X

Cara Menerbitkan Buku Indie : To See The Stars in The Dark :)

Setelah sebelumnya berkutat di cara menerbitkan buku indie di buku Bunda of Arabia, saya sedang hepi-hepinya, nih. Alhamdulillah, buku solo pertama “Memoar of Jeddah” terbit juga via penerbit Quanta-Gramedia.

Buku saya tentang Kota Jeddah, “Memoar of Jeddah”

Kemarin, kabar gembira berikutnya datang dari penerbit lain yang mengincar tulisan-tulisan dalam blog saya 😀. Kalau akhirnya kontrak datang, habis deh isi blog gue kudu diumpetin semua hahaha.

Juga sedang menunggu finalisasi naskah novel yang juga dipesan oleh sebuah penerbit baru yang meminta saya membuat naskah untuk mereka. Mudah-mudahan cocok hihihi. Soalnya agak grogi bikin novel untuk pertama kali. Akankah tercapai hattrick tahun ini? “Aamiin” yang kencang :D.

Tapi, kali ini mau cerita tentang “Bunda of Arabia”, buku pertama yang saya terbitkan secara indie tahun lalu. Yang katanya disebut-sebut sebagai buku indie yang popular karena laku *uhukUhuk*, ini juga baru tahu dari beberapa teman blogger .

Hm…buku indie laku berarti untung besar dong, ya. Sejujurnya … saya mengaku saja. Secara materi, kerugian yang saya tanggung tidak sedikit .

Kok bisa? Begini ceritanya …

***

“Bunda of Arabia” terbit tidak atas dasar motivasi menulis. Justru, saat itu saya sedang asyik-asyiknya blogging untuk Mamasejagat dan CeritaJeddah. Sama sekali tidak terpikir mau jadi penulis buku, artikel di majalah dan semacamnya.

Buku itu saya ciptakan untuk membenahi pemikiran umum masyarakat di Indonesia, terutama teman-teman yang suka ‘rewel’ bertanya tentang Jeddah.

Waktu itu pula, iseng menantang diri sendiri. “Ayoooo, terbitin dalam tempo 3 bulan, bisa gak lo?”

Mulai deh berjuang. Biar seru, lebih bagus bentuk antologi yang ditulis beramai-ramai agar kesannya bukan cuma saya doang yang punya cerita menarik di Jeddah. Mengumpulkan kontributor saja sudah menguras energi. Walau awalnya berbunga-bunga karena teman-teman merespons positif. Giliran menagih naskah, ngibrit satu-satu hehe.

Setelah mati-matian mengedit sendiri (hampir) semua tulisan teman-teman, naskah pun jadi. Penerbit indie pun ditemukan. Kami sepakat membuat cover sendiri.

Sejak awal proses, friksi-friksi mulai muncul. Yaiyalah, 8 perempuan (1 nya dah keburu balik ke Jakarta :P) bekerja dalam satu tim jangan harap bisa lepas dari drama! Bosnya saja = ratu drama hihihi.

Yang terlambat saya deteksi adalah semangat kebanyakan teman-teman tim yang mulai meredup bahkan sebelum buku terbit. Padahal sudah saya janjikan pembagian royalti sama rata walau modal saya tanggung penuh 100%!

Tidak main-main saya modali buku ini. Langsung saya cetak 800 eksemplar untuk menekan biaya produksi. Kalau cuma cetak satu-satu, modalnya terlalu besar –> harga buku akan sangat mahal.

Sudah terlalu jauh saya ‘berlari’ hingga akhirnya saya menengok ke belakang, “La, yang lain pada ke mana?” Itu kesalahan pertama saya yang bisa menjadi pelajaran pertama, “Letting anyone feel ‘out of it’ should not be done.”

Sementara, beberapa orang sudah mulai melakukan penyerangan secara ‘pribadi’.

“Egois lu! Mau menang sendiri! Lu maksa orang untuk ikut cara lu!”
“Nanti kalau bukunya terbit, nama kita semua ada, kan? Bukan cuma nama lu doang, kan?”
“Lu Ratu Drama sih! Apa-apa dibesar-besarkan. Heboh sendiri, enggak jelas sendiri.”

