Broadcast Message, Share (NOT)!

Dua tahun terakhir ini, Mama saya belajar bermedia sosial. Tapi akhirnya beliau nyaman dengan WA saja.

Nah, via WA inilah, awalnya sempat tuh si Mama hobi banget forward BM an …. dari mana saja! Soal kesehatanlah, soal anu lah, soal inilah, yang tidak jarang berakhir dengan “Tolong share jika Anda peduli.”

Ada juga yang lebih ‘lebay’, “Tolonglah, setitik perhatian Anda adalah surga bagi mereka. Klik share atau Anda akan menyesal selamanya.”

Set dah! -_-

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Waktu Pilpres ya lebih seru lagi toh ya hahaha. Sampai pening saya dijejali isu salah satu capres yang konon anak si ini anak si itu pokoknya durjana banget lah. Yang intinya, Islam pokoknya mau dihancurkan kalau dia menang. Dihancurkan bagaimanya? Ya pokoknya hancur, cur, cur.

Selain topik agama cetar nan sensitif, paling gampang dan mudah dipakai mencekoki orang untuk ketik Amin dan share, adalah topik anak-anak. Misalnya video enggak jelas soal penyiksaan anak.

Topik tentang anak-anak memang cukup cespleng. Sialnya, kalau melihat video aneh-aneh, tanpa pikir panjang kita akan otomatis memaki, “Ibu Jahanam!” atau “Gila ni orang!” atau “Tangkap saja ibu gila ini!”

Menurut sebagian orang, benar atau tidak ya tidak masalah. Yang jelas videonya asli bodo amat konteksnya apa dan menyajikan hal-hal yang “kelihatan” berbahaya.

Tet toooot!!

Jangan share broadcast message
Gambar : pixabay.com

Tapi memang saya akui, kalau tema kontroversial soal anak-anak, sulit sekali untuk cepat-cepat mengendalikan akal sehat. Biasanya, refleks aja gitu pengin memaki dan menghukum. Padahal kenal juga enggak, ketemu juga belum pernah. Lebih parah, kita bahkan tidak paham apa yang sebenarnya terjadi?

Masalahnya, sekali broadcast message berita-berita model begini (yang isinya memicu kebencian dan kekerasan di luar batas) menjadi viral, hampir mustahil untuk “menarik”nya kembali 🙁.

Masih ingat kasus anak remaja yang bunuh diri itu?

Saya enggan menyebutkan namanya karena kasus ini masih dipakai oleh akun-akun / fanpage-fanpage pencari jempol di mana kalau dikasih klarifikasinya mereka tetap ngeyel tidak mau menghapus postingan tersebut. Alasannya, biar jadi pembelajaran.

Belajar kok nyebarin fitnah sih? Pakai foto dan nama asli pula :'(.

Sudah terlanjur keenakan sih ya, akun tiba-tiba banyak follower, postingan sudah dishare sampai ribuan, ya siapa juga yang mau hapus? :p.

Kasus ini mencuat hampir 2 tahun lalu. Anak laki-laki yang bunuh diri. Lalu, seorang yang mengaku kerabat dekat membeberkan kisah hidup si anak yang tinggal bersama neneknya di mana orang tuanya sudah bercerai.

Sasaran utama ya siapa lagi kalau bukan ibunya 🙁.

Gambar : getthelowdown.co.uk
Gambar : getthelowdown.co.uk

Standarlah, ibunya dituduh membuang anak, kok anak bisa tinggal sama nenek, ibunya sudah enak-enak sama keluarga baru bla bla bla.

Apa anehnya sih? Saya punya sahabat yang sejak SMP sampai kuliah tinggal bersama neneknya dan hubungannya baik-baik saja dengan orang tuanya yang sudah bercerai yang masing-masing sudah menikah kembali.

Dia tumbuh menjadi anak berprestasi dan tidak mengalami hambatan sosial apa pun.

Beritanya viral sampai belasan ribuan share. Belum lagi akun-akun yang ambil kesempatan dengan copas langsung biar postingannya yang viral.

