Athlone Ireland

Jalan-jalan Irlandia Athlone, The Heart of Ireland :)

Tiap kota di Irlandia rata-rata punya julukan gitu. Termasuk si Kota Athlone ini, tempat bermukim saya dan keluarga sejak Maret 2013 lalu. Mengapa disebut Heart of Ireland? Ini mengacu kepada posisi geografis kotanya yang memang kalau dilihat di peta, berada tepat di jantung negara Irlandia. Di tengah-tengah gitu maksudnya 😀.

Kota Athlone terbelah oleh Sungai Shannon, sungai terpanjang di Irlandia. Kedua sisi kota dihubungkan oleh sebuah jembatan. Penampakannya seperti gambar di bawah ini:

athlone bridge

 

Siap jalan-jalan Irlandia Athlone? 😀 😀

Kota Athlone terletak di County Westmeath. County Westmeath sendiri termasuk dalam Midland-Region. Di Midland ada 4 County. Sementara di County Westmeath ada sekitar 7 kota besar. Dan si Athlone yang penduduknya mungkin hanya sekitar 20 ribuan orang ini adalah kota terbesar di Westmeath, bahkan bisa dibilang yang paling ‘besar’ di Midland. Hihihi.

Dusun kok dibilang kota? 😛. Belagu amat ngata-ngatain kota orang sebagai dusun. Hahaha. Don’t get me wrong. Maklum, ya. Dulunya tinggal di kota-kota metropolitan macam Jakarta, Tehran dan Jeddah . Seluruh pusat kota Athlone bisa saya jelajahi dengan berjalan kaki, hahaha.

Tapi sebenarnya luas juga, sih. Cuma kehidupan sehari-hari saya yang berkisar antara supermarket-sekolah-Asian Store-Chinese Store-Mal-Perpustakaan adanya di pusat kota semua. Normalnya, dalam sehari bisa jalan kaki sejauh rata-rata 2-4 km. Tukang pijat mana tukang pijat, hahaha.

Waktu baru datang, tentulah terpesona habis dengan Athlone. Apalagi kita millihnya apartemen yang tepat di tepian Sungai Shannon, sungai terpanjang di Irlandia. Ada kastil di seberang sungai plus bangunan gereja tua yang megah dan khas Eropa banget lah yaow hahaha. Banci Eropa heboh bangetlah di masa-masa awal dulu.

Dari kaca jendela besar yang menguasai dinding ruang tengah, inilah pemandangan di belakang apartemen :).

 

Btw, mal besar cuma ada 1, Athlone Town Center. Tapi ya, masih kalah jauuuuhhh sama Andalus Mall yang sering kami datangi semasa tinggal di Jeddah dulu. Saya kok yakin, ya, sampai pergi dari Jeddah, saya belum pernah menelusuri seluruh areal Andalus Mall. Saking gedenya. Tapi ANdalus enggak ada apa-apanya dibanding Red Sea Mall *ngelapKeringat*.

Athlone Town Center? 10 menit muter-muter sudah bingung, “Lho sudah mentok?” Hahahaha.

Selain Athlone Town Center ada Golden Island jugak. Tapi lebih minimalis lagi :D.

Sisi kota di seberang sungai dikenal sebagai wilayah Old Town. Old Town dimulai dari bangunan kastil yang persis menghadap ke arah sungai. Cantik nian . Tempatnya bersih dan menjadi salah satu pesona wisata di Athlone.

Athlone Castle
Athlone Castle

 

Apartemen saya, hanya sekitar 100 m dari kastil . Di Old Town ada bar-bar tradisional dan toko-toko lama. Lucu-lucu deh bentuknya. Pernah lihat rumah makan yang semi toko tua gitu.

Senangnya tinggal di sini salah satunya adalah karena penduduknya yang ramah-ramah. Khas kota kecil gitu, kali, ya . Saya pernah disamperin oleh seorang penduduk lokal, kakek-kakek tua yang depan rumahnya sering saya lewatin kalau antar jemput si sulung ke sekolah.

“Hai, Good morning. I’m so curios. Where do you come from?”