Saya sudah mau membatalkan saja. Ya Allah, pikir saya. Sungguh sia-sia saya menerbitkan buku ini kalau pertaruhannya adalah putusnya tali silaturahmi dengan teman-teman .

Panik, cing. Saya sudah aktif promosi di wall, gimana kalau sampai buku tidak jadi terbit. Taruh mana tampang rupawanku ini hahaha.

Suami saya ikut-ikutan, “Lu bego! Duit, duit lu! Ide, ide lu! You should take the control! Apa gunanya capek-capek diskusi kalau mereka selalu bilang ‘terserah lu’ tapi sibuk ngomongin lu di belakang!”

Aduh. Sebagian teman-teman mulai tak suka dan marah pada saya. Sebagian memilih diam, pura-pura tidak ada urusan. Suami pun sudah mulai bete.

Cara terbaik yang saya pilih, mengalah. Mulai saya bagikan tugas lagi. Kalau ada yang mengelak, sudahlah. Biarkan saja. Toh, kalau mau jujur, saya akui banyakan salah eike juga hehehe. Orang enggak doyan menulis, saya paksa-paksa ikut proyek ini .

Pelajaran kedua deh, “Avoid arguments but, if you do have them, bury the hatchet quickly and wholly.” -Ranulph Fiennes-

Walau suami menentang cara saya yang sibuk meminta maaf ke sana sini, saya pasrah saja. Waktu itu, saya lebih takut kehilangan teman, deh, daripada kehilangan duit .

Ada yang bersedia mendesain cover. Good. Saya pikir, bikin desain sekalian memikirkan cara menuangkan desainnya ke atas gambar. Lama saya tunggu. Saat dicek, mereka bilang, “Kita bisa desainnya tapi enggak tahu cara gambarnya.”

Saya pikir mereka tahu bahwa itu seharusnya tugas mereka juga, untuk mencari orang yang bisa mendesain. Ya sudah, saya malas ribut-ribut, saya turun tangan carikan desainer. Untung ingat dengan adik kelas yang memang buka jasa desain online. Alhamdulillah, dia mau membantu. Biaya tentu saja saya tanggung 100%.

Urusan editing, saya selesaikan sendiri. Ada teman yang mengaku punya banyak teman editor. Saya minta bantuannya, saya bilang saya sanggup membayar secara profesional. Ealah, ditunggu-tunggu, tak ada yang bersedia menjadi editor .

Kenapa mencari editor sendiri? Karena penerbit lama sekali merespons, sementara saya kan berkeras pada timeline saya sendiri. Saya akan tempuh apa pun agar bukunya terbit sebelum bulan april!

Akhirnya, eike-eike lagi yang mencari editor. Karena khawatir gagal dapat editor, sebagai back up plan, tiap malam saya begadang belajar EYD sendiri hihihihi. Maklum waktu itu menulis seenak jidat saja. Di blog masih ber gue-gue dengan tanda baca yang bikin sakit mata hahahaha.

Ketemu satu editor. Saya janjikan honor 2x lipat bila dia sanggup mengedit dalam tempo cepat. Dasar saya kurang pengalaman. Saking paniknya main tunjuk saja. Editannya ternyata mengubah gaya menulis kami. Malah, beberapa kalimat berubah arti. Tapi ya, saya harus adil, dong. Tetap saya bayar honornya, 2x lipat seperti janji saya di awal.

Untungnya, penerbit mulai merespons, editing pun diambil alih mereka. Ada ongkos tambahan tentu saja. Ongkos editan awal tadi tak pernah saya perhitungkan. Anggap saja itu harga yang harus dibayar atas keamatiran saya tempo itu.

Buku pun terbit. Sebelum terbit, teman-teman yang tadinya sepakat akan menjual masing-masing minimal 50 eksemplar mulai goyah. Sudah mulai ada yang keberatan. Aduh, saya sudah kehabisan energi untuk berantem. Saya biarkan saja. Pokoknya, asalkan kedamaian tetap melingkupi tim, saya bebaskan jumlah penjualan. Mau jual berapa pun terserah!