Sampai-sampai akun media sosial ibunya tersebar luas. Facebook, Twitter yang sempat saya cek. Instagramnya juga ada kalau tidak salah.

Foto-foto atau postingannya yang publik habis diserbu komen-komen yang entah apa yang terjadi pada saya kalau sampai saya yang ada di posisinya huhuhuhu.

Kenal saja tidak. Kok bisa-bisanya ada yang komen panjang lebar memberi nasihat ini itu yang ujung-ujungnya mau memaki-maki.

Saya berkali-kali berkomentar di akun-akun teman-teman yang ikut share dulu, “Mbak kenal tidak dengan keluarga ini?”

“Enggak sih. Saya kan cuma share. Tanya saja sendiri.”

Lah, cuma share tapi captionnya penuh amarah gitu. Padahal tidak kenal.

Belakangan, si Ibu angkat bicara. Karena kaget beritanya menjadi di media sosial. Dia menulis klarifikasi panjang lebar dan beberapa kerabat serta kawan dekatnya menghibur yang bersangkutan.

Si pihak yang diduga pertama kali menyebarkan berita ini ikut memberi klarifikasi. Sedihnya, klarifikasi itu hanya dishare sekitar 100 an saja. Sudah tidak ada yang peduli. Mungkin orang-orang yang tadinya berkomentar setajam silet juga sudah lupa kali bahkan tidak sadar.

Lebih parah, beberapa bulan lalu, beritanya viral lagi. Percuma juga diklarifikasi 🙁. Seperti yang saya bilang tadi, si akun yang memviralkan berita ngotot tidak mau menghapus karena alasan pembelajaran tadi. Sudah banyak yang berkomentar di sana.

Bullshit! Bilang saja sudah keenakan dapat banyak like dan share :p.

Bukan berarti kita harus cuek dengan sekeliling. Hanya saja, misalnya nih kasus foto si abang ojek yang katanya pegang-pegang payudara anak perempuan di sekolahan, itu yang motret boro-boro ngomong ke ortu si anak.

Malah difoto langsung dan diviralkan! Itu juga saya tidak yakin kejadiannya beneran atau tidak. Fotonya blur.

Jangan share broadcast message

Ya otomatis, orang-orang beramai-ramai share dan memaki-maki abang ojek plus orang tuanya. Dari sini bisa berkembang banyak api, orang tua tidak bertanggung jawab kok anak diantar jemput ojek dan sebagainya -_-. Sampai isu : negara ini sudah hancur dan tidak ada yang peduli.

Ujung-ujungnya ya salah siapaaaaaaa…..ayo coba siapa, hahaha.

Coba kita mulai lagi dari awal. Sekilas ini hanya masalah kecil. Halah, kan cuma share, kan cuma komen dikit, kan cuma kasihan, kan cuma … ya pokoknya kan cuma, kan cuma, kan cuma.

Bayangkan kalau beritanya tidak benar :

1. Kalian sudah memfitnah. Bagus kalau belakangan sadar. Ya kalau ngeyel atau tidak ngeh kalau ada klarifikasi? Berlalu begitu saja tanpa sadar.

2. Kalian menebarkan ketakutan. Yes, tadinya orang baik-baik saja, memulai hari dengan gembira, menyuapi anak dan melihat anak berangkat sekolah dengan hati lapang, ya dikasih berita gituan. Langsung lemas dan dunia mau runtuh. Tetiba merasa dunia benaran sudah hancur.

Ikut-ikutan share, ikut-ikutan saling nakut-nakutin di grup-grup. Asyik dah ngerumpi enggak penting yang ujung-ujungnya malah jadi ngeri sendiri, pakai icon nangis seribu bijik! UNTUK BERITA YANG TIDAK JELAS KEBENARANNYA.

gambar : mariaelita.com
gambar : mariaelita.com

3. Justru jangan-jangan kalian memberi ide kepada para “penjahat beneran”. Misalnya ada abang ojek yang baca berita itu. Dia langsung senyum licik dalam hati, “Wah, iya juga ya. Ide bagus nih, Kok enggak pernah kepikiran? Asyik juga.”

