Novel Arus Balik (Pramoedya Ananta Toer) : A Review

Sempat kuberprasangka di awal membaca novel Arus Balik ini, apakah penulis hendak mendiskreditkan Islam?

Berbagai scene yang ditulis, misalnya pembuangan patung-patung gajah yang dianggap “keramat” buat Hindu ke pesisir laut saat tentara muslim Demak menyerbu pesisir Jepara, yang merupakan wilayah Tuban.

Sebagian besar tentara Demak muslim tadinya beragama Hindu. Tergambar mereka enggan melempar patung-patung tersebut.

Pembaca dibuat paham bahwa pemimpin pasukan semata ingin mengobarkan semangat tempur walau terlontar kata-kata semacam, “Sudah percaya Allah, masih takut kepada patung orang kafir?” read more

The Seven Good Years

“Kakak Perempuanku yang Hilang”, salah satu tulisan berkesan dari buku memoar ini.

Penasaran, yes?

Setelah membaca 2-3 kalimat di awal tulisan jadi paham “hilang”nya bagaimana. Kakak perempuan penulis bergabung dengan sekte ultra-ortodoks Yahudi dan tiba-tiba berganti penampilan dan kebiasaan hidup terutama setelah menikah.

Kaum perempuan biasanya menggunakan baju panjang yang menutup kepala hingga mata kaki, yang laki-laki tiba-tiba berjenggot dan “menghilang” dari pergaulan menghabiskan banyak waktu untuk berdoa dan berkumpul dengan “sesama mereka” dst dst.

Langsung merasa relate dengan kisah ini. Teringat fenomena “hijrah” di tanah air yang juga membuat saya juga merasa “kehilangan beberapa teman terdekat” .

the seven good years review buku Indonesia
Perempuan dari kelompok ultra-orthodoks Yahudi sedang membaca ( Gambar : dailymail.co.uk)

 

Mirip banget yah deskripsi “kembali ke agama” ala Yahudi-Ortodoks dengan tradisi “hijrah” edisi muslim terkini, setidaknya di tanah air kita.

The Seven Good Years, kumpulan tulisan seorang penulis Yahudi yang tinggal dan bermukim di Israel.

Bukan kisah-kisah parenting. Melainkan pengalaman-pengalaman ringan yang dihadapinya dalam rentang waktu 7 tahtun pertama kehidupannya setelah memiliki anak laki-laki, Lev.

Dari tulisan Keret, terbayang betapa sebenarnya semua pihak sama menderita dan tersiksanya akibat warisan kebencian yang turun temurun selama ratusan tahun ini .

Sebagai seorang Yahudi, seringkali Keret merasa tertekan dan penuh curiga saat berada di Eropa.

Di sebuah pub, Keret pernah terlibat perkelahian dengan seorang Jerman yang sedang mabuk hanya karena salah dengar. Prasangka buruk Keret mengira laki-laki tersebut sedang menghina orang Yahudi tapi ternyata TIDAK sama sekali.

Sekali lagi, cuma salah dengar.

Keret juga sering bertukar cerita dengan teman sesama Yahudi-nya tentang ketakutan-ketakutan mereka jika kelak dunia akan kembali dipenuhi semangat anti-Semit. Bagaimana mereka akan menabung sebanyak mungkin agar bisa lari ke tempat yang aman dan nyaman.

Bagaimana ritual mereka untuk tetap membuat sang anak nyaman saat bunyi sirine tanda bahaya berbunyi saat mereka lagi mengendara di jalan. Di Israel hal seperti ini sangat umum.

Sirine tanda bahaya bisa tiba-tiba berbunyi dan semua orang harus tiarap dan bom pun jatuh berdentum, entah di mana. Bisa dekat, bisa jauh.

Keret juga merasa sangat tidak nyaman saat berada di taman bermain dan mendapati ibu-ibu saling bertanya, “Apakah anakmu kelak akan jadi tentara?”

Ternyata, pembicaraan semacam ini sangat biasa di Israel.

Israel, satu diantara sedikit sekali negara di dunia yang memiliki aturan WAJIB MILITER bagi seluruh warga negara baik laki-laki dan perempuan.

