita hehehehehe….

Dan gag nyampe sebulan tinggal dimari, langsung luntur semua pikiran ‘jorok’ gw tentang Jeddah. Pertama diajak ke mal (waktu itu Andalus) gw dah langsung terpana. Gede banget mal-mal disini dan kata siapa mal nya garing? caem-caem loooohhhh ;). Malah sesak napas pas ke Red Sea Mall…. ogah kesana lagi, pegeeeellll :P… Jadi inget dulu salah satu kerabat nyindir-nyindir pas gw mu kesini : “aduh, kasian bakal bosen kali disana. Pastinya masjid semua kali ya, gag ada mal.” Hey Anda yang ngomong begitu, sini,sini saya aja wisata mal di Jeddah dijamin muntah-muntah hehehehehe…

Perempuannya gag boleh kemana-mana tanpa suami? omong kosong abessss…. liat dah tuh kelakukan ibu-ibu mejeng di pusat-pusat perbelanjaan (mulai dari Balad sampe Bab Shareef)… dijabanin semua! kemana para suami? ya ngantor dooongggg… kite mah tinggal calling supir pribadi a.k.a supir taksi asal Indonesia yang siap mengantar para ibu-ibu melenggang kemana-mana hehehehehe… yg namanya komunitas ibu-ibu mulai dari arisan ampe pengajian juga berderet, tinggal pilih lah pokonya :D….

Trus abaya? There are lots of fashionable abayas here ^_^ … aduh, kece-kece deh. Sayang aja sifat kikir gw gag ilang-ilang juga jadinya gw termasuk sedikit dari orang-orang yang biarpun bermukim di Jeddah, abayanya cuma 2 biji sajah :P. Eh, jadi 3 dong, kemaren abis dapet lungsuran hahahahaha…

Laki-laki arab kejam-kejam bak iblis? alhamdulillah gw belum ngalamin yang aneh-aneh dan gag macem-macem (kalo keluar rumah ke tempat umum lebih prefer ama suami sih)… jadinya alhamdulillah gag perna ngalamin kejadian buruk. Malah, ada juga loh yang baik hati. Kita sempet kejebak di pantai tengah malam gara-gara suami gw ketinggalan kunci dalam mobil dan semua pintu mobil terkunci. Waktu itu lagi musim dingin. Bayangin lagi hamil pula gw waktu itu, sementara suami gw sibuk utak utik pintu mobil, ada satu mobil mewah yang berhenti, keluar laki-laki arab berpenampilan necis. Beliau ikutan bantuin suami gw yang lagi kasak kusuk. Sementara si empunya kedai tempat kita mampir, ngasi gw karpet biar gw bisa duduk. Gag ada loh mereka coba godain atau iseng-iseng ‘nakal’ gitu malah pas gw mau bayar sekedarnya karena dia udah minjemin karpet dia geleng-geleng dan asik ngobrol ama temannya. Perna juga lagi hamil tua belanja bulanan ke mal, suami gw lagi ke toilet. Posisi troli belanjaan gw melintang depan lift, sementara tangan satu gw megangin Abil yang udah siap melesat bak anak panah kalo gw lepasin tangannya. Bingung banget gag kuat dorong troli biar gag ngalangin jalan orang. Pasrah deh gw pas ada bapak-bapak arab berpakaian rapi lagi nelpon menghampiri gw. “Aduh abis deh gw, pasti dimaki-maki nih gw” batin gw pasrah dalam hati. Tapi si Bapak-bapak itu, sembari tetep nelpon, dia dorong troli gw ke posisi mepet dinding biar gag ngalangin lagi. Terus tanpa melihat sama sekali ke gw dia langsung balik ke tempat tadi dia berdiri. Dia khusus dateng buat nolongin gw mindahin troli! Apa dia bersikap kurang sopan dan coba menggoda. Gag tuh, mau ngeliat gw aja engga. Oiya, budaya orang sini laki-laki memang gag jelalatan kalo liat perempuan. Bukannya gw bilang para TKW itu bohong yah, cuma ya tidak semua laki-laki lah berperangai kaya binatang.

