Langkah Langkah Bayi Menuju Resolusi Berat Badan Ideal

Pernah membaca “7 Habits for Highly Effective Teens”? Ini beda lho sama buku satunya lagi yang versi “dewasa”nya.

Kalau versi “for Highly Effective People” itu karangan Stephen Covey. Yang versi “abege”nya ditulis oleh sang anak, Sean Covey. Terjemahan bahasa Indonesianya bagus banget deh . Asyik banget dibacanya.

Nah, di tiap akhir bab, Sean memberikan yang namanya “Langkah-langkah Bayi”.Semacam step by step untuk melatih kebiasaan/habit biar benar-benar menancap dalam keseharian kita.

Langkah-langkah bayi = resolusi-resolusi kecil nan ringan-ringan dan tidak sulit.

Memiliki berat badan ideal –> salah satu resolusi paling populer dari tahun ke tahun hahaha. Apalagi buat perempuan.

Sering banget rasanya membaca kegagalan resolusi ini dari banyak teman-teman. Mereka sih biasa-biasa saja rata-rata. Malah jadi bahan becandaan.

Tapi dalam hati kecilnya pasti tetap penasaran. Ayoooo ngaku hahaha.

resolusi menuju berat badan ideal perempuan

Gambar : pixabay.com

1. First thing first ya, kita harus sepakat dulu bahwa kelebihan berat badan (yang diukur dengan standar kesehatan dong ya bukan standar peragawati profesional hahaha) berpotensi meningkatkan resiko penyakit buat tubuh kita .

Jadi berhentilah mencari pembenaran dengan, “Biar gendut yang penting sehat” . Namun, tidak selalu berarti kalau gendut pasti tidak sehat. Jangan logical fallacy yaaaaa .

2. “Saya sudah tua, enggak mungkin lah. Memang ini sudah nasib. Sudah potongannya memang begini. Takdir. Ngana dan nganu.” Wrong! Kebiasaan kalian (yang mungkin negatif) itulah yang kalian tuduh sebagai takdir .

Lebih baik mengaku saja, tidak perlu secara terbuka, dalam hati masing-masing saja, “Saya itu bisa kok untuk punya berat badan ideal. Tapi ya gitu deh .. anu… susah mengubah kebiasaan.”

Kalau sudah begini, harapan untuk berubah masih ada ketimbang berlindung di balik alasan, “Ya emang enggak bisa diapa-apain lagi.”

Berhenti membohongi diri sendiri, yes? 😉

3. Jadikan prioritas. Prioritas beneran. Kesehatan itu mahal sekali harganya. Memangnya ada ya yang jual “Jantung Baru”. Kalau kita punya masalah dengan ginjal, pencernaan, segala macam, ada ya toko online yang nawar-nawarin, “Ginjal barunya Sis. Model terbaru, nih.”

Gambar : pixabay.com

Gambar : pixabay.com

Transplantasi itu selain biayanya yang fantastis, ahlinya masih sangat sedikit, ya organnya juga suliiiiiiiit sekali mendapatkannya.

Btw, ini saran dari saya BUKan versi ahli gizi dan semacamnya ya hahahaha. Jadi, kalian boleh tidak percaya dan di-skip saja hihihi. Ini murni pengalaman pribadi saja.

Mitos bahwa kalau sudah punya anak ya pasti gendut. Atau ada orang yang ditakdirkan kurus sampai tua walau apa pun yang terjadi.

Kita enggak ngomongin bentuk badan, ya. Itu memang bagian dari takdir. Fokus ke KESEHATAN saja, yuk. Berat badan kurang apa iya jaminan sehat? Tuh suami saya terhitung langsing, tapi kolesterolnya dahsyat . Tapi sekarang sudah berada dalam penanganan “bu dokter” yang tepat hahaha .

Soal berat badan, sederhananya begini, kalau dulu kalian pernah kurus terus tahu-tahu sekarang gendut jangan nyalahin anak melulu kelesssss . Kebiasaan kalian yang berubah, sayangnya menjadi lebih buruk, dikombinasikan dengan fungsi metabolisme yang menurun .

Menuju berat badan ideal perempuan

Memang deh menyalahkan orang lain/lingkungan/atau siapa pun selain DIRI SENDIRI itu memang lebih asoy. Usaha/bisnis pribadi kita yang misalnya sedang redup pun kok yang salah ya Jokowi #eh hahaha :p.

Informasi penting lainnya, pola makan punya pengaruh yang jauh lebih besar terhadap kontrol berat badan ketimbang OLAH RAGA. Bukan berarti olahraga tidak penting sama sekali yaaaaaaa . Again, jangan logical fallacy melulu .

Pola makan pengaruhnya sekitar 70-80 persen. Olahraga 20-30 %. Apalagi jika usia sudah di atas 30 tahun. Intinya, kalian mau olahraga 10 jam seharii kalau makannya enggak dijaga ya efeknya 20-30% itu saja .

Kesalahan resolusi karena kita sering mengharapkan semua kejadian dalam satu momen luar biasa. Semacam “Booom”, bangun di pagi hari dan berkaca, “Ya ampuuuuun, itu yang di cermin gue apa Gwen Stefani, sih?” #eaaaa.

Mbak Gwen ini ya, saya baru tahu kalau umurnya sudah 46 tahun. Ya ampyun, 46 tahun!!! *pingsan*. Perutnya itu lho Kaaaaak .

SEring banget membuat resolusi tidak masuk akal macam, “Saya bertekad tidak akan makan gorengan seumur hidup!!!” Hahaha. Kebiasaan makan gorengan bisa 3-5 x sehari mendadak bikin resolusi ajaib begini ya kemungkinan gagalnya tinggi .

“Saya bertekad tidak akan makan nasi putih selama sebulan penuh!” –> mungkin berhasil. Tapii bulan kedua, didera rasa lapar berlipat-lipat, makan nasi putihnya malah kayak orang gila. Berat badan pun naik lagi. Bahkan melebihi berat awal. Nangis kaaaaan hihihi.

Gambar : pixabay.com

Gambar : pixabay.com

Jangan memanipulasi rasa lapar . Selain menyiksa, justru efeknya negatif .

Mulai dengan kebiasaan ringan-ringan saja dulu. Tiap minggu bikin daftar yang isinya minimal 3 resolusi ringan-ringan. Pastikan kita MAMPU menjalaninya tanpa harus dipaksa dan membohongi diri sendiri .

Untuk 1 minggu/ 1 bulan pertama misalnya (contoh aja yaaaa, silakan dibikin sesuai kebutuhan masing-masing) :

1. Dalam satu hari hanya ngemil 3 potong gorengan secara total. Tidak boleh lebih! –> ini misalnya kalau sudah terlalu biasa ngemil gorengan pagi dan sore. Kalau ditotal-total bisa lebih dari 10 potong sehari hihihi.

2. Minum air putih 8 gelas sehari. Tidak boleh kurang. Percaya deh, banyak orang yang masih tidak sadar kalau jumlah konsumsi air putihnya kurang dari 8 gelas 🙂.

3. Makan sayuran segar (tanpa dimasak) MINIMAL satu kali sehari. Misalnya ditambahkan ke makan siang atau makan malam.

4. Kalau sudah biasa minum kopi/teh tiap hari. Kurangi menjadi 2 hari sekali. Ini memang masih menjadi perdebatan. Ada yang memang sakaw kopi dan merasa KOPI adalah segalanya (ada lho yang merasa tidak sanggup ngapa-ngapain kalau tidak minum kopi dalam sehari hehehe).

Cari langkah bayi lainnya kalau kalian merasa minum kopi segelas sehari tidak punya efek apa-apa .

Pilih minimal 3. Ringan, kan? Disiplin selama satu minggu. Enggak usah aneh-aneh dulu.

Kalau bisa dijalankan baru dilanjut lagi dengan yang lebih “berat”. SEkali kalian bisa melewati tantangan ringan ini, kalian jadi lebih percaya diri.

Rayakan “kemenangan kecil” ini tiap minggu . Tapi ingat ya sekali berhasil melewati langkah bayi, kalian tidak mundur lagi . Khilaf sesekali bolehlah. Sesekali yaaaaaa, bukan sekali sehari hahahaha.

Minggu ke-2 dan seterusnya, aturan minggu-minggu sebelumnya YA TETAP BERLAKU. Makin lama rulenya makin banyak tapi kita tetap santai karena menjalaninya sedikit-demi sedikit.

Ya disebut langkah bayi karena analoginya memang berasal dari anak bayi yang baru belajar berjalan. Mereka kan tidak ujug-ujug dari lahir eh tetiba lari-lari begitu saja hahahaha.

Tapi mulai dari menangis tiada  henti (hahahaha), belajar melihat, mengenali lingkungan dikit-dikit, tengkurap, duduk, merangkak … dan seterusnya. Tahu-tahu anaknya sudah besar dan tiba-tiba berkata kepada  kita, “Mah, aku rencananya pengin melamar seorang gadis. Menurut Mama gimana?” –> mamanya pingsan! Hahaha.

Btw, prinsip “langkah bayi” ini juga bisa berlaku buat resolusi-resolusi lainnya kok :). Anything.

Seperti pepatah Tiongkok zaman lampau yang satu ini :

“It is better to take many small steps in the right direction than to make a great leap forward only to stumble backward.”

Yuk, yuk,mumpung masih anget-anget nih hawa-hawa tahun baru. Challenge what your future holds, yes? ;).

Gambar : pixabay.com

Gambar : pixabay.com