Iyap, artikel jalan-jalan pertama tentang Irlandia yang dimuat di media cetak. Semoga bukan yang terakhir hehehe. Pertama tentang Athlone tapi muncul untuk kedua kalinya di Tabloid Prioritas :D.
Tulisan ini aslinya berjudul, “Saint Patrick’s Day, Perayaan Khas Bangsa Irlandia.” Perayaan ini berlangsung setiap tahunnya di tanggal 17 maret. Waktu itu, lagi dingin-dinginnya. Demi segenggam rupiah, dibela-belain ke luar rumah untuk bikin liputan hehehehe :P.
Ada versi onlinenya, lho. Silakan disimak langsung.
Waktu masih di hotel, awal tiba di Athlone, saya mengalami jetlag berhari-hari. Tidur jam 9 malam, pasti jam 2 kebangun. Enggak bisa tidur lagi hingga pagi. Jadi deh, suka laptop an nunggu subuh hehehe.
Ngebut menulis Cerpen di majalah kartini 🙂
Pernah menulis cerpen. Saking konsennya, karena semua majikan lagi tidur :P, cerpennya jadi dalam beberapa jam saja. Tapi rasanya kepanjangan. Besok dini harinya diedit. Kirim ke Kartini. Luar biasa, responsnya kurang dari 24 jam hehehehe. Tapi bunyinya begini, “Ide ceritanya ok. Tapi kurang panjang, dipanjangin lagi ya Mbak. Ditunggu redaksi.”
Ahahahahahahahaha. Padahal setengah mati diedit agar lebih ringkas. Aslinya tak saya simpan. Ya sudah, ditulis ulang akhirnya. Dimuat akhirnya cerpen di Majalah Kartini (kayaknya di terbaru, no.2447) :D.
Dari gambarnya ketebak ya, ini cerpen tentang seorang anak tunggal (perempuan) yang dibesarkan seorang diri oleh ayahnya. Hahahaha. Jauh panggang dari api :D. Tulisan fiksi ini 100% mengandalkan imajinasi semata dari penulisnya yang merupakan anak ke-5 dari 7 bersaudara dimana ayahnya sudah meninggal sejak usianya 12 tahun :D.
Anyway…terima kasih, Majalah Kartini :D. Beli, ya. Biar majalah Kartininya laku dan kami-kami, emak-emak yang mengais rezeki dari media cetak, tetap panjang jalan rezekinya hihihihi.
Oiya, Majalah Kartini akhirnya bikin account twitter juga. Sila difollow di @MajalahKartini. Ada fanpagenya juga di Facebook. Terus ada account facebook juga, terpisah dari fanpage. Di sana ada note tentang syarat-syarat penulisan cerpen ke majalah Kartini :D. Dicek sendiri langsung ke TKP, ya ;).
Dengan demikian, setelah 2x cerpen saya menembus majalah Femina, berarti ini adalah cerpen ke-3 yang muncul di media cetak. Sekaligus merupakan tulisan ke-10 yang muncul di media cetak. Gak kerasa sudah 10 bulan rajin ngirim-ngirim tulisan. Masih jauh dari target. Penginnya nanti pas setahun ada 20 tulisan yang dimuat. Ahahahahahaha :P.
Akhir-akhir ini kok lebih senang ikut lomba blog, ya Biarpun kadang cuma menang hadiah hiburan hehehe. Lagi seneng blogging emang sekarang-sekarang ini. Tapi pengin coba aktif lagi ah ke media cetak. Jadi semangat lagi bikin cerpen di Majalah Kartini ^_^.
Sebenarnya untuk edisi februari kemarin. Baru ingat belum pamer-pamer di blog hihihihi.
Btw, kalau ada yang tertarik mengisi rubrik “Perjalanan” di tabloid ini kirim saja ke hauraziba@yahoo.com. Isinya standarlah seperti artikel traveling yang lain.
Serunya lagi, tabloid ini ada versi onlinenya, lho. Silakan dicek contoh-contoh artikelnya.
Ini link tulisan saya yang dimuat kemarin :). Oleh-oleh jalan-jalan dari Madain Saleh di penghujung bulan desember kemarin. Salah satu cerita jalan-jalan yang sangat berkesan menjelang final exit kami sekeluarga dari Jeddah.