Wajar, ya. Enggak banyak wajah-wajah ASEAN di sini . Padahal yang pakai jilbab di sini tergolong banyak, lho. Karena banyak pendatang Afrika muslim dan orang-orang dari Timur Tengah. Mungkin karena wajah eike yang ‘enggak Arab’ dan ‘non Afro’ makanya dia penasaran hehe.

“I’m from Indonesia.”

“Aha. Indonesia. Very warm. I’ve been there before. 20 years ago.”

“Yes, all year is sunny.”

Dia mengangguk-angguk, “Yeah, heaven.”

Semacam bergetar gitu, ya, ada yang bilang Indonesia “heaven” 🙂. Tuh, yang suka mengeluhkan tentang negerinya sendiri, ternyata heaven, lho, di mata sebagian pendatang ;). Ayo, minta maaf sama ibu pertiwi hehe.

Dia kembali tersenyum, “It must be very hard to live in such a cold place like Athlone. Do you like Athlone anyway?”

“I don’t like cold. But I do like Athlone.”

old town

Dia pun berlalu. Nah, kayak gitu-gitu wajar saja di sini . Apa sih istimewanya? Ya lumayan mengharukan untuk saya yang pernah tinggal di Jeddah dan terlalu sering disangka TKW hahaha.

Boro-boro dah diajak ngobrol sama orang Arab . Eh, kecuali pas hajian deng, satu tenda orang Mesir semua kecuali saya. Kalau orang Mesir sih, ramah pisaaaannn ^_^.

Orang sini sekilas pecicilan. Gampang senyum . Etapi, katanya, “Senyum itu ibadah.” Haduh, kena gampar lagi, deh . Hayooo, situ yang merasa muslim senyumnya, manaaaaaa? . Asal jangan suka senyum-senyum sendiri, disangka orang gila nanti hahaha.

Kalau begitu, sebagai penutup, senyum manis dari The Rosyadi yang kini tengah menikmati petualangan di Kota Athlone yang ‘dusun’ tapi nyamannya boleh diadu :).  Cheers dari episode jalan-jalan Irlandia Athlone kali ini ^_^.

rosyadi in athlone

Jalan-jalan Irlandia, Derryglad Folk Museum

Wilayah daratan tengah Irlandia, dikenal sebagai midland, punya banyak kota-kota seru untuk disinggahi. Misalnya Kota Athlone, kota terbesar di midland, yang dilewati oleh sungai terpanjang di Irlandia, Sungai Shannon. 

Kalau ke midland saat jalan-jalan Irlandia, kudu banget mengunjungi si “Derryglad Folk Museum” ini :D. Nomor satu lho di daftar ‘must visit places in midland’ ^_^.

depan museum

Mengunjungi Derryglad Folk, Museum Antik di Athlone

Museum ini sebenarnya berada di kota kecil yang bernama Curraghboy. Tapi dekat banget dari Athlone. Hanya sekitar 14 km, yang bila ditempuh dengan naik mobil sekitar 15 menit saja.

Kalau ikut semacam tur, peserta tur pasti akan diajak untuk singgah ke tempat ini oleh sang pemandu tur. Salah satu kelebihan kota-kota turis di Irlandia, papan petunjuk arahnya cukup lengkap.

Museum ini menyimpan banyak sekali benda-benda kuno khas penduduk Irlandia yang berasal dari abad ke-18 hingga abad ke-20. Macam-macam barang yang ada di sana. Mulai dari kamera-kamera antik, alat-alat pertukangan dan pertanian, mesin cuci tempo dulu, keramik-keramik peralatan dapur hingga miniatur tempat-tempat umum Irlandia di masa lalu.

Tempatnya sendiri tidak terlalu luas. Terbagi atas dua bangunan. Begitu memasuki pekarangan museum, langsung disambut sebuah traktor antik yang ukurannya cukup besar. Traktor besar ini diletakkan di tengah-tengah padang rumput yang terhampar di hampir seluruh halaman depan bangunan museum.

traktor

Sebelum memasuki bangunan utama museum, mampir saja dulu ke bangunan depan sebelah kiri yang ukurannya tidak terlalu besar.

