Pulau Irlandia berbatasan langsung dengan Laut Atlantik di pesisir baratnya. Jadi, kalau mau ke pantai terbuka, mari kita jalan-jalan ke wilayah barat. Yuuuk jalan jalan Galway ceritanya ada di sini ;).
Galway, termasuk kota terbesar di Repulik Irlandia. Nomor 3 kalau tidak salah setelah Dublin dan Cork. Galway, kota besar yang letaknya paling dekat dengan kota tinggal saya. Makanya sudah beberapa kali main ke sini. Tapi baru kali ini sempat ditulis hahahaha :p.
Salthill Beach di Galway, foto : Dani Rosyadi
Btw, Galway juga termasuk kota wisata di Republik Irlandia buat para turis yang paling direkomendasikan ;). Umumnya pada pengin ke Pulau Aran yang bisa dituju dari pesisir pantai di Galway.
Kunjungan pertama saya ke Galway, tahun 2013 silam, hanya main ke pantainya saja. Kunjungan selanjutnya baru ke City Centernya. Jadi postingan terpisah saja, ya. Biar banyak hihihihi. Sekarang fokus di pantai Galway saja yang menghadap ke samudera Atlantik.
Konon, Atlantik ini suhunya cukup dingin. Iya, sih. Rasanya pas ke sana sudah mulai masuk musim panas tapi suhunya ya enggak panas-panas amat. Jangan bayangin pantai-pantai di Indonesia yang hangat di hampir sepanjang tahun :p. Di Atlantik ini, anginnya tetap lumayan di musim panas sekali pun.
Jalan jalan Galway – Irlandia
Akomodasi dari Dublin ke Galway
Menuju Galway dari Dublin bisa ditempuh via bus dari stasiun Bus Busarat yang letaknya di City Center. Naik saja bus nomor 20 atau X20, Dublin – Galway. Kalau mau ke Athlone dari Dublin juga naik bus ini. Mampir di Athlone dulu boleh Kakaaaaaaa hehehe :p. Mampir di halte bus bandara juga lho bus ini ;).
Hampir tiap jam busnya ada ^_^. Dublin-Galway naik bus kira-kira 3 jam lamanya.
Salah satu sudut kota di Galway. Foto : Dani Rosyadi
Saya sekeluarga naik mobil dari Athlone. Jaraknya lebih dekat. Hanya menyetir sekitar sejam.
Waktu itu memang kepengin main ke pantai ^_^. Mumpung cuaca lumayan hangat. Tapi sehangat-hangatnya cuaca di pesisir Atlantik, tetap harus jaketan. Jaket tipis saja sudah cukup sih.
Pantai di Salthill Galway
Menuju Salthill, wilayah pantai di Galway, relatif gampang. Banyak penunjuk jalan. Tapi kami dibantu oleh Sygic hehehe. Dari City Center Galway sekitar 15 menit-an.
Wisata ke Salthill Galway, foto : Dani Rosyad
Ada trotoar cukup lebar di pinggiran pantai. Jadi enak kalau mau lihat-lihat dulu. Buat dorong-dorong stroller juga nyaman. Tentu saja para bocah sudah enggak sabar ke area berpasir.
Saat itu lumayan banyak pengunjung lain yang lagi ke sini. Tapi kayaknya enggak penuh. Terakhir ke sana, nyari parkiran sampai muter-muter. Nah, tahun 2013 itu, langsung dapat parkiran pas datang dan ada lebih dari satu slot kosong.
Di pesisir yang berpasir, anak-anak ketemu teman baru. Asyik deh main bola bareng :D. Kami gak bawa tikar waktu itu. Jadi duduk-duduk di batu saja liatin anak-anak main di pasir.
Main bola bareng, foto : Dani Rosyadi
Lihat gak tuh, anak-anak bule ada juga yang pakai baju renang. Udah biasa kali ya, enggak terasa dingin :p.
Oiya, Salthill ini terletak di pinggir jalan raya yang banyak dilalui kendaraan. Bus-bus dalam kota juga pada lewat sini. Kayaknya masih wilayah dalam kota. Jalan rayanya ramai bener.
Di promenade-nya juga banyak yang duduk-duduk. Atau sekadar jalan-jalan, entah jogging sendirian, sambil bawa hewan peliharaan, atau berduaan sama pasangan atau satu paket dengan anak-anak kayak kami hihihi.
The Salthill Promenade, foto : Dani Rosyadi
Lumayan lama juga di Salthill, suami soalnya sambil motret-motret juga. Keasyikan motret anak-anak dan pemandangan, motret bini ampe lupa ya Bang, zzzzzz -_-. Ya nasib, ya nasib. Dulu aja, bulan madu di atas pelangi, hanya kita berduaaaaa …. #eaaaa. Kenapa jadi baper iniiiii hahahaha.
