Keep Swimming, Keep Swimming ^_^

Rasanya belum lama saya dibuat geleng-geleng kepala dengan ide kampanye salah satu cagub DKI untuk Pilkada 2017 nanti. Melompat dari panggung boooo, hahahaha. Untuk apa, pikir saya.

Untul lebih jelasnya kita berikan nama-nama julukan ya buat para cagub hehehe :

Cagub urut 1 : si Ganteng
Cagub urut 2 : si Berprestasi/petahana
Cagub urut 3 : si Pintar

Saat awal pencalonan, si Calon Ganteng menjadi bahan “bully-an” dan hanya dianggap penggembira. Baru 2 bulan berlalu, hasil survey elektabilitas membalikkan semua fakta : si Ganteng merajai di hampir semua survey.

Pendukung Ahok tidak usah denial hahahaha. Memang iya begitu kok hasilnya .

Gambar : pixabay.com

Gambar : pixabay.com

Karena logika sederhana saya begini, si Berprestasi memang berkutat di isu yang sangat berat. Isu agama *ngelapKeringat*.

Tapi jika memang si Berprestasi kepopulerannya menurun, harusnya yang berjaya adalah si Pintar. Tet toooot… si Pintar melorot ke paling buncit. Sedangkan si Berprestasi selisih sedikit dengan si Ganteng.

Apa sih yang terjadi?

Then I have a super long discussion with my husband hahahaha. Maaf ya Bang. Sebenarnya suami saya bukan Ahoker cuma mungkin karena saya Ahoker banget jadinya dia kebawa-bawa hihihi.

Makanya saya senang berdiskusi soal Pilkada ke suami. Biar saya tidak terlalu gila sendiri hahaha. Ada penyeimbang.

Suami saya memberikan sudut pandang lain yang selama ini tidak terlalu saya pikirkan. Saya terlalu geer bahwa mayoritas pemegang KTP DKI ini terlalu rasional untuk diguncang dengan kampanye unyu-unyu hahaha.

Kalau isu agama ya bisa lah kita pahami ya . Tapi yang bikin bingung kenapa malah si Pintar tidak otomatis menyodok?

Ini dari sisi si Pintar dulu :

1. Si Pintar sepertinya menyasar kalangan pemilih yang mirip-mirip dengan si Berprestasi. Tet tot banget. Karena yang model-model “rasional” yang berpegangan pada prestasi kerja ya sudah pasti mayoritas akan lari ke si Berprestasi. Easy to see.

2. Bikin program-programnya mirip-mirip dengan si Berprestasi. Nothing really new. Kalau mengandalkan hal-hal seperti ini, sudah jelas si Berprestasi sudah “megang” banget. Prestasinya terang benderang. Terbukti dengan tingkat kepuasan masyarakat yang sangat tinggi.

Menjadi satu dilema baru, kepuasan masyarakat tinggi tapi elektabilitas melorot. Sungguh ujian rasionalitas yang luar biasa, ya, hehehe .

Gambar : pixabay.com

Gambar : pixabay.com

“Influencer” utamanya juga dari kalangan yang “sama”. Saya ingat postingan PP soal si Pintar yang justru komentarnya kebanyakan datang dari lingkaran pertemanannya yang pro si Berprestasi! Hahahaha :p.

Orang-orang yang berkomentar dengan “santun” dan bahasanya enak dengan tingkat pendidikan mumpuni, mirip dengan karakter PP juga. Komentar saya sampai ngegantung sampai sekarang karena PP memutuskan menutup kolom komentar di postingan yang itu hihihi.

Satunya lagi juga ada di FB. Bang FR. Saya pernah lihat beliau sewot karena jumlah like yang didapatkan oleh komentar pro si Berprestasi lebih banyak padahal dia lagi promo si Pintar hahaha.

PP dan FR sama-sama BUKAN “anti Ahok” dan itu makin membuat mereka sulit mencari celah 🙂. Bahkan FR malah ngefans juga dulu sama Ahok hehehe.