Ruang Kamera Antik

Nama aslinya, “MacCormacs Photography Room.” Isinya adalah peralatan-peralatan sebuah studio foto dari tahun 1948. Sebelum era digital, kamera-kamera pengambil gambar terus berinovasi dari zaman ke zaman.

MacCormacs

Di ruangan ini komplit sekali koleksi kamera dari tahun ke tahun. Cukup menarik melihat langsung penampakan kamera zaman dulu yang memiliki lampu besar di atas lensa yang juga berukuran tidak kecil.

Tak cuma kamera, juga peralatan mencuci cetak foto. Hasil-hasil foto orang-orang terkenal yang pernah datang ke Irlandia dan diabadikan di studio foto MacCormacs yang memang pernah berdiri di kota Athlone dari tahun 1948 hingga 2002. Foto-foto klasik dari warga biasa juga ada.

Koran-koran terbitan tahun 1950 – 1990 juga dipajang di sebuah lemari kaca khusus. Lengkap dengan mesin tik dan gulungan-gulungan / rol film dari masa-masa berjayanya kamera analog. Di jendela kaca ruangan, berjajar aneka rupa kamera kodak yang pernah laris sebelum datangnya kamera digital.

Lumayan lama saya mengitari ruangan ini. Padahal ruangannya sendiri tidak terlalu besar. Tapi barang-barang yang menempel di dinding, memenuhi meja dan lemari, terlalu sayang untuk dilewatkan begitu saja.

MacCormacs dalam

Ruangan Memori  Masyarakat Irlandia

Begitu keluar dari ruangan MacCormacs tadi, langsung masuk ke pintu merah bangunan di sampingnya. Itulah ruangan utama dari museum Derryglad ini.

Ruangannya jauh lebih luas daripada MacCormacs Room. Meja-meja besar ditata di tengah-tengah ruangan. Semuanya dijejali dengan barang-barang. Antar meja, yang beberapa diantaranya dipasangi rak, diberi sela agar kita bisa mendekat dan melihat-lihat barang pajangan lebih jelas.

Keseluruhan dinding juga sarat dengan benda-benda kuno. Ada yang digantung, ada juga yang ditaruh di atas rak-rak yang menempel di tembok ruangan.

Tembok dekat pintu penuh dengan keramik-keramik peralatan makan dan minum. Mulai dari teko-teko antik, gelas-gelas kaca yang berukir atau bergambar, gelas-gelas besi sampai piring-piring serta mangkok makan model klasik. Beberapa peralatan dapur seperti panci, wajan, peralatan membuat kue dsb, juga ikut berbagi tempat di sana.

Saya paling tertarik dengan mesin cuci yang berasal dari abad ke-19. Di atasnya tertulis “from 1870”. Katanya, mesin bekerja dengan cara memutar sebuah bulatan hitam di atas wadah kayu besar atau dengan memompa tuas hijau yang juga terpasang di atasnya (lihat gambar).

dalam museum 4

Ada rupa-rupa setrika uap yang dipajang di rak di atas jajaran mesin cuci tadi. Lalu, berturut-turut ada alat-alat pertukangan, berkebun dan pertanian. Mengingat dari dulu hingga kini, masyarakat Irlandia terkenal dengan kegiatan bercocok tanam, beternak dan bertani. Tapi kini, peralatan mereka sudah jauh lebih modern dan menggunakan mesin-mesin bertenaga listrik.

Di pojok belakang ruangan ada tempat yang cukup unik. Semacam tempat yang ditata seperti sebuah warung kecil. Di rak-raknya tersusun macam-macam benda dari masa lalu. Sebagian merek yang ada masih dijual hingga kini tapi dalam kemasan modern. Misalnya merek teh, biskuit, kopi, rokok, tepung dan botol-botol saos. Di samping warung-warungan tadi, ada kaleng-kaleng makanan yang berisi penganan atau makanan kecil khas rakyat Irlandia di masa lampau.

