The Things That Money Can’t Buy

***

Majalah Intisari itu masih ada enggak, ya? Hehe. Dulu, seingat saya ukurannya kecil seperti buku. Tapi isinya lumayan tebal.

Entah siapa dulu di rumah yang doyan beli Intisari. Bokap nyokap kayaknya enggak mungkin hehehe. Mungkin salah satu kakak saya. Mungkin enggak beli, tapi pinjam atau ngambil dari mana . Soalnya, kalau saya nemu, pasti edisi lama. Entah beberapa bulan sebelumnya, bahkan pernah edisi setahun yang lalu.

Dibilang suka-suka banget membaca sih enggak, cuma kalau enggak ada kerjaan ya senang juga membaca. Lebih suka membaca fiksi. Apalagi kalau malam-malam acara kelompencapir bisa 2 jam gitu apa ya, hihihi. Antara bosan dan gagal paham itu bapak-bapak pakai caping lagi pada ngapain . Belum lagi bunyi gongnya yang legendaris itu hahaha. TOONNGGG! “Yak, waktunya sudah habis! Silakan kelompok A, potnya dibawa ke sini.”

read more

Di Tanganmu, Bukan di Hatimu :)

Wow. Super WOW. Cek di link yang ini. Ternyata ada, ya, orang seperti ini di dunia ini. Masih ada harapan kalau begitu :D.

Seharusnya sih hal-hal seperti ini tidak perlu mengundang WOW dari seorang muslim. Ya karena sebagai muslim, tuntunan hidup bersahaja selalu dicontohkan rasulullah di sepanjang hidupnya . Cuma karena saking jarangnya ketemu yang model kayak begini, enggak ketemu kata lain selain W O W.

Prinsip dasar zuhud yang menjadi salah satu keutamaan dalam bermuamalah malah dicontohkan oleh kalangan non muslim hehehe. Piye iki? Merenung lagi ah. Ish, merenung melulu .

Konsep zuhud memang kerap mengundang perdebatan. Sekitar dua hari lalu, seorang teman memposting di wall-nya, “Zuhud hanya mungkin terjadi jika dunia sudah di tangan.”

read more