Ke Pantai Connemara
Dari Salthill, masih pengin lihat pantai yang satu lagi. Mari kita ke Connemara :D. Sebenarnya pengin ke Connemara National Park tapi kayaknya jauh. Eh, entah jauh entah gak ketemu ya hihihihi.
Soalnya, pengin makan siang di Connemara. Jadi, pas ketemu pantai, langsung parkir. Makan di dalam mobil biar bocah enggak rusuh lari-lari :p.
Pantai Connemara, Galway. Foto : Dani Rosyadi
Di Salthill kan di seberang pantainya ada perumahan, perkantoran, dan jejeran toko-toko yang enggak kalah ramainya.
Connemara ini pantainya lebih sepiiiiiii. Sudah agak ke luar kota. Jalanannya saja sunyi begini :D. Enggak ramai mobil lalu lalang. Di sisi satunya juga cuma padang rumput yang nyaris kosong begitu.
Pinggiran jalan di tepi pantai Connemara. Foto : Dani Rosyadi
Sebenarnya kepengin nyobain makan di rumah makan di pinggiran pantai di Connemara ini. Lihat foto di bawah, di pojokan itu ada tulisannya kan, “Fresh Seafood”. Tapi biasanya pasti mahal dah hahahaha. Lagian sudah kenyang abis makan. Bawa bekal dari rumah kayak biasa :p.
Jadi ya, difoto ajalah buat kenang-kenangan hihihi. Next time mana tahu ke sini lagi, bolehlah dijajal seafood ala Atlantik :p.
Connemara, foto : Dani Rosyadi
Di Connemara, gak terlalu banyak orang main di pasir pinggiran pantai. Makanya juga enggak lama-lama di sana. Garing, euy, hihihihi. Saya juga banyakan dalam mobilnya. Dingiiiiin, anak pantai tropis disuruh ke Atlantik emang gak nyambung dah hahaha.
Anak-anak saja sama suami yang pecicilan di pantai.
Pantai Connemara tidak terlalu ramai, foto : Dani Rosyadi
Sudah agak sore pas kami beranjak pergi dari Connemara. Sudah enggak semangat mau ke National Park-nya. Lagian kalau mulai gelap, iya kali mau jalan-jalan di hutan, hiiiyyyy *bergidik*. Siang-siang saja suka horor sendiri kalau hiking di area hutan yak –> dasar penakut! Hahaha :p.
Mau muter di City Center saja sudah malas. Jadi, langsung cabut balik ke Athlone.
Tapi 2014 kemarin sempat datang lagi ke Galway, jalan-jalan di City Center, ke mal, sampai nyari-nyari toko Asia buat beli tempe hihihi. Next time ya. Ini kirain bakal pendek. Tapi panjang juga ternyata postingannya :D.
Resep Palumara khas Makassar ? Umm…sebenarnya ini juga masakan khas orang Bugis bahkan orang-orang di Sulawesi pada umumnya :D.
Tapi di Bugis umumnya disebut “Nasu Bale” kalau di daerah asal orang tua saya, Kabupaten Sidrap. Bugis dari Bone bilangnya beda lagi. Lupa namanya hehehe.
Pallumara, foto : Dani Rosyadi
Nama Palumara itu dari bahasa Makassar. Pallu = masakan. Pernah dengar kan … Pallubasa, Pallubutung dll :D. Palumara artinya masakan asam. Mara itu artinya asamm kalau tidak salah. Duh, enggak jago bahasa Makassar nih *sungkem*.
Saya juga enggak paham resep aslinya harusnya bagaimana. Ini hasil tanya-tanya ke si Mamah aja. Apalagi tempo hari Mama sempat tinggal di sini selama 2 bulan. Sempat beberapa kali bikin Resep Palumara ini ;).
Tapi kepengin nambahin beberapa tambahan bumbu. Belagu banget yak, sok-sok modifikasi hihihihi.
Dulu, di Jeddah, di depan apartemen juga orang Sulawesi ^_^. Mertua teman saya itu orang Bone. Pas datang, sempat diajarin cara bikin Resep Palumara ini. Kalau Mamah saya bikinnya sederhana saja bumbu-bumbunya. Sementara mertua teman pakai bumbu lebih lengkap. Saya lebih suka yang bumbunya lebih banyak hehehe.
Kalau Mamah kan hanya pakai kunyit, asam jawa, garam, penyedap rasa terus udah deh. Kayaknya lebih sedap kalau pakai bawang-bawang segala macam, nyam nyam :D.