Dalam museum all

Dari pojok ruangan, ada sebuah pintu untuk masuk ke ruangan sebelahnya. Di sana juga ada miniatur ruangan dan bangunan masyarakat Irlandia di abad-abad lalu. Ada miniatur sebuah ruangan kelas yang tak hanya menampilkan papan tulis kayu dan kursi-kursi kayu yang umum digunakan dahulu, tapi juga dihuni oleh patung anak laki-laki kecil bertopi dan seorang ibu guru yang duduk di depan kelas. Beberapa turis sering ikut duduk di sana dan berfoto seolah-olah menjadi murid di kelas yang bersangkutan. Seru, kan?

Di samping miniatur ruang kelas, ada miniatur apotik tempo dulu. Juga ada sekumpulan sepeda antik dan kereta bayi disekat dalam areal yang berbeda, masih dalam ruangan yang sama.

Ruang Kelas Antik

Dari ruangan ini, kita bisa langsung kembali ke halaman depan melalui pintu keluar di ujung ruangan. Selesai sudah kita menjelajahi Derryglad Folk Museum di jalan-jalan Irlandia kesempatan ini. .

***

Ternyata, museumnya mungil banget. Waktu ke sana, anak-anak capek sepulang dari Glendeer Pet Farm. Di hari yang sama ini jalan-jalan di kedua tempat ini :D.

Jadi, suami jagain mereka di mobil. Saya turun masuk ke dalam sendiri. Foto-fotonya cupu-cupu banget hahaha. Aduh, eike kan senengnya difoto bukan memotret *melengosAlaModel* 😛 😛 :P.

Tenaaaangg, hanya di Derryglad saja, saya nekat mengambil foto-foto. Di tempat-tempat lainnya, urusan foto-foto diserahkan kepada ahlinya. Enggak percaya? Pantengin terus cerita jalan-jalan Irlandia, yak ;).

***

A Little Snow Before Sunshine

by : Jihan Davincka

***

Sudah 30 hari. Asiiiikkk, ada alasan menulis status :P.

Bersama musim dingin yang sepertinya masih enggan bertukar tahta dengan musim semi hingga penghujung Maret ini, liburan paskah tengah berlangsung di Eropa. Libur resmi sejak hari jumat. Senin besok pun masih libur. 4 days in a row! ^_^

Ada suami di rumah, hari sabtu kemarin saya keluar berbelanja sendiri. Pertama kalinya nih, bersolo karier di jalanan kota Athlone tanpa iring-iringan duo balita :D.

Untuk membeli daging, harus ke toko khusus. Satu-satunya toko berlabel halal berjarak 2-3 km dari apartemen. Sebenarnya ada bis yang bisa mengantar ke sana. Atas nama kesehatan, mari kita berjalan kaki :D.

Cukup aneh buat si pendatang baru di Eropa, berjalan kaki di bawah teriknya matahari tapi suhu mentok di 3 derajat. Kulit muka terasa ditusuk-tusuk terkena tamparan angin dingin. Sempat menyesal tidak memilih naik bis saja.

Semakin menjauh dari pusat kota, jalanan mulai melebar. Pemandangan sisi kiri kanan jalan yang tadinya dipenuhi gedung-gedung toko, restoran atau apartemen, mulai berganti.

Rumah-rumah kecil bercerobong asap. Dengan rumput hijau di seluruh areal pekarangan yang luas. Bangunan bercat warna-warna pastel. Pohon-pohon berjajar rapi. Si banci Eropa mendadak kegirangan sendiri. She was so thankful that she finally had a chance to see all of these, right thru her eyes…directly. Persis seperti yang pernah dibayangkan waktu kecil. Yang dulu diangan-angankan kalau melihat latar belakang gambar buku-buku cerita bule terjemahan.

O ya, ada kebiasaan baru di sini yang mengundang sewot suami. Kalau istilahnya Abil, “permainan mulut naga.” Tahu kan, jika kita menghembuskan nafas lewat mulut di udara sedingin itu, ada asap yang ikut keluar dari mulut.

Kalau sedang bersama suami, kadang saya dan Abil berulang-ulang melakukan itu. Suami langsung ribut, “Ya ampun, udah dong. Norak tauuuu. Entar orang-orang ngeliatin.” Ahahahhhahaha.