3. Tidak sinkron dengan wakilnya. Ini lumayan terlihat. Ya ini kan jawabannya gampang hehehe. Sebenarnya yang ngotot jadi cagub kan memang si wakil :p. Tapi karena elektabilitas mandek, dicarilah nama baru biar enggak mangkrak-mangkrak amat hahaha.

Mungkin juga dalam hatinya tidak rela-rela banget tapi ya gimana demi “kemenangan” ya mengalah dikit dululah. Sayangnya, mungkin dalam implementasi si wakil seringnya tidak kuasa menyembunyikan “siapa sebenarnya yang punya kuasa” 😉.

4. Ini juga banyak desas desus soal dana kampanye. Pendukung si Pintar dananya tidak secetar dua calon lainnya. CMIIW.

5. Somehow, si Pintar juga PERNAH menjadi bagian dari pemenang Pilpres 2014.

Jangan lupa ya, mereka yang mati-matian berkonfrontasi dengan si Berprestasi ada juga yang memang sudah dendam kesumat sejak lama hehehe. Walau tidak ada kasus Pulau Seribu, bisa dipastikan mereka juga bakal bersikap sama seperti sekarang 🙂.

6. Teman-teman yang mendukung si Pintar juga sepertinya mulai “lelah” dan lebih banyak menunjukkan sikap “asal bukan Ahok” dan lebih gencar berkampanye menentang petahana. Membuat si Pintar jarang disebut-sebut bahkan oleh pendukungnya sendiri.

Gambar : play.google.com

Gambar : play.google.com

***

Yang patut diacungi jempol adalah timses si Ganteng yang sungguh lihai mencari peluang (y).

1. Dana kampanye lebih besar daripada si Pintar hahaha . Jelas ini sih .

2. Berani tampil beda. As silly as it looks, harus diakui ya kampanye mereka sukses menarik perhatian . Timses dengan sadar diri menjauh dari jargon HASIL KERJA-KINERJA-REKAM JEJAK.

Sia-sia “melawan” dari sisi itu. Tingkat kepuasan masyarakat Jakarta stabil, hampir 70% puas dengan hasil kerja petahana.

Maka dipilihlah kampanye unik-unik macam tahu-tahu loncat dari panggung, tetiba berenang ke Pulau Anu sebelum mulai kampanye dst. Mungkin next time bisa menyanyi sambil bawa ular di panggung? Eh, menyanyinya udah deng hahaha.

Mungkin saya itu terlalu over-estimated dengan penduduk Indonesia termasuk DKI hahaha. Lupa kalau penampilan fisik dan tampilan gagah berani bak militer memang masih sanggup menarik perhatian masyarakat .

Samar-samar masih teringat kritikan beberapa teman di “kubu seberang” saat kampanye Pilpres 2014 silam, “Memangnya mau punya presiden yang badannya kurus, mukanya ngenes? Malu dong! Pemimpin tuh minimal gagah, syukur-syukur good looking.”

Gambar : pixabay.com

Gambar : pixabay.com

Hebatnya, 2 calon lain sama sekali tidak bisa menyaingi si Ganteng dalam hal ini. Selain usia muda dan wajah menarik, si Ganteng memang alumni AKABRI hehehe.

3. Menyasar “komunitas alay”. Jangan lupa, pemilih muda di DKI juga ada. Mereka yang mungkin 4-5 tahun lalu masih berusia 12-13 tahun kini juga punya hak pilih.

Saya intip-intip instagram si Ganteng + bininya. Komentar yang lumayan cetar –> “Orang tua hebat membesarkan anak-anak yang hebat. Salam hormat buat Pepo dan Memo.”

Ganteng + cantik = anak-anak yang hebat .

Jangan ketawa. Lihat ulasan di poin nomor 1. Kalian mungkin sama seperti saya, mengira rakyat DKI sudah lepas dari hal-hal “kosmetik” semacam ini .