Balik lagi ke cerita temen suami gw tadi. Intinya, sayang lah kalo para suami kita kehilangan kesempatan untuk bekerja disini (ahemmm…gaji disini dahsyat, tanpa potong pajak, diimbangi pula dengan biaya hidup yang tidak terlalu mahal) hanya gara-gara selentingan berita yang sampai ke kuping istrinya :(. Atau beberapa informasi negatif tentang Jeddah yang beredar ‘kuat’ di internet. Lumayaaaaaan, sumbang devisa ke Endonesah tercinta ^_^ …. jangan mu kalah ama TKW yang rajin kirim devisa hehehehe…

So, I made mamasejagat, tapi ini lebih ke ambisi pribadi sih. Isinya juga campur-campur dengan beberapa teman dari negara lain.Dan justru sharing dengan mereka membuat gw makin bersyukur mendapat kesempatan tinggal di Jeddah. Sampe ada yang malah mengeluhkan susahnya cari makanan halal di negera sana dan udah gitu kalo pun ada mahalnya minta ampun. Dan ada pula yang semangat pengen ngajakin suaminya kerja di Jeddah, amiiinnnn…mudah-mudahan kita bisa ketemu disini :). Meskipuuuuunnnn tetap gw ini juaranya banci eropa! hahahahaha, ayo Bang, apply terussssss :P… rumput tetangga selalu lebih ijo emang :D…

Dan juga gw pengeeennn banget nama ‘Indonesia’ sedikit terangkat lah di mata Timur Tengah. Agar orang-orang sini gag terkaget-kaget lagi kalo liat ada perempuan Indonesia yang bisa bahasa Inggris, sumpe loooo, di Indonesia banyak booooo…. Dan agar suatu hari kalo gw jalan-jalan ke mal-mal yang ada di Jeddah gw bukannya ketemu dengan gerombolan pria Indonesia yg lagi ngerumpi di pelataran parkir menunggui majikannya yang lagi belanja. Tapi gw mau ketemu mereka di dalam! Lagi nganterin istri-istrinya belanja dalam mal hehehehe…. Heyyy, tunjukin dong, di Indonesia ada banyak konsultan SAP, telco engineer, manajer bank, bukan cuma supir saja :D… Kerja ama orang Arab gag pake cambuk kog hehehehe, asal jangan sensi, dijamin wajar aja sih kerja disini :). Sama lah kaya di Indonesia, kita juga sering ketemu bos rese’ kan di Indonesia? sering ketemu user yang nyolot kan? kurang lebih sama lah…

Dari banyak cerita temen-temen gw (kebetulan babu yang satu ini du
lu juga perna berkiprah di dunia IT hehehehe), kebanyakan pengen ke Eropa dan Amerika, tapi tembus kesana memang relatif lebih susah. Ke Timur Tengah pun pengennya ke Qatar, Dubai, dll. Jangan mau… mahallll disana hahahahahaha…. kalo ke Jeddah? ada temen gw (cewe) yang berprinsip : “mending suami gw nganggur timbang gw disuru tinggal di Jeddah” hahahahahaha…. hey U, udah liat mamasejagat belom? Klik yang kategori Jeddah yaaaa hihihihihi…

Then, I also initiate to create Blog Kota Jeddah, lebih fokus ke kota Jeddah nya. Biar orang-orang yang menganggap Jeddah = neraka perempuan bisa melihat lebih obyektif hehehehehe…. Insya Allah ya, sebaiknya kan memang kita menyebar berita-berita positif bukannya saling tuker-tukeran info negatif ;).

Mungkin, Jeddah bukan kota yang aduhai yang membuat kita pengen menghabiskan hari tua disini hehehehe…. tapiiiii…. bukan juga seperti cerita kebanyakan sih yaaaa…. Jeddah itu adalah mirip-mirip Jakarta kog. Tapi macetnya gag sampe ‘membunuh’ hehehehe, dan bensinnya cuma 1000 rupiah saja per liter hahhahahaha… Pantai yang bersih banyak kog disini :), theme park banyak buat tempat anak-anak main :), doyan belanja? dijamin puas liat mal-mal disini, suka yang mahal-mahal, marilah ke Tahlia Street :). Cari pashmina murah meria?, kalah deh tanah abang :P. Makanan? gw jamin rasa dan ragam tidak kalah dengan di Indonesia. Komunitas Indonesia disini melimpah ruah soalnya, jadi gag susah nyari bumbu dan resto Indonesia.Katanya di eropa/ostrali/amerika banyak playground yang merupakan hiburan yang lebih sehat buat keluarga… disini juga banyaaaaakkkkkk :D….

