Food Combining : Kontroversi Susu Sapi, Yay or Nay?

[Food Combining] Kontroversi Susu Sapi, Yay or Nay?

***

Jujur, saat baru mempelajari teori Food Combining, susu sapi ini yang sempat membuat saya urung. Eike kan penggemar susu coklat sejati. Hehehe. Seumur-umur, baru kali ini tahu ada teori kesehatan yang mendiskreditkan si ‘5 sempurna’ ini.

Gambar : lankatruth.com
Gambar : lankatruth.com

Menurut teori Food Combining, susu sapi ternyata kurang baik bagi pencernaan manusia. Karena kandungan susu sapi memborong 3 komponen makro dalam makanan lemak-karbohidrat-protein dengan sama tingginya. Sementara, FC meyakini, pencernaan manusia hanya bisa melakukan penyerapan OPTIMAL jika makanan yang kita makan hanya mengandung mayoritas 1 komponen makro saja.

Yang aneh-aneh diserap juga. Cuma tidak optimal dan akan menghasilkan ‘residu’. Kalau ‘residu’nya cuma sekali-sekali, tubuh punya kemampuan mentoleransi. Tapi, kalau saban hari, ‘residu’ ini menumpuk dan akhirnya keluar dari gudang penyimpanan lalu berkelana ke mana-mana. Bahkan ke bagian-bagian yang seharusnya tidak dia datangi. Ngeri, kan?

Bedakan dengan ASI. Komponen tertinggi dalam ASI didominasi oleh karbohidrat. Tidak menyalahi aturan main sistem cerna manusia.

Kalau ada yang intoleran laktosa itu saya percaya. Anak saya yang pertama contohnya. Tapi, kalau susu secara umum ternyata seharusnya tidak dikonsumsi regular (bukan dihindari 100%, ya, tapi dijadikan menu ‘rekreasi’ saja alias sekali-sekali), benar-benar berat sekali mau percaya hehehe.

‘Ledekan’ pertama justru datang dari aktivis Gesamun hehe. Tak jarang pula di Twitter, @erikarlebang berantem sama para dokter :P. Sampai pusing deh bacanya :P. Akun ini adalah salah satu penggiat FC yang cukup tenar di tanah air. Salah satunya ya karena sifatnya yang anti basa basi dengan tweet setajam silet! Hahaha.

Saya mah langsung mainin logika sederhana saja :). Langsung merujuk ke bukti nyata. Secara masa kecil saya memang enggak nyusu hihihi. Bukan karena orang tua menganut paham FC. Tapi lebih karena masalah ekonomi hahaha. Walau waktu itu ibu sering berdalih kami semua enggak ada yang doyan minum susu :P. Kenalin, tujuh-tujuhnya ‘profesor ASI’, tanpa bantuan SUFOR/UHT/susu sapi jenis apa pun sama sekali! :D.

Lagian, dulu susu enggak seheboh sekarang. Sekarang banyak juga ibu-ibu yang menggantungkan zat gizi anak pada susu, “Biarin dah enggak makan yang penting mau nyusu.” Salaman dulu. Saya juga gitu dulu. Hahaha.

Saya kenal susu di usia sekolah. Itu pun minumnya dipaksa-paksa. Enggak rutin juga. Susu habis, kadang berhari-hari enggak beli yang baru. Sarapannya ya minum teh :P.

Dan kalau dilihat-lihat lagi, saya tujuh bersaudara ya biasa-biasa saja. Enggak yang gimana-gimana :D. Berarti, enggak minum susu bukan sesuatu yang luar biasa seharusnya. Begitu logika simpel saya ;).

Setelah berdamai dengan diri sendiri, meyakinkan suami juga kerja keras. Tapi, pelan-pelan lah. Anak-anak kan di bawah penanganan saya. Susunya saya kurangi dulu. Setelah tinggal di Eropa, benar-benar mandiri tanpa campur tangan ortu dan teman-teman, baru deh saya berani meng-cut si susu sapi ini hehehe.

Gambar : goddirectcontact.org
Gambar :  Soymilk –> goddirectcontact.org

Diganti dengan susu kacang atau susu kedelai. Iya, sih, banyak yang menganggap ekstrim karena katanya susu sapi itu spesial, kandungannya tak mungkin tergantikan oleh susa kacang atau susu kedelai. Tapi, hasil praktiknya berkata lain ^_^.

Karena itulah, suami akhirnya menurut hehehe. Siapa yang bisa membantah bukti nyata di depan mata? ;).

