X

That Change Can be Beautiful

“Untuk pelamar beasiswa program magister/dokter spesialis, usia maksimum pada 31 Desember di tahun pendaftaran adalah 35 (tiga puluh lima) tahun.”

Game over, begitu pikir saya saat melihat sebaris kalimat tersebut 2 tahun lalu saat saya mencari-cari peluang beasiswa untuk melanjutkan studi magister saya.

Maksimal 35 tahun. Langsung lemas. Beranak melulu sih, hahaha. Jadi ‘lupa’ mikirin sekolah lagi :p.

Padahal dari kecil saya ini gila sekolah banget. Selalu menganggap saya memang cocoknya menjadi akademisi. Dulu malah punya cita-cita tunggal : menjadi dokter! Saya percaya diri banget deh dengan nilai-nilai akademis saya.

Suami saya selalu bete saking seringnya saya memamerkan buku raport SMA saya di mana tidak satu cawu pun, angka 1 tidak tertera di kolom peringkat kelas. Sapu bersih, Cyin! #benerinPoni.

Selain menjadi akademisi, karena kondisi, akhirnya berbelok menjadi wanita karier. Belum juga ijazah diterima, saya sudah diterima bekerja sekitar 2 minggu setelah melewati ujian terakhir di kampus.

Waktu gadis pula, kepengin banget merasakan sekolah di luar negeri. Pakai sepatu boot, mantel lucu-lucu, nenteng buku dan tas, bergaya dan berfoto di depan kampus bersama teman-teman bule. Ini mau sekolah apa mau ngapain yaaaaaa hahaha.

Sebenarnya, sering juga merasa gagal kalau melihat teman-teman sebaya yang tetap berjuang melanjutkan sekolah sampai ke mana-mana.  Tidak sedikit teman sekolah dulu yang kini menjadi dokter spesialis dan menjadi dosen di kampus mereka.

Setiap melihat foto teman memakai toga merayakan kelulusan S3  mereka, selalu membatin dalam hati, “Duh, S2 saja belum keburu, euy” huhuhu :(.

Challenge What Your Future Hold!

Kini, usia saya 37 tahun, punya 3 anak 😀

Saya masih ingat, hampir 8 tahun yang lalu, di suatu akhir pekan, saya ke kantor untuk mengambil barang-barang yang masih tersisa di meja. Kemarinnya adalah hari terakhir saya setelah duduk di depan bos menyerahkan surat resign sebulan sebelumnya.

Padahal hari terakhir di kantor ketemu teman-teman saya masih biasa-biasa saja. Justru saat memunguti satu persatu barang dari laci meja, memasukkan sepatu olahraga yang sering saya pakai nge-gym di kantor ke dalam plastik, mencabuti notes-notes kecil di dinding meja kerja, membuat saya menangis sesenggukan.

Tidak percaya bahwa saya akhirnya memutuskan berhenti bekerja setelah meniti karier 7 tahun tanpa henti.

Siapa sih yang mengira setelah memutuskan berhenti berkarier, banyak pengalaman baru menanti :). Walau usia tak lagi muda.

Setelah resign, rezeki ke luar negeri ternyata mengalir lewat perjalanan karier suami. Sudah sempat jalan-jalan ke banyak tempat. Walau meleset sedikit. Dulu diimpi-impikan selfie-selfie sendiri karena ceritanya kan lagi kuliah di luar negeri hihihi. Sekarang, di foto mana pun pastinya anak-anak kudu nyempil hahaha.

Seiring dengan petualangan di berbagai negara, saya hidupkan kembali hobi masa kecil saya … menulis :). Kalau dulu hanya terbiasa menulis catatan ringan dalam buku diari untuk koleksi pribadi, sekarang bisa menulis di blog dan berbagi kisah kepada banyak orang via media sosial.

Dari blog, kegiatan menulis saya terus merambah ke media-media cetak. Beberapa kali tulisan-tulisan saya, baik berupa opini-traveling-fiksi, menghiasi media-media cetak nasional. Dengan makin meredupnya era media cetak, kini saya sering juga menjadi content contributor buat beberapa media online.

Dari media cetak, saya pun menerbitkan buku-buku. Sudah 3 buku yang pernah terbit : Bunda of Arabia, Memoar of Jeddah, dan The Davincka Code.

Kira-kira setahun yang lalu, saya menjadi getol masak-masak dan bikin kue di dapur. Sesuatu yang sebelumnya saya kerjakan sebatas kewajiban saja. Duh, enggak pernah kebayang bakal bisa masak macam-macam.

Hal ini membuat saya membuat blog khusus untuk kegiatan di dapur. Ada banyak hal yang memang tidak pernah terlambat untuk dimulai ;).