(Cerpen Femina dimuat di Femina no.50/2012, oleh redaktur tokoh perokok diedit menjadi klubber. Femina mempunyai kebijakan “against smoking habits”, versi di bawah adalah versi aslinya)
by : Jihan Davincka
***
Mengenakan rok pendek merah menyala, kemeja krem muda, seorang perempuan berambut pendek turun dari sedan mewahnya. Dengan tubuh langsing dan wajah menarik, ia melangkah penuh percaya diri meninggalkan tempat parkir. Beberapa pasang mata ikut mengiringi langkahnya memasuki pintu kafe.
Seorang perempuan berkaus hitam melempar sepuntung rokok yang masih menyisakan bara ke tanah dan menginjaknya kuat-kuat. Dia menepuk-nepuk pahanya, mengibas tangannya ke udara berharap tak ada sisa asap yang menempel di sekujur tubuhnya. Dengan santai, ia membuka pintu kafe dan langsung menebarkan pandangan mencari-cari.
Perempuan dengan terusan warna hijau tua terlihat berlari-lari kecil menuju pintu kafe. Rambut ikal panjangnya yang tergerai ikut melambai-lambai. Sambil berlari, sesekali ia mengangkat lengan kiri, melirik jam tangan yang melingkar di sana.
Di suatu sore yang cerah, ketiga perempuan itu duduk bersantai di suatu kafe di sudut jantung ibukota.
***
“Apa kau masih merokok?” si Rambut Ikal menoleh ke arah perempuan berkaus hitam.
“Sudah lama berhenti,” Kaus Hitam menjawab cepat tanpa ragu.
“Hebat kau. Sejak berhenti bekerja, hidupmu malah lebih teratur. Aku dari dulu tak suka melihatmu merokok.”
Kaus Hitam memalingkan wajah ke Rok Merah, “Siapa yang bisa melebihi kehebatan Bu Dokter cantik sepertimu. Eh, apa masih ada pasien yang suka menggodamu?”
Rok Merah tertawa berderai. “Sekarang aku praktik di tempat yang sama dengan suamiku. Mana ada yang berani macam-macam.”
Rambut Ikal bersuara dengan serius, “Wah,wah, kalian berdua sama sibuknya dong sekarang. Aku rasa kau dan suamimu kelelahan melayani pasien. Apa kalian tak ingin segera punya anak?”
“Ah, aku dan suamiku santai saja. Kalau belum diberi kenapa mesti ngotot?”
“Dan kalian baik-baik saja dengan hal itu? Wow, kau beruntung sekali. Suamiku dari dulu selalu ingin punya anak. Banyak anak kalau bisa. Hahahaha.” Kali ini giliran Rambut Ikal yang tertawa lepas.
“Kau sendiri bagaimana? Dari tadi sibuk bicara tentang orang lain.” Kaus Hitam mengarahkan perhatian ke Rambut Ikal.
“Jadwalku padat sekali akhir-akhir ini. Ah, kalian tak tahu rasanya punya anak 3 dengan kesibukan macam-macam. Sudah tiga bulan ini, tiap akhir pekan aku nyambi menjadi penyiar radio, lho.”
Jawaban Rambut Ikal membuat kedua temannya memekik perlahan, “wow…”
Kaus Hitam terdengar merajuk, “kenapa baru cerita, sih?”
“Aku tiap hari berkicau di twitterku. Kalian ini yang ketinggalan berita. Kenapa sih tidak aktif di media sosial?”
“Tak ada waktu.” Jawab Rok Merah cepat.
Kaus Hitam menyambung, “anakku masih kecil-kecil. Kalau di rumah rasanya seharian tak cukup menemani mereka. Energimu benar-benar luar biasa.”
Lalu, Rambut Ikal bercerita panjang lebar tentang profesi tambahan barunya. Betapa senangnya mendapat teman-teman baru. Honor tambahan yang jumlahnya tidak sedikit. Terbawa pergaulan dengan beberapa selebritis ibukota. Biarpun mereka hitungannya mungkin masih artis papan bawah, belum terlalu tenar.
“Mungkin kapan-kapan, hari sabtu atau minggu siang, abis siaran, kita janjian, yuk. Nanti kukenalkan pada teman-teman baruku.”
Rok Merah langsung menolak, “Wah, tiap akhir pekan, aku pasti ada acara berdua suami.”
Kaus Hitam tak mau kalah, “Akhir pekan ya acara keluarga, dong.”
Rambut Ikal angkat bahu, “Terserah kalian saja.”
Sesekali obrolan mereka terlempar ke masa lalu. Masa-masa belasan tahun yang lalu dimana mereka masih mengenakan seragam putih abu-abu di sekolah yang sama. Derai tawa sesekali mengundang pandangan mata dari pengunjung kafe yang lain.
