Thuwal Beach yang Mempesona, Jalan jalan Arab Saudi

Konon, kata teman-teman saya yang masih berada di Jeddah, Pantai Thuwal sudah tidak seperti dulu lagi. Mungkin maksudnya, Pantai Thuwal sudah tidak sebersih dulu lagi. Padahal yang membuat saya betah banget datang dan datang lagi ke sana ya karena kebersihannya dan fasilitasnya yang lumayan lengkap. Episode Thuwal termasuk jalan jalan Arab Saudi yang paling berkesan.

jalan jalan Arab saudiPantai Thuwal letaknya di Kota Thuwal. Thuwal terletak segaris dengan Kota Jeddah, sama-sama di pesisir barat daratan Arab Saudi. Yang menyebabkan kota-kota di wilayah  barat banyak yang berbatasan langsung dengan Laut Merah.

Namun, pesisir Thuwal letaknya di daerah tanjung. Pantainya berair tenang dan tak ada ombak besar. Kita bebas berenang di pinggiran lautnya.

Berjarak 80 km di sebelah utara Jeddah, itungannya dekat banget :). Wajar, kalau Pantai Thuwal ini hampir selalu menjadi spot untuk acara kumpul-kumpul versi pantai. Kalau bosan di Corniche Road – Jeddah, kita konvoi ramai-ramai ke Pantai Thuwal.

jalan jalan Arab Saudi

Pantai Thuwal ini terhitung baru. Saya ingat, sekitar bulan Oktober apa November tahun 2010, kami bertiga sekeluarga jalan-jalan ke Kota Thuwal. Narda belum ada, masih di dalam perut :P. Rencananya waktu itu mau mengunjungi KAUST, universitas bertaraf internasional yang letaknya di Kota Thuwal.

Uniknya lagi, dalam kompleks universitas yang terhitung luas itu, aturan khas Saudi tidak berlaku. Jadi, boleh melepas abaya, perempuan boleh menyetir dsb. Maklum, universitasnya sebisa mungkin menarik perhatian pelajar dari seluruh penjuru dunia :D.

Eh, kami malah nyasar ke pantainya :D. Tempo itu, kami ragu mau masuk, karena sepiiiii banget. Kirain private beach, yang masuknya pakai bayar. Di beberapa area juga nampak masih belum rampung 100%.

Jalan jalan Arab Saudi
Thuwal Team, Desember 2010 🙂

Nah, waktu mengusulkan jalan-jalan ramai-ramai di bulan Desember 2010, tercetus deh niat untuk ke Pantai Thuwal. Ternyata, pantainya untuk umum dan … gratis! *BibiGoberLangsungLega* hahaha.

Di penghujung tahun 2010 itulah pertama kali saya ke Thuwal. Ramai-ramai tentu saja. Semacam arisan, gitu hehe. Sungguh tidak menyesal, ya. Musim dingin membuat angin bertiup sepoi-sepoi. Walau terik tapi tidak terasa panas. Anak-anak puas bermain, emak-emak puas foto-foto hahaha.

Jalan jalan Arab SaudiWaktu itu, kami berangkatnya pagi. Walau kesepakatan jam 7, tetap saja perginya jam setengah 9 hihihihi. Menjelang ashar, baru kami pulang.

Lalu, agak lama bosan menginjak pantai. Kalau pun ke pantai, kami memilih Yanbu atau Rabigh yang agak jauhan. Tenang, Yanbu dan Rabigh akan diulas juga nanti :D.

Bulan November 2011, jalan jalan Arab Saudi kepikiran ke Thuwal lagi. Kali ini, acaranya agak sorean. Selepas ashar baru mulai konvoi. Ini agak sedih acaranya, karena salah satu anggota inti Geng Madam (hihihi) akan segera hengkang dari Jeddah…for good. Semacam acara jalan-jalan perpisahan gitu kali, ya :(.

Pertama kalinya ada keluarga yang hendak pamit. Sedih banget lah. Tapi dasar emak-emak, hari itu, kami benar-benar tampil gonjreng hahaha. Ada  yang memakai abaya berwarna pula :P. Foto-fotonya malah ngikik-ngikik.

Jalan jalan Arab Saudi

Yang kali ini, kami sampai lama baru ninggalin pantai hihihi. Sampai malam jam 9 gitu kalau enggak salah. Bapak-bapak dan anak-anak sibuk main layangan selepas magrib. Sayang enggak ada foto-fotonya pas main layangan itu.

