All That Is Gold Does Not Glitter :)

Setelah harta kekayaan para capres dan cawapres diumumkan, saya heran dengan komentar-komentar yang bernada, “Eh, katanya Jokowi sederhana. Sederhana kok hartanya sampai milyaran? Dasar tukang bohong!” Yang dukung Jokowi ikut-ikutan pengin belain deh jadinya :p.

Sejak kapan sederhana = miskin? Apakah kemewahan selalu berarti kekayaan? Pan sekarang apa-apa bisa kredit, hayooooo :P.

Ya, ya, saya enggak bisa bohong. Semasa saya tinggal di Jeddah dulu, beberapa kali harus ‘sakit hati’ karena masalah penampilan.

_MG_2977 resize

Suatu hari pernah datang di acara makan-makan di wisma KJRI. Saya, yang kurang gaul, akhirnya bertemu dengan banyak ibu-ibu dari ‘dunia yang berbeda’.

Memang agak saltum waktu itu hihihi. Tapi ya mau gimana lagi, stok abayanya memang itu-itu saja.

Saya datang berempat dengan tiga ibu-ibu telco lainnya.

Teman saya yang pertama ya memang gaul banget dan langsung mendapat ‘sambutan’ begitu masuk. Sudah terkenal lah namanya sebagai ibu-ibu ‘kalangan atas’ :D. Teman saya yang ke-2, yang memang penampilannya selalu mentereng, juga langsung mendapat respons yang oke. Teman yang ke-3, penampilannya biasa-biasa saja tapi dia dikenal sangat akrab dengan teman saya yang pertama tadi.

Duduknya kan melantai gitu. Saya mendekat, maksudnya mau duduk bareng mereka bertiga, agak terlambat masuknya karena ngejar-ngejar bocah dulu -_-.

Ealah, ibu-ibu lain yang disitu hanya melihat sekilas, melengos dan ogah memberi tempat. Mau colek teman yang 3 orang tadi, mereka sudah asyik mengobrol dengan ibu-ibu lainnya.

Saya pundung dan langsung ke luar ruangan. Suami nanya, “Lho? Kok malah ke luar? Enggak bareng yang lain?”

Saya menjawab jutek, “Di dalam panas!”

Keki ni yeeeee :P. Hahaha.

Di sekolah anak saya juga begitu. Anak saya kan bersekolah di sekolah Indonesia. Murid-murid di sana berasal dari Indonesia semua, datang dari berbagai kalangan. Dari anak supir, anak TKW sampai anak ‘gedongan’ hihihi.

Saya coba-coba jajan di kantin sekolah. Kata teman-teman saya, gorengannya enak, satenya endang, baksonya maknyus, nasi kuningnya top, ya bolehlah dijajal sekali-sekali.

Pas mau bayar, saya angkat abaya dan nyari-nyari receh dalam celana jeans. Saya orangnya malas ribet. Tas dan dompet suka ditinggal di mobil. Turun dari mobil, uang biasanya saya taruh dalam kantong celana jeans. Dasar cuek, duit ditaruh seenaknya jadi repot pas harus dikeluarin satu-satu nyari pecahan yang pas.

Eh, yang jaga kantin tahu-tahu bilang, “Enggak apa-apa kalau enggak ada duit. Di sini biasa kok ngutang dulu.”

Saya belum ngeh, “Ada kok, Bu. Ada. Bentar, ya.”

Penjaga kantinnya tetap ngotot, “Sudah, sudah, ngutang saja dulu. Memangnya kamu kerja di mana?”

What?? Not again! Hahaha.

Cerita lucu (lucu atau menyakitkan nih? hahaha) lain saat berbelanja ke Singaparna.

Suatu waktu, saya bertanya kepada penjaga toko, “Mas, daun singkong itu yang kayak apa, sih?”

Mas-nya langsung mendekat dan membantu mencari di rak. Eh tahu-tahu ada ibu yang menyeletuk dari arah belakang saya, “Memangnya sudah bekerja berapa lama? Masa daun singkong saja tidak tahu, sih?”

Ya, kaget dong. Nyolot amat. Saya menengok dan melotot ke arah ibu-ibu tadi. Saya tidak menjawab sama sekali tapi memberi tatapan setajam silet, semacam ingin bilang, “Rempong aje lo! Gue kan enggak nanya ke elo!”

Ibu-ibu itu orang Indonesia juga. Tapi memang, penampilannya ‘wah’ ;).