 

Dulu, saya ingin sekali menjadi orang yang berpengaruh. Saya pikir saat saya tidak banyak lagi berinteraksi di luar rumah, lagi-lagi game over. Ternyata zaman terus berubah. Bahkan dari rumah pun, kita tetap bisa menyebarluaskan ide/gagasan/semangat.

Apakah ibu di rumah tidak bisa membekali diri dengan pengetahuan politik misalnya? Salah banget ;).

Hingga kini, saya tetap rajin menulis. Walau seringnya di akun media sosial saya, Facebook. Minat utama saya selain traveling dan fiksi adalah isu-isu seputar perempuan, sejarah, dan politik.

Saya sampai punya belasan ribu follower di Facebook :D. Beberapa tulisan saya dishare sampai ribuan kali dengan banyak sekali komentar apalagi jika menyangkut politik, pokoknya seru deh hahaha. Sesuatu yang tidak pernah terbayang sebelumnya.

Dinding-dinding rumah tidak akan menghalangi siapa pun untuk menjadi “influencer” di era digital ini :).

Melangkahkan kaki pulang di hari sabtu itu bersama beberapa kardus berisi barang-barang di kantor yang siap dibawa kembali ke rumah, saya mengira hidup saya akan biasa-biasa saja setelah itu. I thought, “The door has been closed.” 

Untuk kemudian saya sadari beberapa tahun setelahnya, “When one door closes, another opens” ;).

Tetap Optimal Merawat Diri

Saya tetap ngotot menjadi penampilan walau tiap hari disibukkan dengan urusan anak, dapur, menemani suami, intinya lebih banyak berkutat dalam rumah. Mungkin karena alasan lebih banyak di rumah, tidak sedikit ibu-ibu rumah tangga yang tidak menjadikan hal ini sebagai prioritas. Apalagi dengan umur yang makin bertambah.

Menjaga kondisi tubuh, termasuk penampilan, didasari oleh keinginan pribadi. Bukan karena intimidasi dari siapa pun :).

Saya melahirkan anak ke-3 saya, saat usia sudah menjelang 36 tahun. Setelah si bayi berusia 6 bulan, saya rutin berolahraga dan lebih ketat terhadap pola makan untuk mengembalikan berat badan ke angka ideal.

Waktu masih bekerja saya memang rajin menyambangi tempat kebugaran. Tapi kecanggihan era digital sekarang sangat memungkinkan kita tetap bisa melakukan olah tubuh dari rumah sekali pun.

Tidak perlu aktivitas yang berat-berat. Intinya adalah konsistensi (y). Sepuluh menit pun asalkan rutin dilakukan setiap hari mungkin jauh lebih berpengaruh ketimbang berolah raga sejam tapi hanya sekali sebulan hehehe.

Yang berat adalah menyemangati diri sendiri sepertinya.

Kita cenderung berlindung di balik alasan, “Ah, sudah tua ini. Wajarlah kalau begini-begini-begini.” Atau menggunakan anak sebagai alasan, “Repot ah di rumah. Digangguin anak melulu.”

Padahal semua tergantung niat dan kesungguhan pribadi saja sih ya. Rutinitas harian bahkan anak-anak harusnya bukan penghalang ;).

 

Skin Care vs Make Up?

Saya tidak begitu suka berdandan. Ini nih yang suka ketelisut. Banyak yang menganggap tidak doyan dandan berarti tidak perlu merawat wajah.

Skin care vs Make up adalah 2 hal yang berbeda, lho ;).

Memakai pelembab wajah dan bedak. Hal ini rutin saya lakukan setiap akan ke luar rumah. Sinar matahari dan polusi punya efek tidak sedikit terhadap kesehatan kulit.

Membersihkan wajah tiap hari sebelum tidur juga jangan disepelekan walau rasanya kita jarang beraktivitas di luar rumah. Saya termasuk rewel dalam urusan perawatan wajah walau jarang bersentuhan dengan lipstik, riasan mata, pensil alis, pemerah pipi, dsb hehehe.

Saya tidak hanya mengandalkan skincare berupa produk-produk kecantikan yang banyak dijual bebas. Sekali atau dua kali seminggu saya mengoleskan bahan-bahan alami seperti madu + jeruk nipis + tomat ke permukaan wajah. Agak repot memang. Tapi hasilnya lumayan banget lho ;).

Asupan makanan juga punya pengaruh besar. Misalnya rajin mengkonsumsi sayur-sayuran dan buah-buahan. Tidak sukar buat saya karena beberapa tahun belakangan ini saya mempraktikkan pola makan Food Combining yang mayoritasnya memang buah-buahan dan sayuran segar.

Sama seperti perawatan tubuh, lakukan perawatan wajah untuk diri sendiri. Bukan karena pengin dibilang cantik bla bla bla :p.

Keduanya adalah bagian dari kesehatan. Menjaganya termasuk ibadah asalkan tidak berlebihan dan diniatkan sebagai salah satu cara mengucapkan syukur kepada Sang Pencipta <3.