Enaknya pantai yang satu ini, fasilitasnya bagus. Tak cuma dilengkapi banyak kamar mandi dan petugas kebersihan, juga ada semacam bangunan terbuka yang bisa dipakai duduk-duduk. Luas pula. Bila malam tiba, lampu-lampunya juga menyala. Tetap cantik suasananya menjelang malam :).

Jalan jalan Arab Saudi

Kunjungan beramai-ramai berikutnya adalah di bulan September 2012. Kali ini, saya kebagian menjadi koordinator acara arisan. Langsung gatal mau bikin lomba ini lomba itu hahaha. Bosan juga, ya, saban jalan-jalan merengek-rengek ke para suami minta foto-foto :P. Anak-anak selalu dibiarkan main sendiri.

Nah, jadilah waktu arisan September itu, dibantu 2 madam keren ini, Madam Mira dan Anggi, jadi deh kita bikin lomba untuk lucu-lucuan untuk anak-anak. Disediakan hadiah iseng-iseng segala biar mereka pada semangat. Anak kecil mah dikasih hadiah apa juga senang yaaaaaa ^_^.

jalan jalan Arab Saudi

Salah satu  lombanya itu lomba makan kerupuk. Indonesia sekaleeeee hihihi. Iya dong, biar pada enggak lupa sama kampung halaman ;). Lagian, yang namanya kerupuk berhamburan yang jualan di Jeddah mah ya. Makanan khas tanah air apa, sih yang enggak ada di Jeddah? ;). Itulah enaknya tinggal di Saudi. Perut terjamin lahir batin :P.

Anak-anaknya heboh. Bapak-bapaknya juga semangat foto-fotoin mereka. Emak-emaknya apalagi, lebih semangat lagi girangnya hahaha…

Terus ada lomba mencari harta karun untuk yang lebih kecil. Thanks untuk Madam Mira yang sudah niat banget bikinin topi ala bajak laut ^_^. Giliran para krucils versi balita yang beraksi :D.

Jalan Jalan Arab Saudi

Dikira habis lomba, anak-anak sudah capek. Widih, baterenya masih full. Semuanya berlarian ke arah pantai dan sibuk main pasir. Yang gede-gede langsung nyemplung ke air. Bapak dan emak-emaknya pun  towel-towelan ganti-gantian jagain anak. Soalnya yang satu grup sibuk ngerumpiin kamera plus foto-foto pemandangan, satu grup lagi sibuk menata makanan sambil bergosip di atas tikar :D.

“Ayaaaahhh…jagain anak-anak, dong.”

“Yaaaa, Bunda ajalah…”

“Gantian ah, Ayah duluan…”

“Bunda dulu. Entar baru Ayah nyusul, deh.”

Hahahaha…

Jalan jalan Arab Saudi

 

September 2012 itulah, terakhir ke Thuwal di jalan jalan Arab Saudi :). Kenangan penghabisan di masa-masa bermukim di Jeddah.

Kalau di Jeddah itu senangnya karena ke mana-mana selalu segerombolan full hihihi. Sampai-sampai kita pernah sok-sok-an mau offroad di Gurun Bahrah, yang punya sedan juga gatal mau ikutan. Sedannya sih ditinggal di parkiran. Penghuni sedan umpel-umpelan di dalam Fortuner, Jeep sama CX-9 hahahah. Apa pun demi mejeng di gurun ya, Kakaaa.. Tenaaaanggg, jalan-jalan ala offroad tebengan ini pun akan dikupas tuntas … nanti! Entah kapan :P.

Ya gitu deh, jalan jalan  Arab Saudi ala Keluarga Besar Telco Indonesia di Jeddah ^_^. Katanya, sih, sekarang sudah jarang main ke Thuwal karena tempatnya sudah tidak sekeren dulu lagi :(. Tapi .. jadi ketemu banyak spot jalan-jalan yang lain. Seperti Al Baha yang hijau dan sejuk :). Sayangnya, sampai final exit dari Saudi, belum kesampean mencicipi segarnya udara pegunungan di Al Baha huhuhu -_-.

Udah, ah, malah curcol enggak penting hahaha. Salam hangat dari semenanjung Thuwal. Kalau masih ada umur panjang, in shaa Allah  berkesempatan jalan jalan Arab Saudi  lagi ^_^. Amin :).