Sebenarnya sudah ada yang pernah memperingatkan saya saat saya masih tergolong ‘pendatang baru’ di Jeddah, “Eh, kalau keluar-keluar agak rapi dikit. Entar disangka pembantu, lho!”

Saya dulu suka geer, sih. Saya pikir, “Helooo, masa iya tampang kece beginih disangka pembantu! No way!” Melet-melet sambil *benerinPoni*.

Juli 2012

Saya salah besar. Di Jeddah, perlakuan yang kita terima berbanding lurus dengan apa-apa yang menempel di badan ;). Begitulah ‘hukum alam’ yang harus kita terima.

Tapi pengalaman paling juara lucunya (masih ngotot lho pakai kata lucu hahahaha) adalah saat acara arisan di salah satu sudut di tepi pantai Corniche Road. Kami datangnya konvoi waktu itu. Parkirnya deket-deketan.

Turun dari mobil nyaris bersamaan. Ibu-ibu lain langsung sibuk mencari spot yang pas sambil berjalan ke arah lokasi yang hendak kami datangi. Anak saya yang kecil masih bayi waktu itu, jadi turun dari mobilnya suka telat sendiri.

Pas lagi jalan mengejar teman-teman lain, ada yang menegur. Seorang ibu-ibu asal Indonesia yang lagi menggendong balita arab yang lucu banget. Sepertinya pengasuh anak di keluarga Arab. Sapanya ramah, “Orang Indonesia juga, ya?”

“Iya.” Jawab saya sambil mengangguk.

Walau saya sudah beranjak pergi, dia tetap menanyakan sesuatu, “Majikanmu orang Indonesia juga apa, ya?”

Tidaaaaaaakkkkk. Berasa ingin menggaruk-garuk tembok Masjid Terapung saat itu juga! Hahahahaha.

Bisa jadi mbak-mbak pengasuh anak tadi memang berpapasan duluan dengan teman-teman saya. Kelihatan kan kalau saya berusaha mengejar mereka. Ya pastinya mendengar percakapan teman-teman, dia langsung tahu kalau mereka juga orang Indonesia.

The problem is, sebagian besar teman-teman ‘satu geng’ di sana ya penampilannya kece-kece. Tasnya bagus-bagus. Salah sendiri ya suka sok idealis gak jelas! :P.

Itu baru dari sesama orang Indonesia. Belum lagi yang dari orang-orang Arab lokal atau dari jemaah haji. Nah, bagian ini sudah saya ceritakan tuntas di Chapter 3 buku “Memoar of Jeddah” hihihi. Ada yang sudah baca? ;).

***

Sakit hati? Jangan ditanya. Perihnya itu di siniiiiiiiii –> tepuk-tepuk dada. *mulaiDrama* :P.

Tapi, saya menjadi belajar sesuatu :). Jika saya lantas ‘mengalah’ dan mengganti barang-barang yang saya pakai (abaya, tas dan sebagainya), saya merengek ke suami agar beli mobil bagus, saya memenuhi sudut rumah dengan berbagai perabotan mahal-mahal … itu artinya saya ‘kalah’.

Mana boleh begitu? ;).

Bukan salah saya kalau orang-orang lain memperlakukan saya dengan cara berbeda. Saya tidak bertanggungjawab apa pun kalau mereka tak memperlakukan dengan ‘layak’ karena (mungkin) abaya saya yang biasa-biasa saja dan kebiasaan saya wara wiri ke mana-mana tanpa nenteng tas atau semata-mata karena apa-apa yang menempel di badan.

Gambar : karacure.com
Gambar : karacure.com

Kalau ternyata ada sakit hati, anggap saja itu harga yang harus dibayar. Mahal memang. But hey, mana ada sih ‘ilmu’ yang ‘gratis’? ;).

Saya ini manusia biasa. Pasti ingin dihargai dan tidak suka dibeda-bedakan. Tapi enggak pernah kepikiran dari dulu untuk mengharap hal-hal seperti itu datang karena penampilan fisik atau materi yang saya punya.

Dijalani saja. Ngomel-ngomel (lebih tepatnya, ngamuk-ngamuk :D) ke suami paling hihihi.

Uniknya, setelah saya menerbitkan buku “Bunda of Arabia”, beberapa perubahan mulai terjadi. Sebelumnya juga sudah mulai terasa, nama saya mulai dikenal gara-gara blog “Cerita Jeddah” yang saya gagas dan mengajak teman-teman lain ikut menulis di sana :).

