Laki-laki, Suami, dan Bapak

Walau tak pernah bermukim di daerah asal kedua orang tuanya, suami saya dibesarkan dalam suasana “Minang yang kental”. Ada segregasi yang tajam antara “tugas Ibu” vs “tugas Ayah” dalam urusan rumah tangga dan mengurus anak. Setidaknya dari kehidupan sehari-hari mertua saya, itu tergambar dengan sangat jelas.

Ada yang bilang, ini sih budaya orang Sumatera pada umumnya. Tapi kayaknya secara umum ini budaya ketimuran, ya. Di Asia yang begini-begini mah wajar hehehe. Jangan heran kalau di Indonesia pada khususnya, pasti masih banyak yang ribet kalau misalnya melihat bapak-bapak ngurus anak tanpa istri.

Baca : Ayam Kremes (Ayah Muda Keren Bikin Gemes)

Macam meme yang tempo hari ramai. Ada embak-embak melihat seorang suami sibuk ngurus anak sementara istrinya sibuk belanja, si embak tetiba ingin berbisik ke si suami, “Mas, punya istri 2 itu boleh, lho!”

Menurut saya sih ini termasuk sindiran tajam karena budaya ketimuran kita yang selalu ngotot, anak ya harusnya diurus ibunya, laki-laki mah harusnya cari duit saja. Titik. Belum banyak ruang dalam budaya “ketimuran” kita untuk menerima bahwa ada lhoooooo rumah tangga yang di mana suami dan istri bersedia berbagi tugas dalam HAL APA PUN ;).

Pernah ada tulisan tentang sepasang suami istri di mana istrinya yang bekerja penuh dan suami lebih banyak di rumah, itu nyinyiran dari komentarnya dahsyat bener hahaha.

Ada yang menghina si suami yang tidak paham tanggung jawab kepala keluarga. Padahal suami kerja juga. Cuma ya kebetulan suaminya pekerja lepas atau freelancer jadi memang tidak perlu setiap hari keluar rumah. Belum lagi sekarang banyak bisnis/pekerjaan yang tetap leluasa dikerjakan dari dalam rumah kan? Well, who knows lah.

Sampai ada yang bilang, “Mereka kan muslim, ya. Apa istrinya enggak takut masuk neraka?”

Piye toh masuk neraka? Sang istri bekerja kan juga untuk membiayai kebutuhan keluarga dong. Untuk kehidupan keluarga yang lebih baik dan seharusnya pasangan tersebut sudah mempertimbangkan plus minus segala macamnya. Itu tergantung niat masing-masing saja mereka bekerja untuk apa. Emang situ Tuhan bisa baca niat orang :p.

Tapi tolong jangan dibawa ke titik sebaliknya juga yaaaaa. Again, ini masalah domestik tiap rumah tangga. Suami saya tipe yang memang tidak suka ada 2 matahari dalam sebuah rumah tangga :). Ya kebetulan dapatnya juga tipe yang kayak saya yang memang lebih senang kongkow-kongkow di rumah hahaha :p.

Saya kangen juga ingin bekerja kantoran kayak dulu. Tapi ya memang menikmati juga sih kondisi sekarang. Apalagi sekarang saya lagi suka sekali memasak dan praktik-praktik resep. Buat bikin vlog sih sebenarnya hahaha. Saya kebetulan juga punya hobi menulis yang bisa lah mengais uang jajan dikit-dikit dan bisa dikerjakan full time dari rumah thok :D.

Dan suami sangat mendukung soal ini. Misalnya dia ikut pontang panting dulu jualin buku saya yang terbit indie. Kayaknya lebih semangat suami daripada saya. Padahal hasilnya enggak seberapa. Hanya remah-remah dibanding gajinya dia di kantor hihihi. Tapi itu salah satu bentuk supportnya kepada saya <3.

Suami saya memang selalu ngajarin untuk menghargai penghasilan dan harus kerja keras kalau mau berhasil. Harus mau capek harus mau berkorban. Sementara saya tipe yang agak-agak kurang persisten ya kadang-kadang hehehe.

Tapi jangan bayangin suami saya tipe bapak-bapak yang benar-benar pulang kantor langsung lempar tas dan minta dipijitin segala macam hahaha. Untuk memasak dia memang anti banget kecuali kalau saya sakit atau pas ngidam tempo hari. Tapi kalau urusan gonta ganti pampers, mandiin anak, nyuapin anak, ikut beberes rumah, suami saya SELALU siap dimintai bantuan :).

Sementara urusan memasak saya memang tidak keberatan kalau dihandle 100% sama saya :D. Terus terang, suami pernah masakin buat saya tapi saya kan orangnya ya tipe-tipe A bilang A, B bilang B, gitu ya. Jadi, masakannya enggak enak ya saya bilang enggak enak, dese ngambek hahaha.