Mumpung tidak ada suami, saya berkali-kali menarik nafas panjang, membuangnya lewat mulut. Senyum-senyum sendiri melihat asapnya berhamburan dari mulut. Lalu menghilang terbawa angin. Sampai puas dan akhirnya kelelahan sendiri. Bahagia itu sederhana :). Or let’s simply call it … norak! 😛

Tapi rasa senangnya langsung menguap tak berbekas. Sudah capek-capek berjalan kaki menantang udara dingin sejauh itu, tiba depan pintu toko, tokonya belum buka! Oh, crap! huhuhuhu. Bukanya masih satu jam lagi. Langsung lemas. Setelah menunggu 10 menit, si emak-emak nan malang ini pun pulang naik bis dengan tangan hampa.

***

Kalau soal teman, let’s just say it’s pretty ‘quiet’ here. Tapi karena pada dasarnya memang orang rumahan alias kuper dari sononya, tidak butuh waktu lama untuk beradaptasi. Walaupun seringnya kangen juga dengan madam-madamku nun jauh di gurun sana :D. Belahan jiwa, apa kabarmu? Kuharap selalu tetap kau jaga, tumbuhan cinta yang di ladang kitaaaa … #sodorinMic :D.

Soal memasak? Well, a bit tricky yet challenging. Tapi sejak di Jeddah pun, memasak hampir tiap hari. Tidak suka jajan soalnya. Begitu tahu kalau daun jeruk dan sereh ternyata tak susah ditemukan, suddenly … all is well :D. Maklumlah, si lidah kampung bisanya masak masakan ‘kampung’ ;).

Yang tak terduga, seringnya terpaksa memencet tombol ‘hide’ untuk akun-akun yang hobinya memposting foto-foto Ka’bah atau anywhere @Madinah :P. Dua tempat yang konon katanya memang paling menyita rasa rindu untuk para alumni Jeddah :).

Pemandangan di belakang apartemen saya cantik sekali. Dari jendela kaca raksasa yang menguasai dinding belakang apartemen, kita bisa sepuasnya melihat sungai cantik yang membelah kota Athlone menjadi 2 sisi. Ada kapal-kapal kecil berwarna putih, yang masih sering terlihat diam di sisi-sisi dermaga kayu yang terhampar di sepanjang pinggiran sungai. Mungkin sama seperti saya. Sudah gelisah menunggu datangnya musim semi agar bisa melepas jangkar, membawa penumpang dan kembali meneruskan fitrahnya untuk…berlayar :).

cropped-mg_6040_1_2_tonemapped.jpg

Karena sinar matahari cukup langka di negeri berlangit muram dan murah hujan ini, begitu terik sedikit, saya tak membuang kesempatan untuk duduk-duduk di atas sofa. Tepat di hadapan jendela kaca tadi. Di seberang sungai, sebuah gereja tua berarsitektur khas Eropa kuno berdiri tegak. Ada jam dinding besar di sisi gereja yang menghadap ke sungai yang bisa kami intip kapan saja. Jadi hemat deh, enggak perlu beli jam dinding segala. Ahahahahahha.

Bahkan, yang seindah itu pun tak cukup sanggup memuluskan masa-masa beradaptasi, ya hehehehe. Mengapa pula di musim pertama tinggal di sini mesti dipertemukan dengan musim dingin selama ini. April sudah menjelang, tapi menurut sebagian besar penghuni benua ini, “Suasananya masih seputih bulan desember.”

Pernah suatu hari di Jeddah, dengan memakai baju kaos berlapis sweater plus celana panjang dan kaos kaki, saya memencet bel tetangga depan. Kala itu, baik saya dan dia belum berstatus ‘alumni’ :D.

“Bundaaaaa, dinginnyaaaaa…” Saya langsung menghambur masuk begitu empunya rumah membuka pintu.

“Iya. Katanya sekarang suhunya 19 derajat. Di bawah 20, nih.”

“Duh, pantesan dingin banget.”

Ironis, ya. Di sini, 19 derajat mungkin sudah puncaknya musim panas. Hehehehehe.

