[Semi fiksi] Skandal Century, Kisruh Sepakbola Makro di Tahun 2008

Penonton ramai bergemuruh seolah tidak terjadi apa-apa di tengah lapangan. Saat itu, dua tim berlaga di sebuah pertandingan yang dikira sebagian besar orang hanyalah satu diantara banyak pertandingan yang memang harus dihadapi oleh kedua tim.

Dua tim yang berlaga, Badai Ekonomi Finansial Cakrawala Dunia / Benfica vs Nasional Politik Ekonomi Liberal Indonesia/ Napoli. Hihihihihi, maksa abis! .

Sebenarnya ini bukan pertandingan yang mudah. Pelatih Napoli, Boediono, tahu pasti soal ini. Rumor bahwa Benfica sudah mengacak-ngacak pertahanan tim lain sudah kencang berhembus.

Tim negeri tetangga sudah mengambil ancang-ancang di situasi darurat. Termasuk mengganti semua pemain belakang mereka dengan mentransfer pemain level dunia yang honornya dahsyat. Malang bagi Napoli, pemilik klub entah pura-pura tidak tahu atau memang enggak punya dana cadangan, langkah antisipasi sangat minim.

Rumor ini memang sangat kuat. Dan dipahami betul oleh sang kapten di lapangan, kiper Sri Mulyani. Sri Mulyani sadar sekali satu gol saja yang dilepaskan oleh striker Benfica, efeknya bisa dahsyat. Gol itu bisa menghancurkan mental seluruh tim dan terus merembet ke moral penonton di pinggir lapangan.

Mau tak mau, Napoli pada akhirnya harus berhadapan dengan Benfica.

 

Gambar : sambafoot.co.uk
Gambar : sambafoot.co.uk

Terjadilah sebuah posisi genting. Salah satu striker Benfica, Century sedang menguasai bola. Sebenarnya, Century ini bukan striker yang hebat-hebat amat. So-so lah kemampuannya. Tapi, situasi sedang berbeda. Semacam pertandingan hidup dan mati gitu lah *tsaaaah*. Pemain belakang Napoli juga sedang kelelahan dan mentalnya sudah mulai jatuh.

Di sinilah sang pelatih Boediono harus bekerja keras menghalangi Century menusuk jantung pertahanan Napoli. Walau disadari Century ini cuma striker ecek-ecek, tapi kemungkinan dia untuk nge-gol-in di situasi terkini itu sangat besar.

Boediono berdiri di pinggir lapangan sibuk berkoordinasi dengan Sri Mulyani. Century makin mendekat. Pemain belakang berusaha mengawal ketat. Akhirnya, Boediono dan Sri Mulyani yang memang pemahamannya paling tinggi terhadap kondisi pertandingan dan efek jangka panjangnya kepada klub dan para fans harus mengambil langkah pahit.

Boediono dan Sri Mulyani, melalui kode-kode mata sepakat untuk tidak membiarkan Century memasuki daerah penalti. Resikonya terlalu besar. Padahal mereka berdua sebenarnya juga enggan, ya, abisnya Century kan bukan striker utama gitu, lho. Tapi sikon saat itu benar-benar memaksa mereka untuk mengambil antisipasi tingkat tinggi. Darurat, darurat.

Boediono meminta tim pemain belakang untuk menjegal Century. Harapannya, kan Century ini enggak jago-jago amat, ditekel dikit ya bisalah dia dihalangi menyentuh garis kotak penalti. Century dijegal. Gawang pun selamat. Peluit tanda pertandingan berakhir dibunyikan. Pertandingan yang ‘menakutkan’ itu berakhir sudah.

Masalahnya, Century terjatuh dan dibawa ke rumah sakit. Boediono memperkirakan biaya perawatannya ringan saja. Apa lacur, entah bagaimana dan siapa yang bermain, ongkos rumah sakit Century mendadak selangit. Dana klub terus dikucurkan hingga jumlah mencapai 10x lipat dari perkiraan awal.

Skandal pun menguak. Skandal Century.

Boediono dan Sri Mulyani yang memang memegang taktik dalam pertandingan melawan Benfica tergugat.

Penonton mulai ikut berbicara. Para fans mulai melemparkan banyak spekulasi. Mengapa Boediono dan Sri Mulyani tidak membiarkan Benfica melepaskan tembakan ke arah gawang? Segenting apa sih posisi saat itu? Kan Century cuma striker ecek-ecek? Masa sama striker ecek-ecek saja takut, sih?

Boediono dan Sri Mulyani mulai dipertentangkan dengan wakil pemilik klub, Jusuf Kalla. Jusuf Kalla berfokus pada biaya pengobatan Century yang ternyata memang 10x lipat dari hitung-hitungan awal. Jusuf Kalla juga mulai meributkan bahwa Boediono dan Sri Mulyani sudah lebay dengan mencoba menjegal Century, si striker level anak bawang itu.

Boediono dan Sri Mulyani mencoba menjelaskan dampak luar biasa jika Century dibiarkan melesakkan bola ke arah gawang. Kubu penonton mulai ribut, “Biarin aja! Kan belum tentu gol!”

Boediono dan Sri Mulyani berkeras, “Lah, kalau gol gimana?”

Perdebatan yang tak akan ada habisnya. Karena ya sudah lewat hehehe. Tidak ada yang benar-benar tahu apa yang terjadi jika Century dibiarkan mencetak gol ke arah gawang. Tapi bukankah sudah tugas pelatih dan kiper untuk bekerja sama menjaga gawang agar tidak kemasukan gol? Mereka kesulitan menjelaskan banyak hal karena penonton ya biasanya mana mau tahu. Maunya timnya menang bodo amat strategi yang dipakai .

Maunya gawang tidak banyak kebobolan, maunya pelatih yang menerapkan strategi secanggih mungkin terserah apa pun caranya. Begitu menang, striker yang dipuji-puji . Begitu kalah, kiper dan pelatih yang jadi sasaran tembak. Puk-puk pelatih . Apa kabar Moyes? hahahhahaha.

Apalagi jika mereka tahu pertaruhannya saat itu sangat berat. Tim lain, Malaysia dan Singapura sudah mengambil langkah darurat dengan membeli pemain bayaran termahal yang biasanya memang hanya diperjualbelikan saat tim-tim sedang keteteran. Pemain bayaran ini bercokol di sebuah tim khusus bernama Blanket Guarantee .

Pemilik klub Napoli saat itu sedang tidak berada di tempat. Semuanya serba samar-samar.

Dan kini, pertandingan di penghujung tahun 2008 itu kembali menjadi headline di banyak media cetak klub. Napoli tengah bergolak. Boediono dan Sri Mulyani berganti-ganti duduk di kursi persakitan. Mempertanggungjawabkan keputusan yang mereka ambil kepada Century saat itu. Tidak banyak yang mau tahu seperti apa sebenarnya kondisi di lapangan saat itu? Penonton sih ngotot enggak ada apa-apa ya hehehe. Asyik-asyik aja tuh .