Promosi abis – abisan hahahahahahahaha…. yah ini untuk membayar ‘kesalahpahaman’ gw setahun lalu saat gw mengutuk Jeddah abis-abisan pas mu berangkat kesini hehehehehe…. well, people did make mistake dong ya ;), ini saya mau bayar lunas dengan berbagi informasi yang saya harap-harapkan bisa saya temukan di google setahun yang lalu :). Jadi anda yang tinggal di Jeddah, jangan serakah dong…. cerita seru disimpen sendiri :P, ayooo berbagi cerita di Blog Kota Jeddah ^_^ ….

Kerja Luar negeri TKW arab

Huru hara kisah TKW di padang pasir

Multiply jadi terbengkalai gini hehehehehe, curang dikit ah, nyomot 1 note dari fesbuk buat disini :D. Biar gag kosong2 amat :P…

———————————————————————————————————————————-

Yaaahhh, setelah menahan diri sekian lama untuk gag ikut2 an gede omong soal ini hihihihi, akhirnya gag tahan juga buat cuap2 hehehehe…

Gambar : berita.plasa.msn.com
Gambar : berita.plasa.msn.com

First of all, gw sebel sama keputusan moratorium pemerintah yang memutuskan per 1 agustus besok, no more pengirimiman TKW ke negara lain (ato cuma saudi sajakah? cmiiw plis..). Ya,ya gw tau dari kejadian ini banyak yg malah ngeluarin pernyataan2 emosional kaya : “idih, gag ada ya negara lain yg ngirimin TKW ke saudi, dasar Indonesianya aja yg gag tau malu!” …. para ibu rumah tangga yang berkali2 bermasalah sama pembantu rumah tangganya di Indonesia seolah ‘bersorak’ di timeline twitter maupun facebook : “makan tuh para pembokat gag tau diri, gw doain lu ke arab disiksa disana abis kerja disini juga pada ngeselin, minta pulang kampung mulu” …

The truth is…. apa kalian semua kira hukuman pancung yg dialami Ruyati bisa meruntuhkan semangat luar biasa para wanita2 super ini untuk meninggalkan kampung tercinta untuk mengejar riyal di saudi? Heloooo…mereka mungkin lebih takut kalau suatu hari nanti mereka masih diberi umur panjang dan mereka harus menyaksikan anak cucu mereka jadi pembantu lagi!! tidak pada tempatnya kita berkoar2 soal harga diri di depan orang2 yang jangankan mikirin sekolah, buat mikirin ini anak gw besok makan apa aja bikin mereka stres :(. And speaking about sekolah…. yah, anda para ibu rumah tangga yg lebih beruntung ada di posisi ‘majikan’ juga tau dong betapa uang sekolah sekarang ini udah kaya lintah darat. Sekolah biasa yang dengan pedenya sok2 pake bahasa inggris sebagai bahasa pengantar berani mematok harga belasan even puluhan juta rupiah untuk 1 murid! Dan dengan gaji 500 rb yang kalian berikan kepada pembantu kalian tiap bulan (okelah tepat waktu okelah gag pake disiksa) masa depan apa sih yang coba kalian tawarkan kepada mereka????? Sebagian dari mereka juga seorang ibu seperti kita para majikannya. Seorang ibu yang mungkin dalam doa2 nya di malam hari mengangkat tangan dan berbisik2 kepada Tuhan “Ya Allah semoga anak gw kelak jadi presiden! Amin…”

Gw sih gag bilang “ayoooo kita naikin aja gaji pembantu kita 2 juta tiap bulan biar mereka gag perlu ke luar negeri!” … itu sama konyolnya. Jangankan naikin gaji, sekedar ngasi libur sehari seminggu kepada para pembantu rumah tangga apa ada yang mau?????

Ayolah, apa gag cukup tuh ‘derita’ mereka menyandang status sebagai ‘pembantu’? Mari mulai dengan hal2 kecil dulu :

1. mulailah dengan membiasakan menyebut mereka dengan istilah asisten RT

2. Berikan libur, encourage mereka untuk sekedar jalan2 dengan temen2 nya pas abis gajian. Gw bukannya sok baik, gw dulu menerapkan ini ke mbak gw (hai,hai mbak Sum :D), dan beneran loh, kalo abis libur gitu begitu mereka balik ke rumah kita jadi tambah semangat kerjanya :). Wajar toh, hati senang abis rileks sebentar begitu balik kerja jadi fresh lagi ^_^ ….