Beberapa tulisan juga membahas mengenai asal usul orang tua Keret yang berasal dari Polandia. Bagaimana kedua orang tuanya terusir dari sana pasca melewati hari-hari yang berat di masa Jerman-Nazi menyerbu ke negara-negara tetangganya termasuk Polandia.

Dari tulisan-tulisan ringan ini juga kita mendapatkan informasi mengenai hari-hari suci umat Yahudi seperti Yom Kippur dan Sabat.

Ada juga catatan ringan mengenai perdebatan Keret, istrinya, anak mereka dan ibu Keret tentang game Angry Birds hehehe.

Keret menyesalkan sikap ayahnya yang dianggapnya terpenjara dengan cerita turun temurun mengenai kebencian. Keret ingin kita semua lebih proaktif menciptakan masa depan yang lebih cerah, alih-alih mengenang masa lalu yang sudah usang.

Keret salah satu penulis Israel yang giat mengkritisi pendudukan Israel di tanah Palestina. Karena keberpihakannya pada perdamaian di tanah konflik Timur Tengah, Keret lumayan bisa diterima di negeri-negeri mayoritas muslim. Pernah diundang ke Bali segala, lho .

We need to read something like this. Melihat dari sisi lain. Banyak miripnya ajaran Yahudi dengan Islam secara agama.

Etgar Keret (gambar : huffingtonpost.com)

 

Misalnya ada kosher, daging/makanan halal versi Yahudi. Kosher ini oleh sebagian ulama Eropa dianggap HALAL pula buat kaum muslim .

Kembali ke tulisan “Kakak Perempuanku yang Hilang”, Keret menunjukkan satu pesan penting. Meski didera ketakutan mengenai perubahan ekstrim yang terjadi bagi orang-orang yang dianggap “hilang”, Keret punya sudut pandang sendiri.

Menurut Keret, “Aku tidak punya Tuhan, tetapi kakakku punya, dan aku mencintainya, jadi aku mencoba untuk menunjukkan hormat.”

Di masa-masa frustrasi saat ditinggal pergi oleh gadis pujaan hatinya, Keret mendatangi kakaknya di pemukiman Ortodoks. Keret memohon kakaknya untuk mendoakan agar gadis tersebut kembali kepada Keret.

Kakaknya bilang tidak bisa, itu bukan doa yang benar. Tapi kakaknya berjanji akan berdoa setiap hari agar kelak Keret bertemu perempuan lain yang akan membuatnya bahagia.

Sepuluh tahun kemudian, itu benar terjadi. Keret percaya, doa kakaknya telah dikabulkan Tuhan.

We can still love and respect each other terutama dengan orang-orang terdekat kita pasca “perubahan”.

Terlepas dari prasangka dan ketakutan (yang mungkin sebagian besar tidak perlu atau karena tidak paham saja), kita masih bisa berkasih sayang dalam perbedaan .

Semoga lebih banyak orang-orang seperti Keret atau siapa pun yang berupaya untuk berbicara lebih kencang mengenai perdamaian dalam permusuhan panjang di konflik Israel-Palestina.

Saling berbagi apa yang dirasakan, apa yang dilewati, dari sudut pandang masing-masing. Surprisingly, banyak persamaan yang bisa didapatkan.

Siapa pun bisa bersuara yang sejalan, seperti saintis Albert Einstein sekali pun yang pernah berujar, “Peace cannot be kept by force; it can only be achieved by understanding.”

Saling memahami adalah koentji ???.

Dear, River …

I didn’t see this coming. Baru membaca di bagian “Sungai Kisah yang Mengalir ke Arahmu” lah kok udah mewek aja. Di tempat umum begitu ya masa mau nangis-nangis. Gengsi amat hahahaha. Padahal itu baru TULISAN PENGANTAR! *panik*.

Sungguh keputusan yang gegabah membawa buku ini buat dibaca santai waktu nemenin anak-anak ke playground di suatu minggu sore yang cerah. Sambil duduk ngeliatin anak-anak main, maksudnya mau duduk-duduk manja sambil baca buku ini aja biar enggak bosen-bosen amat. Karena bapaknya juga nemenin anak-anak maen bola –> this is why, perhaps we need to have another girl in this family! #ehGimana.

