Chitty-chitty Chat

Salah satu kehidupan sosial yang cukup bikin galau buat saya semasa tinggal di Eropa sini adalah sifat mereka yang kurang asyik diajak basa basi . Maklumlah, si mulut lokomitif ini yaaaaa, kalau kenalan tuh adaaaaa aja yang pengin dikepoin hahaha.

Konon katanya masyarakat sindang memang sifatnya lebih individualis. Tapi tidak melulu negatif sih. Ini dalam kaitannya dengan hobi-hobi emak-emak yang doyan chit-chat iniiiiih :D. Sementara orang Asia kan katanya lebih “kolektif”. Semacam senang ngumpul dimana bergosip adalah imbas lanjutannya hahaha.

Budaya basa basi orang Asia

Gambar : pixabay

Parahnya lagi, topik standar untuk bercakap-cakap ala chitty-chitty chat sama orang sini tuh adalah…cuaca!

Kalau beli sayur atau buah di toko depan misalnya. Toko ini persis di depan gedung apartemen, toko yang dikelola oleh bisnis rumahan yang dikelola turun temurun oleh keluarga tertentu. Saya perhatikan yang belanja itu biasanya memang kenal dengan yang jaga toko.

Ya dusun mungil begini yaaaa. Ngesot sana sini ya ketemunya dia lagi-dia lagi hahaha.

Nah, sudah akrab, kenal lama pun, ngobrolnya tuh yang, “Duh, ribet banget ya. Masa tahu-tahu hujan padahal tadi cerah banget.”

Atau, “Wah, enak banget lho katanya cuaca weekend ini. Enak nih buat ngajak anak-anak jalan-jalan.”

Enggak jauh-jauh dari, “Musim dingin tahun ini kok ya dingin ya. Tahun lalu kan enggak dingin-dingin amat.” Kadang gatal pengin nimbrung, “Ya namanya juga musim dingin, Om. Kalau panas ya bukan musim dingin kali yak.” –> lalu ditimpuk sekarung kentang!!! Hahaha.

Pernah di sekolahan saya sudah beberapa kali mengobrol dengan seorang ibu-ibu yang asli Irlandia. Ya, pengin dong melanjutkan ke-kepo-an ke taraf lebih dari sekadar ngomongin mendung kah minggu ini atau tidak-beli jas hujan di mana yang murah dan kece-apakah saya betah di Irlandia karena saya asalnya dari negara tropis bla bla bla.

Saya pun berimprovisasi, “Wah, lihat deh, anak pertama kamu rambutnya agak keriwil ya. Agak beda dengan yang nomor 2.”

Ibunya merespons dengan semangat, “Iyah memang agak beda. Tahu enggak, mereka bukan itu saja lho bedanya?”

“Oh ya? Apaan tuh?”

“Nah, yang gede tuh paling malas kalau disuruh pakai celana panjang. Kalau yang kecil malah susah disuruh pakai celana pendek. Makanya yang besar itu paling senang kalau musim panas. Tahu enggak pas summer dua tahun lalu, itu tuh pas cuacanya lagi…”

Ya Rabbi, cuaca maning, cuaca maniiiiiiing. Hahahaha.

Kalau di Jakarta tuh ya, lagi nunggu antrian dokter misalnya lagi hamil saja saja, baru setengah jam, minimal saya sudah tahu ibu-ibu sebelah saya umurnya berapa, hamil anak ke berapa, rumahnya di mana, dan kenapa dia memilih dokter anu sebagai dokter kandungan #benerinCocot.

Weits, menanyakan umur itu juga ada seninya, enggak ujug-ujug, “Situ umurnya berapa, sih?” Ada tips dan triknyaaaaaa #eaaaa.

Ya kalau sesama emak-emak Asia kayaknya seru-seru saja, ya. Makanya, lebih enak mengobrol dengan teman-teman dari India hihihi. Apalagi mereka ini rada-rada narsis, puji-puji dikit negaranya, bisa lancar deh semua pertanyaan kita terjawab dengan komplit #tukangJilatAmat hahaha.

Budaya basa basi orang Asia

Gambar : pixabay.com

Mirip-mirip juga dengan orang Bangladesh atau Pakistan. Mungkin “the same feeling” karena sama-sama pendatang selain kesamaan wilayah.

Sebenarnya soal basa basi ini bisa jadi bumerang juga. Apalagi yang lincah dalam urusan chitty-chitty chat begini ya so pasti perempuan dong ya. Tapi ya gitu, yang lebih  baper juga kaum perempuan. Ya gimana dong hahaha.

Sadar tidak sih sebenarnya seringnya kita bertanya itu bukan karena kepo-kepo amat. Kadang hanya sekadar ingin berbasa basi. Tidak lebih :). Terus pertanyaannya ya kadang terlontar begitu saja, refleks ;).

Seperti misalnya ketemu teman yang habis menikah kira-kira beberapa bulan yang lalu, ketemu lagi ya refleks nanyain, “Eh, sudah hamil belum?”

Sumpah demi Tuhan, serius, itu tuh refleks *tutupMuka*. Apalagi kalau orangnya kebetulan bodinya agak berubah atau agak gemukan ya sok tahunya suka lebih refleks lagi hihihi. Sungkem ya teman-teman.

Saya pernah mendapat pelajaran penting soalnya terkait soal ini.

Waktu masih bekerja papasan di lift dengan teman dari divisi lain yang kebetulan baru saja menikah. Enggak dekat-dekat amat sih. Tapi ya gitu, gatal kali mulut ini mau ngobrol hahaha. Jadilah terlontar pertanyaan terkutuk itu, “Eh gimana, sudah hamil belum?”

Dia sih rasanya biasa saja jawabnya, “Belum nih.”

Gambar : best-pregnancy-advice.com

Gambar : best-pregnancy-advice.com

Tapiiiiiiii, beberapa hari kemudian saya mendapat feedback kurang menyenangkan. Dese curcol ke teman-teman satu divisinya yang kebetulan saya kurang kenal. Tapi dari sini curcol-an nya akhirnya nyampe ke saya juga. Horor juga kesimpulannya, “Idih, pakai jilbab tapi enggak bisa nahan mulut.”

Jadi kaget sih. Dari situ belajar buat enggak asal bacot hahaha.

Nah, ketemu lagi dengan teman lama. Dari kantor lama tepatnya. Kira-kira kami sudah tidak bertemu sekitar 2-3 tahun. Dia ini menikah sudah agak lama tapi belum hamil-hamil. Kami dulu lumayan dekat dan akrab lho semasa masih ngantor bareng :D. Anggap saja namanya Jennifer –> mumpung lagi naik daun kasusnya :p.

Ketemu lagi, eh dia lagi agak gemuk badannya. Walau gatelnya naudzubillah (hahaha), saya pantang bertanya apakah dia sudah hamil apa belum. Ya pasti sedih, ya, buat dianya kalau ternyata belum hamil. Soalnya dia dan suaminya memang pengin banget punya anak dari dulu tapi belum berhasil berdasarkan info terakhir yang saya terima.

Jadilah kita mengobrol soal yang lain-lain.

Tet toooottt, minggu depannya, saya disemprot teman lain yang juga dari kantor lama yang kenal dengan kami berdua, “Lo tuh yeeeeee, kata Jennifer tempo hari kalian ketemu dan makan siang bareng di mal anu. Ngobrol sampai sejam lebih tega-teganya elo gak ngasih dia selamat.”

“Selamat apaan?” Ya tentu dong saya bingung.

“Ish, ish, ish, Jen tuh lagi hamil tauuuuukkk. Lo kan tau dia itu udah lama pengin hamil! Gimana sih? Sensitif dikit napa jadi teman. Dia ampe kesel tuh!”

Hastagaaaaaaa, ini piye toooohhhh hahaha.

Budaya Basa Basi orang Asia

Gambar : pixabay.com

Mbok ya kenapa enggak cerita dari awal aja sih? Malah jadi saya yang disuruh ngasih selamat duluan -_-. Ya begitulah, keribetan di dunia mamah-mamah hihihi.

Tapi saya suka sebal dengan orang-orang Indonesia yang sudah merantau dan mengkritik hobi kepo ini deh -_-. Nyinyiran mereka daripada orang-orang sana-nya :p.

Maksud saya ini kan bagian dari kebudayaan Timur vs Barat yang memang akar perbedaannya cukup tajam. Dalam porsi berlebihan ya memang kurang patut. Tapi hobi nanya ini itu kan tidak melulu berarti negatif ya ^_^.

Perbedaan kan memperkaya. Anggap saja jadi semacam pengetahuan tambahan. Bukan selalu disorot “iniiiii yang benar” atau “ituuuu yang norak, salah, pokoknya ancur dah!”

Merantau kan biar kenal-kenalan bukannya malah membuat seluruh dunia harus ngikut cara hidup standar begini-begitu.

Pada intinya ya orang-orang Asia kehidupan sosialnya lebih bersifat kolektif. Macam slogan, “Asyiknya tuh rame-rame.” Hehehe. And I’m very proud as an Asian regarding this <3.

Ya tentu saja saya sadar diri dan menyeimbangkan mulut lokomotif ini biar bisa balance dengan situasi dan kondisi yang ada hihihi. Toh saya, walau bosan luar biasa, tetap berusaha berbasa basi sesuai standar sini. Saya tabah kok ngomongin cuaca mau sampai sejam jugak huhuhu :p.

Rupa-rupa wajah Asia

Rupa-rupa wajah Asia

Menyesuaikan diri tidak berarti menjadi kacang yang lupa pada kulitnya dong ya :). Hadeeehh, masa hanya gara-gara sudah bertahun-tahun tinggal di negara yang menurut kalian super-duper-keren-pokoknya-mau-sampai-mati-tinggal-di sana kalian mendadak hanya bisa melihat yang negatif-negatif saja dari negeri asal :).

Ngefans sama negara tinggal sekarang tidak berarti harus sok-sok galau dengan negara asal sendiri kan ya ^_^.

Mari menyerap berbagai budaya murni sebagai pengalaman dan pengetahuan. Tentu ada pembelajaran di mana-mana tapi tidak semata-mata jadi perbandingan 2 sisi plek-plek : bagus vs jelek.

Iya enggak, sih? Apa enggak, ya? Yawdah. Kangen nulis ringan-ringan (tapi panjang) aja sih hahaha. Efek karena susah kepo sama orang sini mungkin? Sepertinya -_-.

8 thoughts on “Chitty-chitty Chat

      • hahahaha, dazzar emak-emak, bukan emak sejati kalo gak kepooo…
        kalo ketemu orang yang kenal (meski ga deket)gak basa-basi serasa sombong makanya wajib chitchat, kadang kita nanya seupil jawabannya bisa sebakul, ahire cuma bisa respon oh, iyah, gituyah, jadi pengen cepet2lariiiiiiiii hahaha

  1. Akupun menemukan bbrp ibu2 (tua maupun muda) sebangsa setanah air yang menikah dengan WNA atau sudah lama tinggal di yurop kok jadinya semua ttg Indonesia dikritik negatif. Katanya waktu mudik dan ke Borobudur kok tiketnya mahal banget lah..sampe ada yang bilang “kalo tinggal di Indonesia bisa cepat mati” :(. Kalo udah bgtu saya suka pengen balik nyinyirin tapi males..buang2 energi -__-

Comments are closed.