Lalu, datang pula si Hiromi Shinya si raja enzim yang saya baru tahu kalau hasil penelitiannya juga menjadi bahan ledekan di grup ibu-ibu hehehe. Katanya penelitiannya palsu. Kurang tahu juga, ya. Soalnya Hiromi ini bukan aktivis FC setahu saya. Dia murni ‘konsen’ di susu sapi :D. Saya juga enggak pernah membaca benar-benar hasil penelitiannya. ‘Pegangan’ saya ya kandungan si susu sapi itu saja yang dikemukakan oleh pakar FC :D.

Kok cuek saja? Ya karena saya pegangannya adalah hasil praktik :P. Apa mau dikata? Anak-anak justru menunjukkan daya tahan tubuh yang signifikan setelah saya hilangkan si susu sapi dan saya percayakan kalsiumnya pada sayur-sayuran hijau ;).

Enggak mau takabur, ah. Sebagai muslim, kita harus percaya selalu ada campur tangan Allah dalam setiap kebaikan dan keburukan yang kita alami :). Terima kasihnya paling pertama sama Tuhan dulu.

Tapi tetap makin cinta sama sayur-sayuran dan buah-buahan dan makin keukeuh bahwa tidak seharusnya kita menggantungkan gizi pada susu sapi. Termasuk gizi anak-anak ;).

Daya tahan tubuh anak-anak yang meningkat drastis inilah yang menjadi senjata andalan saya dalam membungkam keraguan suami. Belakangan, dia sendiri mengangkat bendera putih setelah membuktikan kolesterolnya yang merosot tajam dari angka 260 ke 190 ;). Tanpa obat-obatan sama sekali!

Sekarang, dia lebih penurut sama saya urusan makanan :D. Dulunya, bawel beneeerrrr -_-, “Gila lu, anak-anak enggak dikasih susu? Sakit-sakitan nanti!”

Rasulullah kan minum susu. Nah, itu dia, setahu saya, susu yang sering dibahas itu hanya susu sapi. Cuy, zaman rasulullah apa iya sudah ada yang beternak sapi? Hehehe. Adanya kambing. Itu pun beliau mengkonsumsinya adalah susu segar. Katanya, lho, ya. Aduh, paling grogi kalau bahas-bahas agama, pasti bentar lagi ada yang minta dalil hahahaha.

Saran saya, sih, jangan terlalu ekstrim lah. Kalau memang masih mau mengkonsumsi susu sapi dan teman-temannya, monggo saja ^_^. Tapi, bagusnya, susu memang jangan dijadikan sumber gizi utama. Satu gelas sehari cukup lah, ya ;). Jangan sampai sayur dan buah kita kesampingkan karena sudah merasa anak-anak ‘tercukupi’ dengan bergelas-gelas susu :).

Tapi saya juga tak mau menutup-nutupi bahwa sejak susu sapi dan turunannya tak lagi menjadi ‘sajian harian’, anak-anak justru lebih bugar :). Eh, tapi saya masih makan keju, kok. Cuma ya gitu, paling sebulan sekali hihihi. Minum yoghurt Narda doyan banget. Bapaknya apalagi hahaha. Tapi, sebulan sekali belum tentu minum :P.

Gambar: Almond Milk --> ihomeremedy.net
Gambar: Almond Milk –> ihomeremedy.net

Kalau dulu masakan bersantan malah saya ganti dengan susu sapi biar lebih sehat, sekarang kebalik. Bikin makaroni yang biasanya pakai susu sapi, saya ganti sama santan hehe. Atau kadang pakai susu kedelai atau susu kacang.

Hidup ini pilihan, ya. Kalau dari piramida makanan WHO, prinsip FC memang bagaikan negeri dongeng atau isapan jempol orang iseng hahahaha. Padahal penemunya dokter juga. Bukan ahli gizi memang. Pencetus pertama teori ini adalah seorang dokter ahli bedah.

Saya enggak akan berkeras. Silakan dipraktikkan bagi yang berkenan, kalau tak berkenan juga apa urusannya ama gue la yaow, hehe. Tahun ini memutuskan gencar ‘berdakwah’ soal FC, because I’ve seen the result for one year :).

Tujuannya ya ingin menebarkan kebaikan :). ‘Kebaikan’ versi saya :D. Kalau beda sama WHO, ya bukan karena ada yang salah. Mungkin perbedaan mazhab itu tak cuma dalam agama, urusan makanan pun ada ‘agama’nya sendiri-sendiri hahaha. Buat saya, FC ini mengajarkan kesederhanaan dan kedisiplinan dalam urusan makan.