Sejujurnya dulu sekalian beli #dearRiver untuk optimasi ongkir aja sih pas beli buku “Berjalan Jauh”. Kedua buku ini penulisnya SAMA.

Karena terkesan banget dengan “Berjalan Jauh”, makanya cepat-cepat pengin baca #dearRiver ini.

buku parenting

 

#DearRiver kumpulan tulisan Fauzan Mukrim buat putranya, River. Mirip dengan “Berjalan Jauh” tapi tulisan-tulisannya beda semua. Jadi ini 2 BUKU YANG BERBEDA. #DearRiver ditulis sebelum River lahir.

Selama ini kita sering terjebak dengan mengunci parenthood sebatas motherhood saja. Father-nya gimanaaaaaa?

Beban pendidikan anak, secara sosial, lebih sering dibebankan kepada Ibu. Padahal, peran Bapak/Ayah ya sama pentingnya.

Para suami dan calon ayah pun sebenarnya punya kegelisahan, deg-degan plus takut jugak mau punya anak dst dst dst dengan intensitas yang kurang lebih sama dengan para istri dan calon ibu. Mungkin selama ini para suami dan calon Ayah lebih suka memendamnya dalam hati. Untunglah ada Ayah Fauzan Mukrim yang mau membagikan isi hatinya kepada kita :).

Sudah macam masokis baca buku ini. Baca, nangis, baca, nangis, baca, nangis. Tapi gak kapok-kapok.

Esai “Ketika Kau Sakit” pedihnya dobel. Karena selain bernostalgia dengan paniknya kita di masa-masa anak sakit, Fauzan juga bercerita tentang posisinya sebagai anak. Membahas orang tua juga. Jadi yah, sebel karena gosok-gosok mata terus padahal lagi perawatan pakai eye cream biar kerutannya tidak memburuk. Bagusnya memang buku ini dibaca dengan wajah polos. No skincare at all. Percuma jugak. Pasti luntur semua, Cyiiiiin -_-.

Tidak sedikit pembahasan tentang orang tua karena Fauzan Mukrim banyak berkaca dari orang tuanya sebagai memori untuk bekal membesarkan anak-anaknya kelak. Karena itulah kita tidak boleh ngasal-ngasal, ya, membesarkan anak karena pengaruhnya bisa sampai jauh ke depan sana.

“Ibu Juga Ingin Naik Haji” misalnya. Indah sekali. Luar biasa ibunya, Kak. Kirim salam, ya <3.

Tentang Bapak juga banyak.

Almarhum Bapak saya meninggal waktu saya masih SD. It’s been while. I started to forget things about him or at least never really think about it anymore. Udah lama banget ya rasanya. Sampai kadang ada beberapa yang akhirnya lupa sendiri. Tapi beberapa tulisan ndi #dearRiver makes them all coming back to me … once again.

Saya rindu sekali jadinya sama almarhum Bapak. Walau cuma punya satu foto, saya tidak pernah lupa pada wajahnya yang ganteng hehehe <3.

Tidak sedikit istri yang mengeluh, kalau laki-laki akan atau sudah punya anak, istrinya entah tarok di mana. Tapi Fauzan Mukrim menyelipkan tidak sedikit kisah-kisah tentang sang istri. Romantis plus terharu di tulisan “Enam Tahun dan Dua Tahun.” Kebayang dulu bininya digempur terus pakai esai-esai di masa pedekate *uhuuuyyyy*.

“Pulang Memancing” melayangkan ingatan ke masa-masa bekerja dulu. Bisa-bisanya ni Ayah Fauzan menuliskan pengalaman bermacet-macet ria yang bisa bikin kita …. ya nangis lagi! Hahahahaha. Geblek, ah. Nangis mulu :p.

Banyak kisah-kisah tentang orang-orang lain di luar kerabat dan teman dekat dari penulis. Tentang seorang tamu yang datang ke kantor di suatu hari di tulisan “Tangan dan Jari-jarinya”. Atau tentang Pak Mansyur yang luar biasa di esai “Guru”.

O ya, diksi atau pemilihan katanya bagus banget, euy. Mungkin karena efek profesi wartawan. Sedih tapi enggak dangdut gitu lah hehehe. Gimana ya neranginnya. Baca sendiri aja dah hehehehe.