“Kau ingat tidak anak laki-laki kelas sebelah yang mati-matian mengejarmu? Dengar-dengar dia sedang melanjutkan S3 di Eropa. Dia dokter juga, kan? Apa kalian dulu satu kampus?”
Rok Merah tersipu malu sebelum berujar, “Tidak, tidak. Itu cuma gosip, ah. Kampusnya juga beda, kok.”
“Ah, suamimu sekarang kan tak kalah hebatnya. Ngomong-ngomong, apa tak ingin mencoba bayi tabung saja? Mertuamu pasti punya banyak kenalan dokter hebat.”
“Aku kan sudah bilang. Kami baik-baik saja. Tak terlalu memikirkan hal itu. Karier pun sekarang sedang bagus-bagusnya. Tak perlu memusingkan hal yang belum ada, kan?” Rok Merah menjawab diplomatis dengan senyuman bijak.
“Aku iri sekali pada pasangan seperti kalian.”
“Eh, bagaimana denganmu? Apa betah seharian di rumah saja? Mau gak aku kenalkan pada teman-temanku di radio? Kau ini dulu jurnalis, kan?”
“Wah, seharian di rumah bersama anak selalu membuatku berpikir waktuku tak pernah cukup.”
“Ini cuma paruh waktu saja. Mana tahu kau tertarik, coba dulu saja.”
Kaus Hitam menjawab enggan, “Tidak, ah. Aku masih mau menikmati masa-masa santai bersama anak-anak dulu.”
“Aku malah salut padamu. Apa tidak kerepotan dengan kesibukan sepanjang hari? Bagaimana kau bisa punya waktu mengurus ketiga anakmu?”
Rambut Ikal menjawab dengan percaya diri, “itu masalah pengaturan waktu saja. Anak-anak semua tak ada masalah, kok. Semuanya berjalan normal.”
“Kalau akhir pekan kau pun bekerja, kapan kau berlibur dengan anak-anak?”
“Berlibur tidak mesti keluar rumah, kan? Dan tidak mesti akhir pekan. Setiap hari aku selalu punya waktu untuk mereka.”
Kaus Hitam memandang temannya dengan kagum, “Benar-benar supermom.”
Beberapa cangkir kopi sudah hampir kosong. Piring-piring kecil berisi roti dan kue sudah tergeletak tak beraturan. Tapi suara mereka masih terdengar penuh semangat.
Beberapa kali Rambut Ikal nampak memperlihatkan foto anak-anaknya melalui layar ponselnya. Rok Merah tertegun cukup lama sebelum bergumam, “Cantik dan ganteng-ganteng, ya.”
Rambut Ikal tersenyum bangga, “Aku beruntung sekali. Mereka anak-anak yang hebat.”
Kaus Hitam menceritakan dengan detail tingkah pola anak-anaknya di rumah. Dan betapa senangnya menjadi orang yang pertama menyaksikan semua hal-hal kecil namun luar biasa itu. “Kenikmatannya tak bisa diukur dengan uang,” ujarnya penuh semangat.
Rok Merah juga ikut berbagi pengalaman menghadapi berbagai macam pasien. Dan sedikit bergosip mengenai roman picisan antara dokter dan suster yang tidak jarang ditemuinya di rumah sakit.
Kedua temannya nampak tertarik, menyimak dengan serius ucapannya. “Perawat-perawat yang baru masuk, banyak yang mencari-cari kesempatan untuk menggoda dokter-dokter muda.”
Kaus Hitam menggodanya, “Kau yakin kau tak pernah terlibat cinta lokasi seperti itu? Tak pernah naksir dengan teman doktermu yang laki-laki?”
“Eh, aku rasa malah teman dokternya yang tergila-gila padanya.”
Rok Merah mendelik sambil tertawa kecil, “Sembarangan saja kalian. Jangan lupa, aku praktik di rumah sakit yang sama dengan suamiku.”
Lalu, beberapa gelas kaca berisi minuman dingin diantarkan ke meja mereka. Pelayan kafe mengangkat gelas-gelas dan piring-piring kosong dari hadapan mereka. Tapi mereka tetap larut dalam berbagai macam obrolan.
Sekali waktu nampak mereka mengomentari pengunjung lain yang duduk di sekitar mereka. Berbisik-bisik mengenai seorang wanita muda yang nampak duduk gelisah seperti menanti seseorang. Menebak-nebak hubungan antara seorang perempuan yang sudah cukup berumur yang duduk berhadapan dengan seorang pria tampan yang usianya jauh lebih muda.