Sekarang soal bahan utamanya : ikan. Waktu kecil dulu sih, biasanya resep palumara ini pakai aneka ikan laut. Bisa ikan Tongkol/Cakalang atau ikan Bolu/Bandeng. Bisa juga ikan Mairo yang ukurannya agak besar. Saya gak paham deh ini ikan Mairo nama formalnya apa ya hihihi. Ikan teri yang agak gede apa ya? CMIIW ya ^_^.
Tapi di Ireland sini adanya ikan fillet gitu. Ada sih ikan-ikan segar yang masih utuh tapi mahal, Cyiiiinnn hihihi :p.
Pakai ikan fillet juga rasanya cetaarrrrrr ^_^. Biasanya saya pakai Ikan Cod atau Ikan Basa. Cod warnanya putih, kalau Basa agak kecoklatan. Dua-duanya enak kalau dibikin resep palumara.
Resep Palumara Khas Makassar
Bahan :
1- Ikan fillet, sekitar 300 gr
2- Kunyit, 1 sdm
3- Asam Jawa, sekitar satu sendok makan. Remas-remas dengan air.
4- Bawang merah, 3-4 siung, cincang kasar/halus
5. Bawang putih, sebiji aja cukup cincang kasar/halus
6- Jahe, sekitar 2 cm, keprek dikit
7- Minyak 1 sdt buat menumis
8- Air, sesukanya pengin banyak kuah atau sedikit
9- Garam Gula secukupnya
10- Cabe hijau besar, 2-3 buah
11- Kaldu blok. Kaldu ikan ya. Kalau enggak ada pakai kaldu ayam aja. Itu kalau mau. Enggak ada juga gak apa. Saya pakainya cuma sejumput kadang juga enggak pakai sih.
Cara Membuat :
1- Ikan diberi air sedikit. Sekitar 2-3 sendok makan. Campurkan kunyit, garam sedikit, asam jawa yang sudah diremas ke dalam panci yang sudah berisi ikan tadi. Campur rata. Beri air sekitar 200 cc.
2- Rebus ikan dan bumbu tadi di atas kompor. Apinya jangan gede-gede yak. Ikan kan cepet aja matangnya ;). Masukkan cabe hijaunya. Biar matang bareng.
3- Tumis bawang merah, bawang putih dan jahe sampai harum. Lalu campurkan ke panci yang isi ikan dan bumbu tadi.
4- Aduk sebentar lalu tambahkan air secukupnya. Jangan banyak-banyak sih enaknya biar lebih kental :D.
Tanggal 5 November 1605, Guy Fawkes gagal meledakkan gedung parlemen Inggris dengan bubuk mesiu yang sudah disiapkannya di bawah tanah. Peristiwa yang dikenal dengan Gunpowder Plot of 1605 ini membuatnya harus menerima hukuman mati.
Guy Fawkes berusaha membunuh King James, raja Inggris yang beragama Protestan. Sementara Fawkes sendiri adalah pemeluk Katolik.
Topeng Guy Fawkes, gambar : pixabay.com
Fawkes dan pemeluk Katolik lain hidup dalam tekanan saat Kerajaan Inggris berada di bawah pemerintahan raja-raja Protestan. Sebaliknya, saat kerajaan diperintah penguasa Katolik, pemeluk Protestan yang terpinggirkan.
Guy Fawkes sebelumnya pernah menjadi serdadu Kerajaan Spanyol yang sedang menghadapi pemberontakan sekelompok orang yang ingin mendirikan Dutch Republic.
Kerajaan Spanyol yang dipimpin oleh kekuasaan beragama Katolik memanfaatkan orang-orang seperti Fawkes dengan dalih “berjihad” atas nama agama. Spanyol menyewa serdadu bayaran dengan iming-iming mempertahankan Spanyol dari pemberontak yang diklaim sebagai “pihak” Protestan.
Tentu saja, otoritas Spanyol saat itu sebenarnya hanya ingin mempertahankan keutuhan wilayahnya semata. Tapi, apa yang lebih ampuh mengobarkan semangat “bertempur nan berani mati” selain alasan agama? Sad yet true, it continued happening years and years after that.
Setelah Spanyol, Fawkes kembali ke Kerajaan Inggris dan kembali “dimanfaatkan” oleh sekelompok Katolik yang ingin merebut kekuasaan dari King James saat itu. Politik, politik, politik. Politik atas nama agama. Kok kayaknya familiar, ya? :p.
Dalam beberapa peristiwa lain, atas nama agama, banyak nyawa melayang di berbagai tempat. Bahkan tidak mesti berbeda kepercayaan antara yang membunuh dan yang dibunuh.
Mohandas Karamchand Gandhi, mati tertembak oleh seorang ekstrimis Hindu (Nathuram Godse), saat hendak menuju ke tempat peribadatan. Gandhi pun seorang pemeluk agama Hindu.