Tapi, resikonya adalah, saya sebagai penanggung modal utama harus berjuang jauh lebih keras untuk setidaknya mengembalikan belasan juta rupiah modal yang sudah terlanjur dikeluarkan.

Siang malam, membujuk teman-teman untuk membeli buku ini. Saya melakukan strategi yang sangat berani sekaligus tolol menurut suami saya . Saya berani mengirim dulu, buku sampai, baru mereka bayar.

Akibatnya, saat proses penagihan saya kelabakan sendiri. Saya malu kalau harus menagih berkali-kali. Biasanya, dua kali saja saya berani menagih. Bila tidak dibayar juga, ya saya ikhlaskan. Soalnya rata-rata kenalan semua. Malu ah kalau mau ributin soal uang segitu doang, sudah syukur mereka berbaik hati mau membaca buku saya . Pikirnya begitu saja waktu itu. Jadi, jangan ada yang merasa apa-apa, ya. Demi Tuhan, sudah saya ikhlaskan .

Yang menyakitkan itu adalah tanggapan saudara dan teman-teman dekat. Saya polos sekali. Saya pikir, namanya saudara dan teman kenal baik, masa iya tidak mau membantu menjual barang 2-3 eksemplar. Salah satu kakak saya malah bilang dengan santai via BBM, “Buku apaan tuh? Enggak jadi ah gue jual. Jelek isinya. Tipis lagi. Mahal itu buku segitu 35 ribu!”

Kakak yang lain juga begitu. Semua buku yang saya kirim ke mereka tidak ada kabar. Mereka bayar juga tidak mau huhuhu. Tapi, untuk meningkatkan semangat teman-teman dalam tim, saya tutup rapat-rapat soal ini. Tetap saya gembar gemborkan, “Tenang, saudara gue banyak, buku kita dijualin sama mereka, kok.”

Pelajaran ketiga, “Jangan berharap terlalu banyak dari orang lain. Bahkan dari saudara kandung sekali pun . Many times, we need to stand on our own!”

Adik saya juga sama. Saya langsung sadar kesalahan ini. Teman-teman lain yang sudah terlanjur saya kirimkan lebih dari 1 eksemplar, buru-buru saya tarik. Rugi 2x. Ongkirnya tetap saya ganti. Buku pun tak laku. Adik saya di Depok, saya mintai tolong memunguti buku-buku yang ada di tangan teman-teman di sana.

Saking putus asanya, puluhan buku saya tarik ke Jeddah. Saya minta ibu yang membawakan, pas sekalian umrah waktu itu.

Akhirnya habis juga 800 eksemplar. Saya menjual ratusan eksemplar, jauh di atas teman-teman lain dalam tim. Tapi, janji tetap janji . Royalti tetap dibagi rata .

Walau penjualan dari sisi saya belum lunas semua, untuk mencegah tuduhan macam-macam lagi, langsung saya bagikan royalti bersihnya. Saya sudah tidak berharap modal balik. Yang penting no more drama lah hihihihi.

Keangkuhan saya memaksa saya kembali maju dengan cetakan ke-2, lagi-lagi 800 eksemplar! Sebelumnya, saya sudah sibuk bergerilya mencari pembeli, dapat sekitar 150 eksemplar. Lumayan, kan? Harapannya nanti bisa lebih banyak lagi.

Karena kasihan dengan ongkos kirim yang mahal, kadang saya menjual buku dengan menanggung ongkos kirimnya. Tidak main-main tuh ongkir ke sulawesi dan sumatera *ngelapKeringat*. Habisnya, ongkir hampir sama dengan harga buku huhuhu. Instead of untung, malah rugi karena ongkos kirim lebih besar daripada royalti buku. Bego? emberrrrr .

Di cetakan ke-2, saya resmi bubarkan tim. Sistem royalti diubah. Saya berjanji akan memberi royalti tulisan kepada mereka, royalti sales tergantung kepada jumlah penjualan. Alhamdulillah, hubungan yang mulai dingin menghangat kembali .

Malah, untuk menutupi ‘perang dingin’ antar kami di hadapan teman-teman lain, saya adakan syukuran kecil-kecilan. Rogoh kocek sendiri untuk membeli kue tar dan saya potong di acara pengajian.