Sementara wakil pemilik klub, Jusuf Kalla juga tak bisa disalahkan. Beliau sangat peduli kepada keran dana klub yang mengucur deras untuk biaya pengobatan Century tadi. Piye iki dananya? Mending itu dana dipakai untuk beli transfer pemain baru atau bikin suvenir-suvenir klub untuk dijual-jualin ke orang lain. Atau untuk modal ngiklan klub di tipi-tipi.

Century, seorang striker yang sebenarnya belum punya nama, mendadak hits di seantero klub .

Boediono dan Sri Mulyani jelas punya alasan kuat yang walau buat sebagian besar penonton masih serba abu-abu. Tapi fakta di beberapa pertandingan di tempat lain di tahun 2008 itu saya rasa cukup ya untuk menjadi modal mereka berdua untuk bersiaga penuh di lapangan dan mengambil langkah-langkah darurat di sempitnya waktu yang tersisa.

Jusuf Kalla juga punya concern untuk melindungi dana klub.

Mengapa tak berfokus pada siapa yang bermain di melonjaknya angka yang tertera di kuitansi pengobatan Century? Siapa sebenarnya pihak yang mengambil kesempatan untuk merampok dana Napoli via striker Century? Jeng…jeeeenggg…

 

Gambar : footballinjuries.co.uk
Gambar : footballinjuries.co.uk

Tulisan ini dibuat untuk iseng-iseng saja menyambut Piala Dunia tahun 2014 di Brasil nanti . Ada pun kesaamaan nama, singkatan, posisi, tempat itu adalah sangat disengaja hahahahha.

Begini deh kalau orang kepo mencoba untuk ikut membahas skandal nasional dari perspektif emak-emak dasteran . Lebih kurangnya, CMIIW ya.

Mari kita kawal terus kasus si strikel abal-abal yang sudah merampok uang klub segitu besarnya. Tapi, jangan salah fokus dan hendaknya jadi ajang belajar untuk tahu bedanya Sepakbola Mikro dan Sepakbola Makro hehehe. Lumayan kan jadi nambah ilmu .

Dukung siapa di Piala Dunia tahun ini? Apa?? Dukung Napoli? Hahahahahahhahahhaha   😛 😛 😛. APa kabar Napoli sekarang ya, dah kelelep di seri B jangan-jangan 😀.

***

In Her Shoes

Seorang teman pernah bertanya kepada saya, “Kok hak talak itu hanya ada sama laki-laki, ya?”

Pertanyaan itu diungkapkan sebelum saya menikah jadi ya mending mingkem hehehe. Jawabannya tentu ada cuma waktu itu saya aja yang belum tahu .

Lalu, di suatu pengajian ibu-ibu waktu masih tinggal di Jeddah dulu entah Ibu Ustazah awalnya membahas apa, tahu-tahu membahas soal kehidupan perkawinan. Dan melontarkan suatu pertanyaan, “Kalau seandainya hak talak juga diberikan kepada istri, ibu-ibu di sini jawab jujur, ya. Sudah berapa kali mengajukan cerai ke suami kalau lagi berantem?”

Langsung yang dibalas dengan seisi ruangan terkikik-kikik hihihihi . Saya sih bukan ngikik lagi tapi langsung ngakak hahahaha. Tersindir luar biasa .

Kalau kata sebuah pepatah kuno, “9 perasaan dan 1 akal pada perempuan.”

Karena itulah katanya konon, perempuan itu makhluk yang lemah, gampang diboongin, kalau berdiskusi kadang gampang meledak, nonton film sedih gampang galau terus pakai nangis segala, hidupnya pun penuh drama.

Eh, ini lagi mendeskripsikan perempuan secara umum atau lagi menceritakan diri sendiri? Hahahahhahahaha 😛.

in her shoes
Gambar : paradise4women.com

***

Waktu masih gadis kalau melihat adegan orang melahirkan di televisi saya suka bilang, “Lebay amat, ampe itu urat keluar semua. Sesakit apa sih?”

Eh, enggak lama dikiriman teman sebuah artikel yang menerangkan secara fisiologis dan biologis tentang proses dalam tubuh saat melahirkan. Habis baca sampai rasanya mau pingsan, hahahaha. Konon, saat melahirkan, rasa sakit yang ditanggung oleh seorang perempuan bisa sampai ribuan kali lipat daripada rasa sakit normal yang sanggup ditanggung oleh manusia biasa secara umum.

Eike yang penakut ini apa sanggup melahirkan?

Yaela, baru sebulan setelah menikah saja sudah lupa semuanya dan sibuk berdoa minta diberi kesempatan untuk hamil! Hahahaha. And the rest is history. I’m a mom of 2 now ^_^.

Benar tidak isi artikel itu? Enggak pakai pikir panjang, BENAR BANGET! Hahahahaha. Walau berjuang susah payah mempraktikkan hypnobirthing dan terlihat tenang (cuma merem melek doang) sampai bikin susternya yang panik hihihihi, sumpah ya Maaak, masa-masa kontraksi itu benar-benar ‘penuh perjuangan’.

Sama saja saya rasa dengan yang melahirkan via SC. Bayangin itu perut disobek terus dijahit lagi. Hiiiiyyyy *bergidik*.

Setelah melahirkan apa duduk manis dan tidur-tiduran saja. Entar duluuuuu…dilanjut dengan drama ASI . Yang ibu kantoran kekhawatirannya nambah karena harus prepare perasan ASI di kulkas. Sampai kurang tidur karena ngejar target. Subuh-subuh bangun mompa. Bisa 2x semalam.

Selesai ASI ya masih panjang perjuangan. Jam kantornya enggak ada. Semacam 24 jam gitu kali, ya. Apalagi kalau anak sakit, rasanya dada, pikiran dan sekujur tubuh ikut berdentum-dentum . Kalau anak sakit, dijabanin begadang sampai beberapa malam juga kuat. Padahal dari pagi sampai siang kan banyak juga ya rutinitas lain yang enggak mungkin ditinggal.

Ffiiuuuhhh *ngelapKeringat*. Logikanya, kalau kita pakai akal doang nih, ya, bagaimana cara seorang perempuan yang sudah mejadi seorang ibu bisa melewati semua itu? Coba gimana? Pikir sana pakai otak 😛.

In Her Shoes
Gambar : sextonfitness.com

Baru-baru ini beredar sebuah video. Di grup WA ada yang upload, di timeline juga bertebaran. Kalimat pembukanya : “We created a fake job.”