Itu baru soal suhu. Soal harga juga butuh penyesuaian khusus :P. Saya pernah menegur suami yang suka protes dengan harga-harga di sini, “Stop converting anything to riyal. It never works.” Apalagi kalau sudah menyerempet pajak. Stop remembering Saudi! Ahahahaha. Surga dunia urusan uang ;).

Maybe when in Europe, we can start learning about the value, rather than the price :).

Iya tho? Lain lubuk lain ikannya. Beda ladang, beda ilalang :). Mana pernah jalan-jalan di Saudi, berpapasan dengan orang yang baru ketemu pertama kali dan mereka menyapa dengan wajah penuh senyum, “Hai, how are you?”

Pernah suatu kali saat berjalan kaki menuju supermarket, sebuah bis diberhentikan oleh seorang bapak-bapak. Dia melambaikan tangan dari seberang jalan. Supir berhenti. Ternyata, dia bersama seorang perempuan sebayanya, yang mungkin istrinya. Juga seorang anak laki-laki dan setumpuk barang bawaan yang tidak mungkin terangkut dengan sekali jalan. Supir bis menunggu dengan sabar sembari si Bapak menuntun istrinya, balik lagi menjemput si anak, kemudian kembali membawa barang-barangnya.

Hebatnya, antrian mobil di belakang bis tadi tidak sedikit, lho. Tidak ada suara klakson sama sekali hingga akhirnya bis kembali berjalan. Kalau di Jeddah, sedang mengantri di lampu merah pun, suara klakson saling menyahut tidak sabaran :P.

Menurut teman di sini, orang-orang Irlandia ada juga yang suka menyerobot dan tidak sabaran. But I told her, “Trust me, once you live in Jeddah, you’ll change your mind in one second.” Berinteraksi dengan sesama pengemudi di jalanan Saudi punya seni tersendiri. Hehehehe.

Tapi kemudian, terbayang lagi yang murah-murah tadi semasa masih tinggal di Jeddah. Tak perlu repot mencari bahan makanan apa pun. Everything is halal in shaa Allah :).

Hampir pingsan melihat harga bensin di sini. Kami saja yang tidak terlalu sering jalan-jalan, meteran pengukur jarak di mobil (Jeddah) menunjukkan angka 35 ribu km untuk masa pakai 2 tahun. Ke warung jarak 100 m saja naik mobil kitaaaa ahahahaha. Hm, pantas saja susah sekali berbadan langsing di Saudi. Manalagi mendapat ‘perlindungan penuh’ dari abaya hitam yang wajib dikenakan kemana-mana :P.

***

Mana ada tempat yang isinya senang-senang semua? :).

Pasti ada masa-masa matahari bersinar dengan sangat teriknya. Sampai-sampai kita mesti memicingkan mata dan tak sadar mengutuk, “Gile, panas amat, sih. Bisa gosong nih gue.” Tapi kalau sinarnya menghilang, bete deh cucian enggak kering-kering.

Selalu ada saat-saat hujan menguasai masa. Susahnya mau kemana-mana. But wise man said, “Everybody wants happiness. Noone wants pain. But you can’t have a rainbow without a little rain.”

Seperti pula di musim dingin berkepanjangan yang kadang membuat orang terlihat sedikit lebay (me, me, me! :P). Nyaris tak ada salju di Irlandia. Nyaris. Sudah beberapa kali pemandangan dari jendela memperlihatkan sekumpulan kapas kecil-kecil beterbangan di udara. Finally, I see snow. Thank God, just a little ones :). Dan saya setuju dengan suami yang pernah berkata, “Perhatiin gak, kalau habis salju kecil biasanya langit bakal terang.”

Indeed. And if we can make a little change …”You can’t have a sunshine without a little snow.” There it goes our motivational quote ^_^.

Can’t wait to see spring and summer. Satu-satunya hal paling tepat yang bisa dilakukan, seperti yang tertera di bak-bak belakang truk yang biasanya melintasi jalanan antar kota, “SABAR MENANTI.” 🙂

Gambar : weheartit.com
Gambar : weheartit.com

 

Selamat Datang di Negeri Leprechaun! :)

It’s been a week!