“Tidak mungkin itu anaknya.” Kaus Hitam berbicara dengan suara rendah.
“Mungkin keponakannya.” Rok Merah mengedipkan matanya.
Rambut Ikal memicingkan mata, “Aneh betul bertemu dengan keponakan sore-sore di kafe seperti ini.”
Lalu mereka saling melempar pandangan. Berusaha menyembunyikan tawa.
Gelap sudah memenuhi langit ketika mereka melangkah keluar dari kafe. Berpelukan di pintu kafe dan berjanji untuk pertemuan berikutnya yang mungkin bisa berlangsung beberapa bulan lagi.
***
Denisa menutup pintu mobil perlahan setelah menghempaskan tubuh ke dalam sedan mewahnya. Perasaannya tak menentu mengingat kalimat-kalimat yang terlontar dari mulutnya tadi. “”Ah, aku dan suamiku santai saja. Kalau belum diberi kenapa mesti ngotot?”
Profesinya sebagai dokter mungkin sedang meroket. Setelah setahun lalu menggenggam gelar spesialis, resmi menjadi seorang internis, dia mulai ikut praktik di sebuah rumah sakit. Bapak mertuanya, salah seorang dokter ternama di sana, ikut memuluskan jalannya.
Siapa bilang enam tahun mengarungi kehidupan rumah tangga tanpa kehadiran anak membuat dia dan suaminya biasa-biasa saja? Hubungan mereka makin lama malah makin dingin.
Masing-masing tenggelam dalam kesibukan menangani pasien dan terus berburu ilmu yang seolah tiada habisnya untuk profesi yang cukup melelahkan ini. Akhir pekan pun diisi oleh seminar-seminar atau tenggelam dalam tumpukan diktat.
Denisa iri membayangkan kedua temannya yang sudah punya buah hati. Ada yang punya 3 malah. Kapankah Tuhan memberikan kepercayaan itu? Mungkin kehadiran seorang bayi mungil akan sanggup mengembalikan kehangatan cinta mereka kembali. Airmatanya menitik sambil mengelus-elus perutnya, “Tuhan, beri aku satu saja.”
***
Arumi menghela nafas panjang. Tidak sekali tapi berkali-kali sebelum akhirnya memacu mobilnya meninggalkan halaman kafe.
Memiliki 3 anak, berada di puncak karir sebagai salah satu senior marketing manager, siapa yang tak iri padanya? Bahkan sebagai penyiar saat akhir pekan di salah satu radio wanita ibukota, namanya mulai dilirik.
Tapi siapa yang tahu, semua hanya pelarian terhadap kekecewaannya atas kondisi dua anak terakhirnya. Mereka mungkin tidak cacat tapi mendapat vonis sebagai anak berkebutuhan khusus.
Ditutupnya rapat-rapat cerita ini kepada siapa pun. Dia takut segala puji yang sudah terlanjur disematkan untuknya mungkin akan berbalik. Mereka akan mengarahkan telunjuk menghakimi kepadanya. Seolah ini adalah hukuman atas pilihannya sebagai Ibu yang lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah.
Arumi bahkan tak sanggup menghadapinya langsung. Empat tahun terakhir ini, dia memboyong keluarganya kembali tinggal bersama ibunya. Menitipkan pengawasan anak-anak kepada Ibu dan beberapa pengasuh anak.
Kalau boleh memilih, ingin rasanya melepaskan diri dari pencitraan palsu ini. Yang gencar dihembuskannya melalui media sosial. Ingin rasanya melepaskan diri dari puja puji, melewati waktu yang lebih panjang bersama anak-anak di rumah. Kalau saja Tuhan memutar waktu dan menganugerahkan anak-anak yang normal.
***
Rinjani menutup mata sambil menikmati hisapan rokoknya dalam-dalam. Dibiarkannya kaca jendela terbuka agar asap rokok tak terperangkap dalam mobil.
Dia memang pernah berhasil menjauhi puntung-puntung kenikmatan yang membius ini. Tapi itu dulu. Sejak dua tahun terakhir ini, begitu dia menyudahi masa-masa berkarir, dia gagal menghalau keinginannya untuk kembali merokok.
Berpura-pura menikmati masa-masa berhenti bekerja adalah hal konyol yang sering dilakukannya di hadapan orang lain. Padahal hingga kini, hatinya masih sulit berdamai dengan keputusan besar itu.