Pemicu pembunuhan karena ketidakpuasan kalangan ekstrimis Hindu terhadap sikap akomodatif Gandhi kepada kaum muslim India. Pertikaian berdarah antara Hindu-Muslim-Syikh mewarnai awal kemerdekaan India sekitar tahun 1947 silam.
Gandhi, salah satu pelopor kemerdekaan India yang juga terkenal dengan gerakan nonviolent resistance-nya. Gandhi memimpin protes kepada para penguasa pra kemerdekaan India dengan cara “damai”.
Saat kemerdekaan telah direbut dan hubungan sengit antara Hindu dan Muslim terus membara, Gandhi muncul sebagai penengah yang akhirnya dibayar dengan nyawanya sendiri.
Anwar Sadat, juga ditembak mati oleh pemuda muslim (Khalid Islambouli) saat parade militer di Mesir. Pemuda tersebut diperkirakan bagian dari sebuah gerakan Islam dalam Mesir sendiri.
Presiden Anwar Sadat, gambar : pixabay.com
Anwar Sadat dimusuhi pasca menyetujui perjanjian Camp David yang berusaha menurunkan tensi ketegangan antara Mesir dan Israel pasca pemerintahan Gamal Abdel Nasser yang terkenal sangat kontra dengan Israel.
Tahun 1995, Yitzak Rabin juga tebunuh di tangan seorang ekstrimis Yahudi (Yigal Amir). Pembunuh Rabin berasal dari kelompok Yahudi yang menentang perjanjian Oslo, perjanjian perdamaian antara Israel dan Palestina.
Fawkes, Godse, Islambouli dan Yigal Amir, keempatnya mengklaim perbuatan mereka sebagai bagian dari “pengabdian terhadap agama” masing-masing.
Yitzak Rabin, gambar : eteacherhebrew.com
Mengutip ucapan Gus Nuril (2013), ” “Banyak orang mengira sedang mengabdi kepada Tuhan dan agama. Padahal sebenarnya, mereka hanya sedang melayani nafsunya sendiri.”
Damai terus bumi Indonesia tercinta. Tempat bersatunya berbagai macam agama dan kepercayaan, suku dan bangsa, bahasa dan ragam budaya.
Persatuan dalam keberagaman adalah kekuatan kita sebagai bangsa Indonesia. Kalau kita bersatu, pihak mana pun hanya akan menemui kesia-siaan jika ingin mencoba mengail di air keruh . Biarkan saja belahan dunia lain rusuh. Tugas kita mendoakan dan mendamaikan. Bukan ikut ribut ya, Cyiiiinnn ^_^.
“When there is no enemy within, the enemies outside cannot hurt you.”― Winston Churchill
Satu lagi dari Gus Nuril,
“Kalau sampeyan sudah mengakui Tuhan sebagai Yang Maha Kasih, menjadi anak-anak Tuhan, maka kewajiban anda semua mengaplikasikan makna Sang Pengasih itu dalam kehidupan sehari-hari.” -Gus Nuril-
Mari kita hadirkan Sang Maha Kasih nan Penyayang, Ar Rahman Ar Rahiim, dalam kehidupan kita sehari-hari.
“Christmas is not as much about opening our presents as opening our hearts” -Janice Maeditere-
Manfaat susu vs pola makan food combining ini memang agak-agak terjal :p. Nah, tempo hari melihat video soal peternakan sapi di Selandia Baru. Baru ingat mau bahasnya sekarang hihihihi :p. Telat aje.
Soal susu sapi. Dalam pola makan FC yang saya tahu, susu sapi sebenarnya tidak dilarang penuh untuk dikonsumsi. Saya juga bingung kenapa ada yang segitu bencinya sama susu sapi hehehe.
Sapi di Swiss :D, pics by : Dani Rosyadi
Alasan mengapa susu sapi (dan semua turunannya) tidak dianggap ideal karena kandungannya yang menempatkan karbohidrat dan protein yang hampir sama tingginya. Sementara dalam Food Combining kan makanan ideal bagi sistem cerna tubuh kita adalah yang mengandung dominan dari SALAH SATU unsur utama (karbohidrat. lemak, atau protein).
Kok gitu? Karena katanya lagi (based on FC’s theory ya, kalau gak setuju jangan bully ya Kaaaaaa :p), enzim pengolah karbohidrat dan enzim pengolah protein hewani sistem kerjanya saling bertolak belakang ;).
Karena ituuuu, karbohidrat tidak boleh dikonsumsi barengan dengan protein hewani ;). Nah, pahami teorinya ya jangan asal latah. Entar ujug-ujug nanya, “Ayam kan enggak boleh sama nasi. Tapi kalau ikan atau telur boleh gak makan pakai nasi?” –> kan kelihatan enggak paham teori hehehe. Amal tanpa ilmu kan katanya gimanaaaaa gitu :p.
