X

A Little Wisdom, dari Ibukota Swiss (Bern)

Bern (Swiss), fotografer : Dani Rosyadi

Ibukota Swiss bukan Zurich, bukan Jenewa. Tapi sebuah kota yang relatif lebih “sunyi” dibanding 2 kota besar tadi, Bern. Kurang tenar, ya, dibanding 2 kota yang saya sebut di awal. Ibukota Bern Swiss. 
Bern Landmark, Zytglogge
 
Bern juga kerap dilafalkan sebagai Berne. Pengucapan Bern dalam bahasa sini itu “Beren” (be-ren, kayak dalam bahasa Indonesia). Pronounciation dalam bahasa Jerman cenderung mirip bahasa Indonesia. Misalnya Junge dibaca “Yu-nge”.
 
Swiss juga punya macam-macam penulisan. Internationally, it’s known as Switzerland. Orang lokal menyebutnya Suisse.
 
Mata uangnya : frank, inisial resminya CHF. Kalau merujuk kepada situs-situs ‘kenegaraan’, negara ini menggunakan singkatan dot ch. Misalnya kalau Indonesia kan pakai dot id.
 
CH itu apaan sih?
 
CH, Confoederation Helvetica (latin), Confederation of Helvetia.
 
Helvetia/Helvetica adalah figur personifikasi untuk melambangkan negara Swiss. A female figure. Fungsinya mirip dengan Britannia. Britannia mewakili Kerajaan Inggris Raya. UK sebenarnya singkatan untuk United Kingdom of Great Britain (and North Ireland).
 
Jangan bingung-bingung dong antara North Ireland / Irlandia Utara vs Republic of Ireland (Republik Irlandia) :D. Irlandia Utara itu bagian dari Kerajaan Inggris, ke sana ya harus pakai visa UK, ibukota di Belfast. Yang ini nih yang suka rusuh :D.
 
Sedangkan Republik Irlandia berdiri sendiri sebagai satu negara terpisah. Ibukotanya Dublin. Yang sering disebut Irlandia itu ya Republik Irlandia ini :D. Kalau yang satunya pasti selalu pakai embel-embel North atau Utara. Jangan ketelisut lagi yaaaaaa :D.
 
Swiss terdiri dari sekitar 20-an Canton/negara bagian. Bern salah satunya. Masing-masing Canton punya bendera sendiri-sendiri.
Bern Swiss, dillintasi Sungai Aare
 
Bendera Bern Swiss ada gambar beruangnya, sesuai dengan salah satu landmark kota di Baren Park, taman Beruang :D.
 
Mau melihat parade bendera seluruh Canton, datang saja ke Zytglogge. Zytglogge bagian dari kawasan Old Town di Bern Swiss yang resmi menjadi UNESCO World Heritage Site sejak tahun 1983.
 
Di Zytglogge, Bern Swiss, ada sebuah jam besar yang jadi tempat wajib foto-foto para turis. Salah satu bukti kejayaan Negeri Tiongkok yang makin berkibar adalah seringnya melihat bus-bus rombongan wisata yang isinya orang-orang Tiongkok.
 
Swiss, salah satu negeri tujuan utama wisata dunia yang terkenal MAHAL :D. Tapi wisatawan Asia yang paling sering terlihat wara wiri di seantero Swiss adalah warga Tiongkok.
Menara Jam di Zytglogge
 
Kawasan Munster di mana berdiri sebuah katedral besar juga merupakan bagian dari The History Old Town, Bern. Deket-deket sini juga ada taman tempat duduk-duduk yang dilengkapi playground.
 
Lokasi The Munster agak tinggi, jadi kalau duduk-duduk di taman tadi bisa melihat pemandangan kota yang letaknya lebih ke bawah.
 
Cuaca yang bersahabat membuat orang ramai berkumpul buat makan siang. Saya dan anak-anak tidak ketinggalan hihihi. Suami kan ngantor. Jadi bertiga saja kami naik tram ke sini.
 