Jalan Jalan Arab Saudi

Hotel hotel di Madinah Sekitar Masjid Nabawi

Mengunjungi Kota Nabi adalah salah satu kenang-kenangan paling indah selama menjadi pemukim di Kota Jeddah.  Iyalah, mari kita jalan-jalan ke Madinah :D. Jangan lupa kenali hotel hotel di Madinah sekitaran masjid Nabawi. Hanya menyetir selama 3 jam-an, dengan mengendarai mobil saja, kami sekeluarga bisa ziarah ke tanah suci, Madinah. Anytime we want :).

Berbeda dengan Mekkah yang berjarak hanya  70 km dari Jeddah, Madinah bisa dicapai setelah menempuh perjalanan sejauh 400 km. Rute sejauh ini tidak memungkinkan kami untuk pulang pergi dalam tempo semalam. Jadi, setiap ke Madinah, kami pasti menginap di hotel.

Nabawi sendiri dikelilingi oleh banyak sekali hotel-hotel kelas dunia. Hotel hotel di Madinah itu rupa-rupa ragamnya. Mulai dari Hilton Madinah, Le Meridien, Shaza Hotel, Moevenpick hingga Radisson. Rasanya sih, setiap menginap di tanah suci, hotel mana pun pasti selalu menjadi favorit dan meninggalkan kesan indah :).

Umumnya, interior hotel, yang berbintang lima sekali pun, tidak terlalu mewah dan megah. Maklumlah, kebanyakan pengunjung jalan-jalan Madinah  konsentrasinya adalah ibadah ke Masjid Nabawi.

Jangan lupa juga, bawalah sendiri perlengkapan mandi. Hotel-hotel di Madinah biasanya hanya menyediakan sabun dan sampo saja. Sikat dan pasta gigi biasanya tidak ada, lho. Daripada membuang waktu ke mini market, lebih baik disiapkan sebelum tiba di tujuan.

Salah satu hotel yang pernah kami kunjungi adalah Radisson Blu Hotel. Di Madinah, namanya Al Muna Kareem. Tadinya, saya agak bingung jika melihat penampakan gedung hotel dari luar, “Kok kecil banget, ya?”

Ternyata, lahan hotel Radisson memang tidak seluas hotel-hotel yang lain. Ini nih yang bikin unik, interior dalam gedung dibuat melingkar. Di tengah-tengah bangunan dibiarkan kosong. Kamar-kamar dibuat mengelilingi lobi tiap lantai. Begitulah cara pengelola gedung memanfaatkan lahan yang tidak terlalu luas. Kreatif, ya :).

Jalan jalan Madinah
Interior gedung Radisson yang unik 🙂

Tidak hanya di Radisson, pada umumnya kamar-kamar hotel yang berada di pelataran kompleks Masjid Nabawi memang mungil-mungil. Mungkin karena padatnya pengguna sementara lahan tidak terlalu besar.

Interior dalam Radisson dibuat dengan dominasi biru. Warna biru yang bercampur emas mengingatkan saya pada istana-istana ala Negeri 1001 Malam. Untunglah warna dinding kamar tidak ikut-ikutan dibuat biru keemasan. Kamar tidur menggunakan warna-warna netral, jadi tidak meriah dan terasa jauh lebih nyaman untuk beristirahat.

Yang cukup mengganggu adalah jumlah lift yang kurang memadai di saat pengunjung sedang padat-padatnya. Kebetulan, kami menginap di Radisson saat menjenguk orang tua kami yang sedang umrah. Aduh, ramainya hotel kala itu. Untuk menggunakan lift, harus mengantre. Apalagi di jam-jam menjelang ibadah salat wajib dan waktu makan.

Mungkin karena inilah, di depan lift disediakan sofa-sofa panjang yang bisa digunakan sambil menunggu. Tapi karena lobi agak sempit, mau duduk juga rasanya kurang nyaman bila banyak orang lalu lalang.

Hotel hotel di Madinah
Interior kamar dan ruangan lain dalam Hotel Radisson

Kekecewaan dengan fasilitas lift lumayan tertutupi oleh menu-menu sarapan yang jauh lebih enak dibanding hotel-hotel lain di sana yang pernah kami tempati. Menunya sih mirip-mirip. Kebanyakan hotel di Saudi tidak menyediakan nasi dalam menu makan pagi. Menu utamanya roti-rotian arab dan kentang. Ah ya, soal kehalalan jangan khawatir. Di seluruh penjuru Saudi, pemerintah menjamin kehalalan makanan yang disajikan di tempat-tempat umum, termasuk hotel hotel di Madinah.