Dulu saya pernah diterangkan sama bidan bahwa ASI itu beda karena kandungan karbohidratnya yang tinggi ^_^. Kandungan lainnya minoritas.
Ah, selama ini aman-aman saja tuh makan dicampur-campur? :D. Tentu tubuh kita punya toleransi dan tidak ujug-ujug ngadat. Masalahnya … sampai kapan tubuh kita kuat bertahan? ^_^.
Sementara di era terkini, susu sapi lama-lama jadi makanan level dewa. Hayo ngaku, ibu-ibu yang sering bepikiran, “Ah, biarin makannya susah yang penting minum susunya lancar!” Don’t worry, saya juga dulu gitu hahahahahaha.
Gambar : pixabay.com
Bodohnya saya -_-. Sampai eike sendok-sendokin tuh susu ke mulut anak huhuhu *tutupMuka*. Makan anak susah? Bukannya cari solusi, saya malah lari ke susu *tutupMukaMakinDalem*. Sekarang? Iya sih yang sulung makannya belum yang rakus. Tapi alhamdulillah sejak saya kampanye HARUS MAKAN SAYUR (SEGAR tanpa diolah :D) buat suami dan anak-anak, nafsu makan mereka makin meningkat.
Memang unik. Sayur (katanya) dibenci anak-anak. Padahal di sayuran hijaulah banyak terdapat zat besi yang justru memicu nafsu makan anak. Tapi of course, kita kemakan iklan, bahwa SUSU lah dewa penyelamat bagi anak-anak yangn susah makan hihihihi :p.
Kayaknya, kalau enggak minum susu, perkembangan anak pasti kenapa-kenapa. Anjurannya pun, minimal 2x sehari. Enggak cuma bayi. Voila! Orang dewasa pun segala susu lengkap tersedia! Susu hamil lah, susu tulang lah, susu kanker lah, susu anu lah … pokoknya komplit.
Terus kenapa pada bingung nonton video kenapa bayi-bayi sapi ditangkap dan dipaksa berpisah dengan induknya? Ya itu karena susu induknya diburu-buru sama kalian bukan? Hahahaha :p.
Gambar : merdeka.com
Konsumsi susu hewan terutama sapi makin ke sini makin menjadi kebutuhan utama. Harus diminum tiap hari. Harus rutin. Alasannya … butuh kalsium tinggi. Pada punya google kan, coba cari tahu sendiri, kalsium itu adanya di bahan makanan mana saja? Banyaaaak sekali jenis sayuran yang ternyata mengandung kalsium yang tinggi ;).
Ada sayuran yang dihasilkan tumbuhan yang mungkin lebih banyak positifnya ketimbang kalian berkompetisi dengan anak sapi memperebutkan susu ibunya? :p.
Of course, minum susu sapi sih boleh-boleh saja. Tapi apa mesti tiap hari gitu? :D. Ingat ya, segala sesuatu yang berlebihan tidak baik.
Kalau kalian menuduh pola makan FC mendewa-dewakan sayur dan buah. Jangan lupa ya Kakaaaaa, JENIS BUAH DAN SAYUR itu banyaaaaaaakkkkk sekali ^_^. Dan FC menyarankan kalian MENGKONSUMSI sebanyak mungkin variasi buah dan sayur. Bukannya malah lebih banyak membunuh hewan dan memeras susu mereka buat makan sehari-hari kita :).
Ingat ya, dalam ekosistem, fungsi MANUSIA adalah PENGATUR dan PENGONTROL bagaimana agar keseimbangan alam tetap terjaga. Bukannya malah bersikap egois dan mengeksploitasi ekosistem HANYA untuk kepentingan kita :).
Oksigen sudah dikasih gratis sama Tuhan. Tahu tidak sih penghasil oksigen itu justru tumbuh-tumbuhan bukan ayam, sapi atau kambing, lho :p.
Buat yang muslim, familiar dengan hadis “Segala penyakit berasal dari perut”. For info, katanya hadis itu sahih lho ;).
Jangan lebay mengkonsumsi satu jenis species tertentu ;). Jangan berlebihan. Dan kombinasi tata cara makan ala Food Combining menurut saya sangat membantu kita untuk tidak berlebihan dalam mengkonsumsi makanan APA PUN. Ingat ya, buah-buahan dan sayur-sayuran itu BUKAN species. Spesies tuh misalnya : tomat bulat, wortel, timun, apel, jambu air, dsb. Nah, makan itu semua tiap hari sevariatif mungkin yang kalian bisa ^_^.
Protein hewani buat kita yang sudah berumur ini sebaiknya dibatasi :).