Cetakan ke-2 apa kabar? Hahahhahaha. Sampai bosan saya menghabiskan waktu siang dan malam mengejar pembeli . Suami saya, walau menentang sejak awal, ternyata membantu dengan sepenuh hati . Terima kasih ya, Bang . You’re the best. Dia tuh yang gencar mengirim ke milis, ke kaskus, ke mana-mana lah pokoknya. Sementara saya sudah layu .

Kalau hanya menghabiskan waktu mengirim inbox dan message dan DM di twitter terus, saya kapan menulisnya? pikir saya. Ya sudah, walau berat, saya pasrahkan saja. Saya mulai kembali menulis. Setidaknya “Bunda of Arabia” membangkitkan semangat menulis saya ke level yang sangat tinggi.

Semua kenangan masa kecil kala saya memang rajin menulis terbayang kembali. Ya ampun, jangan-jangan saya memang punya bakat pikir saya. Itulah anehnya, orang mah belajar menulis dulu baru menerbitkan buku. Ini kok malah menerbtikan buku dulu baru belajar teknik menulis yang baik dan benar hahahahahaha.

Awalnya saya merasa kalah. Tapi hanya sebulanan setelah cetakan ke-2 keluar, saya iseng membuat cerpen dan mengirimkan ke media cetak, Femina bo . Langsung tembus. Disusul secara beruntun tulisan-tulisan lain yang tembus ke Republika, Kartini, Femina(lagi), koran-koran dsb. Sampai 2 x artikel saya diterima di Majalah Garuda dengan honor yang asoy hihihihi. Honor dari media cetak kalau dijumlahkan sudah mengalahkan angka kerugian dari penerbitan “Bunda of Arabia.” Alhamdulillah.

Lomba blog atau lomba menulis online lain mulai disasar pula. Walau terhitung masih cupu dibanding ratu lomba blog yang lain … sebuah mesin cuci elektrolux, uang 5 juta, uang 400 ribu, satu pak rendang padang hihihi, voucher gramedia 750 ribu, dan gadget samsung yang saya lupa jenisnya sudah pernah saya menangkan dengan hobi menulis ini.

Ternyata … saya tidak kalah, kok, ya 😉. Pertaruhan yang saya tempuh saat menerbitkan “Bunda of Arabia” adalah pelajaran penting ke-4 yang disarikan oleh Sutan Syahrir dalam kalimat, “Hidup yang tak pernah dipertaruhkan, tak akan pernah dimenangkan.”

Walau bukan penggemar Twilight, pelajaran ke-5 dari tulisan ini saya ambil dari penulis bukunya, bahwa … “Without the dark, we never see the stars (Stefenie Meyer)” Jangan-jangan, kalau tak saya terbitkan dan saya perjuangkan “Bunda of Arabia”, saya tak pernah tahu dan menyadari passion menulis yang sudah terpendam belasan tahun ini.

Tapi, jangan lantas takut menerbitkan indie ya . Kesalahan yang saya perbuat tadi bisa dipelajari oleh penulis lain yang ingin sukses secara indie. Jangan memaksa dan bersabarlah 🙂.

Ingat, sekali lagi, pelajaran ke-4 “Hidup yang tak pernah dipertaruhkan, tak akan pernah dimenangkan.”

Cara menerbitkan buku indie memang panjaaaaaang perjalanannya. Selalu ada harga yang harus dibayar, teman-teman 🙂.

Yang sudah lewat, jadikan pelajaran saja. Pelajaran terakhir, yang ke-6 : “There is never any point crying over spilt milk because in order to win at some of your big goals, you’re bound to lose at others along the way.” (Ranulph Fiennes)

Drama banget, ya? Ya mau bagaimana lagi. Begitulah kenyataan yang sebenarnya :D.

***

Btw, buku “Memoar of Jeddah” isinya beda kok dengan “Bunda of Arabia.” Lagipula, seluruh bab dalam MoJ adalah asli tulisan saya semua . Buku solo pun namanya yak hehehe.

“Memoar of Jeddah” adalah kumpulan kisah-kisah inspiratif, yang meski berlatar belakang pengalaman saya selama 30 bulan di Jeddah, ‘pelajaran’nya bisa dipetik untuk kehidupan sehari-hari kita semua, di mana pun kita berada. Ecieee…sok inspiratif lo hahahaha :p.

