Keep Calm and Continue Writing :)

Buku pertama saya dulu terbit secara indie. Sumpah mampus enggak lagi-lagi dah terbit indie hahaha.

Saat saya bersorak terharu ketika akhirnya bukunya terbit juga (jangan ditanya dramanya hahaha), sesungguhnya perjuangan sebenarnya telah menanti … MENJUAL BUKUNYA!

 

Menawarkan bukunya sendiri lumayan menyita waktu. Semua grup dan semua forum, waktu itu juga masih era milis-milis, digempur semua. Besoknya dicek lagi satu-satu. Mana tahu ada yang nyangkut.

Sampai pegel leher menulis dan mengedit data di Excel. Anak kedua saya umurnya baru setahun lebih. Lah terus kapan nulisnya? *nangis*.

Tantangan terberat itu sebenarnya di masalah ongkir, ya. Pernah ada teman di Kalimantan pengiiiiin banget baca bukunya. Saya jujur saja, ongkirnya terlalu mahal. Tapi dia pengin banget. Yo wis, saya gratiskan ongkirnya.

Ya abis kasihan, ya. Toh dia udah baik banget mau beli bukunya.

Royalti saat terbit indie memang sangat menggoda. Bisa lebih dari 50%. Tapi mencret mikirin ongkir dan siang malam berjuang nyari pembeli *pasangKoyo*.

Bentang alam negara kita memang sangat menantang untuk urusan distribusi barang . Ituuuu yang nyinyir soal infrastruktur transportasi, mana suaranyaaaaaa .

Bodohnya saya tidak terpikir hal ini dari awal. Dasar sanguinis parah hahaha. Padahal saya pernah bekerja sebagai Business Analyst di salah satu consumer goods nan hits di tanah air. Saya pegang area Supply Chain-Distribusi.

Sudah pengalaman dengan curhat-curhatan divisi Transportasi, rekan-rekan di warehouse dan betapa serunya eyel-eyelan tim sales vs tim distribusi kalau sudah berantem soal pengiriman barang ke luar Pulau Jawa .

Masih ingat dulu saya kesal kalau beli majalah, kok ya sampai ada label harga P. Jawa dan harga non P.Jawa. Rasis amat yak hihihihi .

Maklum Sis, dulu beli majalah juga nabungnya bisa lamaaaaa. Dulu-dulu kan kita pernah muda juga, dimana mimpi-mimpi kita tidak jauh-jauh dari poto model atau bintang pilem, yes? Hahaha. Makanya kudu bener tuh beli-beli majalah sambil mengkhayal punya duit banyak dari hasil pemotretan.

Eh sekarang punya suami doyan motret pun, yang dipotret malah anak-anak mulu. Ya nasib ya nasib #bantingPensilAlis.

Buku kedua saya akhirnya terbit via Penerbit Mayor. Main kirim saja. Alhamdulillah berjodoh. Enggak pakai lama langsung approve.

Mungkin karena sudah merasakan “nikmat”nya terbit Indie, saya sama sekali enggak mikirin royalti lagi. Naskah diterima saja rasanya sudah terbang.

Seharusnya, sebagai penulis, fungsi marketing tetap harus dilakukan, yaaaaa. Saya akui, saya sangat lalai dalam hal ini hihihi *ciyumTanganEditor*.

Barusan membaca artikel Tirto tentang kecenderungan penerbit yang sekarang bekerja sama dengan penulis-penulis yang punya penggemar/follower di media-media sosial. Ya gimana ya, wajar-wajar saja rasanya.

Logikanya, kalau dese banyak fans, harapannya nanti banyak yang beli bukunya. Buku, sebagus apa pun isinya, kalau tidak ada yang beli ya matilah kita semua hahaha.

Penerbit itu kan juga perusahaan yang tujuan utamanya adalah laba/keuntungan. Penerbit kan juga terdiri dari banyak divisi dan karyawan.

Lah terus kalau penulis berkualitas gak suka medsos-an, piyeeee?

Waduh iya ya, saya juga bingung jawabnya hahahaha.

Gambar : techgirl.co.za (kukunya cantik banget, so pasti bukan kuku gue! Hahaha)

 

Karena jujur saja, sebelum ada medsos pun kecenderungan orang untuk BELI BUKU ya tidak dahsyat-dahsyat amat. Nih ya, saya punya pengalaman juga jualan tas brand tertentu dari luar negeri pas lagi mudik.

Ampun ya Bu Sri *ciyumTanganLagi*. Ini dulu lho Buuuuuuu, mohon jangan ditagih pajaknya , sekarang saya sudah kapok.