Setelah “Bunda of Arabia” diedarkan, saya ingat mengunjungi salah satu ‘teman dekat’ di suatu malam. Dia sedang kedatangan beberapa tamu lain. Dia memperkenalkan saya kepada tamu-tamunya. Semuanya ibu-ibu juga.

Salah satu dari mereka berkata (sambil menjabat erat tangan saya), “Oh, ini toh yang namanya Mbak Jihan. Jarang main-main sih. Baru ketemu sekarang. Yuk, kapan-kapan ke rumah, ya.”

Saya iya-iya saja tapi dalam hati senyum-senyum sendiri. Saya bukan tipe pelupa kalau urusan wajah orang :D. Maklum, tipe observer alias emak-emak KEMAL (kepo maksimal) hahaha. Ibu yang tadi berbicara sering kok bertemu muka atau berpapasan langsung dengan saya di Toko Singaparna atau di beberapa acara lainnya ;).

bnnerBoA

Sedikit terselip rasa belagu dalam hati hehehe. Semacam pembuktian kepada diri sendiri untuk prinsip yang selalu diyakini. Penghargaan dan pengakuan orang lain hendaknya datang karena hal-hal (positif) yang kita lakukan bukan karena materi yang kita miliki :).

Be recognized for the things that we’ve done, not for the things that we’ve had.

Don’t get me wrong. Saya enggak ada dendam sama sekali. Ish, ngapain dendam-dendam. Kayak saya enggak pernah punya salah saja hehe. Kesalahan saya sendiri sih jangan-jangan lebih besar daripada itu *istighfar*.

Faktor lingkungan dan pergaulan di sana memang seperti memaksa kita untuk terseret. Bermewah-mewah seperti menjadi pembenaran atas, “Ya mau gimana lagi, daripada diremehin orang ya mau gak mau harus ikut gaya hidup begini.”

Lawan!

Kita bagai terkurung dalam pikiran, “Orang yang berpunya ya hidupnya harus mewah. Wajar itu.”

Tanpa sadar pikiran lain otomatis terinstal, “Orang yang biasa-biasa saja penampilannya itu ya bukan orang berpunya.”

Terjebak dalam paradigma di atas tadi, sederhana = miskin, mewah = kaya. Mempengaruhi alam bawah sadar kita untuk memberikan penghargaan lebih kepada mereka yang hidup mewah. Orang kaya gitu lho hehehe. Semacam menganggap mereka lebih hebat.

Seperti memilih presiden. Mentang-mentang Jokowi penampilannya cenderung biasa-biasa (tidak seperti umumnya pejabat tinggi lain), langsung dicap hartanya tidak banyak. Begitu dibilangin hartanya bermilyar-milyar malah marah-marah sendiri dan menuduhnya pembohong.

Setahu saya, Jokowi tidak pernah mengaku miskin, tuh ;).

Pejabat tinggi hidup mewah, kita anggap standar. Tapi sering juga kita curigai hartanya hasil korupsi. Lucunya, saat ada yang tidak hidup mewah malah kita lecehkan dan kita curigai. Pasti pencitraan. Jadi, maunya apaaaaa??? Hahahahaha.

Teringat salah satu pepatah bijak dari orang-orang dulu, “Kalau engkau hanya menilai orang dari penampilannya saja, engkau akan kehilangan banyak kesempatan bertemu dengan orang-orang hebat.”

Kalau kita hanya sibuk mengukur badannya yang tipis, posturnya yang kurang menjanjikan sebagai pemimpin, gaya hidupnya yang menurut kalian hanya pencitraan saja, terjebak dalam pola pikir “pejabat biasanya pasti mentereng”, rasa curiga membuat kalian buta akan rekam jejaknya … jangan-jangan kita kehilangan kesempatan untuk punya pemimpin yang beneran hebat :).

All that is gold does not glitter -J.R.R Tolkien-

Dukung Jokowi. Revolusi mental, teman-teman ^_^. Salam dua jari ;).

***

 

Revolusi Mental, Tal, Tal !!!

Sudah nonton Mata Najwa malam tadi. Edisi “Ahok dan Ibukota”.

I really want this guy to be the DKI 1!

Dari dulu sudah merasa Jokowi-Ahok ini benar-benar duet maut! “Jalan panjang” mereka berdua dipertemukan di Pilkada DKI. Sungguh berharap Jokowi dan Ahok bisa mengepung Monas dari utara dan selatan 😀.

Terungkap jelas kritikan Ahok kepada terhambatnya masalah ibukota disebabkan birokrasi pusat. Tak bermaksud menyalahkan, AHok  tak segan-segan mengakui Pemda Jakarta pun bukannya tak luput dari ‘dosa’ 😉.

Kalau saya bilang, Jokowi dan Ahok itu modelnya setipe, kok. Cuma, Ahok itu orang luar Jawa. Kebetulan saya sendiri kan aslinya dari Sulawesi. Belasan tahun hidup di tanah Jawa bergaul dengan macam-macam suku, saya jadi tahu betul tabiat orang Timur itu agak mirip dengan orang Sumatera. Sama-sama kagak doyan basa basi dan tak segan-segan menyuarakan isi hati langsung ke mulut! Hahahaha  😀.

Jokowi itu tegas, lho. Boleh dicek rekam jejaknya di Solo dan perseteruannya dengan Gubernur Jateng dulu semasa beliau masih menjabat jadi walkot Solo . Cuma Jokowi lebih tenang dan tidak grasak grusuk 😉. Ahok ya gitu, deh, hahahaha. Sehingga banyak orang salah kaprah menganggap Jokowi itu ‘boneka’ yang bisa dimainkan 🙂.

Fenomena Jokowi – Ahok dan berkali-kali mendengar ceramah-ceramah Anies Baswedan soal “Kita harus memberikan kesempatan orang-orang baik untuk memasuki arena politik”, saya sampai pernah bilang ke suami, “Pulang ke Jakarta, yuk. Gue mau jadi caleg jadi tahun 2019. Tahun 2024 deh kalau gagal!” Hahahahahahaha.

Suami saya ngakak dan melecehkan, “Model kayak elo. Entar pas rapat dibully dikit langsung nangis!”   😀.

Anies Baswedan bilang, “Berhenti mengeluh tidak cukup!”

Yes! Ayo turun tangan . Jangan cuma bisa urun angan. Berharap semua berubah dengan sendirinya sementara situ maunya ngomel-ngomel doang atau diam saja.

Turun tangan untuk merobohkan birokrasi dan politik yang selalu dikesankan sebagai hal kotor dan terlarang . Mendukung orang-orang baik dan kompeten untuk memasuki pemerintahan dengan cara terhormat. Suara rakyat harus bergema lebih kencang daripada suara partai!!!

Lihat tidak sih bedanya Jokowi, Ahok, Ridwan Kamil, Risma, Nurdin Abdullah, Suyoto, Andi Rudiyanto Asapa, dengan definisi pejabat yang sudah melotok dalam pikiran kita. Pejabat tinggi itu ya MAKRO. Mikir-mikir strategis. Enggak boleh berlagak bak manajer, pecicilan sana sini. Itu tugas anak buah. Tugas bos besar itu cuma mikir. Gimana mau mikir kalau bahan-bahan yang mau dipikirin enggak lengkap 🙂.

Tonton wawancara Ahok ini! Anda bisa lihat Ahok menawarkan tidak sedikit solusi strategis yang didukung oleh bukti-bukti detail yang tidak mungkin didapatkannya hanya dengan duduk manis di belakang meja . Semuanya memang harus dimulai dari pemimpin.

Kabar baiknya, pemimpin itu kita yang pilih, teman-teman . Mari berubah bersama. Buang jauh-jauh paradigma pemimpin itu tak boleh terlalu banyak bersentuhan dengan yang mikro-mikro. You never know if you don’t go! Percaya deh, pengalaman membuktikan.

Untuk jadi planner yang optimal, anda harus menguasai banyak detail terlebih dahulu. Untuk merancang strategi, kuasai dulu medannya!

Saya punya banyaaaaak sekali pengalaman di dunia IT tentang ini karena dulu saya pernah bertahun-tahun menjadi programmer sebelum akhirnya menjadi system analyst dan business analyst 😉.

Banyak kok teman-teman saya yang jadi BA sejak fresh graduate. Tapi segera saya mensyukuri betapa banyak keuntungan yang saya dapatkan karena saya punya pengalaman mengurusi hal-hal teknis nan mikro-mikro itu hihihi.

Emang gatal-gatal ini, tempo hari membaca diskusi teman-teman saya soal makro vs mikro, CEO vs manager, strategis vs taktis. Padahal, program “management trainee” itu lagi hits di banyak perusahaan-perusahaan besar. Banyak perusahaan berusaha “membentuk” pemimpin yang benar-benar dari “bawah” . “Mereka” tahu benar pentingnya menguasai hal-hal yang sifatnya mikro untuk membentuk pemikiran makro yang lebih komplit.

