Global Citizen?

“Anak saya lahir di kota anu, gedenya di kota onoh. Itu anak pertama. Yang kedua beda lagi tempat lahirnya. Sekarang lagi sekolah di negara ngunu. Ya kami ini sudah seperti global citizen gitu, deh…”

Saya mencibir dalam hati, “Idih, sok bener!” –> sirik tanda tak mampu sebenarnya hahaha. Padahal dalam hati pengin tuuuuuhhh :p.

Waktu masih bekerja, sekitar 8 tahun lalu, saya daftar training dari kantor. Kantor yang ini emang keren. Tiap karyawan di-encourage untuk meningkatkan personal skill. Jadi banyak tuh training model pengembangan karakter pribadi bla bla bla yang bisa kita pilih ^_^.

Gambar : pixabay.com

Gambar : pixabay.com

Tapi itu sih alasan nomor 3. Alasan pertama ya pengin magabut sih sekali-sekali hahahaha. Alasan nomor 2, ya pengin ngerasain makan-makan enak gratis di hotel bintang 5 :p. Kapan lagiiiiiiii :D. Mayan kan, dari sarapan sampai makan siang. Belum lagi dapat snack 2x :D.

Yang ngomong tadi tuh salah satu trainernya. Presentasinya enak banget. Bikin kita enggak ngantuk ^_^.

Enggak hanya pas presentasi, waktu ‘snack time’, trainernya bincang santai dengan kita-kita (peserta training), ngobrolnya juga lepas dan seru. Saya lebih banyak mendengarkan sambil sibuk ngabisin kue-kue cantik yang endes-endes plus penampakannya ‘mahal’ yang sudah pasti gak bakal kebeli di luaran *ngunyahFruitCakeLucuLucu*.

Di situ pertama kali kepikiran tentang “global citizen”. Walau setelah googling barusan, definisinya sih tidak seperti itu hehe.

Yang terbayang oleh saya yang memang dari kecil kepengin banget ngerasain yang namanya nemplok di sana sini, ‘global citizen’ itu memungkinkan kita jalan-jalan dan tinggal di mana pun kita mau. Karena sering berpindah tempat, otomatis kemampuan beradaptasi jadi makin tokcer.

Belum lagi pengalaman bertemu orang banyak dan melewati hari-hari dengan berbagai perbedaan. Seru kan, kan, kan. Makanya buat saya, yang enak tuh BERMUKIM di luar negeri. BUKAN BERLIBUR :D.

pixabay travel bag and passport

Kalau liburan bedaaaaa. Dengan waktu terbatas, kita akan lebih sibuk mikirin mau jalan-jalan ke mana dan makan-makan di mana gak sih? Hehehe. Plus mau belanja oleh-oleh di mana hahaha :p.

Dulu sih saya mikirnya sekolah atau kerja sekalian aja ke luar negeri. Kan ceritanya masih single. Mana tahu ketemu jodoh di sana. Sama-sama orang Indonesia atau orang bule juga gak apa deh. Nanti cari yang punya mimpi yang sama. Berdua deh kita merajut mimpi mengarungi dunia yang luas ini bersama anak-anak kelak *tsaaaaahhh*.

Tentu saja, mimpinya gagaaaaaallll hahahaha.

Tapi ya Tuhan kadang punya cara sendiri menjawab doa-doa kita. Mimpinya terjawab tapi caranya yang tidak terduga ;).

Kalau dulu inginnya jalan-jalan cantik bawa tas atau laptop pakai mantel modis aneka warna aneka model plus sepatu boot sambil nenteng buku mau selfie-selfie di perpus kampus. Pan ceritanya mahasiswi hahaha.

Sekarang mah, jalan-jalan rempong bawa bayi komplit sama strollernya pakai mantel murah meriah pakai sepatu keds biar nyaman ngejar bocah-bocah hahaha. Yang penting judulnya tinggal di luar negeri toh yaaaaa :p.

Mission (still) accomplished ^_^.

Tiga anak saya, lahirnya di Indonesia-Arab Saudi-Irlandia. Life seems perfect hingga akhirnya ….. berurusan dengan visa! Huhuu -_-.

Ternyata, tidak mudah dan sungguh berliku jalan yang harus ditempuh sebagai pemegang paspor hijau tua yang sekarang berubah warna jadi biru tosca :D. Lebay? Lah ya emang begonoh huhuhu.

Apalagi  buat suami ya yang pekerjaannya sekarang menuntut dia untuk sering-sering bepergian ke berbagai negara. Rangkaian drama-ngurus-visa ala suami sudah pernah saya rangkum di tulisan yang lain :D.

Baca : Balada Visa

Sekilas sih rasanya kan cuma urusan administratif bla bla bla. Tapi itu lumayan menguras waktu dan kesabaran, lho. Apalagi kalau ditanya-tanya enggak penting dan lama pula. Pernah juga ditanya penuh selidik yang bikin kita mau enggak  mau jadi baper. Kita? Gue dong kaleeeee hihihi.