Gaya menulisnya juga sangat jenaka. Kesel kan, dibikin gila kita jadinya. Nangis-nangis tapi ketawa jugak. Sudah sedih-sedih membayangkan perasaan orang tua kalau anaknya lagi sakit, ada pula kalimat model begini … “Lemas seluruh badanku, Nak. Satu dua lagu yang aku nyanyikan untuk menghiburmu tidak kau gubris. Kau hanya memandangku lemah seolah-olah aku ini peserta Indonesian Idol yang sebentar lagi dieliminasi.”

“Tertawa  Seperti Pocoyo” juga tulisan model begini. Mewek iya, ngakak iya. Ya makanya bacanya pas lagi sendirian aja hihihi.

Satu lagi, potongan-potongan lirik yang ngawur di “Misheard Lyrics” … bisa dibantai kau sama anak Jaksel, Bang Fauzan, hahahahaha.

Di sebuah seminar parenting yang pernah saya hadiri (pesertanya sebagian besar ibu-ibu), fasilitator bertanya kepada kami, “Ibu-ibuuuu, anak itu banyak meminta atau banyak memberi.”

Tanpa dikomando, jawaban kompak kami bergema di seluruh ruangan, “Memintaaaa…”

Ah, kita, para orang tua, suka terkecoh. Kan ada juga tuh kisah-kisah yang mengatakan kalau orang tua adalah malaikat buat anak-anak mereka. Padahal, merekalah malaikat-malaikat kecil yang dihadirkan di dunia untuk membawa kebahagiaan untuk orang-orang di sekitarnya. Jangankan membayangkan bila Tuhan mengambil kembali titipan terindahnya ini, melihat mereka sakit saja, nyawa rasanya sudah hilang separuh.

“Hadirmu semacam power supply baru dalam kehidupanku. Karena setiap aku melakukan atau memikirkan sesuatu untukmu, Nak, dengan sendirinya aku pun merasa semakin menyayangimu. Apa namanya itu? Accelerated Happiness? Mungkin semacam rasa bahagia jika bisa memberikan benda kepada orang lain, alih-alih bersedih karena benda itu lepas dari tangan kita. Rasa bahagia itu yang tak akan pernah bisa dikalkukasi dengan hukum ekonomi yang mendewakan aset dan kepemilikan.” -Fauzan Mukrim, #dearRiver-

Enggak peduli lagi deh Pakde Agus Amrullah bakal berkoar-koar tentang chauvinisme bla bla bla (hahahaha), I  give 5 out of 5 stars for this book!  <3

Terima kasih Ayah Fauzan yang sudah menulis buku indah ini <3. Ditunggu banget buku #dearRain nya, harus adil dong Ayaaaaahhhhh ;).

Note : bukunya bisa dibeli via River’s Corner, ya.

review buku berjalan jauh fauzan mukrim

Review Buku “Berjalan Jauh” (Penulis : Fauzan Mukrim)

Ini bukan buku traveling, yaaaaa .

“Berjalan Jauh” semacam kumpulan tulisan-tulisan pendek dari seorang Ayah buat anaknya. Sesekali beberapa gombalan buat sang istri (Kak Desan, apa kabaaar ).

Dibilang buku parenting juga kurang tepat, sih.

Some said, “It’s NOT about WHAT you write BUT HOW you write it.”

Indeed. Cucmey dengan tema-tema tulisan dalam buku “Berjalan Jauh”. Tema-temanya itu benar-benar sehari-hari banget-banget. Dibaca sambil lalu terus cengengesan tapi … jleb! Menancap di hati . Tulisannya lho ya, bukan yang lain-lain (Kak Desan, halo lagi ).

review buku berjalan jauh

Misalnya di tulisan, “Malaikat yang Patah Sayapnya”. Waduh, kirain mau bahas apaaaa gitu, eh ternyata …. hahahaha. Tapi qu nangis bacanya, but let’s not ignore the fact that akyu emang anaknya cengeng. Biar cengeng yang penting kece *apaLoApaLo*.

Jangan membayangkan pesan-pesan semacam “Oh Anakku semoga kau tumbuh menjadi anak yang saleh dst … juga tampan, kaya raya, kelak bisa menyulap kardus senilai …. ” Wooooiiiii, lagi ripiu buku, Kaaaaaaak, emblem cebbienya tarok dulu ??.