Susu sapinya makanan rekreasi saja :p *pelukBayiSapi*. I feel you, Babies *hormonIbuMenyusui* :’) .
Menyusuri kembali jalan-jalan di salah satu sudut Mina yang sisi kiri kanannya dipenuhi jajaran tenda yang kini lengang tak berpenghuni. Memandangi Padang Arafah yang sungguh berbeda tanpa hiruk pikuk jemaah dan hanya berupa hamparan tanah kosong ditumbuhi rumput liar. Tetap saja, suasana yang berbeda tidak membuat rasa haru berkurang sedikit pun.
Padang Arafah, pic : Dani Rosyadi
Setahun selepas saya berhaji bersama suami via biro haji lokal di Jeddah, suami mendapatkan kesempatan untuk bekerja di negara lain. Usai sudah perjalanan kami sekeluarga menjadi pemukim di Kota Jeddah, Arab Saudi, selama hampir 3 tahun lamanya. Menjelang minggu terakhir kami di Jeddah itulah, kami berangkat menuju Mekkah untuk berpamitan.
Setelah melakukan ibadah umrah di Masjidil Haram, barulah kami bertolak menuju Mina dan Arafah. Ingin sedikit napak tilas mengenai perjalanan haji yang baru beberapa bulan lalu kami jalani. Tentu saja, salah satu kenangan paling indah dan tak terlupakan selama tinggal di Arab Saudi adalah…naik haji.
Lengangnya Mina
Sebenarnya, akses menuju perkemahan jemaah haji di Mina ditutup saat bukan musim haji. Tapi jalanannya tidak ditutup sama sekali. Jadi, kami nekat saja melintas untuk masuk.
Tenda-tenda jemaah di Mina sifatnya permanen. Hanya saja, saat bukan musim haji, kain-kain penutup yang berfungsi sebagai dinding-dinding tenda diangkat ke atas. Dibiarkan terbuka. Mungkin agar udara bisa leluasa masuk dan tidak pengab kala hendak digunakan.
Tenda terbagi-bagi dalam beberapa wilayah. Ada penomoran khusus. Nah, areal tenda-tenda inilah nanti yang disewakan kepada para pengelola jemaah haji dari negara lain atau biro haji lokal lainnya.
Beda sekali suasananya. Karena saat musim haji, jalanan selalu penuh dengan orang hilir mudik, kami tak mengira sebenarnya jalanan dalam kompleks perkemahan haji itu cukup lebar dan lapang. Biasanya ada juga para pedagang kaki lima yang menutup tengah-tengah jalan sehingga terasa sesak.
Kompleks jemaah haji di Mina
Kami menyusuri Mina hingga mencapai tempat melontar jumrah. Tempat melontar jumrah kini sudah ada 4 lantai. Tidak perlu berdesak-desakan seperti musim haji belasan tahun silam. Walau sepertinya lantai 1 masih menjadi tempat favorit bagi sebagian besar jemaah haji.
Masih ingat, kan, dengan peristiwa Terowongan Mina tahun 1991 lalu? Berkaca dari pengalaman itulah, akses masuk menuju tempat melontar jumrah dan keluar dari sana juga sudah dipisah dengan ketat.
Sewaktu naik haji, saya tak terlalu memperhatikan bentuk bangunan tempat melontar jumrah ini. Barulah tempo hari saat lagi sepi-sepinya saya baru melihat dengan seksama bahwa keempat lantai tempatnya ditopang oleh 2 buah bangunan berbentuk bulat.
Padang Arafah Tanpa Penghuni
Kalau di Mina kami masih bisa mengenali lokasi tenda kami kala menginap di sana, suasana di Padang Arafah sungguh jauh berbeda. Tenda-tenda yang digunakan para jemaah saat wukuf setiap tanggal 9 Zulhijjah tersebut bukan tenda permanen seperti di Mina. Di luar masa-masa wukuf, tendanya dilepas.
Ternyata, Padang Arafah tidak benar-benar berupa padang pasir terbuka. Rumput-rumput liar terlihat tumbuh subur di sebagian areal. Bahkan tak jarang ada pohon-pohon yang tingginya lebih dari semeter. Kemungkinan, menjelang wukuf dan pemasangan tenda, pohon-pohon ini sebagian besar harus ditebang untuk menyediakan lahan yang luas. Mengingat jumlah jemaah yang membludak dari seluruh penjuru negeri.
Tak jauh dari Padang Arafah ini kita bisa mencapai lokasi Jabal Rahmah, si bukit yang konon melambangkan kasih sayang itu. Ada mitos yang menyebutkan di sinilah dahulu Adam dan Siti Hawa bertemu setelah terpencar saat diturunkan dari surga ke bumi.