Anda tahu MT sales di Unilever tuh ya, benar-benar diterjunkan ke pasar-pasar untuk blusukan dari subuh sampai malam. Bukan hanya di ibukota. Tapi disebar ke berbagai kota. Dari para “blusuker” inilah nanti yang terus merangkak naik ke posisi strategis. Begitu juga di bank-bank besar. Ada teman saya yang lulusan teknik masuk bank kudu jadi kasir dulu dan belajar tata buku! 😛.

Bill Gates deh contohnya. Sebelum jadi CEO di Microsoft, pasti dulu kerjaannya “blusukan” melulu kan di dunia coding dan bermain-main dengan source code . Makanya, pas jadi CEO pun, bawahannya ya mana berani kali bokis-bokis depan Bill Gates hahahaha. Mereka tahu bos-nya sangat paham seluk beluk yang “mikro-mikro” itu . Jangan-jangan sampai sekarang pun, Bill Gates masih suka ngoding tuh hihihihi.

Saya kutip salah satu komentar di blog saya, “…semakin ke atas tingkat manajemennya, maka masalah yang perlu diketahui adalah masalah secara makro karena masalah mikro diselesaikan oleh manajemen yg level lebih bawah. cuma aku setuju, blusukan juga penting karena saking banyak tingkatannya, masalah sebenarnya yang mau disampaikan malah jadi bias. jadi aspirasi dan yang nyampe juga beda dan kadang masyarakat itu hanya butuh didengar kok (Vivi).”

Lucu juga melihat teman-teman saya berusaha membandingkan pemerintahan negara sekelas Amerika Serikat dengan Indonesia. Onde mande. Di US, masih ada yang tinggal di kolong jembatan gak? Anak putus sekolah banyak gak? Mau korupsi gampang gak? Level pendidikan orang-orangnya setinggi apa rata-ratanya?

Di negara-negara maju dengan sistem yang sudah sangat established memang mengedepankan pemimpin yang “dandy” dan “jago ngomong”. Kalau levelnya masih kayak Indonesia, jangan disama-samain atuh 😉.

Kalau mau bertarung ideologis, apalagi sampai mau gaya-gayaan di mata internasional, kenyang-in dulu perut rakyat, sejahterakan dulu hidup mereka. Kalau sekadar makan teratur saja masih banyak yang kesulitan ya jangan berani-berani berbicara lantang soal disiplin moral, integritas bla bla bla. Rakyat masih banyak yang empot-empotan sudah berkoar-koar mau menantang negara lain hahahaha.

Lawan dulu musuh dalam negeri kita. Beperanglah melawan kelaparan, keserakahan dari para koruptor dan sistem yang kocar kacir.

“When there is no enemy within, the enemies outside cannot hurt you.”

Dalam kitab suci agama saya makanya tidak bosan-bosannya Tuhan memperingatkan umatnya untuk peduli pada mereka yang kurang beruntung ekonominya . Jangan dikira Islam hanya pintar mengurai soal salat dan puasa saja. Islam pun sungguh keras memerintahkan yang namanya keadilan sosial. Suatu hal yang ironisnya sungguh sulit ditemukan di negara-negara yang mayoritas muslim .

Jangan bilang saya liberal! Tanyakan pada yang menurunkan ayat-ayat suci dalam alquran!

Gandhi pun sudah menegaskannya, “Poverty is worst form of violence.”

Jangan pula terus-terusan membicarakan sumber daya alam. Teruuuus saja menyebut-nyebut soal minyak, minyak, emas, emas. Lihatlah Negeri Jepang. Punya apa mereka???? Yang membuat nama mereka melesat di mata dunia itu karena SUMBER DAYA MANUSIANYA. Etos kerja, kreatifitas dan moral mereka yang sungguh membuat kita semua iri bukan? 😉.

anies soal SDM

Sampai-sampai di pertandingan bola pun, kita semua serasa ditampar melihat supporter Jepang sibuk memunguti sampah seusai pertandingan berlangsung. Timnya kalah pula lho. Supporter lain mungkin malah sibuk menghujat atau menangis, atau malah selfie-selfie .

Lihatlah etos kerja orang-orang Arab. Maaf nih, soalnya suami saya pernah bekerja di Arab Saudi. Semua juga tahu etos kerja orang Arab pada umumnya (tidak semuanya ya) itu sangat gimanaaaa gitu.