Menghabiskan waktu lebih banyak di rumah malah membuatnya merasa terperangkap tak berdaya. Pernah dicobanya untuk menjadi penulis lepas. Sekedar melampiaskan hasratnya yang pernah lama berkarir di bidang jurnalistik. Tapi hasilnya seringkali hanya ampas rokok memenuhi asbak, buku-buku bertebaran di dekat ranjang, dan dokumen di laptop yang tak berhasil diisi oleh satu kata pun.
Kembali ke dunia kerja juga bukan pilihan tepat untuk anak-anak. Suaminya lebih banyak dinas ke luar kota. Kedua balitanya berada di bawah pengawasan asisten rumah tangga dan pengasuh anak. Rinjani lebih suka menghabiskan waktu dalam kamar, atau berjalan-jalan sendiri ke mal, dan sesekali menyambangi salon.
Rinjani membayangkan kehidupan kedua temannya yang mandiri. Dia terbakar iri kepada si dokter cantik. Biarpun tanpa anak, tapi didampingi suami yang sangat pengertian. Ah, seperti apa akhir pekan mereka. Mungkin tiap minggu akan terasa bagai bulan madu.
***
Ketiga perempuan itu menembus padatnya jalanan ibukota, larut dalam keterpurukannya masing-masing. Tanpa menyadari bahwa tiap jalan cerita dalam kehidupan punya rahasianya masing-masing. Bahwa seringkali rumput tetangga tak sehijau yang tampak di hadapan mata.
Kabar gembira nih dari rubrik Setetes Embun di Majalah Kartini ^_^.
Di Facebook, seorang teman men-tag saya di postingannya dengan cover Majalah Kartini. Intinya mengabari kalau tulisan saya ada yang dimuat di sana. Kaget juga. Redaktur sama sekali tidak memberi kabar. Dimuatnya tepat satu edisi setelah edisi yang memuat tulisan jalan-jalan kemarin. Padahal waktu liburan ke Jakarta harusnya sempat beli, tuh. Tapi karena gak tahu ya gak beli hehehe :P.
Belinya yang memuat tulisan jalan-jalan ke Thaif itu saja. Tahu gitu kan bisa beli satu edisi setelahnya lagi :(. Ya sudahlah, tahunya juga belakangan hehehe.
Untungnya di baqala Indonesia (Singaparna) ternyata menjual Kartini edisi ini. Horeeeee… Dimuat di rubrik setetes embun di Majalah Kartini. Akhirnya non fiksi selain tulisan jalan-jalan mulai menemukan jodohnya *tsaaahhh*.
Saya pikir kabar bahagia tentang jejak pena di media cetak sudah berakhir di tahun ini. Ternyata ada lagi. Alhamdulillah.
Terima kasih, Majalah Kartini ;).
Berikut tulisannya ya, naskah asli yang saya kirim ke Majalah Kartini sebagai berikut (saya modifikasi dari tulisan “Every Mom Has Her Own Battle”, ganti-ganti katanya dikit biar lebih formal ^-^) :
Ini dia
Contoh Tulisan Setetes Embun di Majalah Kartini
***
Salah satu ‘perang dingin’ yang tak kunjung usai antara sesama ibu-ibu adalah masalah SAHM vs WM. (Stay at Home Mom vs Working Mom).
Ibu Pekerja akan jumawa memamerkan dirinya sebagai potret emansipasi. Punya uang sendiri, berdiri di atas kaki sendiri. Merasa menampilkan wajah modern perempuan terkini.
Sedangkan Ibu Rumah Tangga akan membanggakan baktinya sebagai potret sejati seorang Ibu. Tinggal di rumah, merawat anak langsung dengan tangan sendiri adalah pekerjaan mulia tiada terkira. Dengan keyakinan penuh bahwa surgalah balasannya kelak.
Dan akhir-akhir ini, kancah pertarungan diramaikan oleh pendatang baru. Ibu yang tinggal di rumah namun tetap berbisnis dan menghasilkan uang.
Yang satu mengatasnamakan kemandirian. Ada yang merasa berhak atas surga. Dan ada yang merasa sebagai pemenang sejati, menggenggam kemandirian sekaligus berperan aktif dalam rumah sepanjang hari.
Parenting style itu unik tiap keluarga. Saya tidak pernah meragukan itu. Saya tidak percaya jika lebih banyak SAHM yang berhasil mengantar anak-anaknya ke gerbang kesuksesan. Sekaligus tidak meyakini sepenuhnya bahwa para WM harus mengorbankan keluarganya demi karier.