Jabal Rahmah terlihat sepi tanpa kerumunan jemaah. Kawanan unta yang biasanya diberi pernak pernik warna warni untuk dijadikan tunggangan jemaah yang ingin berfoto atau mengitari sekitar Jabal Rahmah juga tidak kelihatan. Kebetulan saat kami ke sana itu, visa umrah juga belum dibuka kembali.
Jalan Menuju Arafah dari Mina, foto : Dani Rosyadi
Setelah musim haji berakhir, pemerintah Saudi tidak serta mengizinkan umat muslim dari negara lain untuk datang dan melakukan ibadah umrah. Sekitar sebulanan setelah musim haji selesai, Mekkah dan Madinah terkesan sangat sunyi tanpa kehadiran jemaah dari negara lain.
Saat inilah, pemukim Arab Saudi dari berbagai kota hilir mudik ke Mekkah dan Madinah. Keuntungan lainnya, umumnya hotel-hotel berbintang yang sepi pengunjung memberikan potongan harga kamar yang bisa dipangkas hingga 70%.
Kenikmatan mengunjungi dan menikmati tanah haram di ‘bulan-bulan sepi’ sudah bukan rezeki kami lagi.
Tempat melontar jumrah, Mina – Mekkah (foto : Dani Rosyadi)
Inilah mungkin keuntungan utama sebagai umat muslim saat berkesempatan menjadi mukimin di Jeddah. Kesempatan untuk menunaikan ibadah haji tanpa perlu mengantre seperti yang kini berlaku di tanah air. Biayanya pun tergolong lebih murah, durasi lebih singkat, dan fasilitas yang jauh lebih menyenangkan.
Tapi ada aturan khusus dimana penduduk asli/siapa pun yang tinggal di Arab Saudi hanya boleh naik haji 5 tahun sekali. Nomor iqama (semacam kartu tanda penduduk untuk para pendatang di Saudi) akan diberi tanda.
Saya dan suami naik haji via Jeddah di tahun 2012 silam. Mendaftar melalui biro haji lokal. Biro haji ini menyediakan transportasi, akomodasi dan yang paling penting … surat izin resmi untuk naik haji ala Saudi yang namanya Tasrikh.
Tempat melontar jumrah dilihat dari sebuah area tenda jemaah di Mina, foto : Dani Rosyadi
Biaya naik haji tergantung biro haji yang digunakan. Rata-rata berkisar antara 2000 hingga ada yang mencapai lebih dari 10 ribu riyal. Biro haji yang saya gunakan mematok harga 4500 riyal per orang. Kami memilih biro haji ini karena keistimewaannya yang membolehkan jemaah membawa anak-anak. Umumnya, biro-biro haji lokal tak mengizinkan anak-anak untuk ikut serta. Oh ya, di biro haji kami, anak-anak di bawah usia 10 tahun tidak perlu membayar sepeser pun.
Pendaftaran biasanya mulai dibuka selepas masa Idul Fitri. Jangan khawatir kehabisan tempat karena biro haji lokal ini jumlahnya tidak sedikit.
Tenda di Mina diberi fasilitas tempat tidur per orang lengkap dengan kasur+selimut+bantal. Tidak mewah memang. Tapi kami mendengar banyak jemaah dari tanah air yang hanya tidur beralaskan karpet tipis tanpa kasur sama sekali. Makanan juga termasuk berlimpah. Minuman tak pernah kosong disertai makanan-makanan kecil dan buah-buahan setiap pagi dan sore.
Jumlah kamar mandi dan toilet terbilang cukup dan tidak berdesakan. Biro haji kami juga menyediakan tenaga bersih-bersih yang sigap membersihkan kamar mandi hingga ke dalam tenda.
Tenda di Arafah pun tergolong nyaman dan mencukupi. Tetap dilengkapi dengan jumlah toilet yang layak.
Dari Mina menuju Arafah, kami tidak perlu berjalan kaki. Pemerintah Saudi sebenarnya sudah membangun lintasan kereta yang menghubungkan 3 titik penting Arafah-Mina-Tempat melontar jumrah (yang sebenarnya masih ada di wilayah Mina juga). Tapi hingga kini, fasilitas kereta belum bisa menjangkau semua jemaah haji.
Salah satu yang beruntung yang leluasa menikmati kereta listrik full AC ini adalah para jemaah lokal, seperti saya dan suami saat itu. Semoga ke depannya, pemerintah Saudi terus berbenah sehingga fasilitas kereta bisa ditujukan kepada seluruh jemaah haji.
Jemaah haji asal Kota Jeddah biasanya serentak memasuki Mekkah menuju Mina pada tanggal 7 Zulhijjah malam. Beberapa biro haji juga ada memberangkatkan jemaahnya pada tanggal 8 Zulhijjah. Durasi berhaji via Jeddah rata-rata 5-7 hari saja.