Isinya juga saya selipkan sekitar 6 bab tulisan jalan-jalan selama saya tinggal di Saudi. Lengkap dengan foto-fotonya, lho 😉.

Selamat membaca 🙂.

***

davincka@gmail.com:

View Comments (58)

  • Waaaaaaaaaaah, selamat ya mbak ! InsyaAllah dlm waktu dekat aku segera beli bukunya, penasaran dengan tulisan mbak, apa pake gaya tulisan yang sama kayak di blog, ceplas-ceplos, hihhihiihi...

  • Seru juga dramanya ... itu pas jamannya di Multiply ya?

    Buku "Memoar of Jeddah" saya masukin list "must have" bulan ini. Semoga sudah nangkring di Gramed.

  • Dan sampai akhirnya Bunda Of Arabia juga sampai di Kota Jember Jawa Timur. Sungguh memang menarik ceritanya.

    Saya baru tahu begitu sangat besar pengorbanan yang di alami Mbk Jihan dan Teman-Teman yang lain.

    Terus semangat Mbk Jihan. Allah SWT semoga selalu memberkahi. Amin.

    Oh ya saya juga pernah membuat Reviewnya.

    Terimakasih. Salam persahabatan dari Kota Jember - Jawa Timur.

  • Pelajaran yang sangat berharga mbak. Tapi ngomong2 saya suka lihat tulisan mbak jihan wara wiri di republika, pastinya lumayan tuh :)

    • Di republika rasanya biasa-biasa saja hehehe. Tulisan jalan-jalan 700 ribu. Yang honornya menarik sih Femina :P. Cerpen 850 ribu, tulisan jalan-jalan 1.2 juta hihihihi.

  • Mbak, pertama2, tolong translate-in kalimat yang ini: “There is never any point crying over spilt milk because in order to win at some of your big goals, you’re bound to lose at others along the way.” (Ranulph Fiennes). Enggrisku masih level basic, kakaaaakkk...! :lol:
    Yang ke-2, aku ikut megap2 baca postingan ini. Drama banget ternyata ya, sejarah menulismu.. :)
    Yang ke-2, aku mauuuu banget beli buku MoJ. Udah terbitkah sekarang? Boleh pesen padamu, tapiiii... isi tandatanganmu ya. Seriussss iniiii...!
    Yang ke-4, beneran kalo nanti kontrak nulis dateng, isi blogmu jadi musti diumpetin...? Haduh, trus gimana nasib penggemarmu iniiii...? *menerawang ke masa depan* :lol:
    Yang ke-5, uhm... udah deh segitu dulu. Nanti kalo ada yg inget lagi, kususulin yaaa.... *nulis surat kaliiii* :mrgreen:

    • Astagaaaaa... banyak bener, Fit *ngelapKeringat* :P.

      1. Intinya sih, jangan sesali kerugian yang sudah terlanjur kejadian, memang harus ada yang dikorbankan untuk mencapai tujuan-tujuan besar. Gitu kira-kira :D.
      2. Embeerrr, gak sia-sia jadi ratu drama hahaha.
      3. Sudah, tanda tangannya dalam bentuk jpg ya, gue kirim via inbox hahaha. Ntar kalau mudik, kita mah kudu ketemu. Ini ampir tiap postingan di sini sahut-sahutan coba :P. Kudu kopdar atuuuhhhhh :D.
      4. Belum pasti 100% :D. Lagian eike kan rajin update blog. Tenaaaanggg, mati satu tumbuh seribu *pedeLuarBiasa* :P.
      5. Mhhuuaahhh...

      • Iisssshh, td tgn jpeg? Kagak bisa dipamerin dong, mbaaaakkk! :lol:
        Waaahhh, aku suka ide yg nomor 3nya. Kapan mudik ke indo? Oh, musti spesifik:kapan jalan2 ke bandung, aku mauuuuu bgt kopdaran dgn idolakuuu... :) Dan yg nomor 4: huahaha... ituuuuu salah 1 yg kusuka darimu, PD over the horizon! Hahaha...