Topik ini menjadi salah satu pembahasan dalam buku best seller, “The Tipping Point.” Peristiwa bunuh diri yang diselidiki dan ada kesimpulan bahwa berita orang bunuh diri yang viral malah memicu orang-orang depresi untuk memikirkan hal yang sama.

It gave them the idea.

4. You are judging others! Jangan sembarangan ngasih pendapat untuk hal-hal yang kalian tidak tahu pasti.

Misalnya nih, enggak sengaja melihat ibu toyor kepala anaknya depan umum, langsung bikin foto dan dikasih caption, “Astagfirullah, ibu macam apaaaaahhhhh!!!! Dasar ibu tidak tahu diri. Ibu ngana ibu nganu…”

Do you know the whole story?

Apa kalian kenal dan mengikuti keseharian ibu tadi? Kalian yakin sehari-harinya Ibu itu sudah pasti menyakiti anaknya terus?

You, yourself, as a Mom, sudah sempurna banget ya? Enggak bakal gitu suatu hari kalian yang tentunya manusia biasa ini berada di posisi yang sama?

Terus gimana dong? Diam saja kalau melihat ada yang tidak beres? Kalau melihatnya sekilas, tidak sengaja, tidak kenal pula, dan tidak membahayakan, yang terbaik ya dicuekin.

Cuma lihat ibu-ibu memarahi anaknya dengan membabi buta karena menumpahkan minuman di sebuah rumah makan kok bisa kalian tiba-tiba melabeli beliau sebagai ibu tidak bertanggung jawab?

Kalau dia memukul anaknya dengan kasar dan menurut kalian sudah sangat berbahaya, cegah sebisa mungkin! Jangan malah difotooooooo. Keburu celaka nanti anaknya -_-. Kalian mau membantu atau membuat malu?? Think!

Jangan share broadcast message
Gambar : pixabay.com

Kalau tidak urgent banget tapi tetap merasa harus melakukan sesuatu segera dekati langsung kalau berani atau laporkan ke pegawai restoran atau pemilik restoran atau siapalah yang cocok dengan kondisi.

Kalau di lingkungan tinggal ya coba dengan tetangga lain atau ketua RT atau ketua RW. Lebih terarah, terukur dan insya Allah, solusi bisa cepat ditemukan.

Satu contoh bagus pernah ditunjukkan oleh seorang wartawati yang melihat anak kecil lalu lalang di sebuah apartemen elit. Dulu juga viral nih. Tapi ini contoh yang bagus.

Diaper si anak sudah penuh sampai kedodoran di bawah lutut. Si anak itu juga bisa terancam bahaya karena ibunya terlihat tidak peduli dan banyak mobil lalu lalang di sana.

Si wartawati ini mendekati si anak dan berusaha menolongnya. Si Ibu seperti orang gila teriak-teriak tidak jelas dan sama sekali cuek dengan si anak.

Akhirnya dapat cerita dari satpam di sana. Dari sini malah timbul empati karena ternyata si Ibu juga mengalami KDRT dan bla bla bla. Kasusnya juga sampai ke komite perlindungan anak dan semacamnya lah.

Sampai akhirnya nenek si anak yang datang dan mengambilnya. Masalah ibunya saya tidak mengikuti perkembangannya.

See? Ada solusi dan penyelesaian. Malah mencegah kita untuk buru-buru menghakimi ibunya. Akan jadi lebih mudah kalau kita paham detailnya. Tolong si anak, tolong si ibu 🙂.

Aduh, udah kepanjangan hahaha.

Here are my last lines :

“There’s a difference between knowing somebody and hearing about somebody. Just because you ‘heard’ doesn’t mean you ‘know'”

Again, think about it 😉.

1 comment
  1. Well written Mbak. Kadang di WA ada yang mau saya block tapi kok ya tante dan om sendiri. Hahaha.

Comments are closed.