Sabtu lalu, jam 7 pagi, kami berempat mendarat di Dublin International Airport. Keluar dari pesawat sih masih pecicilan. Kostum masih ala-ala orang tropis. Setelah berganti kostum di ruang tunggu, baru deh menuju halte. Menunggu bis menuju Athlone.

Si duo N masih segar bugar. Sibuk mengunyah. They’re extremely great during the trip. Terbang 9 jam dari Jakarta ke Abu Dhabi, Boy2 tidur terusssss :D. Boy1 sibuk sendiri dengan tontonan dan gamesnya, makannya juga lancar dan banyak. Trio Emirates-Etihad-Saudi Airlines memang makin top ^_^. Viva Middle East :D.

Transit di Abu Dhabi, bocah-bocah ribut minta makan lagi. Penerbangan ke-2 selama 7-8 jam menuju Dublin, dua-duanya juga kompak tidur setelah sebelumnya ikut makan dengan lahap ;).

What a super-duper-pleasant trip :).

***

Begitu keluar dari gedung bandara, langsung keder. Di pesawat sebelum landing sudah diberi tahu suhu di luar sekitar 0-1 derajat. Pede amat hanya memakai mantel yang agak tipis. Peristiwa saltum yang harus dibayar dengan bibir-lutut-tangan gemetaran setiap berada di luar ruangan.

Saya dan suami sama-sama mendorong troli yang sesak dengan barang plus 2 bocah laki-laki yang cuma bisa mingkem kalau lagi tidur :P. Sedapnya, dorong-dorong troli menembus suhu super dingin.

Butuh 2 jam perjalanan dengan bis untuk mencapai kota tujuan, Athlone. Dalam bis lumayan hangat. Si duet maut duduknya dipisah. Yang kecil dengan saya. Tidur pulas sepanjang perjalanan. Sementara mamanya menikmati pemandangan sepanjang perjalanan dengan noraknya. Ahahahahaha. We’re in Europe, Maaannnn! :P.

***

Menurut suami saya sih, Irlandia termasuk negara Eropa yang biasa-biasa saja. Jerman-Swiss-Perancis masih jauh lebih bagus. Iya deeeeehhh, yang sudah sering keluyuran kemana-mana :P.

“Ireland is just a beginning. You can take me to the mainland later. Bring me to anywhere I want.” Suami langsung stres. Ahahahahaha.

Irlandia juga tidak terlalu populer di tanah air. Buktinya banyak teman-teman saya sibuk bertanya “Irlandia itu dimana, sih?” Kalau pun ada yang familiar, pastilah karena Boyzone :P.

Irlandia, terletak di salah satu wilayah paling barat di Eropa. Tetangganya Inggris. Nanti kalau sepupu saya (si Kate) lahiran, insha Allah mau nengokin. Ahahahahahaha.

Irlandia terletak di pulau terpisah. Ibukotanya Dublin. Athlone hanya sebuah kota kecil yang berjarak sekitar 124 km dari ibukota. Penduduknya cuma sekitar 20 ribu orang. This city is always sleeping :D.

Kontras sekali dengan kota metropolitan seperti Jakarta dan Jeddah. It’s definitely a brand new life :).

***

Saya suka Eropa terutama karena ‘sosialis’nya :). I love Jakarta and Jeddah for sure. Tapi tidak terlalu nyaman dengan kelas-kelas dalam masyarakat yang terbentuk dengan sendirinya. Apa serunya naik mobil kemana-mana kalau kita bisa melihat pengemis ada dimana-mana? :(.

Di Athlone, gap-gap seperti ini nyaris tak terlihat. Seperti pada umumnya di berbagai kota di negara-negara maju lainnya. Kalangan menengah mendominasi.

Tentu ada harga yang harus dibayar. Selamat tinggal kehidupan ala Madam di Saudi :P.

Di Jeddah, kemana-mana naik mobil. Mau ke warung dekat rumah saja, kalau suami di rumah, pasti dia memilih mengantar naik mobil. Di Athlone, kemana-mana enak juga berjalan kaki. Kotanya kecil, kok ;). Kami belum memutuskan untuk segera membeli mobil.