Mereka, yang belum terlalu ngeh politik tapi sukses disuguhkan dengan pasangan ala-ala sinetron yang mungkin tontonan sehari-hari mereka sejak kecil hihihihi. Ganteng-cantik, sama-sama berasal dari keluarga tajir. Punya banyak kelebihan dan terkenal santun dan tidak pernah macam-macam .

Walau rekam jejaknya bisa dibilang NOL, justru keuntungan khusus buat si Ganteng. Susah dicari salahnya hahaha.

4. Keuntungan fisik juga membuat publik tertarik membicarakan mereka. Jangan dikira yang ibu-ibu aja yang terlena hahahaha. Ibu-ibu sih wajar .

Persetan lah sama politik apalagi pening mikirin hasil kerja bla bla bla. Toh semua bisa sirna manakala duduk manis depan tivi nonton orang ganteng dan orang cantik di sinetron-sinetron korea .

Istri si Ganteng yang notabene mantan model masih kece sampai sekarang .

Siapalah yang peduli bapaknya dulu adalah terpidana korupsi .

***

Tapi memang faktor terbesar masih dipegang oleh isu “Asal Bukan Ahok” hehehe.

Musim kampanye yang cukup unik. Karena sering melihat pendukung si Pintar membela si Ganteng yang dibully oleh pendukung si Berprestasi. Sebaliknya pun, pendukung si Ganteng membela si Pintar di situasi yang sama :p.

Jelas kan, buat mereka, mana-mana ajalah, yang penting jangan si ITU hehehe 😉.

Yang lebih banyak wara-wiri justru pendukung si Berprestasi vs pembenci si Berprestasi. Dari sini anomali yang sudah saya sebut tadi muncul, “Rakyat sangat puas dengan kinerja tapi ogah buat memilih.” Rasionalitas entah ke mana .

Memprihatinkan. Karena dua calon lainnya tidak punya rekam jejakk yang cukup untuk dipersandingkan dengan petahana. Jangankan setengahnya, seperempatnya saja tidak ada mungkin .

Banyak argumen, “Berikan kesempatan.” Kalau mau kesempatan ya coba dulu dong dari wilayah-wilayah yang lebih kecil. Masa ujug-ujug mau jadi pemimpin daerah di jantung negeri di ibukota -_-.

Ibarat fresh grad yang apply jadi direktur tertinggi. Jika sungguh ingin mengabdi, ya coba dulu dari daerah . Buktikan di sana lalu silakan datang kembali menguji diri di ibukota .

Basuki Tjahya Purnama (Ahok), gambar : id.wikipedia.org

Basuki Tjahya Purnama (Ahok), gambar : id.wikipedia.org

Makanya, timses si Berprestasi mungkin saatnya mengubah metode kampanye. Saya pun dulu berpikir begitu. Sederhana. Sodorkan prestasi kerja yang memang nyata memberikan hasil.

Tingkat kepuasan tidak menurun. Tapi elektabilitas terus tergerus jatuh .

Mungkin memang perubahan itu belum setajam yang kita perkirakan. Kita sering mengira, heloooo ini DKI lho yang masyarakatnya mungkin sudah didominasi oleh orang-orang rasional yang percaya kepada hasil kerja dan semacamnya. Ternyata mungkin belum .

Mungkin juga ini jawaban mengapa politik dinasti masih sangat sulit diberantas di Indonesia . Saya baru ngeh kalau di Tangsel, ibu walikota cantik yang suaminya terjerat kasus korupsi yang juga merupakan bagian terdekat dari dinasti korup di provinsi Banten masih terpilih di Pilkada terakhir.

Kata teman di sana, ya pilihannya memang ribet. Calon penantang juga enggak jelas. Kita selalu mengira kalau di daerah ya wajar, masyarakatnya masih gampang “dikatrol”. Jakarta beda, dong.

Ternyata … hasil survey terakhir tidak menunjukkan bahwa rakyat DKI Jakarta sudah naik kelas dibanding daerah lain .