Beberapa applicant mulai melamar. Deskripsinya sungguh berat. 24 jam sehari. Kerjanya malah katanya banyakan berdiri bukan duduk di kursi. Harus selalu stand by. Para pelamar mulai bingung, ragu dan skeptis. Pekerjaan apaan, nih? Mereka bertanya soal gajinya. Sang pewawancara mengatakan, “The position gonna pay absolutely nothing.”

Ha? Pekerjaan seperti itu dengan penghasilan 0 rupiah. Siapa pula yang mau? Akal mana akal? 😀.

This world’s toughest job requires us to stand by for 24 hours per day (mostly standing), to have an excellent skill in finance-communication-interpersonal-negotiation etc, and to be able to get nothing in nominal. As it’s said before, the positiion gonna pay absolutely nothing.

Becoming a mom, is the world’s toughest job according to the video. Menilik kembali deskripsi kerjanya, siapa yang sanggup atau siapa yang mau berada di posisi itu? Logikanya macam mana tuh 😀.

https://www.youtube.com/watch?v=ZD8yfyaeaxM

Karena begitulah ya teman-teman, sang Pencipta Yang Mahatahu dan Mahasempurna menciptakan sosok perempuan 🙂. Cikal bakal para ibu ini mungkin terlihat rapuh, cengeng, labil, ya maklumlah perasaan-nya sering berperan lebih besar.

Karena kalau perempuan diciptakan seperti laki-laki yang katanya lebih mudah berpikir logis, apakah ada yang mau bertarung di kamar bersalin knowing the fact that they’re going to bet their life for doing that? :).

Setelah melahirkan, ‘pekerjaan’ masih terus berlanjut tanpa job desc yang jelas dan menyita sebagian besar waktu tanpa ada jaminan penghasilan tertentu. Kalau hanya akal dan logika yang digunakan, akan banyak perempuan yang akan ogah jadi emak-emak hehehe.

“9 perasaan dan 1 akal” ini pula yang seharusnya kita gunakan untuk memahami banyak polemik di dunia perempuan yang seringnya tak mudah ditakar pakai nalar doang? Misalnya … mengapa ada perempuan yang sampai mau melacurkan diri untuk menghidupi anak-anaknya?

Adalah sangat tolol kalau ada ibu-ibu yang berani bilang, “Ya itu karena dia malas saja. Maunya kerja enak-enak terus dapat uang?” KERJA ENAK-ENAK???? :'(.

Waktu masih gadis saya memang suka merasa aneh dengan isi ceramah yang menasihatkan perempuan untuk selalu melayani permintaan suami kalau mau ‘itu’. Katanya, pelayanan ‘itu’ termasuk salah satu hal penting untuk menjaga keharmonisann keluarga. Otak gadis saya berpikir, ya masa mau nolak. Kan enak ‘itu’. Hahahhahahahaha .

Ibu-ibu yang sudah menikah pasti paham ya maksud eike? 😛.

Kalau sekadar melayani suami sendiri saja kadang butuh ‘perjuangan’ berat, maka mengapa sampai bisa berpikir ada perempuan yang bercita-cita untuk menghabiskan malam-malamnya berbagi ranjang dengan pria-pria yang mungkin tahu namanya saja tidak  Bayarannya kadang cuma goceng pula.

Berzina itu dosa besar. Pasti masuk neraka. Ya bodoh kalau sampai tetap mau. Otaknya di mana?

Karena kadang keputusan seberat ini diambil bukan pakai akal saja 🙂. Perasaan ibu-ibu mana sih yang bisa tahan kalau anak-anaknya hidup susah, butuh makan, butuh ini itu.

Kita kan tak diciptakan dengan kondisi sama dengan kekuatan batin yang kuatnya merata. Tak sedikit yang diterpa kesulitan ekonomi, demi anak-anak, akhirnya menyingkirkan akal sehat dan memutuskan untuk berlari di lintasan yang sungguh tak mudah itu.

Jadi ya ibu-ibu, hati-hati dalam menanggapi berita soal ‘pekerja Dolly’ yang menolak jika Dolly ditutup. Bijaksanalah . Kalau tak sanggup memberi solusi setidaknya jangan menyakiti dan nyinyir macam-macam . Sama-sama perempuan kita ya . Put ourself in their shoes. In her shoes :). Kita dibentuk dari jalan hidup berbeda-beda, sikon yang tidak sama dan ujian yang tak sama beratnya.

Kita semua tahu kok kalau itu dosa. Tapi kata pepatah lagi nih ya, knowledge knows what to say, but wisdom defines when to say it 🙂. Sumpah, ini bukan kata saya hehehe.

Mari kita fokus kepada peran pemerintah. Bagaimana mencegah kaum perempuan terjerumus kepada hal-hal seperti ini. Kalau pun ada yang memilih dengan sadar setidaknya bisa kita kurangi mereka yang terpaksa membenamkan diri pada jalan hidup seperti ini.

Itulah tugas berat pemerintah untuk menjamin kesejahteraan mereka yang kurang berpunya khususnya anak-anak yatim dan terlantar yang ditinggal oleh pemberi nafkah di keluarganya. Percayalah, tak sedikit ayat dalam alquran yang memerintahkan kita mengasihani anak yatim 🙂. Beban si ibu seharusnya tidak dipikulnya sendiri. Be in her shoes :).

“Perhaps it takes courage to raise children..”
― John Steinbeck, East of Eden Hazard

In Her Shoes
Gambar : women2.com

Despite all the drama, sifat yang seringnya terlihat moody banget, susah pula dimengerti kadang apa maunya 😛, dengan “9 perasaan dan 1 akal” yang katanya ada pada kami, masih merasa kaum perempuan adalah makhluk yang lemah?  *benerinDaster*   😀 😀 😀.

Kepada seluruh pejuang-pejuang cinta di mana pun pemberani-pemberani ini berada yang seringnya bertarung tidak dengan otot saja, logika pun sering dterabas tapi dengan cinta sejati yang lahir dari perasaan … Happy (belated) International Mother’s Day ^_^.

-Salam Perjuangan dari Athlone-

In Her Shoes

***

One Day One Juz : Membumikan Alquran, Melangitkan Manusia

One day one juz : Waktu SD saya suka memamerkan hafalan surah-surah pendek di hadapan almarhum Bapak. Bapak nanti mengangguk-angguk senang tapi seringnya diakhir dengan nasihat : “Baca juga artinya, Nak. Biar mengerti apa yang dibaca.”

Saya sedikt kecewa. Bukannya dipuji malah disuruh membaca terjemahan. Saya jawab ogah-ogahan, “Bahasa arabnya ji yang disuruh.”

Sampai kuliah, kalau mengaji saya nyaris tak pernah membaca terjemahan hehehe.

 

Gambar : muslim.or.id
Gambar : muslim.or.id

 

Nah, di masa-masa kuliah kalau gak salah pas tingkat 3, kegalauan menerjang.