Ibu saya tidak di rumah sepanjang waktu. Mama panggilannya. Saya ingat betul saat pulang sekolah dulu, bukan Mama yang menyiapkan makanan di meja. Bukan wajahnya yang pertama kali muncul saat saya membuka mata setelah waktu tidur siang usai. Yang meladeni saya berganti-ganti.
Tapi saya tidak pernah lupa yang mana Mama saya. Apalagi berniat memanggil yang berganti-ganti itu dengan sebutan ‘Mama’. Tidak pernah. Kalau waktu bisa berjalan mundur pun, saya tidak akan meminta agar Mama sepanjang hari di rumah bersama kami.
Salah satu kerabat yang saya kenal juga berprofesi sebagai Ibu Kantoran. Dari awal perkawinan hingga detik ini. Ketiga anak-anaknya tumbuh diatas rata-rata. Yang bungsu kini tengah menempuh pendidikan kedokteran di universitas negeri ternama di tanah air. Kakak-kakaknya tidak kalah hebatnya secara akademis maupun non akademis.
Dan ada beberapa kerabat yang memilih jalur ’Ibu Rumah Tangga’. Tapi kenyataan membuktikan anak-anaknya malah belum mampu berdiri secara tegak bahkan ketika mereka telah memasuki gerbang pernikahan.
Tapi ketika saya memutuskan mengakhiri status sebagai Ibu Kantoran 3 tahun yang lalu bukan karena figur mana pun. Itu pilihan saya pribadi. Buat saya, itu adalah pilihan terbaik yang paling cocok untuk saya. Belum tentu buat orang lain.Tentu banyak penyesuaian yang harus dilakukan. Tidak 100% kerelaan langsung berlabuh dalam hati.
***
Tak perlu mencibir Ibu Kantoran yang menghabiskan banyak waktu di kantor. Sementara anak mungkin dititipkan kepada pengasuh atau kerabat.
Jangan lupa, sepanjang hari di kantor, statusnya sebagai Ibu tidak dilepas begitu saja. Subuh-subuh sudah harus bangun mempersiapkan makanan si kecil. Pagi – siang – sore menelepon ke rumah mengecek si kecil di sela-sela kesibukan kantor.
Jangan menghakiminya. Belajar saja akan ketangguhannya membagi waktu. Kekuatan hati yang tanpa batas untuk senantiasa membagi pikiran antara pekerjaan di kantor vs pekerjaan di rumah.
Jangan meremehkan para Ibu yang memilih untuk tak berbagi dengan siapa pun dalam pengasuhan anak dan urusan rumah tangga. Sekali pun mungkin mereka pernah mengenyam pendidikan yang cukup tinggi.
Sepanjang hari di rumah bersama anak tidak hanya menggunakan kekuatan fisik saja, batin juga mesti kuat ya. Jangan anggap sepele, ambil saja hikmah kesabaran seluas samudera yang dimiliki mereka, yang memilih jalan ini.
Jadi, intinya bukan di seberapa banyak waktu yang diluangkan untuk keluarga. Apa artinya bila pilihan itu tak bermakna dan malah menjadi bumerang?
Relakah meletakkan karier demi anak tapi sepanjang hari meratapi pilihan itu?
Apa sanggup setiap hari menghabiskan waktu di belakang meja, tapi tak kunjung rela bila membayangkan anak harus berada di tangan orang lain? Sebesar apa pun keinginan untuk membahagiakan anak dan keluarga, jangan pernah mengabaikan kebahagiaan diri sendiri.
Apa yang coba ditawarkan kepada mereka, jika kita sendiri telah merasa kebahagiaan kita telah tercabut dari akarnya? Ingat petunjuk keselamatan dalam pesawat untuk pertolongan pertama saat sirine tanda bahaya berbunyi, “Selamatkan diri Anda terlebih dahulu sebelum menyelamatkan orang lain.”
***
“Surga dibawah telapak kaki Ibu.” Bukan di bawah telapak kaki Ibu Rumah Tangga, Ibu Pekerja Kantoran, atau Ibu Pengusaham bahkan Ibu Pelajar. Tapi di telapak kaki (semua) Ibu.
Semua pasti ada pengorbanannya. Setiap Ibu punya pertaruhan masing-masing. Menangkan pertempuran yang Anda pilih tanpa perlu nyinyir terhadap mereka yang memilih jalan ’lain’.
***
Tertarik mengirim ke rubrik Setetes embun di Majalah Kartini? Kirim saja ke email redaksi_kartini@yahoo.com ;).