Jangan salah, aktivis FC itu banyak dari kalangan muslim yang anti vaksin sekali pun. Memang suka merasa aneh, sih. Di grup ini pro vaksin tapi ‘ngeledek’ pola makan FC. Di grup sana, anti vaksin tapi memuja FC.

Ya, join di dua-duanya sih tetap. Kita ambil yang disepakati, kita maklumi yang punya pemahaman yang berbeda. Gitu aja kok repot ;).

Manfaat positifinya, kita jadi lebih kritis, kan? Enggak mesti karena di sono isinya banyak yang pakai ‘jas putih’ dengan segambreng penelitian medis lantas kita menjadi gentar. Dan enggak mesti karena anggotanya bolak balik bawa ayat kita jadi keder :P.

Kita semua punya kepala yang seharusnya ada otaknya, kan? Nah, difungsikan kepunyaan masing-masing seoptimal mungkin :P.

Saya suka cara Ibu Andang dan Pak Wied (dua nama yang cukup popular di dunia FC) menanggapi kalangan akademisi yang menantang mereka berdebat secara terbuka, “Ini bukan hal untuk didebatkan tapi untuk dipraktikkan. Mau lihat buktinya? Praktikkanlah sendiri.” Hehehe.

Setuju sama mereka. Untuk tahu apakah FC ini sahih atau tidak, dalilnya cuma satu, cobain sendiri dan rasakan manfaatnya! Hehe.

Ingat, FC tidak pernah melarang kita makan ini itu. Kata siapa? Pizza berlumur keju yang lezat itu, minggu lalu saya makan sampai satu loyang. Hahaha. Intinya, sekali-sekali saja. Justru makan terasa enaknya kalau dinikmati secara terbatas, lho ;).

Percayalah, aktor utama dalam perut seharusnya memang dipegang oleh sayur-sayuran dan buah-buahan. Dua hal yang bisa tumbuh di mana saja dalam kondisi apa pun (kalau manusianya beres dan sayang lingkungan tentu saja :D).

Tidak percaya? Buktinya dalam dunia ini kalangan vegetarian jumlahnya tidak sedikit dan mereka terbukti baik-baik saja. Btw, vegetarian juga ada yang mengkonsumsi susu hewan tapi ada juga yang tidak. Sebaliknya, ada gak sih orang yang makan daging doang dan baik-baik saja seumur hidupnya? ;).

Sungkem dulu sama bapak ibu dokter, sungkem sama pengusaha susu jugak hihihi. Sungkem sama pengurus WHO juga, deng :P.

Jadi, susu sapi? Yay or Nay? Tidak untuk diperdebatkan. Tapi untuk dipraktikkan ;). Salam damai ^_^.

Hazelnut Milk
Hazelnut Milk

***

Bagaimana Saya Memulai Diet Food Combining

Di bulan November 2012, mendapati hasil tes darah suami yang mengklaim bahwa angka kolesterolnya sudah berada di angka 260, saya yang paling merasa bersalah. Suami saya tak suka jajan di luar. Walau semasa di Saudi, kehidupan kuliner pemukimnya dikepung oleh resto-resto ternama yang menawarkan menu-menu lezat dengan harga yang sangat terjangkau oleh kami.

Bisa dikatakan, karena ulah saya-lah, kolesterolnya bisa menjulang sampai setinggi itu . Ditambah saya pun rasanya makin jompo. Sudah mulai tak sanggup melewati hari tanpa bantuan antangin atau minyak angin hihihihi. Semakin saya memacu diri berolahraga, anehnya, kepala makin sering pusing dan sering mual. Huhuhu. Serba salah.

Itulah kelemahan utama saya. Saya paling tidak suka sayur. Merembet ke anak-anak dan suami karena semasa di Jeddah dulu, 90% menu sehari-hari berasal dari racikan tangan saya di dapur. Dulu, sering sekali mendapati sayur-sayuran yang membusuk dalam kulkas saking lamanya enggak dimasak .

 

Kalau buah, anak-anak masih saya rutinkan minum jus dari buah-buahan segar yang diblender. Saya sendiri jarang sekali menyentuh buah . Sementara suami memang tidak suka, diperparah dengan saya yang tak pernah memberi sugesti positif huhuhu.

Saya paling ogah kepada alternatif mengkonsumsi obat permanen dan menentang ide mertua yang meminta suami saya rajin minum obat penurun kolesterol. Apalagi setelah tahu kalau obat itu tergolong ‘keras’ dengan efek samping yang tidak kalah berbahayanya.