Waktu itu, di kampus sering mengobrol dengan beberapa teman yang pemikirannya ‘gimanaaa gitu’. Orang-orang yang mempertanyakan fungsi agama sebenarnya dalam kehidupan manusia. Saya ingin membela tapi ya itu dia, pakai apa? Ngaji sih lancar tapi ngertinya kosong hehe.

Di tempat kos juga saya sering berdiskusi dengan seorang teman Nasrani yang sangat taat. She’s so great. Dia menghafal banyak sekali isi injil dan sangat pandai menjabarkannya. Sementara saya NOL BESAR. Hampir tiap hari mengaji tapi enggak tahu apa yang dibaca 🙁.

Jadi penasaran dan bertanya-tanya. Saat itulah, mungkin diuji oleh Tuhan. Diperkenalkanlah saya kepada sebuah perkumpulan yang belakangan saya tahu namanya X. Singkat cerita, saya resmi bergabung.

Sekitar 2-3 bulan saya bergabung di X dan terus menggerus isi tabungan untuk iuran ke sana. Sama sekali tidak ada cuci otak atau hipnotis seperti isu yang selama ini beredar hehehehe.

Di X, murni doktrin-doktrin ‘kita ini paling benar’ yang diterapkan kok . Yang sayangnya, sampai saat ini doktrin model begini masih digunakan secara masif oleh beberapa organisasi yang berlindung di bawah nama besar Islam 🙁.

Mengapa harus mendoktrin? Untuk membangun militansi anggota. Militansi inilah yang akan dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kepentingan organisasi . Biasanya sih untuk mengeruk ‘materi’. Wujudnya bisa dari uang sampai hal duniawi lainnya.

Yang membuat saya sadar karena saya sering bertanya ini itu. Saya sempat menentang secara halus mengapa kami ‘dipaksa’ berbohong bahkan kepada orang tua sendiri. Walau katanya orang di luar kami adalah kafir atau dianggap imannya lebih rendah ya saya gelisah sendiri. Walau jarang bersentuhan dengan terjemahan alquran, saya pernah beberapa kali membaca biografi rasulullah dalam banyak versi. Rasulullah sangat jauh dari sifat-sifat menipu dan narsis begini.

 

One day one juz
Gambar : scpeanutgallery.com

 

Para ‘mentor’ ini lihai sekali. Mereka sering mengutip ayat sepotong-sepotong atau mencocok-cocokkan kisah-kisah perjuangan rasulullah dan nabi-nabi lain dengan sepak terjang mereka. Bahkan, kami dilarang membaca literatur apa pun selain yang disarankan oleh ‘perkumpulan’. Ya saya waktu itu menyarankan, mari kita baca sama-sama dan dibahas. Eh, saya malah dituduh punya penyakit hati karena tidak mau menurut .

Akhirnya, saya beli deh tuh buku yang dijual di Gramedia yang membahas sepak terjang perkumpulan X ini. Dan betul, ternyata perkumpulan ini berafiliasi dengan sebuah pesantren modern yang besar dan keren. Iuran kami ternyata disalurkan ke sana dengan janji untuk mendirikan negara Islam.

Walau sering dengar ancaman macam-macam ya saya tinggalkan saja. Tapi enggak diapa-apain kok saya hehehe. Aman-aman saja. Mungkin karena mereka juga sebal soalnya saya sudah mulai nyolot dan sudah ogah menyumbang apa pun hahahaha . Disuruh ngajakin orang juga saya sudah malas.

Beberapa hari pertama sejak resmi keluar, saya selalu menangis sehabis sembahyang. Mohon ampun atas kekhilafan dan menyesali betapa bodohnya diri sendiri. Bukannya di kampus tak ada wadah mengaji tapi kurang sreg saja gitu. Eh, malah terjerumus ke organisasi aneh-aneh.

Saya berusaha menarik pelajaran penting setelah kejadian itu. Satu pertanyaan besar saya terjawab di perkumpulan X ini. Ada juga sisi positifnya hehehe. Ada satu hal yang ingin saya jabarkan tapi takut kena semprit. Saya tidak punya ilmu untuk memperdebatkan lebih lanjut. Biarlah, sementara untuk diri sendiri dulu hehehe.

Lucu nih di perkumpulan X, teorinya bagus, praktiknya kok malah ujung-ujungnya duit atau target penambahan jamaah? hehehe. Mereka mengingkari ajaran yang mereka sebarkan sendiri.

Saya pun membeli alquran yang ada terjemahannya . Pertama kali sering membaca terjemahan memang biasanya pasti langsung sok-sok gimana gitu. Terkaget-kaget dengan ayat-ayat yang sifatnya ‘keras’. Dan setiap membaca hal yang buruk pasti langsung merefer ke orang lain hehehe.

Tapi, tak pernah bisa rutin lagi mengaji. Kuliah makin sibuk, tahun terakhir di kampus juga nyambi jadi tutor buat anak-anak bule sekitar 3-4 kali seminggu. Apalagi pas sudah kerja . Makin sibuk cari suami juga hahahahha . Rutinitas mengaji mulai memudar.

 

One day one juz
Gambar : eternea.org

 

Kejadian penting lain adalah saat naik haji. Tenda saya yang keseluruhan penghuninya (kecuali saya) adalah orang Mesir yang fasih berbahasa Arab pernah dibuat sedikit gempar. Karena teman yang ranjangnya sebelahan dengan saya cerita ke yang lain kalau saya lancar sekali membaca alquran. Padahal saya mengaku sama sekali tak bisa berbahasa arab.

Satu teman yang kebetulan seorang dokter juga berkomentar sedikit tajam. Menurut mereka cukup aneh orang yang tidak mengerti berbahasa arab sama sekali tapi bisa membaca alquran dengan lancar. Saya juga baru ngeh hahahahaha. Padahal kita mah di Indonesia-Malaysia kan biasa aja, ya .

Nah, si teman dokter ini yang memang bahasa inggrisnya paling keren yang menemani saya berdiskusi di malam itu.

Dia menerangkan keindahan utama alquran ada pada maknanya. Dia panjang lebar menjelaskan betapa bahasa alquran sendiri tergolong sastra tingkat tinggi dalam bahasa Arab. Dia sedikit menasihati, “Kamu tahu mengapa kalau membaca alquran kita bisa menangis? Karena kita tergugah akan artinya. Kalau kamu hanya membaca tapi tak bermakna, lantas bagaimana kamu bisa menangis dan mengerti? Mumpung kamu di sini, belajarlah bahasa Arab. Kalau belum bisa, sehabis mengaji, baca juga terjemahannya.”