Senangnya ya tinggal di kota model begini. Anak-anak tidak terpaku dalam rumah. Banyak aktivitas outdoor dan orang tua juga bisa kekepin dompet kuat-kuat hahahahaha. Biaya hidup sudah sangat menguras kantong. Pantas saja pemerintah sangat doyan bikin-bikin taman/playground gratisan :p.
The Munster, Bern
 
Yang jadi persoalan, kalau musim dingin hiburannya apa yaaaaaa… hihihihi. Cuaca musim dingin di Swiss lumayan ganas apalagi anginnya memang super semriwing. Dingiiiinnnnnnn huhuhu.
Dalam penelitian something tahun 2010, Bern termasuk dalam 10 kota dengan kualitas hidup terbaik. Indeed, indeed, indeed :D.
 
Mari kita lupakan sejenak biaya hidupnya yang ajegile di negeri cantik ini hihihihihi. Speaking about pendapatan per kapita vs biaya hidup, itu bisa makan satu artikel sendiri :D.
 
Kapan-kapan perlu dibahas memang biar enggak banyak yang gagal paham. Menyangka betapa tajir-tajirnya orang-orang Eropa itu hahahhaha. Disangka semua orang Eropa macam Michael Schumacher kali hahahaha :p.
 
Masih ingat propaganda wisata Swiss, “Where The Nature is Insanely Beautiful.” Sangat benar adanya <3.
Sungai Aare, Bern
 
Konturnya yang berbukit-bukit, banyak dikelilingi danau-danau besar, pemandangan puncak gunung es, padang rumput dan hutan-hutan, semuanya ada di Swiss. Cobalah menyusuri Swiss via kereta yang ada tagline “Golden Pass Panoramic”. Luar biasanya alam Swiss akan menjadi suguhan di sepanjang perjalanan :).
 
Di Bern juga bisa melihat gini-ginian. Naik saja ke Gutern. Dari Gutern cocok benar menyanyikan lagu,
 
“Memandang alam dari atas bukit
Sejauh pandang kulepaskan
Sungai tampak berliku
Bagai permadani di kaki langit
Gunung menjulang,
berpayung awan,
Oh.. indah pemandangan”
 
Hanya perlu menghapus satu kalimat saja :p.
 
Sayang inih, Pak Fotografer lagi sibuk ngurusin cut-over dan testing hihihihi. Tertunda proyek edit-edit foto. Jadi, foto-foto Gutern nyusul yak :D.
 
Apartemen kami letaknya mepet-mepet Sungai Aare, sungai terpanjang di Swiss yang juga melintasi kota ini. Ya harus jalan kaki sih ke sananya :D.
 
Di tepian Sungai Aare ada macam-macam tempat wisata.
 
Tierpark salah satunya. Kebun binatang satu ini lumayan luas. Umumnya hewan-hewan peternakan sih. Ada playground cukup gede juga di sini.
Playground di Tierpark Bern
 
Anak-anak paling senang dibawa ke sini. Emaknya juga seneng. Gratis soalnya hahahahaaha *tepukTangan*.
 
Hati-hati dengan kata Gratis, ya. Pertama kali ke sini, saking hepinya, pas masuk pintu gerbang, saya heboh ,”Gratis..gratis…”
 
Terus langsung diliatin sama orang-orang. Suami langsung negur, “Jangan teriak-teriak napa? Gratis itu kan bahasa sini. Norak lo ah…”
 
Hahahahahahaha. Yoih, beberapa kata dalam Bahasa Indonesia itu memang serapan dari Bahasa Belanda yang mirip banget sama Bahasa Jerman. Termasuk kata Gratis, penulisan-pelafalan-makna, semuanya sama :D.
 
Lumayan butuh tenaga ekstra mengitari arealnya. Apalagi sekarang cuaca sudah mulai anget ^_^. Bisa tiap hari deh ke TierPark secara lumayan deket dari apartemen hihihihi.
 
Ngomong-ngomong soal transportasi, Swiss memang termasuk yang terbaik. Dalam Bern sendiri, jenis transportasi umumnya ada beberapa. Tram-bus-kereta, semuanya ada :D.
 
KOtanya enggak terlalu macet. Jadwal tram-bus-kereta sangat ketat. Enggak kayak di Irlandia yang sering telat hihihihi.
 
Angkutan dalam kota biasanya per 6-8 menit untuk jurusan-jurusan padat. Untuk yang agak jarang peminat, per 10-15 menit. Jadi, jangan takut bakal desak-desakan ^_^. Saya dan anak-anak hampir selalu dapat tempat duduk.
 
Sekarang, karena badan sudah agak enakan, kalau suami di kantor, saya sering ngajak anak-anak keliling-keliling Bern :D.
 
Mobil-mobil di sini mewah-mewah dan bagus-bagus tapi jarang dipakai! Hahahhahaha. Tipikal orang Eropa gitu. Biar hemat enakan naik tranportasi umum atau … naik sepeda!
 
Wah, dengan kontur ‘sangar’ begini, banyak banget lho orang sepedaan di Bern. Termasuk emak-emak yang naik sepeda khusus yang ada semacam kereta kecil buat naroh anak atau hewan peliharaan. Kan berat itu gowesnya.
 
No wonder, kalau main ke Playground Monbijou (favorit anak-anak karena tempatnya luas bener), suka terintimidasi dengan mamak-mamak sini. Tinggi-tinggi, langsing-langsing, cantik-cantik! Yes, perempuan Swiss tuh kece-kece. Pantas suami doyan nyusul ke playground kalau pulang kantor hahahahha.
 
Gak apa-apalah, soalnya papah-papahnya juga lucu-lucu #eaaaaaaa. Mari ngeceng bersama hihihihi *ngikikGenit*.
Aare, salah satu sungai terpanjang di Swiss
 
Mereka langsing ya karena ke mana-mana geret anak pakai tram atau bus atau naik sepeda apa ya? Duh, harus belajar naik sepeda iniiiiiiiii hahahahhahaha. Sering juga ketemu emak-emak yang anaknya lebih dari 2 lho. Naik tram, bawa belanjaan banyak, dorong stroller isi bayi, plus 2 balita ngintilin di samping kiri kanan. Super!
 
Salah satu yang istimewa adalah dukungan transportasi umum kepada pemakai kursi roda. Tadinya saya bingung gimana cara penyandang disabilitas ini naik tram ya. Secara mereka banyak wara wiri di sini tanpa pendamping alias sendirian.
 
Ternyata, sabann ada yang mau naik, Pak Supir akan turun dan menyiapkan papan khusus di pintu masuk paling depan. Ya ampun kerennya ya <3. Ini sih bukan di Swiss saja, di negara-negara maju, hal-hal seperti ini sudah lazim.
 
Salah satu ciri utama negara maju memang penyediaan infrastruktur yang sangat-sangat-sangat mumpuni. Eropa diuntungkan karena dahulu kala, di masa penjajahan, mereka banyak memanfaatkan tenaga gratisan dan hasil ‘jarahan’ untuk membangun infrastruktur transportasi macam rel-rel kereta tadi hehehehe.
 
Pajak sangat tinggi di negara-negara maju. Subsidi umumnya hanya untuk sarana pendidikan dan kesehatan. Tak heran biaya hidup di luar sekolah anak dan kesehatan melambung sangat tinggi dibanding negara-negara berkembang.
Penampakan Bern dari Rosengarten (rose garden)
 
Setiap wilayah dibangun dengan kualitas yang hampir sama bagusnya :). Pemerataan pembangunan di semua wilayah tentu untuk mencegah penumpukan populasi di satu wilayah tertentu.
 
Pemerataan dan keadilan sosial, bagian penting dari muamalah dalam Islam ^_^.
 
Demikianlah kecenya Kota Bern, yang akan segera saya tinggalkan dalam hitungan hari  :D.
 
Jangan terlalu gimana-gimana yaaaa, ingatlah prinsip penting dalam merantau, “Tak boleh lupa kacang pada kulitnya” ^_^. Sekeren-kerennya luar negeri, sekagum-kagumnya pada negara lain, jangan sekali-sekali jelek-jelekin negeri sendiri ;).
 
Kalau kalian mengamati perkembangan ekonomi internasional, percayalah … masa depan dunia ada di tangan.. Asia! ^_^.
 
Swiss sendiri struggling dalam beberapa hal. Mata uang Swiss akhir-akhir ini menguat. Menguatnya mata uang tidak selalu menjadi hal positif bagi suatu negara, lho.
 
Bertetangga dengan Jerman yang terkenal dengan biaya hidup murah walau pajaknya konon lebih ‘kejam’, Swiss harus bekerja keras menghalau agar jangan sampai warganya terus-terusan ngibrit ke Jerman kalau mau belanja hihihihi. Berbatasan darat doang soalnya. Sama-sama Schengen pula.
 
Secara umum, Uni Eropa, beberapa tahun terakhir ini, berusaha keras keluar dari pusaran resesi yang belum juga usai :).
 
40% dari total GDP dunia kini dipersembahkan oleh negara-negara di Asia. China, walau kini terus mengerem pertumbuhan ekonominya sudah bertengger tepat di bawah US sebagai kekuatan ekonomi nomor 2 di dunia! ^_^.
 
India terus ngekor di belakang. Kalau tidak salah, terakhir, pertumbuhan ekonomi India sudah melebihi China.
Penghujung musim dingin di salah satu sudut Bern, Swiss
 
Indonesia will be there soon ^_^.
 
Jangan suka terpaku sama yang remeh-remeh. Semua harus seiring sejalan. Kalau kalian mengira China dan India sudah berhasil menghalau korupsi di negerinya masing-masing, berarti situ kurang update! :p.
 
Cek saja sendiri, indeks korupsi China dan India masih termasuk memprihatinkan. Tapi revolusi ekonomi mereka terus merangsek maju ^_^. Semuanya harus bareng-bareng, enggak bisa yang satu menghalangi yang lain ;).
 
Tapi kalau kalian dikit-dikit meributkan hal-hal yang kecil nan gak jelas dan luput dari mendoakan hal-hal besar yang kini coba diterapkan oleh pemerintahan baru :).
 
Berhentilah menganggap hidup kalian dikendalikan oleh pemerintah kayak enggak punya Tuhan aja deh :p. Didoakaaaaannn bukan diramal-ramal yang buruk-buruk ;). Dibanding-bandingkan untuk dicari solusi dan titik temu bukan untuk dimaki-maki.
 
Buat yang kebagian rezeki tinggal di negara maju, ya itulah … jangan kebablasan dong ya ;). Sudah kayak mau tinggal selamanya di luar negeri, kalau ngomongin kampung halaman udah kayak negeri asalnya yang paling jelek sedunia :p.
 
Bersyukur, bersyukur, bersyukur. Tak semua orang diberi kesempatan melihat dunia seperti kalian ^_^. Digunakan untuk memperluas wawasan bukan malah mempersempit cakrawala dan mengkotak-kotakkan definisi kebahagiaan dan segala macam :).
 
Kalau kalian menganggap kebahagiaan itu tergantung di mana kalian tinggal, maka selamanya akan sulit menuai kedamaian.
 
The grass isn’t always greener on the other side. It’s greener where you water it ;). Happiness is not given, it is made ^_^.
 
Be happy wherever you are. Siapa bilang rasa syukur itu harus pilih-pilih keadaan? Dan siapa bilang kadang-kadang kesabaran harus ditiadakan. Sampai mati, dua-duanya adalah kewajiban umat muslim di mana pun beradda.
 
Ibu ustazah mulai kumat hahahahaha.
 
Happiness is not given. It is made^_^.
davincka@gmail.com:

View Comments (3)

  • Kalau musim semi atau musim panas sih iya Mbak. Kalau musim gugur sama musim dingin? Hehehhehehe. Kalau tempat plesiran in door itu biasanya pakai ongkos dan pastinya enggak murah :p. Tetep plus minus ya hihihihi. Kita di Indonesia bisa menikmati limpahan curah matahari di hampir sepanjang tahun ^_^.

  • Siap-siap dengerin lanjutan tausiyah dari ibu ustadzah ,ternyata udah nyampe paragraf terakhir, hehehe

    Baca ini jadi ingat destinasi impian waktu SMA diminta guru Bhs Inggris bikin tugas kirim surat ke dubes Swiss. Reward dari bliau peta negara yg super gede dan bikin mupeng, kapan bisa menyambangi negeri cantik ini hihiii,

  • Selalu menarik membaca tulisannya Davincka,,,,,
    Apalagi bagian ini,
    “Jangan teriak-teriak napa? Gratis itu kan bahasa sini. Norak lo ah…”
    Ini endonesiahhh bangettt ngingetinnya.....!!!