X

Makassar, Suku Bugis, Kebiasaan ‘Bunuh Membunuh’ dan Pengalaman Minoritas yang Menyenangkan

“Lo anak mana, sih?” Seorang teman beda fakultas bertanya pada saya setelah kami kenalan di acara orientasi universitas.

“Dari Makassar, Sulawesi,” jawab saya.

‘Wow, ini pertama kali dalam hidup gue ketemu sama orang Sulawesi!”

Entah harus bete atau terharu.

Itu kejadian 20 tahun lalu. Merantau pertama kali ke Pulau Jawa, setelah hasil UMPTN membawa saya mewujudkan mimpi untuk kuliah di ibukota. Mudah-mudahan orang Makassar sudah tenar di Jakarta sekarang.

Ada juga yang merespons dengan, “Ooo dari Makassar. Gue tau tuh lagu sana. Anging Mammiri, kan? Lo tau dong artinya?”

“Enggak tahu. Gue kan orang Bugis.”

“Loh, katanya dari Makassar.”

Jadi begini. Makassar adalah nama kota ibukota dari provinsi Sulawesi Selatan sekaligus menjadi salah satu nama suku terbesar di sana.

Lho memangnya ada berapa suku, sih? Banyaaaaaak.

4 suku terbesar adalah : Makassar, Bugis, Toraja, dan Mandar. Tapi beberapa tahun lalu beberapa wilayah yang dihuni mayoritas suku Mandar sudah memisahkan diri menjadi provinsi baru, Sulawesi Barat.

Rumah adat khas Suku Toraja (Gambar : sulselprov.go.id)

Bahasa Bugis itu jauh berbeda dengan bahasa Makassar. Makanya lahir dan besar di Makassar pun belum tentu bisa berbahasa Makassar. Saya fasih 80% bahasa Bugis, tapi bahasa Makassar saya mungkin cuma 10% saja.

Sehari-hari di Kota Makassar, kami menggunakan bahasa Indonesia dengan logat/aksen lokal. Urusan bahasa ini pun sempat membuat proses adaptasi saya menjadi berwarna.

Pantai Losari, Makassar (Gambar : tempo.co)

Suatu malam di tempat kos, kami menonton beramai-ramai di ruang tamu. Beberapa sudah mulai mengantuk dan mengajak yang lain kembali ke kamar.

Mereka meninggalkan ruangan tanpa mematikan televisi. Spontan saya bertanya, “Televisinya tidak dibunuh?”

Mereka terlihat syok dan melihat ke arah saya, “Ha? Siapa yang dibunuh?”

“Ya televisinya.” Saya kebingungan melihat tampang mereka yang jadi horor begitu.

Spontan pada ngakak. Saya akhirnya sadar kalau kata “membunuh” tentu mengagetkan buat orang di luar Sulsel hehehe. Sementara kami di Makassar istilah mematikan alat-alat listrik sehari-hari ya biasa saja menggunakan kata “bunuh”.

Bingung bahasa enggak cuma yang serem-serem macam bunuh membunuh ini saja. Yang simpel-simpel macam membedakan ubi vs singkong saja lumayan bikin tukang gorengan depan Danau UI bete hahahaha.

Ceritanya pas lagi Ospek Universitas di suatu siang lapar banget dan dekat situ adanya tukang gorengan. Ramai yang beli. Jadi sambil ngantri kami langsung menyeletuk satu persatu. Saya ikutan, “Ubi ya, Bang.”

Saya tidak terlalu memperhatikan saat si Abang masuk-masukin pesanan ke kantong kertas. Langsung bayar, main ambil saja.

Saat agak jauh dan merogoh isinya baru kelihatan, alamak, saya ngomel dalam hati, “Kok masukinnya salah?”

Saya balik ke abang-abang tadi, “Bang, saya pesannya ubi kok ngasihnya ubi jalar?”

Abangnya bengong, “Itu kan memang ubi, Neng!”

“Bukaaaaaan. Maksud saya tuh iniiiiiii…” Sambil menunjuk ke salah satu kelompok gorengan yang ada di wajan si Abang.

“Ya ampun, ini mah singkong! Ubi tuh yang iniiiiiii…”

Saya tetap ngotot, “Ini Ubi jalar, Bang!”

Untung abangnya enggak macam netizen masa kini yang doyan eyel-eyelan panjang lebar, “Ya udah, ganti aja sini.”

Ternyata ubi kayu yang umumnya kami sebut ‘Ubi’ di Makassar dikenali sebagai singkong di pergaulan ibukota. Ubi manis ya namanya Ubi Jalar kalau di Makassar.

Kembali mengalami masalah yang sama saat mau beli martabak. Saya pesan martabak eh dikasihnya terang bulan. Saya protes, dong!

Abangnya malah bingung, “Jangan becanda mentang-mentang udah malam ngomongin bulan. Ini martabak.”