Yah pokoknya, bukan pesan-pesan yang es-te-de gitu-gituuuuuu . Pesan-pesan unik tapi sederhana mengalir pelan-pelan lewat tulisan-tulisan ringan.

Beberapa juga lumayan “serius” kontennya.

Kadang udah benerin posisi duduk karena siap-siap dirasa tema yang dibaca pas agak berat, eeeeehhh…langsung wakwaw lagi baca kalimat-kalimat semacam, “Aku pernah takut pada banyak hal. Takut pada musuhnya Megaloman. Takut pada Suzanna, Eva Arnaz, Lia Warokka, Ricci Ricardo.”

Saya kebayang emak-emak generasi milenial sibuk googling siapa-siapa saja mereka ????.

Beberapa kisah juga memberi sudut pandang lain tentang bapak kepada anak. Jangan terkecoh dengan judul “Dua Ayah yang Tidak Mengobrol Tentang Bola.”

Sudah siaga pengin ngikik karena judulnya terasa jenaka, isinya yang cuma 4 halaman boro-boro bikin ketawa malah jadi mewek. This one is super, Bang Ochank .

Many times, the writer can amazingly turn simple things around (most of) us INTO something worth reading? Benar-benar berkah luar biasa ya, Bang .

Padahal kalau ketemu langsung, orangnya seneng ngikik-ngikik jugak bukan tipe yang mikir mulu bawaannya walo pakek kacamata. Waktu kecil saya pengin pakai kacamata biar dikira pintar hahahaha.

Lihat saja kan di status-statusnya, lagi jalan pagi saja ngobrolin mau sarapan apa, tetap terselip yang jleb-jleb tadi.

Fortunately, kita bacanya bisa sambil ketawa-ketawa minimal senyum-senyum.

(Ini gambar dari situsnya Mbak Shanty, yang kemarin menang giveaway untuk buku ini) :

review buku berjalan jauh

“Menonton Artis Ibu Kota”, bacanya ngakak terus di awal, tengah-tengah terasa sejuk airmata sudah di pelupuk … ealah…ujungnya kek gitu hahaha. You’re so blessed, Ayah Ochank .

Jadi, gimana rasanya pipis sebelahan dengan Afghan? ???.

“Lebah Sudah Pergi” salah satu tulisan paling pendek tapi endingnya cukup menghujam.

Ada 50 judul dalam buku yang super random. Jangan kecele dengan judul lucu-lucu, itu sudah lihat contohnya yang saya tulis di atas, kan? Kejutan-kejutannya itu lho ck ck ck.

Boleh kenalan langsung sama penulisnya Fauzan Mukrim. Atau enggak usah buang-buang waktu soalnya bininya kece dan anaknya lucu-lucu #ehGimana (hahaha), langsung aja beli bukunya via River’s Corner atau hubungi manajer beliau Desanti Sarah.

Instagram River’s Corner ada di sini, ya. Monggo dicolek via IG kalau mau.

Sukses terus ya Bang Ochank dengan karya-karyanya. Terutama di masa-masa di mana newsfeed penuh dengan gejolak perang kek sekarang-sekarang ini hahaha.

Kuingin berikan 5 of 5 (stars) buat buku ini. Tapi takut Pakde Agus Amrullah ribut-ribut teriak “Chauvinisme Mengancam Kebhinnekaan” karena kedengkiannya melihat betapa kerennya orang-orang Bugis tidak kalah dengan orang Jawa, kukasih 4.83 saja ???

Bukunya sudah saya bawa “Berjalan Jauh” sampai ke tepian Sungai Shannon di kota tinggal saya di Irlandia . Sori fotonya gitu-gitu doang. Pak Fotografer sudah gantung kamera, malas diajak motret-motret serius lagi .

review buku berjalan jauh fauzan mukrim

Irlandia, terkenal dengan sungai-sungai yang mengalir jauh di sepanjang pulau dan curah hujan yang cukup tinggi di hampir sepanjang tahun … River dan Rain, Tante Jihan tunggu di sini yaaaaa ???.