Di Sulawesi Selatan, daerah asal saya juga seru. Keluarga-keluarga dekat orang nomor satu di sana juga tidak sedikit yang menjadi kepala-kepala daerah walau usia sangat muda dan tidak pernah kedengeran hasil kerjanya .

Kecewa dengan hasil survey? Jangan dong. Jadikan bahan introspeksi .

Terima kenyataan bahwa mungkin memang masyarakat ya memang masih begitu hehehe. Gencar melawan tayangan sinetron lokal tapi diam-diam terhibur dengan drama jenis sama versi impor dari negara lain hahaha.

Kondisi sehari-hari dalam sosial-ekonomi-budaya tentu punya pengaruh besar dalam sikap mereka dalam berpolitik . Itu faktanya.

Kelamaan tinggal di luar negeri, saya mungkin tidak sadar memasang standar terlalu tinggi bagi rasionalitas penduduk DKI. Jangan-jangan timses si petahana juga begitu. Nah, itu yang bahaya . Semoga cepat-cepat diubah metode kampanyenya ya .

Tidak berarti saya menuduh masyarakat masyarakat DKI “rendah” atau semacamnya. No, no. Sungkem dulu hehehe.

Cuma mungkin di mata mayoritas masyarakat Indonesia, kemajuan pembangunan belum sepenuhnya terfokus kepada disiplin dan kecakapan penguasa.

Masih dibayang-bayangi faktor lain yang memang sering menjadi khas negara berkembang : agama, penampilan, kondisi fisik, kesantunan (yang sudah sering berbanding terbalik dengan hasil kerja hehehe), etnis, isu mayoritas minoritas dan sebagainya.

Hasil survey jangan malah dijadikan pelemah semangat atau khawatir berlebihan. I always say, “Mengkhawatirkan masa depan sama sia-sianya dengan menyesali masa lalu.”

Jadikan bahan berkaca buat kita. Mencari cara untuk terus menjadi bagian dari perubahan dengan keterbatasan-keterbatasan yang ada. Bukannya takluk dan malah menyalahkan lingkungan. Salah banget itu . Jangan malah menghina mereka yang berbeda dengan kita apalagi jika mereka mayoritas.

Bahkan kalau justru mereka yang menghina kita, you don’t do the same!!!!

Saya sudah puas deh nerima curhat dikata-katain “munafik” karena dukung si Berprestasi hahaha. Sabaaaaaaarrrrr . Ingat ya teman-teman, darkness cannot drive out darkness. Only LIGHT can do that . Pertemanan tetap nomor satu, gubernurnya nomor 2 ajah #eh hahaha.

Soal berhasil atau tidak ya itu urusan nanti dong, ya.

Seperti pesan Bunda Theresa, “God never requires us to succeed, He only requires that WE TRY.”

Try, try, try. Try first. Garis finish masih jauh, cemen amat sudah mau gantungn sepatu hahahaha.

Nonton Finding Nemo dan Finding Dory kan. Ingat jargon, “Keep swimming, keep swimming.”

Exactly. Buat teman-teman pendukung si Berprestasi, itu yang harus kalian lakukan. Keep Swimming . Tapi sadari, mungkin kini kita harus mencoba gaya berenang yang lain dengan mempelajari taktik lawan-lawan hehehe .

Yuk yaaa, senyumnya manaaaaaa .

Salam 2 jari, tetap pilih Basuki. Basuki Tjahaya Purnama. B T P. Bersih – Transparan – Profesional (y).

Terus berbenah Jakarta-ku .

#tetapAhok

Gambar : temanahok.com

Gambar : temanahok.com

3 thoughts on “Keep Swimming, Keep Swimming ^_^

  1. Sebenernya banyak yang pingin nyerang jargon Bersihnya menurutku, tapi susah amat ditembus, mulai kasus RS, UPS samapai haji lulung. Yang nyerang pening, apalagi yang denger beritanya *brb ganti channel tv* Akhirnya nyerang ke isu agama ajalah, lebih gampang, lebih hot, lebih membahana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *