Laki-laki, Suami, dan Bapak

Walau tak pernah bermukim di daerah asal kedua orang tuanya, suami saya dibesarkan dalam suasana “Minang yang kental”. Ada segregasi yang tajam antara “tugas Ibu” vs “tugas Ayah” dalam urusan rumah tangga dan mengurus anak. Setidaknya dari kehidupan sehari-hari mertua saya, itu tergambar dengan sangat jelas.

Ada yang bilang, ini sih budaya orang Sumatera pada umumnya. Tapi kayaknya secara umum ini budaya ketimuran, ya. Di Asia yang begini-begini mah wajar hehehe. Jangan heran kalau di Indonesia pada khususnya, pasti masih banyak yang ribet kalau misalnya melihat bapak-bapak ngurus anak tanpa istri. read more

Siapa Suruh Datang Jakarta?

Ini cerita tentang Jakarta :D.

Mungkin sama dengan sebagian perantau asal pulau lain, saya datang ke Jakarta karena awalnya karena sekolah. Selepas SMA, hasil UMPTN di tahun 1998 mengabulkan doa saya untuk bisa tinggal di ibukota! :D.

Tidak sedikit teman-teman SMA yang memimpikan kota lain seperti Bandung atau Surabaya, tapi saya sejak awal sudah keukeuh…it has to be Jakarta! *kencenginIkatKepala*.

Naik KRL Ekonomi pertama kali dari Kalibata menuju Stasiun UI. Di situ saya baru ngeh ternyata kampus saya adanya di Kota Depok, bukan bagian dari ibukota. Meleset sikit lah hahaha. Toh di Lagu “Genderang UI”, liriknya tetap ngotot, “Universitas Indonesia, Universitas kami, IBUKOTA negara, pusat ilmu budaya bangsa” *kibasJaketKuning*. read more

The Lone Star Moslem

Empat tahun terakhir, lebih banyak menghabiskan bulan puasa di Irlandia. Puasa di Ireland itu benar-benar “sunyi”. Dibandingkan suasana Ramadan 3 tahun berturut-turut sebelumnya yang 100% saya habiskan di Kota Jeddah, Arab Saudi.

Waktu di Jeddah, selama 3 tahun itu tidak pernah mudik lebaran. Gimana mau mudik, justru menjelang dan pas hari raya Idul Fitri, suami kebagian “jaga kandang” melulu. Musim haji apalagi. Sibuk abis! . Hanya sempat off dari kerjaan pas kebagian jatah naik haji tahun 2012 kemarin . read more

Please Be Careful With Your Heart ;)

“Pulang, Bang! Gila ini sih. Sudah kacau banget. Pulang aja deh mendingan.” Saya ngomong di telepon ke suami sambil melotot melihat tayangan berita di televisi.

“Apaan sih? Baru jam segini. Iya, entar pulang. Jam 5 kayak biasa.”

“Wah, kacau, kacau! Pokoknya pulang. Coba nonton berita! Sekarang!”

Terus saya menonton berita lagi dengan khusyuk. Kerusuhan di beberapa tempat sampai ada korbann tembak segala. Makin tidak tenang karena suami kagak pulang juga *pijetKening*. read more

Kata kata Untuk Ibu dari The Millennial Generation ;)

Yang cukup ramai dari kasus remaja seperti Afi dan Awkarin adalah respons para orang tua. Termasuk kita semua yaaaaaa (yang nulis jugak hahaha *usapUsapKerutanMata*). Penting nih, sekadar membagi kata kata untuk ibu juga orang tua pada umumnya.

Salah satu imbasnya adalah pihak-pihak yang mulai membanding-bandingkan. Mendadak posting-posting misalnya, anak kedokteran yang lulus umur belasan misalnya. Atau ada juga yang memamerkan putra dari daerahnya yang penemu apalah gitu. Dalam bidang eksakta.

Nah, ini dia, nih. Kita, sebagai orang tua, kerap menjerit betapa tidak adilnya dunia pendidikan yang sering fokus kepada tipe-tipe kecerdasan tertentu. Umumnya, anak-anak yang cerdas dalam ilmu-ilmu pasti/eksakta lebih mendapat tempat. read more