X

To Impact NOT To Impress

Beberapa waktu lalu saya membujuk teman saya untuk aktif nge blog. Tertarik dengan anak sulungnya yang berkebutuhan khusus (autism) tapi bersekolah di sekolah publik sesuai umurnya. Iya sih, standar sekolah di Amerika Serikat (Texas) tentu beda dengan di Indonesia, ya.

Gambar : pixabay.com

 

Tapi pas ke apartemennya sekitar 2-3 minggu lalu, saya diceritakan sedikit soal betapa concernnya guru-guru di sekolah kepada anak sulungnya tersebut.  Wah, asyik juga, ya. Walau berkebutuhan khusus tetap bisa sekolah normal dan bergaul dengan anak-anak lainnya.

Teman saya juga banyak mendapat masukan dari guru-guru di sekolah ya pokoknya mereka bekerja samalah antara orang tua di rumah dan guru di sekolah. Saya kepengin dia bercerita lebih banyak soal ini. Mungkin saja banyak orang tua di Indonesia dengan kondisi anak yang sama sangat membutuhkan informasi seperti ini.

Tapi teman saya menolak. Dia enggan, takut dianggap mau pamer. Hmmm, iya juga ya.

Walau ini masalah niat personal tapi jujur saja, selama bertahun-tahun menjadi blogger, saya juga tidak bisa memastikan niat saya “lurus-lurus” saja hehehe. Manusia kan turun naik, ya. Niat dasarnya mah ingin berbagi. Macam kata-kata mutiara, “Sharing is caring.”

Tapi yaaaa, mungkin saja kaaaan, sekali dua kali atau bahkan sering, niatnya memang mau pamer hihihi. Ampuni aku ya Allah #benerinKudung.

Kalau soal pandangan orang lain, saya sih tidak terlalu peduli. Hal seperti ini di luar kuasa kita lah ya. Apa pandangan orang ke kita ya terserah dia saja. Masa kita yang mau ngatur, “Eh lo pokoknya harus nganggep gue inspiratif, yaaaa.” Mana bisa begituuuu :D.

Makanya, tidak usah kita pusingkan yang begini-begini. Kita enggak ngapa-ngapain pun ya mungkin ada saja orang yang tidak suka. Alasannya ya kadang enggak logis macam, “Gue kesel aja lihat mukanya.” Nah lo, terus kita kudu piyeeeee :p. Enggak mungkin tiba-tiba ganti muka gitu kan hehe.

Gambar : pixabay.com

 

Cara menangani anak autis mungkin masih menjadi pertanyaan besar buat sebagian orang tua yang memiliki anak autis di tanah air. Masalah awal tentu fase denial yang cukup berat, ya. Saya pribadi membayangkan pun rasanya sudah rumit banget :(. Apalagi bagi mereka yang benar-benar mengalami.

Sebagian orang tua ini pun, bila akhirnya selesai dengan fase denial dan mulai menerima kenyataan, mereka perlu panduan kan tentang cara menangani anak berkebutuhan khusus begini?

Dalam posisi begini pun, sekadar tahu bahwa ada orang di luar sana yang memiliki masalah serupa rasanya sudah lumayan terbantu beban kita. Iya gak, sih?

Apalagi kalau bisa saling berbagi tips-tips yang bermanfaat (y). Bayangkan ya, seberapa banyak pihak yang bisa terbantu :

  1. Para orang tua dari anak-anak berkebutuhan khusus
  2. Tenaga pendidik yang mungkin juga masih meraba-raba karena masih kurangnya sarana dan prasarana di tanah air. Yah, biar kata Ameriki ini konspirasi nganu-nganu, tetap saja mereka punya banyak kemajuan dan inovasi yang belum “nyampe” ke Indonesia hehehe.
  3. Pihak penyelenggara pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus. Baik pemerintah maupun swasta.
  4. Kerabat keluarga/sanak famili/teman dsb dari keluarga si anak ini. Saya sendiri punya keponakan yang juga berkebutuhan khusus (ADHD). Kepengin tahu juga kita itu harusnya bagaimana dalam bersikap gitu-gitulah. Kadang kan serba salah, ya :(.

 

Gambar : pixabay.com

 

Teman yang saya ceritakan tadi juga punya keahlian yang cukup unik, lho. Melukis dengan wadah kue kering. Duh, blog-able banget gak sih hahaha. Idih, napa jadi gue yang heboh sendiri :p.

Tapi saya mengerti banget alasannya. Memang nih, era medsos bikin kita gagap sendiri kadang-kadang. Niatnya begini kok ya orang melihatnya begitu. Penginnya sharing kok jadi kesannya pamer. Padahal mungkin juga iya, ya *tunjukDiriSendiri* hahaha.

Konsep media sosialnya sendiri sih tidak ada masalah. Yang menjadi problem adalah cara kita menggunakannya. Interaksi yang kita lakukan. Kadang terjebak sendiri dengan pencapaian rancu macam jumlah like atau jumlah follower. Itu tuh yang bikin kita terbebani hal-hal yang tidak penting hehehe.

Foto-foto tempat liburan sih walau sering dinyinyiri sebagai ajang pamer sebenarnya kan bisa menjadi promosi buat tempat liburan itu sendiri. Efeknya 2 arah. Tempat wisata yang bersangkutan semacam dapat promo gratis dan orang lain yang tidak tahu akhirnya jadi tahu, kan? “Wah, tempatnya bagus. Ke sana ah.”

Nah, begitu itu kan sebenarnya positif (y).

Macam sebuah peribahasa terkenal, “Live to impact not to impress.”

Terminologi -LIVE- itu kan termasuk living in cyberspace macam kita-kita para blogger/vlogger/instagramer/dst ini, yes? ^_^.

Optimalkan IMPACT yang bisa kita lakukan (in a positive way for sure). Kalau pun nanti orang menjadi impress apa enggak ya itu urusan entar-entar ajah ;). Kecuali memang ingin serius “mencari nafkah” via medsos dan dunia maya ya memang harus ekstra tuh “carper”nya hahahaha. Don’t worry, kita selalu bisa kok mengontrol keseimbangannya ;).

Tetap semangat semuanya yaaaaaaa <3.

 

davincka@gmail.com:

View Comments (1)

  • Bener mbaaak.. yg penting niat kita lurus aja mau sharing..kl ada dkit2 tselip pngen pamer anggap aja benalu3 manjah..soalx kl nunggu sempurna lurusss..selama qt berstempel manusia itu tdk akan trjadi.dan akhirx ga pernah berbuat apapun dgn alasan takut pamer..pdhl aq yakin sharing sesuatu yg bermanfaat itu amal jariyah..hehe...we never gonna be perfect.. biar Allah yg nilai.. we just keep do good..