Sebenarnya lauknya tidak jauh berbeda dengan di tanah air. Seperti misalnya : aneka sosis, daging-dagingan, telur, kornet, sup dsb. Tapi, umumnya bermasalah di rasa. Rasa-rasa masakan di Saudi agak hambar.  Nah, di Radisson ini tidak begitu. Lauknya rata-rata gurih dan asinnya pas dengan lidah Asia kita.

Untuk ukuran harga sewa kamar, Radisson relatif lebih murah daripada Madinah Hilton, Moevenpick dan Shaza. Lokasi Radisson Madinah juga cukup strategis. Dekat sekali dari pintu masuk Masjid Nabawi. Hanya perlu berjalan sekitar beberapa menit. Ada 3 pintu masuk terdekat menuju ke dalam masjid yang bisa diakses dari Hotel Radisson ini.

Tapi jangan salah, walau diganjar dengan harga agak tinggi, hotel Moevenpick Madinah menawarkan fasilitas yang lebih megah dan mewah. Kami juga pernah melewatkan sekitar 2 malam di Moevenpick yang di Madinah bernama Anwar Al Madinah Moevenpick Hotel.

Mewahnya Anwar Al Madinah Moevenpick Hotel
Mewahnya Anwar Al Madinah Moevenpick Hotel

Moevenpick Madinah jauh lebih besar dan luas dibanding Radisson. Interior dalam kamar juga lebih lega. Fasilitas lift ada di berbagai penjuru gedung. Enggak ada kejadian mesti menunggu dengan gelisah karena begitu lift terbuka, isinya penuh.

Tapi, untuk lidah kampung khas Indonesia seperti saya, menu sarapan yang disediakan cukup mengecewakan. Kurang cocok dengan yang hambar-hambar, nih. Untunglah ruang makannya sangat nyaman dan luas, jadi lumayan terobati rasa kecewa akan jenis masakannya.

Enaknya lagi, lobi di ruang tunggu Moevenpick dilengkapi dengan cukup banyak sofa set yang empuk. Saat itu, hotel lagi padat. Kami harus menunggu agak lama dari waktu check in yang dijanjikan. Beberapa pengunjung juga mengalami hal yang sama. Tapi, fasilitas ruang tunggunya nyaman banget. Belum lagi pelayan hotel hilir mudik menawarkan teh hangat, makanan kecil seperti kurma dan mammoul (makanan ringan khas Arab Saudi, semacam kue kering yang diisi dengan selai kurma).

Walau cukup jauh dari Radisson Madinah, lokasi Moevenpick dari Nabawi malah lebih dekat. Maklum saja, masjid Nabawi ini punya banyak pintu masuk. Salah satu pintu masuknya terletak tepat di samping lokasi hotel Moevenpick.

Moevenpick sudah yang paling mewah? Nah, masih ada satu, nih. Namanya Shaza Al Madinah. Dari luar hingga tempat resepsionis, Shaza masih kalah dibanding Moevenpick.

Kami belum pernah menginap di sini. Tapi, pernah mengunjungi teman yang sedang menginap di Shaza. Wah,  kamarnya model suite. Ada 3 ruangan dalam kamar tersebut. Kamar tidur terpisah sendiri. Ada ruang tengah yang dilengkapi dengan televisi, satu set sofa bed dan satu set meja makan. Terakhir, ada ruang dapur segala.

Hotel hotel di Madinah Hilton
Shaza Al Madinah

Saat jalan-jalan Madinah, tak banyak waktu untuk menikmati fasilitas hotel yang lain. Rata-rata pengunjung memang datang untuk menghabiskan waktu lebih banyak di luar hotel. Lebih sering mengunjungi areal masjid atau sibuk menyambangi tempat-tempat berbelanja di luar hotel untuk membeli buah tangan.

Madinah termasuk kota yang selalu sibuk hampir di sepanjang tahun. Jangan lupa untuk melakukan proses booking hotel jauh-jauh hari sebelum ziarah ke Kota Nabi ini. Untunglah, di era digital internet terkini, kegiatan booking hotel hotel di Madinah bisa dilakukan secara online.