3. Mungkin bisa kita tawarin ke mereka untuk ikutan kejar paket A dan kejar paket B atau bahkan C. Dan semangatin mereka untuk jangan terus2 an menjadi pembantu. Idih, rugi dong ah, apalagi kalo udah dapet yg cocok, tapi percaya deh insya allah majikan yang baik akan dapet pembantu yang lebih baik lagi, kecuali Yang Di Atas punya kehendak lain kan untuk menguji kita ;)….

4. Dulu udah ribut gw nyari2 tempat kursus bikin kue dan kursus masak buat si embak, karena si doi top banget deh di dapur. Awalnya pengen kursus jahit tapi si doi nampak ogah2an dan lagian eyke juga gag punya mesin jahit :(. Sayang, invitation letter dari majikan gw udah keburu dateng dari Arab dan mental gw tidak cukup kuat menghadapi para kerabat yang tidak henti2nya ngeledekin gw dengan ucapan : “Ih, dia takut tuh ditinggalin ama pembantunya makanya pembantunya diperlakukan kaya ratu” … aih,aih cuma ngasi libur aja, ngebebasin si doi makan apa aja yg ada di rumah, ngebiarin si doi nonton tipi di ruang tamu, duduk di sofa keluarga, masa iya kaya ratu? :(….

5. Wajar lah kalo pembantu yg muda2 jaman sekarang pengen bergaya pake HP lah, pake ini itulah, dengerin aja curhatnya, senyum2 aja, berikan barang2 kita yg udah gag kepake biar bisa dipake sama mereka, jauh amat nyumbang2 ke panti asuhan ama korban gempa, tuh di rumah juga ada yg layak menerima kan ;).

6. Dan jangan patah arang kalo kita udah baik2 ke mereka eeehhh mereka tetap minta berhenti juga hehehehehe…. Maaf lupa ayat berapa dan dimana yang kira2 bunyinya begini : “Bila kalian melakukan suatu kebaikan kepada orang lain sesungguhnya kalian sudah berlaku baik kepada diri kalian sendiri” … gag main2 loh, yg ngomong si empunya semesta jagad raya ^_^ ….

Yah, kalo urusan koar2 ke pemerintah kan bisa sambil jalan dengan ide2 sederhana ini. Resikonya mungkin suatu hari kalau kita terus2 an ‘memoles’ setiap pembantu yg kerja di kita untuk meninggalkan pekerjaannya sebagai pembantu eh asisten RT :P….suatu hari bukan tidak mungkin mereka semua udah males jadi pembantu ^_^ …. yaaaa, jadinya kita semua gag bakal punya pembantu dong! tapi heyyyy, coba tengok di negara maju, memangnya mereka kenal kata pembantu eh asisten RT 😉 ….

Membenahi pendidikan? memperluas lapangan kerja? itu kan bukan kerjaan 1-2 tahun…ketambahan lagi masalah koruptor bla bla bla, yg model kaya2 Melinda ama nyonya Nunun aja gag beres2 (btw, si ibu Nunun kemana sih, gw ada perlu dikit euy, pengen minjem satu aja dari sekian koleksi tas hermesnya hehehehehe)…. dan apakah logis secara emosional kita mengeluarkan moratorium penghentian TKW? gimana kalo Saudi nya bebal. Mereka kan tinggal buka pintu gerbang buat negara lain. Malah takutnya nanti negara lain yg ambil kesempatan, memoles TKW nya baik2 dan kirim ke saudi dengan perjanjian gaji yg lebih okeh. Tinggallah kita gigit jari. Yg cari makan di ladang minyak disini bukan cuma orang Indonesia cing!

Dan tolong dong jangan disangkut2 in urusan ini ama agama, di twitter rame timeline soal katanya di Hongkong dan negara2 non muslim lain, TKI diperlakukan lebih manusiawi daripada di Arab, negeri tempat turunnya Rasul terakhir dan agama Islam. Well, Islam itu rahmat yang ditujukan buat seluruh umat manusia, bukan buat bangsa arab doang! gag berani nulis dalam bahasa arab takut salah ato keserimpet hehehehe….