Arab Saudi kaya minyak tapi lihatlah begitu sulitnya pemerintah mereka sekarang menyalurkan tenaga kerja mereka. Begitu gencarnya pemerintah Saudi sekarang mengancam perusahaan-perusahaan asing di negaranya untuk memakai tenaga kerja lokal.

Sampai perlu diancam segala lho. Mengapa? Karena perusahaan-perusahaan asing ya ogah menggunakan SDM Saudi yang dikenal tidak terlalu cemerlang dan (maaf) agak malas/lamban pula. Rugi dong. Mending memakai tenaga pendatang yang memang jauh-jauh merantau untuk mengadu nasib sekuat tenaga, lahir dan batin .

Jangan salah, dengan memakai tenaga asing, perusahaan harus merogoh kocek dalam-dalam karena Saudi memang bukan magnet yang menarik buat pendatang. Kehidupan yang agak “terisolasi”, pergaulan sosial yang tidak mudah, mau tak mau membuat perusahaan harus memikat pendatang dengan gaji besar. Hahahahaha. Maaf, pengalaman pribadi enggak bisa bohong .

Saudi mungkin merasa dirinya kaya jadi ya kurang telaten mendidik generasi mudanya. Sekarang, baru deh pada panik . Abegenya dah pada dewasa dan butuh pekerjaan. Sementara posisi-posisi strategis yang butuh skill tinggi malah diisi oleh orang-orang asing. Biasa dimanjakan, anak-anak muda Saudi ini ya mana mau pekerjaan ecek-ecek macam jadi level admin. Gengsi cuuuyyyy hahahaha.

Ingat, sumber daya alam itu suatu hari akan habis dan tak mungkin kita perbaharui. Tapi sumber daya manusia akan terus lahir dan lahir sebelum hari akhir datang .

Indonesia perlunya pemimpin yang mau bekerja dan sudah teruji dengan pengalaman menduduki kursi kekuasaan! Ingat, berpikir besar tidak sama dengan berbicara besar . Dan ingat juga, seseorang itu bisa kelihatan “level”nya ada di mana saat sudah pernah bersentuhan dengan kekuasaan. Apakah dia yang membawa perubahan atau dia yang terbawa carut marutnya sistem birokrasi kita .

Sistem masih lemah, pengawasan masih porak poranda, malah terpikat pada yang yang jago berpidato . Situ kira kita ini macam Amerika Serikat? Acara debatnya dinanti-nanti dan menjadi acuan penting. Duh, yang nonton di US tuh udah pada kenyang, orang pinter-pinter pula, enggak gampang kena propaganda murahan yang makin santer di pilpres ini .

Mental bawahan dan birokrasi yang masih bersifat “feodal” dan “yang penting bapak senang” ini yang berusaha mati-matian diubah oleh Jokowi-Ahok di DKI. Mereka berdua tidak segan-segan berinteraksi langsung dan membuka hasilnya seluas-luasnya kepada publik.

Ahok tidak takut tuh serapan anggaran menurun tajam dan dituduh tidak efisien. Karena dengan tegas dia bisa menunjukkan SECARA DETAIL (mikro nih ya Kakaaaaa :P) serapan anggaran yang dibangga-banggakan selama ini hanya topeng saja. Kata Ahok, “Ngapain lo pamer-pamer bisa nyerap anggaran kalau nyatanya kalian maling semua!”

Ahok juga ingin membangun sistem. Sistem yang bisa memberdayakan orang banyak. Bukan lagi berpikir mengenai kontrol atasan tapi REVOLUSI MENTAL untuk warga Jakarta semuanya. Tidak lagi berpikir bahwa rakyat harus menggantungkan nasibnya kepada pemerintah. Tapi membangun logika bahwa pemerintah itu JUSTRU pelayan rakyat. Pejabat yang harusnya lebih repot daripada yang “bos”nya. Bos pejabat itu ya rakyat .

Ya masa bos hidupnya lebih susah daripada pelayannya. Logika dari mana cuy?.

Btw, dari isi wawancara ini, walau Ahok selalu mengaku netral, saya rasa terlihat “jelas” ya ke mana sebenarnya dukungan Ahok dilabuhkan . Tonton videonya sampai habis.

https://www.youtube.com/watch?v=CbULXuqhcbY


Ingat teman-teman, berhenti mengeluh saja tidak cukup. Make that change… YOU!

Salam damai. Salam revolusi mental. Salam dua jari ^_^.

jokowi salam 2 jari

***