Iya sih, saya juga salah. Alquran terjemahan kan tebalnya biasanya dua kali lipat. Sengaja membawa yang ringkas-ringkas karena bawa anak bungsu yang waktu itu usianya belum 2 tahun. Bawaan saya dan suami dibombardir sama susu kotak, popok sekali pakai, mainan dll. Jadi saya bawa alquran kecil tanpa terjemahan dan beberapa buku-buku doa (nah yang ini ada bahasa indonesianya juga).

Sejak setelah naik haji itu, saban mengaji seorang diri PASTI selalu diikuti dengan membaca terjemahan 🙂.

Lama-lama saya menyadari pentingnya selalu ‘bercermin’ saat membaca terjemahan alquran. Kalau bertemu penjabaran sifat-sifat buruk, langsung ingat diri sendiri! Makanya, kalau ayat-ayat tentang kejahilan Bani Israil di masa lampau selalu saya perhatikan apa sifat yang sedang diterangkan. Instead of fokus kepada Bani Israilnya, saya selalu fokus pada perbuatannya dan terus menerus berkaca dan berjanji untuk tidak melakukan hal yang sama.

Walau tentu saja janji mudah, aplikasi selalu sulit luar biasa 😛. Mari terus berbenah.

Bagaimana dengan ayat-ayat yang menerangkan ketegasan yang kadang berujung pada tindakan fisik yang keras? Kembalilah selalu kepada tafsir . Surah Al Anfal itu memang banyak bercerita tentang masa perang. Saat kontak fisik secara langsung memang terjadi. Dan selalulah mengingatkan diri sendiri ketimbang mengaitkan apa yang kita baca kepada pihak lain.

Susah memang hehehe. Manusia biasa, selalu penuh hawa nafsu.

Saya sangat terkesan sebuah diskusi menarik antara Mahfud MD dan Ustaz Quraish Shihab. Kalau nanti nemu video youtubenya, saya sertakan di komentar ya . Kira-kira begini penjabarannya :

Mahfud MD : Kita sering membaca banyak ayat yang memerintahkan agar kita keras dan tegas kepada kaum di luar muslim. Bahkan menyuruh kita untuk mengambil tindakan fisik. Tapi sebaliknya, Rasulullah selalu mencontohkan akhlak terbaik saat menghadapi umat selain Islam. Misalnya menyuapi perempuan yahudi yang selalu menghinanya. Bagaimana Pak Ustaz? Ini seperti dilema. Kita harus bagaimana? Di berbagai situasi, tindakan mana yang harus kita pilih? Jadi sebenarnya kita ini harus keras atau lembut kepada umat lain?”

Quraish Shihab : Perlu kebijaksaan yang dalam sebelum memilih. Islam itu rahmatan lil aalamiin. Apa pun itu, kita harus selalu berpegang bahwa kehadiran umat muslim itu selalu menjadi rahmat bagi semesta alam. Ini memang bukan hal yang mudah. Tapi dengan selalu menempatkan diri sebagai SOLUSI akan melapangkan jalan kita untuk memilih. Insya Allah.

Kalimatnya sih enggak persis begitu. Itu sepenangkapnya saya saja sih hehehe.

Saya cukup sedih karena pernah membaca artikel bahwa kini orang-orang berpaham atheis atau agnostik statistiknya terus naik. Ada artikel yang mengklaim bahwa jumlah mereka sudah menempati posisi ke-3 di dunia, setelah Nasrani dan Muslim.

Tidak sedikit lho teman-teman saya sendiri yang juga sudah mulai mengejek agama sebagai sumber kerusuhan . Salah satu ungkapan dari ‘pihak mereka’, “Agama justru bikin sengsara. Karena kalau sudah punya agama, maunya agama dia aja yang diikutin. Katanya disuruh sama Tuhan-nya untuk begitu. Tuhan apaan tuh nyuruh kita saling membenci? Mending enggak punya Tuhan daripada tiap hari jelek-jelekin orang karena disuruh Tuhan.”

Astagfirullah :'(.

Tapi ya, saya pribadi selalu memilih untuk kembali kepada diri sendiri. Sebagai umat beragama, jangan-jangan kita sendiri yang memang memberi contoh kepada mereka? Agama yang secara etimologis berarti “tidak kacau’ justru sering sekali menjadi sumber kekacauan di berbagai kerusuhan di banyak penjuru bumi. Sejarah tidak membantah soal itu.

Bagaimana ini?

Sebagai umat muslim, jangan patah semangat. Kembalilah selalu kepada alquran . Tidak untuk mencari siapa yang salah, pihak mana yang berkonspirasi  atau mengejek balik mereka yang sudah tak percaya lagi pada keberadaan agama. Tapi untuk berkaca dan meminta pertolongan dari Yang Maha Agung dan Maha Sempurna.

Memang, enggak boleh sembarangan mengartikan alquran. Namun, jangan pula ‘lari’ dan melepas tanggung jawab pribadi. Membaca alquran+terjemahannya sudah seharusnya kita tasbihkan sebagai kegiatan penting dalam kehidupan sehari-hari.

Mempelajari bahasa Arab juga perlu kalau untuk saya pribadi hehehe. Manfaatkan kecanggihan teknologi yang luar biasa ini. Belajar tajwid atau bahasa Arab pun sekarang sudah bisa via Youtube . Banyak ustaz kredibel juga punya fanpage bagus-bagus di FB .

Cuma kalau urusan tafsir memang harus berhati-hati. Setahap demi setahap ya teman-teman. Terus kendalikan nafsu dengan menekankan kerendahan hati sebagai insan yang kurang ilmu. Konon dalam kehidupan fana ini ada 2 hal yang tidak akan pernah memuaskan dahaga, berburu ilmu dan berburu dunia 🙂.

Kalau menghadapi ayat-ayat yang galau sementara akses untuk menimba ilmu terbatas (macam saya yang di sini sekarang hanya banyak bergantung pada internet :P) berharaplah selalu akan kebijaksanaan …

“Dear Lord, grant me the courage to change the things that I can
The patience to accept the things that I can’t
and the wisdom to know the difference.”

Insya Allah, alquran itu menyimpan banyak sejarah masa lampau untuk kita belajar dan berkaca bukan untuk menghakimi siapa pun 🙂. Mengurai keutamaan tauhid dan iman sekaligus menjabarkan keutamaan akhlak dan tingkah laku.

Perhatikan saja, banyak sekali ayat yang diterjemahkan sebagai… “Beriman dan berbuat kebaikan”, “beriman dan beramal baik”, “beriman dan menganjurkan untuk memberi makan kaum miskin” pokoknya iman selalu disertai dengan perbuatan baik.

Tak berarti iman dan tauhid nomor 2 atau tidak penting. Enggak gitu ya. Semuanya penting ^_^.

Alquran menegaskan Tuhan sebagai Yang Mahasempurna, Mahatahu, Maha Mengasihi dan Maha Esa. Ingat, Maha Esa . Satu-satunya. Selain daripada Tuhan, tidak ada yang sempurna dan bisa saja melakukan kekhilafan. Termasuk seluruh umat manusia.

