Walau sering mengambil kesempatan untuk kepo-kepoin orang-orang dari negara lain saat merantau, rempong-rempongin orang-orang dari negeri sendiri juga saya doyan, lhooooo
Hidup merantau di luar negara kelahiran inilah yang membuat saya berkesempatan untuk kenalan langsung dengan beberapa perempuan Indonesia yang menikah dengan orang asing
Ya bisa ditebaklah sebagian stereotip orang-orang terhadap mereka, yak.
Tapi beberapa sih agak misleading. Seperti misalnya tuduhan OKB. Duh, percaya deh sama saya, yang OKB itu kayaknya bukan yang cuma suaminya bule saja. Saya lebih sensitif soalnya saya kan memang tampilannya “kumuh” jadi sering jadi “sasaran” huhuhu
Tahu sendiri kan kalau kita di Indonesia ini, kumuh = miskin
Soal barang bermerek sebenarnya begini, ya. Mungkin karena kita datang dari negara berkembang yang tingkat kesenjangan sosial tinggi. Jadi kalau pakai barang bermerek ya singkatnya = orang kaya gitu-gitulah.
Sementara di luar negeri, apalagi yang model sosialis seperti sebagian besar negara-negara di Eropa Barat, pakai barang bermerek sih sudah bukan hal yang luar biasa
Padahal mungkin tidak ada niat untuk belagu. Kalau soal pamer-pamer, ah, di mana-mana juga perempuan kan sudah biasa lah saling pamer ini itu
Misalnya juga suka ke pub, bar, kafe untuk ngumpul dan minum. Gaya hidup beginian mungkin masih dianggap “high class” buat kita di Indonesia. Tapi yah orang bule ajang ngumpulnya emang gituuuuuu
Teman saya di sini ke bar minum-minum ya bareng suami dan ipar-iparnya malah. Bukan karena sok-sok gaul. Itu memang aktivitas biasa buat keluarga baru mereka. Bagian dari proses adaptasi standar.
Apalagi yang menikah dengan suami yang masih muda-an. Kalau suami yang sudah berumur biasanya sudah jarang main ke pub.
Tapi emang di Jakarta dulu gitu ya, kayaknya yang suka ke pub yang gaul-gaul doang.
Kayak saya gini, dulu pulang kerja ya umpel-umpelan di angkot atau di KRL Ekonomi pengin cepat-cepat pulang, mandi, cuci kaki terus bobok hahahaha #anakKampung
Jadi, jangan salah paham, yes?
Ada pun memang diantara “istri bule” ini ada yang korslet juga. Misalnya menganggap diri lebih keren karena hal-hal seperti itu. But again, ya kita bisa apa sih? Hempaskan sajah yang model begini. Toh tidak semuanya
Nah, soal wajah juga banyak yang sering menyindir mereka dengan istilah “muka pembantu”. Waduh, urusan kecantikan memang BUKAN kesepakatan universal, ya. Terlebih di kalangan perempuan.
Misalnya kita yang di Asia ini tergila-gila pengin punya kulit cerah, yang di Eropa malah mati-matian ngejar sinar matahari biar kulit mereka kecoklatan. Malah ada salon khusus bagi eneng-eneng bule yang kepengin punya kulit lebih gelap secara instan.
Nah di Indonesia juga ada salon-salon yang menyediakan fasiltas mandi susu gitu, kan? Katanya buat mutihin kulit. Begitulah hidup, ketidakpuasannya tiada akhir
Makanya konon selain KESABARAN, karakter pandai bersyukur itu juga termasuk super sulit dalam praktiknya –> memandang nanar ke arah tumpukan skin care di atas meja rias sendiri zzzzzz
Jadi saya rasa tidak ada alasan untuk merendahkan mereka secara fisik hanya gara-gara para pria bule kecantol dengan eksotisnya wajah dan kulit mereka
Banyak juga yang menganggap perempuan Indonesia yang menikah dengan bule PASTI ngincer harta, pengin hidup enak, bla bla bla. Yaelaaaaa, banyak juga kaliiiiii mereka yang sehari-harinya setelah menikah dan punya anak ya kayak kita-kita jugaaaaaa
Dari pagi sampai malam ya ngurus anak, ngurus suami, memasak di dapur, apalagi di luar negeri susah punya “tangan ketiga”. Kadang mereka saling curhat juga capeknya ngurus anak dan terlibat drama-drama pergaulan ya macam-macam kita inilah.