Di Jeddah mau keluar tinggal menyambar abaya. Kalau buru-buru, anak-anak bisa ganti baju di mobil. Kemana-mana pakai sandal saja. Di Athlone, sebelum keluar rumah, ritualnya cukup banyak. Memakaikan baju berlapis plus jaket tebal plus kaos kaki plus sepatu pada para bocah. Untuk mamanya juga begitu. Maklum ya, masih penyesuaian. Bodi masih suasana gurun mendadak pindah ke ‘kulkas’ hihihihihi :P.

Apartemen sementara kami di lantai 3. Catat ya, ternyata tidak banyak apartemen di sini yang memiliki fasilitas lift. Kalau suami di kantor, saya harus menenteng stroller naik turun tangga sambil menggendong si kecil dan mengawasi penuh kakaknya yang pecicilannya minta ampun. Kalau plus barang-barang belanjaan lebih maknyus lagi.

Kalau dulu membayangkan akan menyusuri jalanan dengan santai sambil menenteng kamera, memakai sepatu boot + mantel yang keren, tas nya juga mesti yang dandy punya. Keep it in your dream, Mommie! Hehehehe.

Kemana-mana mendorong stroller, sepatu keds ternyata pilihan yang lebih nyaman. Kamera? mau ditaruh di mana? Ransel (model tas yang sudah lama tak pernah dilirik) pun ditenteng kemana-mana. Sembari nyinyir di sepanjang jalan, “Abiiiiil, jangan lari. Abiiil, jangan loncat-loncat, jalan biasa aja. Abiiiilll, tungguin mama, dong.” Ahahahahahaha. Welcome in Europe, Mama Jihan ^_*.

Berbelanja di supermarket pun tantangan tersendiri. Lupakan troli. Mana sanggup mendorong troli dan stroller sekaligus? Lagian untuk menggunakan troli mesti pakai koin. Entah nanti koinnya dibalikin apa gimana. Dan tentu saja…no plastic bags available for free! Memangnya di Saudi. Belanja beberapa item saja, plastiknya bisa segambreng.

Tujuannya bagus :). Ramah lingkungan. Itu pula gunanya membawa ransel. Sebagian belanjaan bisa disisipkan di punggung, sisanya taruh di stroller. Belum memungkinkan membeli tas belanja khusus. Soalnya kemana-mana saya bawa buntut sambil berjalan kaki.

Uniknya adalah masalah berhemat. Semua orang pasti akan berusaha hidup hemat lah di negara-negara Eropa. Penghasilan dihantam dengan pajak yang tidak sedikit dan biaya hidup yang tidak murah. Masih ingat kan, di Saudi pajaknya 0 rupiah :D. Kami seharusnya tidak masalah, dong, ya. Semasa tinggal di Saudi sudah terkenal sebagai “keluarga Gober” hehehehe. Tapi suami saya sempat berujar, “Beda ya rasanya, berhemat karena pengin sama berhemat karena terpaksa.” Ahahahahahaha.

***

Other than that, I love Athlone. Dari kecil saya sudah jatuh cinta pada Eropa. Terima kasih tak terhingga buat Clara dan keluarga yang sangat helpful pada kami. Juga untuk sahabat jiran baru kami, Kak Lina dan keluarga :).

Mungkin memang saya termasuk orang yang gampangan. Gampang senang :P. Karena saya juga menikmati masa-masa tinggal di Jeddah. Teman-teman saya kadang mengeluh betapa panasnya cuaca di Jeddah. Menurut saya, limpahan matahari itu berkah tersendiri. Maklum, menghabiskan 18 tahun kehidupan di kota pantai. Asli Makassar, nih ;).

Udara dingin kadang bikin keki. Tapi senang karena kemana-mana berjalan kaki tidak cepat terasa lelah.

Ah, ini kan baru seminggu. Jangan sombong dulu kauuuuu :D. Well, as long as we believe that “happiness is not given but it is made,” mari kita selalu bergembira, “Disini senang, di sana senang, dimana-mana hatiku senang.”

Wish us nothing but the best. Selamat datang di Negeri Leprechaun! :).

athlone, ireland
Athlone-Irlandia