Makanya jangan nilai orang dari panjang pendeknya jilbab yang dikenakan, jangan dinilai dari berapa banyak ayat yang keluar dari mulutnya, seberapa bagus tajwidnya dalam membaca al quran. Hati manusia itu kuasa Allah semata 😉 dan Allah yang berhak membolak balik hati manusia. Konon salah satu sohib gw disini bilang Allah lebih mencintai orang yg kurang ilmu tapi dermawan timbang orang yg banyak ilmu tapi kikir. Itu hadis ato apa sih bunda Rani? tolong diklarifikasi hehehehehe….

Demikianlah tausiyah dari ustadzah Jihan hihihihihi…. yuk, seiring dengan duka yang mendalam untuk Ibu Ruyati (semoga Allah membukakan pintu maaf untuk beliau dan menyediakan tempat terbaik untuknya di sisi Nya)… mari kita lihat ke dalam diri masing2 (mudah2 an tanpa emosional dan impulsif) apa ada yg bisa kita lakukan untuk para TKW atau orang2 yang mencari rejeki dengan menjadi asisten rumah tangga ini. Minimal dengan tidak membeda2 kan piring dan sendok makan mereka mungkin? kecuali kalo mereka emang punya indikasi penyakit tertentu hehehehe…. Pelecehan itu bukan hanya secara fisik, ucapan2 sekedar “dasar pembantu” juga bisa dianggap melecehkan mereka secara batiniah. Sedaaaappp…ini gw ngomong apa ya dari tadi hahahahaha…

Sok tau ya gw? ah, engga juga, coba aja tanya tetangga2 gw dulu di Laguna… hayooo siapa tuh ibu2 di kompleks yang rasanya lebih banyak berinteraksi dengan para pembokat ketimbang sesama ibu2 yang lain hahahahaha… makanya kalo disangkain pembantu disini kog lah ya ndak berasa apa2 ya di gw hahahahahaha….

Bahasa ketiga di Madinah?

Tadinya gw gag ngeh yah, mungkin karena uda terbiasa banget baca tulisan dalam bahasa indonesia hehehe.

Pas di dalam masjid Nabawi ada tulisan gede-gede : “Area khusus untuk wanita tanpa anak-anak” … Iyah, waktu itu kebetulan pas sholat Isya, si Pops mau berbaik hati jagain Abil, jadinya si Abil dibawa ke tempat laki-laki, gw bisa melenggang bebas jadinya :P.

Biasa aja tuh pas gw baca tulisannya. Di bagian atas tulisan arab gituh, dan di bagian bawah kalimat bahasa inggris dengan arti yang sama. Jadi setiap petunjuk biasanya dalam 3 bahasa : inggris, arab, dan…. bahasa Indonesia! Waaah, bangga juga booo bahasa indonesia lumayan terkenal di Madinah.

Terbukti kalo jemaah umroh dan haji terbesar dominasinya emang dari negara kita. Kenapa pemerintah masih maju mundur dan takut-takut ya soal TKW bermasalah di saudi ini? :(. Padahal ternyata kalo dipikir-pikir Saudi lumayan tergantung kali ya sama Indonesia.

Bukan cuma karena mereka pake banyak bedinde ato supir dari negara kita tapi sekaligus dapet untung dari banyaknya jemaah haji/umroh asal Indonesia. Sampe toko-toko di seputaran masjid Kuba, ama penjual-penjual pinggirannya pun banyak yang pake bahasa Indonesia dan nawar-nawar in dagangannya dalam bahasa kita : ” Ayo beli, murah, murah….” hehehe.

Yuk mareeee, soal belanja emang kite, orang Indonesia, deh ahli nyeeee =)).

Tidak cuma dalam lingkungan masjid. Sampai-sampai yang suka jualan dekat pagar masjid tuh, jago-jago bouw bahasa Indonesianya :D. Kalau soal angka-angka ya cincay lah.

Dekat pagar, apalagi kelar shalat Subuh, ramai penjual jual ini itu. Paling banyak sih pashmina, kain jilbab dkk gitu lah. Abaya-abaya juga ada. Daster-daster segala macam.

“Murah ini, murah ini. Sepuluh, sepuluh, sepuluh.”

“Siti Rahmah, murah, murah, murah. Lima, lima. Sepuluh, dua puluh. Sini, sini.”

Berasa jalan-jalan di Tenabang deh jadinya kali ya hehehe. Padahal belum tentu juga kali yang berkerumum mau beli orang Indonesia semua :p.

Kalau di Balad itu lebih seru lagi, lho. Tapi kapan-kapanlah diceritain lebih lanjut soal Balad hahaha.