Yang tetap bekerja setelah menikah juga tidak sedikit. Tetap bekerja keras mencari penghasilan sendiri dan mandiri dalam hal keuangan
Kalau dibilang para istri bule suka nyinyir-nyinyiran, lagi-lagi percayalah padaku, saya sudah kenyaaaaaangggg melihat perselisihan khas emak-emak (apa pun kewarganegaraan suaminya!) di Jeddah, di Irlandia sampai di Texas hahahaha.
Orang bule juga tidak semuanya tajir melintir, kok. On the other hand, buat teman-temanku tersayang yang nikah dengan bule jangan menganggap enteng suami-suami kami yang bukan bule ini, lhoooo
Saya “kumal” begini bukan karena suami tiada punya uang kok #pukPukSuami. Emang daku orangnya kikir parah
O ya, tidak semua istri bule ini punya tingkat pendidikan rendah.Ini juga stereotip yang sangat disayangkan
Yang saya temui banyak banget lho yang bahasa Inggrisnya sangat-sangat jauh di atas rata-rata. Mereka ini juga tidak jarang ketemu suaminya karena sebelumnya menjadi ekspat di luar negeri.
Sebaliknya juga suka dituduh sok-sok lupa bahasa Indonesia dan suka kecampur ngomongnya. Ya ini manusiawi banget lah. Ingat lho, mereka sehari-hari di rumah hidup bersama suaminya yang bule, beda sama kita-kita yang walau di luar negeri ya tetap berbahasa Indonesia di rumah
Juga salah banget kalau menuduh istri bule ini suka sok kebarat-baratan makanannya. Saya sudah sering banget mendengar cerita teman yang suaminya non Indonesia malah tergila-gila sama kuliner nusantara termasuk terasi hihihihi.
Sudah kenal sama Mbak Lia kan? Mantan pejudo nasional asli Wong Kito Galo (bener gak nih Mbak nulisnya hahaha) yang menikah dengan suami Arab asli Palestina yang sekarang bermukim di Israel?
Walah, suka stres kalau Mbak Lia pamer empek-empek dan aneka sajian nusantara di wallnya huhuhuhu –> jadi pengin terbang ke Israel saat itu juga
Itu si Mira, sesama perantau asal Makassar yang sama-sama lagi terdampar di Ireland, kalau masak juga enggak jauh-jauh dari coto, bakso sama burasa’
Banyak yang sinis mengira mereka ini rata-rata cuma pelayan hotel rendahan yang hokinya bagus bisa menggaet tamu hotel. Atau bahkan disangka (maaf) perempuan penghibur yang sukses mencuri hati pelanggannya. Saya sedih kalau ada yang bilang begini
Memang saya ada teman yang dulunya pegawai hotel yang ternyata berjodoh dengan salah satu tamu hotel di tempat dia bekerja. Tapi ingat ya, si embak ini pekerjaanya resepsionis di salah satu hotel berbintang yang berlokasi di luar Indonesia. Sama sekali bukan profesi murahan
Saya pribadi salut dengan keberanian mereka. Tidak mudah meninggalkan keluarga besar di tanah air untuk hidup bersama orang asing di negeri asalnya. Pasti beda rasanya dengan kita-kita yang merantau bareng suami yang se-negara. Lah ya kita aja berat suka banyak dramanya. Apalagi mereka.
Kalian boleh baper kalau lihat foto-foto mereka lagi jalan-jalan. Padahal jalan menuju ke sana tidak selalu seindah gambar-gambar pemandangan di luar negeri.
Kan sudah pernah saya tulis, tiap jalan hidup punya rahasianya masing-masing