Ayam Kremez

Jules terisak-isak sambil curhat, “I don’t want to be buried alone. Paige’ll be with her husband, and Matt’ll be with his new family, and I will be buried with strangers. I’ll be buried in the strangers singles section of the cemetery. Not that that is a reason to stay together. But it’s just, you know, a scary sidebar.”

Ben menyodorkan selembar tisu, “Let’s take that one off your plate right now. You can be buried with me and Molly. I happen to have space, okay?”

Sudah nonton film The Intern? Hehehe.

Saya baru tahu filmnya tadi pagi, suami yang cerita hehehe. Jadi, waktu baru bangun tadi, saya memperlihatkan video kantor tempat saya dulu bekerja pada suami saya.

the-intern

Then we were joking around, “Nih kantor barunya. Keren, ya. Duh kalau aku gak resign, sekarang aku udah jadi manajer kali Bang. Gak perlu pusing abang nyari kerja! You just stay at home with the boys. Nanti aku aja yang kerja di kantor.”

Saya suka becandain, “Coba gue masih kerja.  I can bring big bunch of money. Abang bobok-bobok aja di rumah.”

Suami sih nyenyir saja terus tahu-tahu dese cerita tentang film ini hahaha. Ampun, Bang! #tiarap :p.

Filmnya sendiri bercerita soal seorang intern, a senior intern, a super senior one hehehe, Ben (Robert De Niro). Menjadi intern di sebuah start up company yang CEOnya perempuan muda yang super sibuk extremely smart and super lincah, Jules (Anne Hathaway).

Jujur saya enggak nonton filmnya utuh. Karena saya sudah lama mempersiapkan tulisan Ayam Kremez ini cuma lagi nyari-nyari “punchline” yang pas #eaaaa hihihi. Saya rasa Jules dan Matt (suaminya) bolehlah kita jadikan salah satu contoh :p.

Gambar : pixabay.com

Gambar : pixabay.com

Jules seorang perempuan bekerja, very bright, super sibuk di kantor. Jadilah anaknya, Paige, dirawat sehari-hari oleh Matt, suami Jules. Matt tidak bekerja biar bisa konsen mengurus rumah dan Paige. Ya iyalah, di luar negeri enggak ada simbok dkk hehehe.

Tadi Jules curhat ke Ben soal Matt yang ternyata berselingkuh. Jules tidak ingin memberitahu Matt jika dia tahu soal perselingkuhan ini. Jules punya kecemasan yang lain.

Ayam Kremez istilah yang muncul untuk mengimbangi Macan Ternak, Mama Cantik Anter Anak ke Sekolah vs Ayah Muda Keren Bikin Gemez hahaha. Ada-ada saja.

Tapi di kota tinggal saya sekarang ini, dan saya rasa di banyak wilayah di negara-negara “mapan”/western countries, fenomena Ayam Kremez berkeliaran bareng anak-anak tanpa kehadiran istrinya adalah fenomena biasa. Kalau di Indonesia, waduh, ada papah-papah muda wara wiri ngurus anak tanpa bini pasti langsung digodain, “Poligami itu boleh lho, Mas!” Hahahaha.

Di sekolah anak saya, rutin banget ketemu beberapa Ayam Kremez –> kremez beneran boooo hahaha, untung suami kagak kalah kremeznya, harus langsung klarifikasi biar kartu ATM enggak disita hahaha. Ketemu di sekolahan pas nganter anak, eh papasan di supermarket pas lagi belanja, pulangnya ketemu lagi pas jemput anak hihihi.

Ada juga yang saban pagi dorong stroller keluar dari gedung apartemen. Paling saling menyapa sebentar dia pun ngacir pergi berdua saja dengan adek bayi dalam stroller. Rutin tiap hari. Siang-siang ngeliat dese masuk gedung dengan segabruk belanjaan. Dari kantong belanjaan nyembul sayur-sayuran semacamnya gitu hehe.

Belum tentu mereka tidak bekerja sama sekali, sih. Ada yang memang part timer. Jadi bisa bekerja fleksibel. Ada yang memang menjual jasa tergantung kebutuhan/order. Istri mereka biasanya bekerja full time menjadi pegawai toko, office girl di mal, dsb. Catet ya, pekerjaan seperti ini gajinya tetap oke banget untuk ukuran sini.

Karena di negara-negara maju, apalagi model Eropa-Australia-Kanada, gap gaji tidak terlalu jomplang hehehe. Bosan banget ya saya ceritain soal ini hehehe.

Hadeeeeh kalau di Jakarta sudah habis tuh bininya dinyinyirin habis-habisan. Syukur-syukur si Ayam Kremez bersangkutan kagak difoto-foto terus disebarin di medsos, “Manaaaaaa istrinya, manaaaaaaa… Perempuan macam apaaaaahhhh…” :p.

Etapi sebenarnya sudah ada juga lho pasangan model begini di Jakarta. Saya pernah kenal juga keluarga dengan “sistem seperti ini”. Walau sang suami tidak benar-benar full time di rumah, ada pekerjaan juga. Atau punya usaha yang bisa disambi dari rumah.