Lantas, bagaimana cara menumbuhkan kebiasaan ini? Pasti banyak kan yang niatnya sebenarnya sudah ada dari dulu, tapi praktiknya sungguh sukar luar biasa.

Memang, sebelum join ODOJ ( One Day One Juz ) sempat terlintas rasa ragu di hati saya. Akankah ini mengarah kepada sifat riya’? Kabar buruknya, apa pun yang kita lakukan, prasangka buruk itu pasti akan datang. Kabar baiknya, niat yang tulus yang terpatri dalam hati hanya Allah yang tahu . Bukankah itu yang lebih penting? .

Nah, pemikiran itu yang membawa saya untuk bergabung di ODOJ ( One Day One Juz ) di bulan Februari lalu. Dan kini, sudah memasuki putaran ke-4 dan masih terus berjalan alhamdulillah. Never in my life before, saya bisa hattrick menamatkan alquran+terjemahannya 3 bulan berturut-turut . Padahal niatnya tak pernah lekang. Thanks to ODOJ ( One Day One Juz ) ^_^.

Maka, mari bergabung di komunitas One Day One Juz di www dot odoj dot org . Untuk terus membawa pribadi-pribadi alquran ke dalam diri kita masing-masing. Untuk secara santun dan berkesinambungan mematahkan mitos bahwa agama adalah sumber perselisihan. Padahal sejatinya tidak begitu.

Maka, marilah kita terus pelajari dan praktikkan. Yang tentunya harus terus dibaca dulu dong ya sesuai pepatah tak kenal maka tak sayang. Untuk kemudian menggembleng diri dan membuktikan pada semesta betapa sesungguhnya umat muslim harusnya mampu tampil sebagai solusi bagi manusia lainnya dan lingkungan sekitar termasuk alam. Memelihara dan peduli lingkungan itu pun bagian dari ajaran Islam yang tercantum langsung dalam alquran lho ya . CMIIW.

Kehadiran umat muslim selalu membawa kesejukan, kedamaian, keadilan, kesejahteraan pada sekitarnya. Sesuai pakemnya, Islam … rahmatan lil aalamiin.

Mari bersama … #membumikanAlquran dan #melangitkanManusia bersama gerakan #oneDayOneJuz.

Mohon maaf jika ada salah-salah kata atau dianggap ngajarin yang gak bener hehehe. Yang benar-benar yang bagus-bagus itu datangnya dari Alllah, kalau ada yang salah atau sotoy itu pasti dari yang nulis 😉.

Wassalamu alaikum wr.wb

Jihan Davincka

ODOJ #2293

ONe day one juz
Gambar : elhoda.net

Do What You Gotta Do

Saya memang sejak beberapa hari lalu pengin menulis opini tentang orang-orang yang menghina terpilihnya Aceng Fikri dengan perolehan lebih dari satu juta suara di DPD Jabar. 

Aceng Fikri, gambar : news.detik.com
Aceng Fikri, gambar : news.detik.com



Lucunya, orang-orang ini justru lebih banyak mengecam mereka yang memilih Aceng Fikri. Lebih asoy lagi, dari beberapa yang marah-marah itu, mayoritas golput Kakaaaaaa hahahhahaha. Ini nih yang paling gue demen dari orang-orang yang tidak hanya golput sendiri tapi juga aktif menyuruh orang lain untuk ikut golput . Dia kagak milih bahkan meminta teman-temannya untuk ikut golput tapi begitu selesai, suaranya paling kenceng hehehe.

Memang, tiap warga negara berhak untuk protes.  Saya tidak melarang mereka yang golput untuk mengkritisi para pejabat, lho, ya :). Golput tidak golput, kita semua harus ikut aktif mengawasi para pemegang kekuasaan siapa pun orangnya kelak. Tapi helooooo, dilantik aja belon, situ sudah mangap duluan hehehe.

Cuma saja, kok rasanya kurang pantas jika kritikan malah ditujukan kepada para pemilih. Pakai embel-embel ‘bodoh’ dan ‘kurang pendidikan’ pula? 🙁

Kita, yang berada di middle class, memang kadang suka menertawakan dan mengaku tidak habis pikir dengan tingginya perolehan suara Aceng Fikri, anak-anaknya Ratu Atut, bahkan trah Cendana masih ada yang melangkah mulus ke Senayan.

Komentarnya rata-rata begini, “Itu berarti orang-orang Indonesia masih banyak yang tolol.” Terus biasanya ditambahkan, “Ih, untung deh gue enggak nyoblos. Kalau nyoblos ikut-ikutan tolol.”

Marah-marah sendiri di wallnya dan nuduh-nuduh orang lain tolol . Coba kalau kenal baik sudah saya paketkan sebuah cermin cantik ke rumahnya untuk berkaca hihihihihi.

Justru, sebagai masyarakat dengan pola pikir terdidik, kita pikirkan dong sumbangsih apa yang kita berikan timbang saban Pemilu/Pilkada bisanya cuma tolol-tolol-in orang lain saja? Shame on you, no?

Coba lihat dari perspektif yang lain. Memang sulit kan kalau anda mau menumbangkan raksasa di depan mata. Bisa apa? Tapi anda bisa memberi sugesti kepada orang-orang lain yang berlarian panik tak tentu arah di bawah kaki sang raksasa yang siap menginjak siapa saja yang diinginkan. Ajak mereka ramai-ramai berlari menjauh misalnya 🙂.

Walau mungkin butuh berhari-hari, bertahun-tahun, bahkan mungkin puluhan tahun untuk membuat mereka sadar kalau berlari random tak tentu arah tak akan membuat mereka terhindar dari pijakan kaki sang raksasa nan jahat itu. But at least you did something. Timbang ngata-ngatain bego-bego-in orang toh? 😉.

Pernah nonton film Finding Nemo gak? Saat adegan-adegan penghabisan, sang nelayan sukses menjerat ribuan ikan kecil dengan jaring raksasanya. Si kecil Nemo, Dory dan Marlin berusaha mengarahkan agar ikan-ikan kecil yang panik ini berenang berbarengan ke arah bawah, “Swim down! Swim down! Swim down!”

Nemo malah masuk ke dalam jaring dan bergerilya secepat kilat meneriaki para ikan yang menggelepar tak tentu dalam jeratan si jaring nelayan. Marlin berteriak dari luar jaring. Berenang ke atas dan ke bawah sambil berkoar-koar, “Swim down! Swim down!”

Voila! Para ikan serempak menurut. Dan sang nelayan dkk hanya bisa melongo ketika jaring putus dan jatuh ke air. Para ikan bersorak gembira melepaskan diri dari jaring yang akhirnya robek tersebut ^_^.