Jangan capek menulis yang baik-baik Bang Ochank, yang nyolot-nyolot biar bagian orang Sidrap ajah hahaha …

“Ininnawa mitu denre sisappa, sipudoko, sirampe teppaja” ?.

“Hanya kebaikan yang akan saling mencari, saling menjaga, dalam kenangan yang tiada putus-putusnya.”

Ya sekali-sekali sih kalian juga kenalan sama pepatah-pepatah bugis, yes?

Btw, bukunya BAHASA INDONESIA kok hahaha.

Cerita Islami Inspiratif : Resensi Buku Kembali Menjadi Manusia

Buku ini berisi kumpulan cerita cerita islami inspiratif (y).

Judul Buku : Kembali Menjadi Manusia

Pengarang : Doni Febriando
Penerbit : Elex Media – Gramedia

“Islam, Membungkus Kebenaran dengan Kebaikan”

***

3 bintang pertama (out of 5) pasti akan langsung saya berikan pada pemilihan kata dan cara mengisahkan penulis yang sangat mengalir dan bikin betah. At least, buat saya, lho, ya.

Mengikat pembaca sejak halaman pertama adalah salah satu hal yang cukup sulit buat seorang penulis. Bravo, Mas Doni :). Poin ini ditaklukkan dengan cukup baik. Buku ini sudah sukses memaksa saya membacanya secara beruntun sampai halaman terakhir sampai telat keluar dari kamar padahal sudah bangun sejak dini hari hehehe. Dipelototin suami, deh hahahhaha.

Buku ini terdiri dari 26 esai yang direkatkan dalam 5 bab. Dilengkapi dengan 8 buah puisi.

Cerita islami inspiratif buku kembali menjadi manusia

Tapi sedikit masukan, ya. Kalau berbicara walisongo kayaknya kurang tepat kalau menyebut-nyebut Nusantara. Mungkin lebih cocok di Pulau Jawa saja :D. Saat walisongo aktif menyebarkan Islam di Pulau Jawa, secara bersamaan ada ulama-ulama lain yang juga mendakwahkan Islam di Sumatera dan Sulawesi. Sumber : buku “Ulama & Kekuasaan” (Penulis : Jajat Burhanuddin).

Jangan khawatir, buku ini tidak melulu membahas walisongo doang, kok :D. Isinya lebih luas.

Walau memang bernapaskan Islam, penulisnya menolak buku ini disebut buku agama. Iya sih, sesuai judulnya, buku ini cocoknya disebut “buku kemanusiaan” :D. Genre apa pula itu? :v :v :v.

Bagi yang ingin membuka wawasan terhadap ajaran Islam, bolehlah dijajal buku ini untuk mendapatkan sudut pandang yang lain tentang ajaran yang punya pakem “rahmat bagi seluruh umat manusia.”

Ah yang benar, rahmat bagi umat manusia atau umat muslim doang, nih? :p.

Penulis mempunyai satu penjelasan yang mumpuni untuk keraguan di atas. Bahwa yang namanya kebaikan itu posisinya justru lebih tinggi daripada kebenaran. Lagipula, jika manusia berbicara kebenaran, bisa ribet urusan :p. Karena, yang Mahabenar itu hanya Tuhan semata dong ya, dalam keyakinan kita sebagai umat beragama.

Kecuali ada yang menganggap, “Lah, saya mengerti semua kok Tuhan maunya apa. Saya ini bicara berdasarkan kata Tuhan.” Nah lho! Ngeri, kan? Tuhan punya kembaran gitu? Hahaha :p.

Apakah terbayangkan jika “kami paling benar” ini tidak cuma satu tapi ada beberapa bahkan banyak. Berapa banyak kesusahan hidup yang harus ditanggung oleh umat manusia? :(.

Di sinilah penulis mulai menjabarkan makna pentingnya manusia untuk selalu sadar diri.

Tulisan “Termasuk yang 72 atau yang 1?” adalah tulisan pembuka. Rasulullah sendiri yang berpetuah, umat Islam akan terpecah menjadi 73 golongan. Makin mencekam dengan lanjutan, hanya ada 1 golongan yang selamat, sedangkan 72 golongan lainnya tersesat.

Pasti langsung pening nyari pengajian mana ini yang cucok hihihihi. Harus ikut NU apa Muhammadiyah? Harus ikut PPP, PKB, atau PKS?

Penulis menguraikan pentingnya kita untuk selalu merasa bagian dari yang 72 itu ketimbang ngotot bahwa kita adalah yang 1 golongan. Selalu merasa tersesat akan membentengi kita dari perasaan tinggi hati dan mendekatkan kita pada rasa rendah hati ;). Mengakui diri masih kurang akan terus menggenjot kita untuk melakukan perbaikan diri demi mengharap rahmat dariNya.

Tak sadar, fokusnya akan selalu di diri kita sendiri. Tak banyak waktu lagi mengorek-ngorek aib orang lain. Senantiasa mencari kebaikan dalam diri orang lain. Bukankah rahmat dan ampunan Allah jauh lebih luas dari jagad raya dan seisinya? Siapalah kita hendak menelaah pikiran dan kebijaksanaan Tuhan? Siapalah kita mau cap cip cup kembang kuncup, ribet sendiri mikirin siapa yang masuk surga siapa yang masuk neraka? :D.

cerita islami inspiratif

Kategori golongan yang dimaksud bukan kriteria organisasi apalagi kartu tanda anggota :D. Tapi kepada karakter manusia-nya. Karakter kita ngikut siapa? Ya mengikuti sunnah-sunnah dan cara hidup rasulullah :). Walau tak akan sesempurna beliau, minimal kita terus mengupayakan seoptimal yang kita bisa ;).

Sunnah rasulullah? Horeeeee … poligami, poligami, poligami! :v :v :v.

Yang perempuan jangan cemberut dulu. Penulis punya satu artikel yang mengupas tentang “Monogami Juga Sunnah Rasul”. Ah, masa, masa, masa? Katanya kalau istri cuma satu mah artinya cemen. Poligami sering dianggap titik lemah Islam karena bertolakbelakang dengan jargonnya, “Memuliakan derajat perempuan.”

Baca sendiri di bukunya yaaaaa, penjabarannya sangat runut dan tidak ada yang aneh-aneh dari yang selama ini sudah pernah kita dengar :).

Penjabaran macam apa sih? Buku ini juga banyak menyebut-nyebut soal menjabarkan ibadah via ilmu tasawuf. Ibarat manusia, ilmu syariat adalah tubuh, ilmu hakikat adalah ruh. Jadi, ilmu fikih harus didampingi dengan ilmu tasawuf. Tasawuf ini juga yang akan terus menjaga agar kebenaran-kebenaran yang kita sampaikan terus menerus terbungkus dalam kebaikan. Mencerahkan bukan menyakiti. Membujuk bukan mengancam.

Kemampuan mencerahkan dan membujuk (bukannya menghina apalagi menakut-nakuti) yang menjadi kunci keberhasilan penyebaran Islam secara damai dalam tempo waktu cukup singkat di Jawa oleh para Walisongo.

Ilmu niat diperkenalkan sejak awal. Semua kegiatan kita sehari-hari jatuhnya ibadah kalau disertai niat yang benar. Tidur lebih awal itu pemalas? Enggak juga. Kalau niatnya untuk menjaga kesehatan jatuhnya ya ibadah juga. Kalau niatnya mau begadang nonton bola ya bisa lain lagi urusannya :p –> ini contoh dari bukunya langsung, ya :D.

Bukannya mengatakan sedikit-sedikit masuk neraka, walisongo menerapkan ajaran sedikit-sedikit masuk surga. Jadi, masyarakat awam mudah tertarik dan ajarannya diterima dengan suka cita ^_^.

Kutipan dari buku, “Akhirnya, para petani semakin mencintai sawahnya, para pencari kayu bakar semakin mencintai kelestarian hutan, para nelayan semakin mencintai perahu layarnya, dan sebagainya. Semakin cinta, karena Walisongo giat menyadarkan nenek moyang kita, bahwa semua keseharian umat manusia ternyata adalah jalan menujuNya, asal diniati untuk Allah.”

Soal kepercayaan penduduk saat itu yang memuliakan sapi, disikapi oleh Walisongo dengan menunjukkan surah Al Baqarah, bahwa Islam pun memuliakan hewan sapi :). Saat hari raya qurban, sapi tidak boleh disembelih, diganti dengan kerbau.

Kutipan dari buku, “Di atas ilmu fikih, masih ada ilmu ushul fikih, dan di atasnya lagi masih ada ilmu tasawuf. Maksudnya, menghargai perasaan orang lain lebih diutamakan, daripada sekadar halal-haram. Kebaikan lebih utama daripada kebenaran.”

Dan banyak suri tauladan ala walisongo yang disampaikan dalam tulisan-tulisan lainnya. Seperti dalam “Jejak-jejak Walisongo” dan “Bertemu Walisongo di Candi Prambanan.”

Tulisan “Beberapa Jalan Mudah Menuju Surga” juga jangan sampai dilewatkan. Penekanan bahwa ayat-ayat alquran sebenarnya lebih banyak membahas aturan bermuamalah dalam kehidupan sosial. Untuk melengkapi argumen saya tempo hari untuk membantah tuduhan kaum atheis ya, kalau agama hanya peduli pada ritual individu semata. Dalam Islam sendiri, jelas tidak begitu ;).

Allah Maha Pengasih
Allah Maha Pengasih

Berbakti kepada kedua orang tua dalam kondisi apa pun, menyayangi makhluk lain ciptaan Tuhan seperti binatang dan lingkungan hidup, bisa menjadi modal penting asalkan dilakukan dengan istiqamah dan terus menerus.

Belajar memahami kondisi orang lain bisa dijadikan senjata ampun untuk menjaga dari sifat tinggi hati yang sering berujung penghakiman kepada orang lain. Jangan berpikir kehidupan ini seperti buku teks. Apalagi mencoba memasangkan ukuran-ukuran dari pengalaman kita kepada orang lain.

Kehidupan ini sangat kompleks. Seperti contoh dalam buku, memandang pelacuran. Jangan terlampau mudah mengklaim melacur = masuk neraka. Masih ada wacara lain, “menolong”.

Kutipan dari buku, “Kalau tidak bisa memperbaiki, jangan merusak. Kalau tidak bisa membuat seseorang keluar dari kubangan lumpur dosa, jangan melemparinya dengan batu. Kalau kita tidak bisa menolong seseorang keluar dari pekerjaan melacurkan diri, kita jangan sampai menambah kesedihannya.”

Rasa belas kasihan itu adalah sifat dasar manusia yang seharusnya makin tergali seiring keyakinan kita kepada Tuhan. Bukannya malah terkikis atas nama agama :(.

Makna-makna ibadah ritual dari ilmu tasawufnya juga dijabarkan di sini. Hikmah-hikmah di balik gerakan salat misalnya. Agar kita tidak “Meninggalkan Allah di Atas Sajadah”, salah satu judul tulisan lain dalam buku ini.

Demikian garis besar isi buku “Kembali Menjadi Manusia”. Semoga kehangatan dan ketenangan bisa kita peroleh dari isinya. Kedua hal yang mudah-mudahan bisa menguatkan kita bahwa siapa bilang menjadi orang saleh itu mengharuskan kita memusuhi ajaran lain? Apakah akidah yang teguh terkadang mewajibkan kita harus memilih hal yang dirasa tidak nyaman dan menyakiti orang lain?

Kebaikan itu posisinya selalu paling atas ;). Kebaikanlah yang seharusnya membungkus semua kebenaran yang kita yakini.

Secara keseluruhan 4.5 bintang (out of 5) untuk buku ini :D. Segera akan saya list di akun Goodreads saya :D.

Akhir kata saya kutipkan ini kalimat yang pernah saya baca di salah satu tulisannya Mas Iqbal Aji Daryono (entah yang mana hihihihi). Kurang lebihnya begini, “Kita tidak boleh lupa, selain mengakui hak kita sebagai umat beragama kita tidak boleh lupa kewajiban kita sebagai … umat manusia :).”

Dia manusia, mereka manusia, kita pun manusia. Manusia, tempat salah dan lupa (Al insaanu mahallul khatha wan nisyaan). Mari … kembali menjadi manusia.

Selamat membaca ^_^.

Kembali Menjadi Manusia

Athlone, Januari 2015
-Jihan Davincka-

***