Saya juga selalu mengharamkan diri terhadap makanan/minuman buatan pelangsing. Yang namanya buatan mana bisa dibilang alami, sih? Hehehe. Walau banyak yang mengklaim aman 100%. Tapi ingat, buatan ya buatan . Pasti ada efek sampingnya, belum kelihatan/ketahuan saja 😉.

***

 

Memulai Diet Food Combining tahun 2013

Setelah sekian lama mengeluarkan segala ilmu kepo-kepo terbaik via Google, saya langsung ‘jatuh cinta’ pada Diet Food Combining. Yang diawali dari ‘provokasi’ seorang teman. Terima kasih, Linda 😀.

Teorinya sangat masuk akal. Tanpa obat-obatan, tanpa suplemen buatan, jadi jangan nuduh eike mau jualan sesuatu, ya, hahahaha. Asli lho, satu-satunya hal yang ingin saya tawarkan adalah menerapkan pola makan sehat alami. Kita enggak bakal ngomongin merek atau brand, karena namanya alami, semuanya made in Tuhan Yang Maha Esa, ya, Kakaaaa 😀.

Diet Food Combining
Gambar : pixabay.com

Saya sendiri, dari awal, tidak pakai pikir panjang. Hari itu melahap info-infonya dari Google, besoknya langsung praktik! Kombinasi makanan serasi dalam diet Food Combining  menetapkan protein nabati sebagai teman sejati untuk baik menu karbo maupun protein. Penggemar tahu-tempe langsung bersorak kegirangan hahaha.

Terbuai oleh manfaat-manfaat sayur dan buah, saya langsung berubah drastis. Niat saya memang kuat banget. Tujuan utamanya ya itu, mencoba pola makan ini untuk selanjutnya diterapkan pada suami dan anak-anak . Sudah berkubang dalam lumpur dosa, nih, bertahun-tahun membiarkan mereka ikut pola makan saya yang sangat cupet ini *tertundukMalu*.

Mungkin karena benar-benar disiplin, ‘mukjizat’  Diet Food Combining menghampiri saya dalam waktu singkat . Dalam tempo tiga hari saja, migrain harian langsung kabur, badan mendadak bugar . Pakai dikasih bonus segala, dalam tempo seminggu, perut kendur dengan berat badan merosot 2.5 kg. Padahal, enggak pakai lapar . Bukan sulap, bukan sihir hihihi.

Nah, setelah beberapa hari itu, saya langsung membulatkan tekad mempraktikkan hal yang sama pada suami dan anak-anak. Saya sih mencoba logis saja. Mereka kan belum tentu sanggup 100% seperti saya kala itu.

Prinsip dasar diet Food Combining y ang paling masuk akal menurut saya pribadi yang bisa langsung diterapkan adalah … menghapus konsumsi dairy products (susu sapi, keju, yoghurt dsb). Padahal dulu suka mengganti santan dengan susu sapi dengan harapan lebih sehat hihihi.

Susu tinggal diganti ke susu kedelai/susu kacang. Itu pun, dari teori diet Food Combining , saya menyadari kita telah sekian lama diperdaya oleh pemikiran pentingnya susu sapi dalam pertumbuhan anak-anak. Bahkan orang dewasa pun dibujuk-bujuk minum susu . Minum susu enggak mesti tiap hari, kok .

Coba pelajari berapa jumlah kalsium yang kita butuhkan secara harian. Dan betapa semuanya bisa dipenuhi dari ragam macam sayuran . Vitamin-vitamin yang selama ini kita percayakan pada botol-botol sakti hehehe, ternyata melimpah ruah dalam buah-buahan dan sayuran .

Baca : “Susu Hewan dalam Pola Makan Food Combining” 

Ada pun kalori memang masih jatahnya karbo. Tapi apa iya dengan rutinitas kita sehari-hari, kita butuh tiga piring nasi setiap harinya? . Protein yang selalu kita yakini hanya milik para hewani, ternyata juga dimiliki oleh beberapa jenis sayuran dan tergolong cukup tinggi pada jenis nabati semacam tahu, tempe dan jamur .

Untuk ‘makan besar’, suami masih ogah kalau paginya hanya diberi buah hehehe. Baiklah. Pelan-pelan, ya.