So far, 80% dari kehidupan pernikahan kami,  dihabiskan di luar Indonesia. Memang sih waktu di Jeddah masih mudah sekali beli-beli makan di luar atau menggunakan jasa asisten rumah tangga. Saya sempat pakai asisten rumah tangga 3x selama 4-5 bulan di Jeddah. Dari hamil tua sampai melahirkan.

Kodrat laki laki
BBQ-nite @Jeddah, October 2011

Terus pindah ke Ireland. Di Ireland yang merupakan bagian dari wilayah Eropa Barat, gaya hidupnya ya tentu beda banget dengan budaya Asia kita. Di sana kehidupan serba mandiri. Mau tak mau, berbagi tugas dalam kehidupan rumah tangga sangat umum.

Tidak sedikit lho di sana yang kebagian tugas anter jemput anak sekolah dan berbelanja itu malah para suami. “Ayam Kremes” bertebaran di mana-mana hahaha :p. Istrinya yang bekerja full time :D.

Suami saya jadi makin aktif membantu urusan rumah tangga hehehe. Walau ya urusan memasak hampir 100% tanggung jawab saya. Kalau yang lain-lainnya dia selalu mau bantuin. Namanya rumah tangga ya, tidak selalu mulus. Kadang juga ada berantem-berantemnya masalah gini-ginian hehehe.

kesetaraan gender
Gambar : pixabay.com

 

One thing for sure, kita tidak boleh lupa ya, budaya kita sama budaya satu generasi di atas kita jelas berbeda. Misalnya saya dan suami vs mertua dan orang tua saya. Baik Mama (ibu kandung saya) dan Mami (ibu mertua) masih memegang teguh prinsip “istri harus melayani suami dalam banyak hal”.

Mama saya waktu ke Irlandia rewel bener melihat saya kalau nyiapin makan tuh langsung templokin semua ke dalam piring hahahaha. Maunya kan disiapin di atas meja, nasi dalam mangkok, dan lauk-pauk lengkap dalam wadah masing-masing. Ribet amat, banyak-banyakin cucian piring aje :p. Apalagi ibu mertua hihihi.

Ya, ya, ya kita tahu zaman sudah berubah. Tapi ada hal-hal yang memang tidak bisa kita ubah semudah itu.

Orang tua kita sudah berumur dan tentu sudah sukar diubah pandangannya :). Jadi, tidak ada salahnya kita yang muda-muda ini yang mengalah ;). Toh juga tidak tiap hari kan?

Waktu mama ada di Irlandia, ya saya biarin deh Mama yang ngatur-ngatur dan saya nurut saja kalau disuruh nunggu makan kalau suami belum pulang :p. Padahal mah biasanya kalau lapar ya makan duluan, bodo amat hahaha. Di rumah ibu mertua atau di depan beliau juga saya tidak mungkin lah nyuruh-nyuruh suami cebokin anak yang habis pup hahahaha :p.

Pasti sebisa mungkin saya jaga perasaan ibu mertua dengan berusaha mengerjakan hal-hal seperti “itu” tanpa bantuan suami. Walau saya rasa bapak ibu mertua pasti sudah paham ya kebiasaan kami di luar negeri hidup mandiri tanpa tangan ketiga seperti asisten rumah tangga, kerabat segala macam :). Tetap saja, saya tetap menghindari meminta tolong suami untuk hal-hal yang “begitu-begitu” lah :D.

Mau nyuapin anak pun, suami saya biasanya ngotot pengin ya walau depan ibu bapaknya.  Tapi kalau saya lagi enggak ngapa-ngapain, pasti saya yang ambil alih nyuapin anak. Kecuali saya-nya lagi cuci piring atau beres-beres rumah (kebetulan pas mudik kemarin, di rumah Mami lagi enggak ada asisten rumah tangga), ya suami yang handle anak :D.

Kadang saya juga memposisikan diri sebagai ibu dari anak laki-laki 😀. Koleksi bujang ada 3 nih hahaha. Walau sudah terbiasa hidup “modern” dalam artian segregasi tugas laki-laki dan perempuan dalam rumah tangga tidak setajam di generasi orang tua kita, saya tetap enggak tahan bayangin entar lihat anak saya pontang-panting ngurusin anak sementara bininya kagak ngapa-ngapain hahaha. At least, jangan depan mata eike ya my future in laws hihihi.

Anak-anak laki-laki saya sih sudah digembleng sejak dini buat handle urusan rumah tangga. Boy1 dan Boy2 sudah diajarin menyapu dan beres-beres rumah :D. Sudah rutin mereka bantuin saya tiap hari dalam urusan beginian ;).

Tapi sudah hukum alam ya, semandiri apa pun kita mendidik anak laki-laki kita, tetap saja our boys will be our boys. Belum tentu saat dewasa nanti kita tahan melihat mereka disuruh-suruh sama bininya depan mata kita, yes? Hahahaha.

Makanya, ladies … don’t do that to your Mom-in-law. What you reap is what you sow, yes? 😉

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *