Perbedaan Antara Kontraksi Palsu dan Kontraksi Asli Menjelang Kelahiran

Tidak sedikit yang penasaran terhadap perbedaan antara kontraksi palsu dan kontraksi asli menjelang kelahiran terutama saat kehamilan pertama. Kan, kan, kan? Hehehe. Dari 3x hamil, pas hamil pertama memang yang paling jungkir balik. Ya namanya juga kehamilan pertama, ya :D.

Topik ini sebenarnya sudah pernah dibahas di tulisan lama, “Kontraksi Palsu di Kehamilan Trimester Ketiga”. Tapi gara-gara postingan itu, jadi banyak ditanya-tanya secara japri soal ini. Duile, kayak saya yang udah beranak ratusan kali aja :p. Berasa dokter kandungan ya, Ceu? hahaha.

Kontraksi palsu vs kontraksi asli perbedaannya ada di frekuensi, durasi, dan tingkat rasa sakitnya. Tapi wajar dong kalau hamil pertama masih bingung. Kan belum pernah merasakan kontraksi asli maupun palsu. Jadi pasti deh bawaannya googling mulu :p.

It’s oke ya ^_^. Masa googling aja kena judge sih? ;). Enggak apa-apa kan belajar dari pengalaman ibu-ibu yang lain. Karena kadang, teori tuh suka beda dengan praktik di lapangan. Sering juga membaca pengalaman lain bikin kita lebih siap. Walau harus diakui, ada juga pengalaman ibu-ibu lain yang justru bikin kita keder.

Btw, kenapa sih harus ada kontraksi-kontraksi palsu endebre-endebre begini? Duh hare geneee ya masih bahas KW-KW an. Jangan salah lho, kontraksi palsu justru ada for our own good ;).

Gambar : thestorkmagazine.com

Kontraksi palsu saat jelang proses kelahiran bisa dianggap sebagai “latihan” untuk menghadapi kontraksi beneran nanti. Kontraksi asli pada dasarnya memang sakit. Sakitnya bisa dijabarkan secara ilmiah kok. Dan bukan berarti kita tidak bisa menahannya. Karena rata-rata tidak kuat sakit itu katanya lebih banyak ke beban psikologis. Komplikasi beda cerita lagi lho ya ;).

Untuk menghadapi kontraksi asli sendiri sudah banyak pilihan yang ditawarkan secara medis. Bisa pakai epidural, ILA, dsb. Tapi ingat, pastikan untuk menanyakan secara komplit kepada bidan/dokter/perawat mengenai resiko penggunaan masing-masing alat bantu ini.

Enggak usah gengsi minta epidural atau ILA kalau enggak kuat mah hehehe. Saya sendiri, 3x melahirkan, memilih cara normal spontan tanpa bantuan, karena memang sikonnya cocok dan dokter/bidan mengizinkan :).

Kalau kita mendadak kontraksi tanpa ada “peringatan” apa-apa sebelumnya kan bisa panik gitu ya hahaha. Tidak ada persiapan. Tidak kebayang rasanya kayak apa. Nah, kontraksi palsu yang mulai rutin menghampiri saat jelang kelahiran membantu kita untuk “membiasakan diri”, syukur-syukur melatih mental.

Uniknya, walau sudah merasakan di kehamilan pertama, pas hamil kedua pun saya tetap deg-degan sih hehehe. Tapi karena sudah ada pengalaman, tidak se’puzzling’ hamil pertama. Jadi, begitu kontraksi beneran datang, saya sudah tahu. Senang malah karena waktunya melahirkan sudah datang ^_^.

Hamil ketiga juga mirip. Tetap dag-dig-dug serrrrr. Tapi begitu kontraksi asli, lebih optimis jadinya.

Seperti disebut awal, perbedaan utama kontraksi palsu vs kontraksi asli ada di 3 hal utama :

Kenangan hamil anak ke-2 di Jeddah, tahun 2010-2011

1- Frekuensi. Kontraksi palsu datangnya sesekali. Tidak tentu frekuensinya. Sementara kalau kontraksi asli lebih “berurutan”. Misalnya 5 menit sekali dan seterusnya. Jadi kalau berasa perut kenceng dan mulas sakit, mulailah berhitung dalam hati ;).

2- Durasi. Kontraksi palsu biasanya tidak lama. Sudah gitu, kadang tidak berkelanjutan. Lanjut pun waktunya tidak tetap seperti yang dijelaskan di poin 1 di atas. Sementara kontraksi asli lebih teratur. Jadi seperti mulas selama 30 detik. Nanti berhenti kok. Santai saja. Kontraksi itu bukan proses sakit terus menerus. Ada jedanya ;).

Nah, kalau yang kontraksi asli ini, durasi 30 detik per 5 menit misalnya.

3- Tingkat rasa sakitnya. Duh, apa ya istilah pasnya hahaha. Maksudnya kalau kontraksi palsu  itu biasanya menghilang atau mereda kalau kita berganti posisi. Kadang sakitnya sama ngerinya hahaha, tapi kalau kontraksi asli kita mau muter-muter kayak apa juga sakitnya tidak berkurang.

Tapi tidak berarti rasa sakti ini tidak bisa ditanggulangi ya ;). Bisa kok. Bisa! ^_^

Walau begitu, tetap harus diingat ya Buibu, tetap aktif berkomunikasi dan mengambil keputusan berdasarkan hasil diskusi dengan tim medis/perawat/bidan/dokter kandungan kita :). Saya tahu, yang gini-ginian kadang kejadiannya beda-beda di tiap ibu bahkan ibu yang sama di kehamilan berbeda juga pengalamannya suka beda.

Ingat, Google bukan segalanya hehehe. Hanya sebagai alternatif informasi saja :). Jangan lupa juga percayakan kepada kemampuan diri sendiri. Jangan juga terlalu gimanaaaa gitu. Sorry to say, itu fenomena terkini juga, kalau proses operasi itu mendatangkan keuntungan materi yang lebih kepada tim medis ;). No offense ya.

Pokoknya jangan keras kepala enggak jelas tapi tetap idealis jangan sampai terbawa arus “kapitalisasi” yang sayangnya juga sudah merambah ke dunia medis :(. Again, no offense ya ^_^ *sungkem*.

Santai sajalah. Ini baru melahirkan. Melahirkan itu bukan “akhir perjalanan” :p. Masih banyak kerumitan yang akan menunggu dan masih panjaaaaaang perjalanan hehehe ;).

“A grand adventure is about to begin.”
– Winnie the Pooh

Kehamilan ke-3 sempat melewati beberapa minggu di Swiss