***

Walau sudah delapan bulan berlalu sejak kami melakukan proses final exit di Bandara Internasional King Abdul Aziz, rasa rindu pada tanah suci belum terkikis sedikit pun. Hampir 3 tahun bermukim di Kota Jeddah, membuat saya sering merasa Jeddah sebagai rumah kedua saya :). Now that we are very far from there, I always wanna go  home :). Semoga suatu hari, diizinkan kembali untuk mengunjungi tanah suci kembali. Termasuk kesempatan jalan-jalan Madinah ini. Amin :).

Semoga membantu ya informasi tentang hotel hotel di Madinah ini :).

Selamat Datang di Negeri Leprechaun! :)

It’s been a week!

Sabtu lalu, jam 7 pagi, kami berempat mendarat di Dublin International Airport. Keluar dari pesawat sih masih pecicilan. Kostum masih ala-ala orang tropis. Setelah berganti kostum di ruang tunggu, baru deh menuju halte. Menunggu bis menuju Athlone.

Si duo N masih segar bugar. Sibuk mengunyah. They’re extremely great during the trip. Terbang 9 jam dari Jakarta ke Abu Dhabi, Boy2 tidur terusssss :D. Boy1 sibuk sendiri dengan tontonan dan gamesnya, makannya juga lancar dan banyak. Trio Emirates-Etihad-Saudi Airlines memang makin top ^_^. Viva Middle East :D.

Transit di Abu Dhabi, bocah-bocah ribut minta makan lagi. Penerbangan ke-2 selama 7-8 jam menuju Dublin, dua-duanya juga kompak tidur setelah sebelumnya ikut makan dengan lahap ;).

What a super-duper-pleasant trip :).

***

Begitu keluar dari gedung bandara, langsung keder. Di pesawat sebelum landing sudah diberi tahu suhu di luar sekitar 0-1 derajat. Pede amat hanya memakai mantel yang agak tipis. Peristiwa saltum yang harus dibayar dengan bibir-lutut-tangan gemetaran setiap berada di luar ruangan.

Saya dan suami sama-sama mendorong troli yang sesak dengan barang plus 2 bocah laki-laki yang cuma bisa mingkem kalau lagi tidur :P. Sedapnya, dorong-dorong troli menembus suhu super dingin.

Butuh 2 jam perjalanan dengan bis untuk mencapai kota tujuan, Athlone. Dalam bis lumayan hangat. Si duet maut duduknya dipisah. Yang kecil dengan saya. Tidur pulas sepanjang perjalanan. Sementara mamanya menikmati pemandangan sepanjang perjalanan dengan noraknya. Ahahahahaha. We’re in Europe, Maaannnn! :P.

***

Menurut suami saya sih, Irlandia termasuk negara Eropa yang biasa-biasa saja. Jerman-Swiss-Perancis masih jauh lebih bagus. Iya deeeeehhh, yang sudah sering keluyuran kemana-mana :P.

“Ireland is just a beginning. You can take me to the mainland later. Bring me to anywhere I want.” Suami langsung stres. Ahahahahaha.

Irlandia juga tidak terlalu populer di tanah air. Buktinya banyak teman-teman saya sibuk bertanya “Irlandia itu dimana, sih?” Kalau pun ada yang familiar, pastilah karena Boyzone :P.

Irlandia, terletak di salah satu wilayah paling barat di Eropa. Tetangganya Inggris. Nanti kalau sepupu saya (si Kate) lahiran, insha Allah mau nengokin. Ahahahahahaha.

Irlandia terletak di pulau terpisah. Ibukotanya Dublin. Athlone hanya sebuah kota kecil yang berjarak sekitar 124 km dari ibukota. Penduduknya cuma sekitar 20 ribu orang. This city is always sleeping :D.

Kontras sekali dengan kota metropolitan seperti Jakarta dan Jeddah. It’s definitely a brand new life :).

***

Saya suka Eropa terutama karena ‘sosialis’nya :). I love Jakarta and Jeddah for sure. Tapi tidak terlalu nyaman dengan kelas-kelas dalam masyarakat yang terbentuk dengan sendirinya. Apa serunya naik mobil kemana-mana kalau kita bisa melihat pengemis ada dimana-mana? :(.

Di Athlone, gap-gap seperti ini nyaris tak terlihat. Seperti pada umumnya di berbagai kota di negara-negara maju lainnya. Kalangan menengah mendominasi.

Tentu ada harga yang harus dibayar. Selamat tinggal kehidupan ala Madam di Saudi :P.