Ternyata, istilah martabak itu default buat martabak manis. Martabak yang saya maksud adalah martabak telur. Karena di Makassar, tidak ada istilah martabak manis. Adanya Terang Bulan!

Seru ya jadi orang Indonesia. Sukunya ratusan, agamanya tidak hanya satu.

Menjadi minoritas pun tidak selalu teraniaya dan penuh drama. Banyak juga seru-serunya hehehe.

Yang penting jangan gampang baper dan sadari salah satu resiko minoritas ya kurang tenar.  Kurang tenar bisa mengundang banyak kesalahpahaman. Seperti teman-teman di ibukota di berbagai pertemanan yang sering banget berkomentar, “Wah, enak ya di Jakarta, Jee. Ketemu banyak makanan enak-enak.”

Banyak yang mengira orang-orang di luar Jawa itu penderitaannya seputar susah makan gitu-gitu. Padahal saya stres lho waktu pertama ngekos di Depok kenapa pada doyan makan Lele. Sumpah rasanya tawar enggak jelas di lidah saya yang dari kecil dibesarkan dekat pantai yang akrab dengan ikan-ikan laut yang gurihnya alami selevel Ikan Baronang, Ikan Bolu (Bandeng ala Sulawesi), dsb.

Ada dangke, keju tradisional khas dari susu kerbau yang berasal dari wilayah Enrekang, Sulawesi Selatan. Ada Nasu Likku / Likkua Manu’ yang mirip rendang ayam. Ada burasa’, lontong yang rasanya gurih karena dimasak dengan santan dibungkus daun pisang.

Selain Coto Makassar dan Sop Konro yang sudah banyak dikenal, masih ada Pallumara, Pallubasa atau Pallubutung. Semua diawali dengan kata Pallu tapi bahan dasar dari ketiga jenis masakan tersebut beda-beda : pallumara – ikan, pallubasa – daging sapi + jeroan, pallubutung – pisang raja.

Alih-alih baperan, mending manfaatkan kesempatan untuk memperkenalkan “diri”. Misalnya saat memasuki dunia kerja di mana rekan kerja saya seruangan kebanyakan orang Jawa. Ledek-ledekannya tuh semacam, “Eh Jee, di Makassar ada TV gak sih?” atau “Di Sulawesi orang ke mana-mana ngendarain babi hutan gitu kali ya, Jee.” Woooiiiii -_-.

Mereka juga biasanya otomatis berbahasa Jawa kepada sesama orang Jawa padahal lagi meeting sama saya juga. Daripada ceramah panjang lebar mengenai “Satu nusa satu bangsa satu bahasa kita bahasa persatuan Bahasa Indonesia”, mending bersikap lentur saja.

Saya meminta diajarkan bahasa Jawa. Dulu teringat susah payahnya saya membedakan cara mengucapkan LORO (dua) vs LORO (sakit) dalam bahasa Jawa hahaha.

Lama-lama saya pun mulai becanda dengan bahasa Bugis kepada mereka.

Saking uniknya bahasa Bugis di telinga teman-teman kantor, kalau mereka lagi suntuk, saya disuruh ngobrol pakai Bahasa Bugis di depan orang-orang sebagai hiburan. Ya nasib, ya nasib hihihi. Tapi akhirnya mereka pun mau juga belajar bahasa Bugis. Biasanya pada semangat di kata makian. Saya ajarkan kata Ceba, yang artinya monyet.

Rasanya gimanaaaaa gitu, di ruangan divisi saya sering terdengar ucapan, “Aaaahh, dasar ceba lu!” Hahaha.

Kan jadinya masing-masing menambah perbendaharaan bahasa baru daripada nyinyir balik. Tahukah kalian menguasai makin banyak bahasa makin memperkecil resiko terkena penyakit Alzheimer, lho.

Tidak berarti yang mayoritas kita pasrahkan menjajah yang minoritas dong, ya. Kalau cuma bully-bully an dari teman-teman dekat yang jelas-jelas becandaan santai ya diterimakan saja. Lemesin aja shayyyyyy :D.

Lebih baik fleksibel saja. Namanya minoritas ya inginnya metode inklusi, saling menerima. Cuma praktik di lapangan ya seringnya kan masih mentok di “situ yang dikit situ yang adaptasi”.

Jangan digenggam terlalu kuat, mari dikendorkan segala perbedaan yang ada. Mudah-mudahan akan lebih banyak terasa yang indah-indahnya ketimbang naik pitamnya hehehe.

Manusia toh terbangun dan dibentuk oleh karakter bukan oleh identitas suku, agama, dan ras. Yang akan relevan selamanya ya budi baik kita kepada sesama tanpa memandang embel-embel identitas tadi, bukan?

Seperti kata pepatah Bugis, “Ininnawa mitu denre sisappa, sipudoko, sirampe teppaja” (Hanya kebaikan yang akan saling mencari, saling menjaga, dalam kenangan yang tiada putus-putusnya).

Ayok, jalan-jalan ke Kota Makassar!

davincka@gmail.com:

View Comments (1)