Pagi hari selalu dimulai dengan segelas jus bagi suami dan anak-anak. Bukan jus kotak atau jus kaleng atau jus botol. Ingat kandungan gula dan zat-zat tambahan yang PASTI mereka tambahkan kepada suplemen yang diberi nama jus buah paling sehat sekali pun . Sifat dasar buah = gampang busuk. Jadi, pikirkan sendiri gimana cara produsen membuat sari buah tersebut bisa bertahan lama dalam bentuk kaleng/botol/kotak .

Jus buah yang saya maksud … buah-buahan segar yang matangnya cukup yang diolah dalam blender. Kalau bisa jangan terlalu lama, agar masih kasar dan memancing mereka untuk mengunyah. Potongan buah segar lebih sehat, tapi mereka masih ogah-ogah, euy hehehe. Jadilah diakali dengan memberi jus.

Sejam setelah minum jus baru saya perkenankan mereka ‘makan berat’. Untuk pagi hari, sebisa mungkin saya selalu memberi menu karbo. Misalnya :

Menu Diet Food Combining

1. Mie/nasi goreng isi sayur-sayuran plus tahu atau jamur (kalau ada :D). Eh, saya tak pernah mengharamkan mi instan macam Indo***. Tapi ingat, kalau dulu makannya pakai bakso dan telur hihihihi, sekarang, cukup dengan sayur-sayuran saja. Kalau bisa irisan sayur segar seperti : sawi, kol, timun, tomat dsb.

2. Bisa juga kentang panggang + irisan seledri/timun/paprika segar tanpa diolah 😀.

3. Atau juga makaroni skutel yang dipanggang tanpa ditumis dan tentu saja tanpa daging sama sekali, tapi tetap mencampur sebutir telur dibantu susu kedelai atau santan 😀.

Entar, kalau fotografer sudah balik, kita posting foto + resepnya 😉.

Soal ngemil pun, anak-anak tak saya batasi. Saya biarkan saja makan biskuit, roti, kue-kue coklat. Tapi, sesekali saya tawarkan cemilan macam kue lumpur kentang, misro kentang (isi gula merah atau coklat biar mereka doyan hehe), atau pisang panggang yang ditaburi coklat. Ya, tergantung eike lagi mood apa kagak hahaha.

Makan siang dan makan malam mereka hampir selalu menu mix, ada protein hewani ada nasi hehehe. Aduh ya, lidahnya masih indonesia banget hihihi. Makan mesti pakai karbo. Walau kini karbonya tidak cuma nasi saja. Bihun atau kentang juga sering saya gunakan sebagai pengganti.

Tapiiiiii…sayur-sayurnya segambreng. Dan sebisa mungkin, walau sayur tumis atau sayur sop, selalu saya tambahkan sayuran segar. Maksudnya gini. Sayur sop atau tumis tetap diberikan tapi sambil dibubuhi irisan timun/tomat/seledri segar misalnya. Jangan semuanya dicemplungin ke wajan .

Intinya, sarapan-makan siang-makan malam, harus selalu bertabur sayur, sayur dan sayur .

Hasilnya untuk anak-anak? Saya, sih, takut kalau dibilang takabur. Tapi alhamdulillah, terasa banget anak-anak enggak pernah sakit-sakitan. Ya Allah, jangan sakit deh apalagi pas bapaknya lagi jauh begini hehehe.

Beberapa kali Nabil terpaksa ke sekolah sambil menerobos hujan, pilek pun enggak . Paling hidung berair, tiba di rumah, normal lagi tidak berubah menjadi ingusan hehehe.

Hasilnya untuk suami? Dalam tempo sepuluh bulan, kolesterolnya turun drastis dari 260 ke 190. Padahal enggak pakai diet khusus, kan? . Hanya benar-benar menghapus dairy products, rutin minum jus buah segar tiap pagi dan banyak-banyak makan sayur (kalau suami lebih sering saya beri sayuran segar).

Makan daging tetap walau tidak sesering dulu. Apalagi, di sini, kami lebih doyan makan daging kambing/domba daripada daging sapi . Kolesterolnya malah turun hehe. Daging tak melulu mesti kaki empat. Daging ikan jauh lebih sehat.

Btw, anak-anak kok bisa doyan sayur? Itulah ironisnya. Nafsu makan justru dipicu oleh zat besi. Dimana zat besi ini mudah ditemukan pada berbagai sayur-sayuran utamanya yang hijau dan segar (sebisa mungkin tanpa diolah/dipanaskan).

Memang sulit awalnya, mesti disuapi dan saya paksa! Karena saya yakin betul manfaatnya jadi saya nekat pakai sedikit kekerasan hehe . Lama-lama, mereka doyan sendiri. Anak sulung saya sekarang sudah bisa makan sendiri tanpa banyak membantah dan selalu menghabiskan sayur-sayuran sebanyak apa pun yang saya taruh ke piringnya .

Oh ya, satu lagi. Sejak belajar diet Food Combining , saya mulai memasak 3x sehari. Dulu kan, biar praktis sekali masak langsung segambreng dan macam-macam. Nanti tinggal dimasukkan ke dalam kulkas dan dipanasin di microwave. It’s a big NO-NO, ya, ibu-ibu . Panjang ini penjelasannya hehe. Pokoknya itu bukan pola makan yang sehat.

Goreng-gorengan juga begitu. Saya hanya menggoreng lauk yang akan dimakan pada saat itu juga. Suami dan anak-anak juga makin lahap karena selalu menikmati menu-menu yang langsung dari atas kompor hehe. Bukan dari microwave .

Microwave nganggur? Pakai untuk masak nasi juga bisa lho atau untuk menggoreng kerupuk atau untuk defrost daging beku dari dalam kulkas . Kulkas menganggur? Ah, enggak juga. Kan tetap menjadi tempat penyimpanan makanan. Tapi sekarang isinya sayur-sayur segar dan buah-buah segar .

Gila, kagak repot masak 3x sehari? Ingat, pelan-pelan biasakan mengkonsumsi sayur segar biar enggak repot tumis/rebus/kukus/panggang untuk menu sayur . Kan tinggal dicuci bersih + dipotong-potong.

Dan dietFood Combining  juga menyarankan kita untuk tidak rakus! Hahahha. Kalau sudah makan ayam, enggak usah pakai telur. Kalau sudah ada telur, enggak usah pakai daging sapi/kambing. Simpel banget lho jadinya .

Contoh-contoh menu harian menyusul, ya. Sudah kepanjangan hehehe.

Oiya, ingat ya, sayurnya bukan cuma sekadar pelengkap. Tapi porsinya sebisa mungkin lebih banyak atau menyamai jumlah lauk lainnya .

Intinya … saya sih merasa memasak jadi lebih gampang dan praktis meskipun harus stand by 3x sehari . Suami juga makan siangnya bawa terus dari rumah. Entah mau hemat apa sehat iniiiii hahahahaha.

Jadi, menyambut tahun 2014 ini, saya berharap semoga pola hidup sehat ini terus berlanjut. Suami dan anak-anak tercinta sehat terus . Saya juga dong, ya hihihi. Dan saya juga ingin lebih serius membagi manfaat diet Food Combining  buat teman-teman dan siapa pun.

Saya memang sengaja menunggu setahun dulu untuk mulai berkoar-koar. Kan harus dibuktikan dulu sendiri hasilnya baru mulai jadi provokator hehehe. Dari diet Food Combining  saya belajar bahwa perut buncit berkepanjangan adalah tanda bahwa sistem pencernaan mulai bermasalah . Bila sistem pencernaan mulai error, efeknya bisa ke mana-mana. Karena seluruh energi tubuh dikendalikan oleh hasil penyerapan zat makanan yang dilakukan oleh sistem cerna kita.

Pernah mendengar cerita Rasulullah berbadan tambun? . Beliau kan sudah menegaskan dan mencontohkan, “Semua penyakit berawal dari perut.”

Jadi, jangan ada yang nyinyir-in eike yak, “Dalilnya apa umat harus langsing?” Hahahaha.

Intinya, sehatnya yang lebih utama, kan? Bayangkan berapa banyak hal positif yang bisa kita lakukan sebagai niat ibadah (baik ritual maupun muamalah) bila kita punya fisik yang prima :). Perlu saya panggilkan dokter untuk mengatakan bahwa kelebihan maupun kekurangan berat badan, keduanya bukan pertanda yang baik? ;).

Hidup yang benar itu kita pasrahkan dengan selalu berdoa kepada Sang Pencipta diiringi dengan ikhtiar yang benar :D.

Masa iya hidup kita pasrahkan pada kendali lidah/mulut? Hehehe.

Sementara kesehatan itu adalah salah satu harta yang tak ternilai. Mau menggadaikannya setiap hari dengan sepiring beef steak yang paling enak di dunia? Dengan indomie telur bakso dan irisan cabe rawit? *iniMahCurhatPenulisnyaHihihihi* :D.

Bolehlah kita gadai, tapi kan tidak setiap hari. Sesekali saja ;).

***