Satu  hal yang jelas, pengurusan rumah tangga dominan dipegang oleh suami yang umumnya menjadi tanggung jawab istri (well, setidaknya dalam kacamata “ketimuran” kayak kita-kita ini). Di luar negeri sih tidak ada simbok/nanny, jadi memang kelihatan banget peran suaminya.

Kalau di Jakarta masih bisa dibantu simbok/embak/nenek/eyang/tante dan lain-lain kali ya hehehe.

Saya kurang tahu sudah seberapa besar penerimaan masyarakat terhadap “pertukaran peran” macam ini di Indonesia. Ada yang punya datanya? Hihihihi.

Isunya membentang dari “seberapa jauh efek emansipasi perempuan bla bla bla”, “apa laki-laki benar-benar rela anu-anu-anu”, “menantang kodrat kah” dan seterusnya.

Tapi di film Intern masih kelihatan ya, di “dunia barat” pun hal-hal seperti ini masih menjadi tantangan tersendiri. Belum 100% terlepas menjadi hal umum. Masih bersisa tabu-tabunya dikit.

Jules malah takut kalau dia memilih konfrontasi secara terbuka, Matt malah akan ‘pergi’.

Menurut Jules, Matt pasti mudah menemukan pasangan kembali. Jules meradang sendiri,”I’m not easy.”

Gambar : pixabay.com

Gambar : pixabay.com

Jadi begini, Matt pun sebenarnya dulu juga bekerja malah kariernya lumayan. Tapi dia mengalah untuk Jules. Jules pun pede menjalani hari-harinya karena dia percaya kepada Matt.

Again ya, jadi perempuan emang repot hihihi.

Dalam kasus ini saja, malah Jules yang disisipin perasaan bersalah dan merasa “deserved”. Makanya dia sempat memilih mau meloloskan penggantinya saja dan ingin ‘step down’ dari perusahaan. Demi menyelamatkan rumah tangganya.

Berat ya menjadi perempuan seperti Jules. Kita ingin mempunyai keluarga -suami dan anak- tapi kita pun ingin “terbang tinggi” dan merasa keduanya sama pentingnya.

Tapi lihatlah, pasti kesenggol melulu kalau menjadi yang model begini. Jangankan adat ketimuran, di film ini saja yang jelas-jelas settingnya di negara yang konon paling liberal, masalah begini ternyata masih kejadian hehe.

Ish, enaknya jadi laki-laki :p. Cari uang buat keluarga dipandang hebat. Mau mengalah demi istri pun tetap dipuji-puji besar hati dan sebagainya.

Kita perempuan? Di rumah dinyinyirin, kerja juga dipelototin hahaha.

Saya pribadi kagum dengan model “Ayam Kremez” begini hehehe. Tentu tidak mudah kan mengorbankan ego alami laki-laki demi perempuan yang kita sayangi <3.

Hal lainnya lagi, kalau pun misalnya suami dan istri sudah sama-sama sepakat lantas bagaimana dengan tekanan lingkungan atau keluarga? Apalagi kalau di  Indonesia ya. Beuh, dua-duanya bisa dihajar habis-habisan tuh hahahaha.

“Istrinya egois amat!!”

“Dasar laki-laki lemah!!”

Gambar : pixabay.com

Gambar : pixabay.com

Kalau dalam keluarga saya pribadi, maksud saya antara saya dan suami ya mungkin so far terasa “nyaman” saja. Kita kurang tahu ya ke depannya hehehe. Semoga nyaman terus ya Bang ;).

Ini karena ya dia tipe “I’m a man and let me be the one.” Sementara saya memang yang enjoy aja bangun pagi wara wiri di dapur, ngurus anak di rumah, tentu sambil sambil bertempur di Facebook dong ya hahaha. Kayaknya saban Pilkada sama Pilpres, ribut melulu wall gue hahaha.

Soal keuangan suami cenderung hemat tidak macam-macam jadi kita punya investasi yang alhamdulillah “cukup” lah so far. Dan saya juga bukan tipe yang harus punya baju 2 lemari atau punya tas bermerek atau apalah-apalah.

Jadi tidak ada ‘beban’ tambahan hehehe.

Saya pernah kok berdebat dengan ibu saya soal kemandirian secara finansial. Ibu saya tidak suka “perempuan di rumah” hehehe.

Tapi bagaimana ya, probably because I trust him. Bukan percaya membabi buta gitu-gitu ya bahwa dia akan setia sampai mati bla bla bla. Tapi ya begitu deh, kami berdua merasa nyaman aja gitu :D.

Jangan dikira dia ngupil-ngupil aja pulang kantor hahaha. Ini luar negeri, Men! Kagak ada embak. Pulang kantor ya dia bantuin saya di rumah :p. Weekend dia yang nganterin anak-anakk berenang segala macam sementara saya ngupil di rumah hahaha.

Dia membantu anak-anak mengerjakan peer, do some laundry sometimes, bahkan tidak segan mengganti popok adek bayi.

Ya pada intinya balik lagi. Every family has its own rule, yes? :D.

Selama keduanya sepakat, let’s go on! Yang lain-lainnya bisa ‘menyusul’, yes? ;).