Change Can be Beautiful 😉

Saat ini, di hampir seluruh belahan utara dunia, musim gugur sudah mencapai puncaknya. Beberapa bahkan sudah memasuki musim dingin.

Di musim gugur, daun-daun yang tadinya hijau segar beserta bunga-bunga aneka warna yang mungkin terselip diantaranya mulai berganti rupa. Dedaunan mulai mengering, bunga-bunganya rontok dan layu.

Sepertinya, masa kejayaan sudah akan berlalu :(.

Kita pun, saat memasuki #usiaCantik, 35 tahun ke atas, berpikir seperti itu. Kondisi tidak lagi semuda dan sesegar dahulu.

Saat musim gugur, dedaunan berubah warna menjadi oranye, coklat muda, kuning, ada yang keunguan dan merah marun. Daunnya tidak lagi hijau segar. Tapi lihatlah … perubahan tidak selalu berarti lebih buruk.

So we’re getting older. Usia mungkin sudah melampaui 35. Banyak hal yang kita harap-harapkan ternyata tidak kejadian. Tapi seperti yang saya bilang tadi, sebenarnya ada jauh lebih banyak pengalaman-keterampilan-pencapaian atau lain-lainnya yang tidak pernah terlambat untuk kita pelajari atau kita raih :).

Musim gugur mengajarkan pada kita, bahwa perubahan bisa menunjukkan hal-hal yang lebih indah. Autumn, the season that teaches us that change can be beautiful :).

Perubahan di #usiaCantik mungkin malah mengantarkan kita kepada hal-hal lain yang tidak terbayang sebelumnya, kepada hal-hal yang ternyata … jauh lebih “cantik” <3.

At least for me, it did happen :).

davincka@gmail.com:

View Comments (13)

  • Jadi tambah semangat nih untu resi*n setelah membaca tulisan kak je yang cetar membahana. Ya, satu pintu tertutup pintu lain akan terbuka asalkan kita tetap berusaha dan berdoa.

    • Wah, mau resign benara Bu Dokter? :D. Yang penting sudah dipikirkan dengan matang ya hehehe. Karena saya percaya tiap perempuan itu punya jalan takdir masing-masing. Ada yang memang dipercayakan untuk berbakti langsung di tengah masyarakat. Ada yang memang lebih nyaman berkarya dari dalam rumah :)

  • Penelitianku mandeg krn tetiba aja passionnya hilang,apa krn usia (41)? Pingin resign dr ngajar dan kuliah ,pingin menikmati merawat suami dan anak anak,aku merasa di usia segini ternyata karier dan gelar sdh ga penting lg..lg enak dan nyaman bgt di rmh ..tks jihan utk tulisannya yg membuka wawasanku..semoga tulisanmu menang yaa

    • Terima kasih Mbak :). Seoga sukses ya penelitiannya ;). Gak apalah sesekali mandek asal bisa "on" lagi hehehe.

  • Baca tulisan ini ketika saat ini saya sedang galau antara mau resign atau nggak. banyak banget rasanya yang harus dipikirkan, kalau hanya mengandalkan gaji suami rasanya kurang karena masih harus bayar banyak cicilan, adik-adik yang masih kecil dan butuh disekolahkan, tapi gak tega juga liat tatapan anak yang sedih waktu saya berangkat kerja. padahal sebenarnya sudah gak betah juga di kantor. orang tua juga tidak mendukung kalau saya resign. sekarang nunggu suami lagi cari kerja yang gajinya bisa di atas dari tempat sekarang kok gak dapat-dapat yaaah. saya sedih jadinya. Maaf yah mbak Jihan saya jadi curhat. BTW salam kenal yah mbak, saya silent reader ini.

    • Mbak, insya Allah kalau tujuan kita bekerja untuk "keluarga yang lebih besar" bukan hal yang buruk kok :). Terus terang saya pun waktu masih gadis, gaji saya lebih dari 50% untuk adik-adik dan ibu saya yang udah janda :). Tetap semangat ya Mbak. Soal anak jangan terlalu risau. Yang penting pengasuhannya sudah didelegasikan ke orang yang tepat kan? Saya juga produk dari ibu bekerja. Waktu kecil suka pengin ibu ada di rumah. Tapi sekarang saya tetap sayang sama Ibu saya. Sayang banget :). Tidak menyesal sama sekali dulu Ibu harus bekerja :).

  • Selalu suka baca blog mbak jii.. Saya termasuk 1 dari belasan ribu follower mba lho..hehe.. Karena mau nge-add udah ga bisa. :D

  • Jadi teringat saat juga memutuskan resign setelah 7th juga utk bekerja...

    Pengalaman yang akan saya ambil hikmahnya.terimakasih.

    Salam kenal dari Solo mak Jihan.
    Dan salam usiacantik