Swim down! Swim down! Gambar : filmspotting.net
Swim down! Swim down! Gambar : filmspotting.net

Dory: Hey there, Mr. Grumpy Gills. When life gets you down do you wanna know what you’ve gotta do?

Marlin: No I don’t wanna know.

Dory: [singing] Just keep swimming. Just keep swimming. Just keep swimming, swimming, swimming. What do we do? We swim, swim.

Yeah, that’s what we learn from our little buddy Nemo and his friends. Mungkin, karena film ini fiksi jadi gampang saja si ikan-ikan disuruh manut hihihihi. Unfortunately, many times real life challenged us more, much-much more than what we thought we could handle 🙁.

When life gets you down you just do what you have to do 🙂. Tentunya bukan dengan ngata-ngatain orang lain tolol, kan? 😉.

Nah, itu tadi versi nyinyirnya dari saya hahahahaha. Period oh period. Biasanya saya mengendalikan diri untuk tidak ngoceh kalau lagi datang bulan. Tapi sudahlah ya. Sometimes, we just do what we need to do, regardless pencitraan hahhahahaha 😀. Sila baca artikel ini untuk melihat versi ‘bijaksana’ nya 😀

https://midjournal.com/2014/04/membela-pemilih-aceng-fikri/

Kenangan Masa Kecil : For a Better Ending :)

Salah satu kenangan masa kecil kan rumah saya ada 3 lantai, tuh. Horang kayah dong ya rumah ampe bertingkat-tingkat hihihi. Mengapa sampai 3 lantai segala? Soalnya tanahnya super mungil sementara bokap menentang KB modern jadilah itu nyokap melahirkan sampai 8 kali! 😛

 

kenangan masa kecil
Banyak anak banyak rezeki ^_^ Gambar : majalahtim.com



Biar muat dengan bocah-bocah segambreng, diakalin dengan membuat rumahnya bertingkat. 

Saya enggak bakal bohonglah. Lingkungan sekitar rumah itu khas pemukiman dekat pasar. Jarak Pasar Sentral dari rumah mungkin hanya sekitar 100 m. Jalan kaki ke pasar juga bisa banget.

Karena sekolah di TK-SD Swasta, saya jadi tahu kehidupan sosial ekonomi teman-teman sekolah saya. Ada yang tinggal di wilayah ‘elit’. Beberapa kali ke sana untuk kerja kelompok.

Wah, rumahnya enak banget. Tenang dan tidak bising karena tidak terletak di jalan raya. Macam rumah eike yang wara wiri dilewatin sama angkot berbagai jurusan. Zzzzzzz .

Dia tiga bersaudara dan masing-masing punya kamar tidur sendiri. Gimana eike enggak mupeng cobak. Secara saya dan saudara-saudara saya tidurnya enggak pakai kamar-kamar, karena kamar tidur cuma ada 2.

Kita tidur ramai-ramai di lantai paling atas pakai kasur + kelambu. BIla pagi tiba, kasur digulung, kelambu dilipat. Ruangannya memang ruangan serbaguna, siang untuk nonton TV-ngerjain peer-main monopoli, malamnya untuk tidur hihihi 😀.

Nah, waktu di rumah teman itu, ternyata ada siaran parabola. Saya agak grogi karena teman-teman lain sibuk bercerita tentang acara ini itu yang saya sama sekali tidak paham. Dodolnya, kalau mereka ngikik-ngikik, biar saya tak terlalu kelihatan bodoh, saya ikutan ngikik hahahahahaha.

Karena itulah, waktu SD saya suka ngibul . Suka mengaku-ngaku punya tante yang kaya raya, dimana hampir setiap akhir pekan saya diajak menginap di rumahnya yang ada kolam renang dan lapangan tenisnya. Kalau ngibul jangan tanggung-tanggung ya, Kakaaaa 😀.

Terus, teman-teman banyak yang les bahasa inggris. Saya ikutan dong ngaku-ngaku les. Dampak positifnya, tiap malam saya suka menyelinap ke lemari buku kakak-kakak saya dan berjuang sendiri menghafalkan kosakata dan grammar yang ada dalam buku-buku kakak saya . Biar ngibulnya enggak ketahuan dong ah 😛.

Lebih jauh lagi, karena saya kan gila-gila perhatian ya waktu kecil dulu (ini sampai gede sih hahahaha), saya suka menjanjikan hal aneh-aneh pada teman. Mengaku-aku bisa ngajarin mereka main piano salah satunya. Oh yeah, I told them that I also took a piano lesson twice a week! 😀.

Gambar : raleighhand.com

Atau menjanjikan aksesoris-aksesoris permata segala. Sungkem dulu sama teman-teman SD yang pernah dikibulin. I’m not proud of it . Tapi ya, satu-satunya hal yang bisa saya lakukan sekarang adalah minta maaf dan minta ampun kan? hehehe *tutupMuka*.

The truth is … I was sad. Knowing the fact that most my friends came from ‘the haves’ bikin rempong to the max 😛. And then I start putting some notes for my self. Privately.

Apalagi pas dengar cerita teman-teman ada yang liburan sampai ke luar negeri. Teman saya kebanyakan anak dosen atau ada anak pengacara terkenal. Anak dokter atau anak pengusaha. Pusing lah pokoknya 😀. Salah pilih sekolah mungkin yak hahahaha.

Saya tidak terima kenyataan kalau bapak dan ibu lulus SMP aja enggak. Jadi, saya harus jadi orang pintar! Enggak tahu juga kalau pintar itu bakal ke mana tapi itu keinginan terbesar nomor satu. Apalagi pas ibu saya suka ngomporin, kalau nilai bagus-bagus nanti bisa lulus perguruan tinggi di Jakarta! Wow, tinggal di ibukota. Kota lain, dunia baru! Catat baik-baik dalam diary 😀.

Nomor dua, saya jadi belajar, membaca itu bisa membuat angan-angan melambung tinggi. Kalau banyak tahu kita bisa terlihat pintar juga hihihi . Saya dulu pengin pakai kacamata biar kelihatan pintar lho hahaha.

 

Gambar : wikihow.com

 

Kakak-kakak saya suka menghabiskan uang jajannya untuk beli majalah atau tabloid . Nah, saya akhirnya tak bisa memilih-milih bacaan jadi saya baca saja semuanya. Termasuk novel ’17 tahun ke atas’ yang tak sengaja saya temukan di salah satu laci kamar bawah. Ngaku itu siapa yang punya??? hahahaha.

Jangan heran kalau agak error karena umur 9 tahun sudah baca beberapa seri Nick Carter hihihi. Tapi anak perempuan mana betah baca gini-ginian. Ada juga pusing sendiri .

Favorit saya itu buku-buku Enyd Blyton. Dari dulu, saya selalu ingin melihat dunia .