Di Jeddah, kemana-mana naik mobil. Mau ke warung dekat rumah saja, kalau suami di rumah, pasti dia memilih mengantar naik mobil. Di Athlone, kemana-mana enak juga berjalan kaki. Kotanya kecil, kok ;). Kami belum memutuskan untuk segera membeli mobil.

Di Jeddah mau keluar tinggal menyambar abaya. Kalau buru-buru, anak-anak bisa ganti baju di mobil. Kemana-mana pakai sandal saja. Di Athlone, sebelum keluar rumah, ritualnya cukup banyak. Memakaikan baju berlapis plus jaket tebal plus kaos kaki plus sepatu pada para bocah. Untuk mamanya juga begitu. Maklum ya, masih penyesuaian. Bodi masih suasana gurun mendadak pindah ke ‘kulkas’ hihihihihi :P.

Apartemen sementara kami di lantai 3. Catat ya, ternyata tidak banyak apartemen di sini yang memiliki fasilitas lift. Kalau suami di kantor, saya harus menenteng stroller naik turun tangga sambil menggendong si kecil dan mengawasi penuh kakaknya yang pecicilannya minta ampun. Kalau plus barang-barang belanjaan lebih maknyus lagi.

Kalau dulu membayangkan akan menyusuri jalanan dengan santai sambil menenteng kamera, memakai sepatu boot + mantel yang keren, tas nya juga mesti yang dandy punya. Keep it in your dream, Mommie! Hehehehe.

Kemana-mana mendorong stroller, sepatu keds ternyata pilihan yang lebih nyaman. Kamera? mau ditaruh di mana? Ransel (model tas yang sudah lama tak pernah dilirik) pun ditenteng kemana-mana. Sembari nyinyir di sepanjang jalan, “Abiiiiil, jangan lari. Abiiil, jangan loncat-loncat, jalan biasa aja. Abiiiilll, tungguin mama, dong.” Ahahahahahaha. Welcome in Europe, Mama Jihan ^_*.

Berbelanja di supermarket pun tantangan tersendiri. Lupakan troli. Mana sanggup mendorong troli dan stroller sekaligus? Lagian untuk menggunakan troli mesti pakai koin. Entah nanti koinnya dibalikin apa gimana. Dan tentu saja…no plastic bags available for free! Memangnya di Saudi. Belanja beberapa item saja, plastiknya bisa segambreng.

Tujuannya bagus :). Ramah lingkungan. Itu pula gunanya membawa ransel. Sebagian belanjaan bisa disisipkan di punggung, sisanya taruh di stroller. Belum memungkinkan membeli tas belanja khusus. Soalnya kemana-mana saya bawa buntut sambil berjalan kaki.

Uniknya adalah masalah berhemat. Semua orang pasti akan berusaha hidup hemat lah di negara-negara Eropa. Penghasilan dihantam dengan pajak yang tidak sedikit dan biaya hidup yang tidak murah. Masih ingat kan, di Saudi pajaknya 0 rupiah :D. Kami seharusnya tidak masalah, dong, ya. Semasa tinggal di Saudi sudah terkenal sebagai “keluarga Gober” hehehehe. Tapi suami saya sempat berujar, “Beda ya rasanya, berhemat karena pengin sama berhemat karena terpaksa.” Ahahahahahaha.

***

Other than that, I love Athlone. Dari kecil saya sudah jatuh cinta pada Eropa. Terima kasih tak terhingga buat Clara dan keluarga yang sangat helpful pada kami. Juga untuk sahabat jiran baru kami, Kak Lina dan keluarga :).

Mungkin memang saya termasuk orang yang gampangan. Gampang senang :P. Karena saya juga menikmati masa-masa tinggal di Jeddah. Teman-teman saya kadang mengeluh betapa panasnya cuaca di Jeddah. Menurut saya, limpahan matahari itu berkah tersendiri. Maklum, menghabiskan 18 tahun kehidupan di kota pantai. Asli Makassar, nih ;).

Udara dingin kadang bikin keki. Tapi senang karena kemana-mana berjalan kaki tidak cepat terasa lelah.

Ah, ini kan baru seminggu. Jangan sombong dulu kauuuuu :D. Well, as long as we believe that “happiness is not given but it is made,” mari kita selalu bergembira, “Disini senang, di sana senang, dimana-mana hatiku senang.”

Wish us nothing but the best. Selamat datang di Negeri Leprechaun! :).

athlone, ireland
Athlone-Irlandia