Did The Captain of The Titanic Cry?

Hari itu, 14 April 1912, sebanyak 4x peringatan akan bahaya gunung es di sepanjang jalur yang mungkin akan dilewati diterima oleh Titanic. Peringatan terakhir datang di pukul 22.30.

Namun, segala peringatan belum sanggup menghentikan takdir Titanic di malam itu. Pukul 23.40, Titanic menabrak bongkahan gunung es.

Sesaat setelah tubrukan terjadi, kapten kapal, Edward J Smith bergegas menuju anjungan ke Ruang Kemudi Utama. Berdiskusi bersama awak kapal, hadir pula Thomas Andrews, sang arsitektur kapal.

Setelah mengecek kondisi kapal, mereka berdua langsung paham, “Kapal akan tenggelam.”

Kapten Smith juga tahu bahwa jumlah kapal penyelamat hanya cukup untuk setengah jumlah penumpang. Diinstruksikan agar awak kapal sebisa mungkin tidak membuat penumpang panik.

Kapten Edward John Smith, pelaut senior yang sudah berkali-kali menahkodai kapal-kapal besar milik White Star Line, perusahaan besar yang mengawali kehadiran RMS Titanic.

Di usia 62 tahun, sang kapten dipercaya untuk memimpin Titanic menjalani pelayaran perdananya dari Southampton menuju New York di tanggal 10 April 1912.

Secara personal, kapten menyapa seluruh penumpang kelas 1 di pelayaran pertama Titanic. Kemampuannya yang mumpuni sudah dikenal luas oleh hampir seluruh penumpang kelas 1.

Gelarnya sebagai “Safe Captain” tidak mampu mengelakkan Titanic dari musibah besar di malam itu. Pesan terakhir yang diterima dari RMS TItanic datang di pukul 01.45 dinihari, satu pesan singkat “CQD ….”

Kapal lain ada yang merespons, sekitar pukul 2 dinihari, “Are you still there, Titanic?”

Tapi tidak ada pesan apa-apa lagi.

Gambar : pixabay

Gambar : pixabay

Pukul 02.20 malam, Titanic, yang dibuat dengan mengerahkan belasan ribu pekerja dan memakan waktu 26 bulan hingga selesai, tenggelam ke dalam Laut Atlantik tak bersisa. Bersamanya, lebih dari 1500 penumpang kapal ikut pergi termasuk Kapten Smith dan sang arsitek Thomas Andrews.

Dari saksi mata terakhir, Kapten Smith terlihat menuju Ruang Kemudi Utama di detik-detik tenggelamnya Titanic dan tidak pernah terlihat keluar dari sana. Hingga kini, jasadnya tidak pernah ditemukan.

Entah apa yang dilakukan beliau di sana. Mungkin mengerahkan sisa-sisa kemampuan terakhirnya untuk mempertahankan agar kapal tetap berada di atas permukaan air. Atau mungkin menumpahkan kesedihannya karena tidak kuasa menyelamatkan seluruh penumpang hidup-hidup.

Mungkin hal ini yang memberikan inspirasi kepada sebuah grup musik untuk mengabadikan hal ini dalam sepenggal lirik lagu,

“Whatever happened to Amelia Earhart?
Who holds the stars up in the sky?
Is true love just once in a lifetime?
Did the captain of the Titanic cry?”

Hasil investigasi hanya berdasar kepada bukti-bukti yang berhasil ditemukan. HIngga kini, para ilmuwan terus mencari tahu apa yang seebenarnya terjadi di malam itu.

Walau begitu, nama sang kapten ikut disebut-sebut sebagai penanggung jawab musibah. Ya resiko menjadi pemimpin ya .

Sang kapten dianggap lalai karena membiarkan Kapal Titanic berlayar di kecepatan hampir maksimum di malam itu. Itulah salah satu alasan mengapa kapal tidak sempat menghindari gunung es walau sudah mati-matian banting setir saat salah satu awak melihat penampakan gunung es tadi.

Kabar tenggelamnya Kapal Titanic menggemparkan dunia beberapa hari kemudian. Termasuk di kota kelahiranya, Kota Belfast di Irlandia Utara.

Seluruh pengerjaan Kapal Titanic memang bertempat di Belfast hingga selesai di tanggal 31 Maret 1912.

Di tahun 2005, sebuah museum yang didedikasikan kepada salah satu kapal terbesar di masanya ini dibangun di Belfast. Museum yang kemudian diberi nama Titanic-Belfast dibuka secara resmi di tanggal 31 Maret 2012 untuk mengenang 100 tahun RMS Titanic.

Ke sanalah kami sekeluarga di liburan akhir tahun 2016 kemarin.

Sayang sekali ya dalam museum sebenarnya tidak boleh merekam video. Hanya boleh foto-foto huhuhu. Makanya rekaman dalam museum agak-agak gimana gitu hihihihi. Merekam seadanya saja, sedapatnya, karena banyak petugas mondar-mandir .

Buat penggemar sejarah pasti seneng deh muter-muter Museum Titanic Belfast Irlandia ini ^_^. Tidak hanya bercerita tentang tenggelamnya kapal fenomenal ini. Museum juga berkisah tentang masa lalu Irlandia sebagai salah satu pusat industri di Eropa di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20.

Replika Titanic lengkap dengan ruangan-ruangannya juga ada dalam museum ini. Potret kesenjangan kaya vs miskin di awal abad ke-20 di Eropa. Siapa sangka ya, Eropa Barat yang kini kayaknya paling adil sejahtera dulunya juga menyimpan banyak keperihan *tsaaaaah* . Bentar lagi bikin puisi .

Di masa itu, Amerika Serikat adalah “harapan baru” bagi sebagian mereka yang kurang beruntung di wilayah Eropa dan sekitarnya. Berbondong-bondong orang datang untuk menumpang Titanic menuju tanah baru tempat mereka ingin menambatkan mimpi akan kehidupan yang lebih baik.

Juga memotret pedihnya kehidupan buruh di masa-masa itu . Gaji yang sangat minim, jam terbang sangat tinggi, beban kerja berat dan sistem keamanan yang sangat rentan . Mereka bahkan tidak boleh sekadar bersantai meminum teh hangat saat jeda bekerja.

Proses pembuatan Kapal Titanic

Proses pembuatan Kapal Titanic

Kalian perlu banget belajar tentang kehidupan buruh saat itu, karena atas nama peningkatan taraf hidup merekalah, Karl Marx menulis buku-buku tentang Marxisme . Bukan untuk menghancurkan Islam atau agama apa pun keleeeees hahahaha .

Karl Marx mengkritik kapitalisme. Jadi, sebenarnya komunis itu lawannya kapitalis.

Nah, paham marxisme inilah yang menyulut semangat patriotik beberapa tokoh dunia untuk mempraktikkan cita-cita Karl Marx. Komunisme itu praktik politik yang banyak mengadopsi paham Marxisme . Jadi tolong bedakan atheisme vs komunisme .

Semoga bermanfaat infonya ya teman-teman. Kalau masih ada waktu senggang dan ada kuota, bolehlah sekalian diceki-ceki videonya hehehe . Yang link di atas itu tuh, Museum Titanic Belfast Irlandia

Selamat pagi teman-teman di Indonesia . Have a nice tuesday .

Kabar-kabari dari Texasnya entar dulu yaaaa, pucing liyat kelakuan Pak Presiden baru nih hhahahaha . Sudah pengin nulis  banyak tentang Texas. Tapi kondisinya kayak gini ya gimana ya. Takut salah nulis :(.

2 thoughts on “Did The Captain of The Titanic Cry?

Comments are closed.