Saya sudah siapin mental nih, kalau harus angkat bambu runcing lagi mengingat pengalaman jualan buku hahaha. Tapi berhubung kalau jualan tas keuntungannya menggiurkan, ya kenapa tidak dicoba?

Aih gilak, belum juga seminggu bergerilya iseng nawarin ke orang-orang terdekat saja sudah harus setop PO saking banyaknya yang tertarik . Sampai harus cancel beberapa PO lebih karena kopernya tidak muat lagi hahahaha.

Jangan nyinyir yaaaaa. Terimalah kenyataan itu apa adanya . Orang-orang emang lebih suka beli barang-barang lain selain buku. Buku belum menjadi kebutuhan utama.

Apalagi sekaraaaaaang. Sudah banyak wadah lain untuk membaca apalagi e-book gratisan kualitas oke sudah bisa didownload SECARA LEGAL di banyak tempat .

As for me, menulis memang bukan penghasilan utama. Hasilnya tidak seberapa sementara waktu lumayan terkuras. Anak udah 3 nih sekarang *benerinOtot*. Merantau di luar tanpa tangan ketiga.

Gambar : va-mom.com

Suami cari-cari cara biar kegiatan menulis ini tetap ada hasilnya secara materi meskipun cuma receh. Karena biar berkelanjutan harus ada timbal baliknya kan, ya. Jaminan sustainability terbaik ya kayaknya mah duit yak hahahaha.

Dulu rajin kirim-kirim ke majalah. Kalau dihitung lumayan itu karena saya fokus ke tulisan traveling.

Tulisan traveling honornya bisa sampai jutaan kalau di majalah-majalah bagus asalkan foto-fotonya keren. Saya menulis, suami motret. Ealah, sekarang media cetak sedang mengalami kemunduran .

Total tulisan yang pernah dimuat di media cetak itu ada puluhan tulisan. Sesekali bikin fiksi. Tapi sekarang bikin fiksi saya sukar berkonsentrasi. Karena dari pagi sampai malam diburu-buru sama wajan, diaper, cucian kering, lantai kotor, peer anak-anak, dan seterusnya dan seterusnya.

Saya sudah tidak terpikir menerbitkan buku lagi. Karena rasanya tidak sebanding dengan waktu yang dikorbankan .

Terus kita juga coba adsense di blog. Saya terus-terusan belajar SEO. Cobain vlog juga akhir-akhir ini. Karena suami saya senang banget traveling. Dia ngumpulin video segitu banyak tapi gak punya waktu buat mengedit. Sayang kan?

Tapi saya tetap rutin menulis di blog .

Memang zamannya sudah berubah banget, ya. Jangan putus asa buat teman-teman penulis. Sekarang situs-situs banyak yang butuh content writer dengan honor yang tidak kecil.

Beberapa situs besar juga menerima tulisan dari penulis lepas dengan upah yang lumayan banget. Malah ada situs yang menerima naskah novel, lho. Cobak itu digoogling .

Jadi ghost writer juga bisa. Penulis cerita hantu gitu? Hahaha. Googling sana! .

Menulis-menulis di akun medsos masing-masing juga oke sajalah, why not? . Cuma memang agak challenging kalau mau dikonversi ke rupiah, ya, hehehe.

Yah intinya saya juga tidak tahu sih harus menghibur apaan hahahaha. Basi juga kalau mau bilang yang penting amalnya, yang penting pesannya nyampe bla bla bla. Karena namanya manusia biasa ya, masa iya bisa terus-terusan berpikir bak malaikat model begitu? .

Apalagi kalau yang menjadikan profesi ini sebagai sumber penghasilan utama. Memang pintar-pintarnya kita menyesuaikan diri dengan perubahan zaman.

Apa pun kegelisahan itu, jadi ingat quote kakak sulung saya di buku skripsinya, “Janganlah kamu berputus asa. Kalau pun berputus asa, berusahalah dalam keputusasaan itu.”

.

4 comments
  1. amazing… memang perlu konsistensi dalam menjalankan dan meraih cita cita

  2. Jihan, uni ikutan PO tas-nya dong

    1. Udah gak jualan gituan Uni hehehehe.

  3. Harus terus ngikutin perkembangan jaman yah mba. Tapi jujur deh menurut aku profesi nulis yg paling bertahan mau kayak gimanapun teknologi dan trendnya. Selalu ada hal yg harus dituliskan. Tinggal medianya aja yg berubah zaman.

    Btw vlognya apa mba. Mau dong follow-followan. 😘

Comments are closed.