Saya suka membaca buku-buku dongeng terjemahan yang disewa pakai uang jajan atau pinjem dari teman . Saya suka norak melihat gambar-gambar yang menjadi latar dalam buku cerita tersebut. Rumah-rumah kecil bercerobong asap bercat warna-warni pastel. Halamannya luas berumput hijau dengan bunga-bunga aneka warga. Ikut membayangkan rasanya hidup di sana.

 

kenangan masa kecil
Gambar : enidblytonsociety.co.uk

Saya ikut-ikutan menghafal mata-mata uang yang disebut-sebut dalam bukunya … penny, pounds, shilling, pence dsb.

Apalagi serial Malory Towers. Berkisah tentang masa-masa kecil Darrell Rivers saat mulai bersekolah. Keenam seri bukunya selalu membuat khayalan saya terbang nun jauh ke Malory Towers, tempat Darrell menghabiskan 6 tahun sekolah dasarnya.

Tante saya banyak yang cukup berada sebenarnya. Tapi tidak sampai punya kolam renang dan lapangan tenis dan saya tidak rutin menginap di rumahnya hihi. Hanya datang saja sesekali. Tante ini sekaligus teman kecilnya ibu saya .

Sepupu-sepupu saya yang kecil-kecil punya koleksi Majalah bobo yang lengkap dan buku-buku cerita terjemahan. Kalau ke sana, saya pasti anteng duduk diam dalam kamar tidur si adik sepupu hehehe. Dia masih kecil. Lebih suka main mobil-mobilan atau main video game. Jadi, sambil membaca saya temani dia main. Tangan mainan mobil, mata fokus ke buku .

Serial Nina yang biasanya latar belakang luar negeri juga suka banget. Banyak teman yang koleksi Nina. Mereka tuker-tukeran. Makanya, saya ini waktu SD takut ketahuan gembelnya hahaha, jadi suka carper dengan cara aneh-aneh. Maksudnya biar mereka mau minjemin buku walau saya enggak punya tukerannya . Sok-sok berusaha membangun kharisma biar mereka ‘segan’ gitu lho .

Baca serial STOP juga dengan bekal bacot doang. Saya janjikan mau bikin drama dan bisa masuk televisi bla bla bla. Makanya, gampang kalau mau pinjam buku kepada siapa saja karena selalu mengesankan diri bagai orang penting hahahaha. Sungkem lagi, sungkem lagi sama teman-teman SD ku tersayang.

Dari membaca-baca itu jadi pikiran ikut berkelana ke mana-mana. Jadi banyak yang bisa diceritakan, terlatih bertutur yang baik, sayangnya dulu dipakai buat ngibulin teman hahahaha.

Saya jadi makin rajin menulis diary, menulis fiksi, dan macam-macam.

Saya pernah rutin membaca biografi orang-orang terkenal dan banyak uang karena saya pikir dunia itu adalah milik mereka yang berharta . Tapi biografi macam Christina Onassis malah membuat saya terkaget-kaget. Lalu waktu SMP saya membaca biografi Jackie Kennedy Onassis membuat saya makin yakin, perempuan itu kudu pintar untuk alasan apa pun!

Lalu, biografi Bunda Theresa membuat saya berkesimpulan pintar itu tak hanya tentang nilai-nilai di sekolah . Harta terbaik ternyata bukan uang.

Umur 11-12, saya membaca Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk dan sangat tergugah dengan ceritanya. Sampai merasa waswas kalau nanti suami saya ternyata orang Minang. Hahahaha .

Hingga akhirnya, saya cukup percaya diri untuk meyakinkan diri sendiri, bahwa suatu hari hidup saya akan menawarkan hal-hal yang lebih baik. Membaca membuat kita tahu bahwa ada banyak kehidupan lain di luar sana.

Tak sedikit orang yang menuai banyak hal positif di masa dewasa ternyata datang dari keluarga ‘bawah’. Saya dulu memang takut dengan pikiran-pikiran bahwa kita akan besar seperti orang tua kita atau lingkungan kita. Mengingat saya tumbuh di lingkungan menengah ke bawah. Membaca menawarkan harapan dan pilihan-pilihan baru yang rasanya sukar didapat dari perspektif lingkungan atau orang tua .

Makanya, waktu remaja, saya selalu merasa menulis itu pekerjaan yang berat tapi keren . Keren walau secara materi terlihat kurang menjanjikan .

Menjelang dewasa, bacaan saya didominasi oleh non fiksi.

Seberapa besarnya amal para penulis jika gagasan dalam tulisan mereka sanggup mengguncang dunia. Masih heran mengapa seorang emak-emak macam Kartini layak mendapat gelar pahlawan? .

Saya kutip tulisan Mas Bowo Kusumo, “Kenapa Kartini menjadi popular? Karena dia menulis. Kalo zaman sekarang, mungkin dia bikin blog. Lantas blognya dibaca oleh jutaan orang dan banyak mengubah kehidupan orang banyak. Kartini menunjukkan bagaimana pena bisa lebih tajam dari pedang dan lebih ampuh dari peluru.”

Dari dulu sampai sekarang, pendapat ini masih sangat relevan .

Membaca adalah salah satu cara yang paling mudah dan murah untuk membuka cakrawala .

Jendela Dunia, Buku 🙂

Tulisan ini dadakan dibuat untuk menyambut Hari Buku yang jatuh pada tanggal 23 April . Biar disayang editor dan penerbit, promo kudu jalan terus hahahahaha. Jangan lupa beli buku-buku saya juga yak .

Buku “Memoar of Jeddah : How Can I not Love Jeddah”, 174 halaman. Terbit Oktober 2013 kemarin .

https://jihandavincka.wordpress.com/2013/10/04/stands-at-times-of-challenge-and-controversy/

Buku “The Davincka Code”, 298 halaman. Terbit Januari 2014 yang lalu .

https://jihandavincka.wordpress.com/2014/01/19/how-traveling-inspires-you/

“Maybe this is why we read, and why in moments of darkness we return to books: to find words for what we already know.”
― Alberto Manguel

Benar itu. Untuk memadamkan rasa sedih dan tidak berdaya, saya getol membaca di masa kecil . Dari rangkaian kata-kata itulah, mimpi-mimpi bisa tercipta, rencana-rencana mulai terbina dan langkah-langkah kecil segera dibuat. Makanya tak salah bila ada istilah, “Buku adalah jendela dunia”. Walau kini mulai tergeser dengan kehadiran internet hehehe.

Soothsayer: Your story may not have such a happy beginning, but that doesn’t make you who you are. it is the rest of your story, who you choose to be… So, who are you, Panda? (Kung Fu Panda 2)

The bad news, we cannot change our past. Good news is … we can always choose what our future will look like . To find a better ending, bring out the best in you by reading and exploring .

Selamat Hari Buku dan happy reading, everyone ^_^.

 

Gambar : geekiest.net

 

***