Tak sedikit para penduduk maupun pendatang yang bermukim di Arab Saudi yang ingin melaksanakan ibadah haji lebih dari sekali dalam 5 tahun. Mungkin dengan pertimbangan mumpung aksesnya sangat dekat. Termasuk beberapa rekan-rekan saya di Jeddah dahulu.
Untuk menghindari pemeriksaan Tasrikh (surat izin resmi untuk berhaji tadi), calon jemaah haji ‘ilegal’ ini berusaha memasuki Mekkah dengan cara kucing-kucingan denga petugas. Biasanya mereka langsung menuju Padang Arafah di hari wukuf atau sehari sebelumnya masuk ke Mina setelah tawaf di Masjidil Haram.
Berbekal tenda/tikar/makanan sendiri, mereka melaksanakan ibadah haji secara mandiri. Ada yang sendiri-sendiri, tapi kebanyakan berkelompok. Nah, mereka inilah yang dikenal dengan istilah haji koboi. Haji koboi tak hanya datang dari kalangan menengah ke bawah. Tidak sedikit orang-orang berada yang menempuh cara ini untuk berhaji karena ingin merasakan petualangan khusus.
Sebaiknya kita memahami alasan pembatasan jumlah jemaah dan diberlakukannya “sistem Tasrikh” sejak sekitar akhir tahun 90-an. Dulunya, siapa pun pemukim Saudi bebas berhaji berkali-kali tanpa batas.
Para haji koboi yang biasanya memang hanya menggelar tikar di jalan atau di tanah kosong tanpa tenda ‘resmi’ juga membuat isu kebersihan tersendiri. Seringnya mereka membiarkan begitu saja sisa-sisa pembungkus makanan, botol-botol minuman berserakan di jalan. Sementara jemaah haji resmi menggunakan tenda resmi yang lazimnya juga bertanggung jawab atas sampah para jemaah di masing-masing tenda.
Gambar : news.liputan6.com
Belum lagi toilet dan kamar mandi umum (di luar fasilitas tenda resmi) sangat terbatas. Sehingga tak heran, sebagian haji koboi kesulitan untuk membuang hajat dii tempat yang seharusnya. Maka dari itu, bau pesing dan kurang sedap akan muncul di mana-mana di sepanjang jalan setelah proses wukuf selesai di Arafah.
Maraknya haji koboi akan membuat pemerintah Saudi kesulitan mengoptimalkan fasilitas untuk jemaah haji secara keseluruhan. Jumlah mereka sulit diterka dan terus membesar tiap tahun. Makin banyak yang berani mencoba.
Tapi sejak 2 tahun terakhir, pemerintah Saudi mulai memperketat pengawasan. Konon, tahun ini, hukuman mulai diperberat dan ancaman akan ketidakdisiplinan dalam mematuhi proses berhaji bagi pemukim lokal Arab Saudi makin gencar disebarluaskan.
Daya tampung wilayah Mina dan Arafah tentu tak mungkin terus diperlebar. Sekarang saja, antara wilayah Mina dan Musdalifah sudah mulai tumpang tindih. Sehingga jemaah memang harus dibatasi.
Saya mengerti betapa nikmatnya jika kita bisa naik haji berkali-kali. Tapi pertimbangkanlah mereka yang datang dari jauh. Mungkin kesempatan ini akan menjadii kesempatan pertama dan terakhir mereka. Secara hukum agama, naik haji tak perlu berkali-kali. Berikanlah kesempatan kepada mereka yang belum pernah. Rasulullah pun konon hanya melaksanakan ibadah haji sekali dalam seumur hidupnya. Mari kita tingkatkan amal ibadah lainnya terutama dalam bermuamalah. Sehingga polemik dalam masalah pengaturan jemaah haji bisa terus meningkat dan membaik.
Akomodasi?
Jalur penerbangan Jeddah-Jakarta atau Madinah-Jakarta termasuk yang cukup padat. Harga-harga tiket sangat bersaing sehingga tak sulit mendapatkan ongkos yang terjangkau. Maskapai yang melayani jalur ini juga terhitung tidak sedikit. Harga tiket berkisar antara 4 juta rupiah per orang (pulang pergi) hingga di atas 10 juta rupiah per orang saat peak season.
Sayang sekali hingga kini pemerintah Arab Saudi belum membuka visa turis pagi pengunjung dari luar negeri. Orang-orang yang tidak bermukim di Saudi hanya boleh masuk melalui visa bisnis atau visa umrah/haji. Cara lain adalah dengan “invitation” khusus dari kerabat yang sedang bermukim di wilayah Saudi. Ini pun dibatasi khusus untuk kerabat terdekat saja seperti orang tua kandung/mertua kandung dan saudara kandung.