Sering juga kondisi kedutaan negara lain itu minimalis banget. Enggak disediain kursi misalnya huhuhu. Tempatnya mungil jadi harus desak-desakan.

Atau yang ngantrinya kayak ular. Buang-buang waktu dan tenaga. Belum deg-degannya harus nungguin apakah visanya disetujui atau tidak. Karena ini berkaitan dengan tiket misalnya. Sialnya, kadang untuk apply visa harus booking tiket dulu.

Sering juga kita ngiler jalan-jalan ke negara lain karena iming-iming tiket murah yang harus dibooking di waktu-waktu tertentu. Duitnya sih ada tapi galau urusan visa sudah kadung menghantui. Apa gunanya tiket murah kalau visanya gagal? Ya toh ya toh ya toh *bantingDompet*.

Untuk mengurus visa juga biasanya butuh segabruk surat-surat dokumen ngana ngunu. Belum lagi saldo minimum tabungan seolah jalan-jalan hanya untuk orang tajir aja huhuhu. Maksudnya sih baik, untuk memastikan kita bukan mau mengemis ke negara orang lain misalnya ya hahahaha :p.

pixabay passport

Kasus lainnya kalau ketemunya pakai perjanjian dulu. Di mana dapat jadwal perjanjiannya masih lama sementara kita butuhnya buru-buru. Makanya suami pernah juga gagal assignment karena enggak keburu waktu ngurus visa huhuhu.

Wajar kalau selama merantau suka iri dengan pemegang paspor Negeri Jiran. Mau ke UK kek, ke Schengen kek, tinggal angkat koper. Sementara Irlandia sini masuk Schengen juga kagak! Ke UK pun harus mengemis visa yang harganya tidak murah, termasuk untuk anak bayi! *pingsan*.

Jadiiiiii, kalau ada orang Indonesia yang nekat melanggar aturan DUAL NATIONALITY alias tidak boleh berkewarganegaraan ganda tidak semata-mata karena tidak cinta Indonesia lagi atuh lah ;).

Serba salah jadinya, ya. Kalau mau  jujur, ya harus melepas kewarganegaraan Indonesia. Tapi nanti dituduh tidak nasionalis bla bla bla. Kalau mau ‘aman’ ya sembunyi-sembunyi punya 2 paspor. Tapi nanti gagal jadi menteri hihihihi :p. Sungkem dulu sama Pak Archandra :D.

Gambar : pixabay.com

Gambar : pixabay.com

Ada juga negara yang lebih ketat. Misalnya Singapura. Kita hanya bisa apply paspor Singapura setelah menunjukkan secara sah kalau kita tidak lagi terikat dengan negara lain. Tapi lebih banyak negara yang tidak masalah dengan dual nationality. Sayang sekali, Indonesia masih belum boleh :(.

Resiko melepas kewarganegaraan Indonesia ya ada juga sih. Apalagi kalau kita punya banyak investasi di tanah air. Bisa ‘hangus’ deh hasil kerja keras minimal pasti ada problem sedikit banyaknya. Duh, kirain cinta tanah air ya ternyata alasannya kapitalis bener, enggak jauh-jauh dari duit hahaha.

Eniwei, jadi begitulah. Teorinya sih kita pasti diharapkan punya jiwa nasionalisme bla bla bla. Lah, memangnya kalau ganti paspor otomatis ‘berkhianat’ gitu? Kehidupan sehari-hari susah deh kalau mau dipilah jadi hitam atau putih doang :).

Buat yang lagi bermukim di luar negeri, makanya jangan seperti kacang yang lupa pada kulitnya lah. Giliran mudik, yaelah, menggerutu kiri kanan di medsos betapa macetnya Jakarta betapa kumuhnya betapa kotornya, beginilah begitulah. Betapa kerennya negara tinggal mereka sekarang, pokoknya mendadak Indonesia terlihat bagaikan neraka hehehe.

Culture shock itu wajar, kok. Saya juga merasakan. Tapi tidak harus ditumpahkan ke publik semua kan. Komentar seperti itu malah ‘melemahkan’. Apalagi kondisi sekarang yang makin ruwet pasca Pilpres. Efek negatif masih melayang di mana-mana :(. Dikit-dikit salah pemerintah, dikit-dikit salah pemerintah :p.

Macam negara ini dikendalikan sama segelintir orang saja. Padahal seluruh anak negeri adalah bagian dari proses perbaikan sebuah bangsa. Termasuk yang lagi melipir ke negara lain lho ya :p.

Sebagai orang yang tinggal jauh dari tanah air, kita seharusnya lebih cocok menjadi ‘wasit’ :). Melihat dari kacamata orang ketiga. Jangan malah jadi provokator. Kalau memang sulit memuji ya minimal diam saja, yes? ;).

Becoming ‘global citizen’ or whatever it might be called, tidak berarti harus patuh pada satu aturan hidup di daerah tertentu. Oh c’mon, mana ada sih tempat di dunia ini yang hanya menawarkan yang enak-enak semata.

Justru dengan menjadi ‘global citizen’ jadi belajar dengan pemahaman. Bahwa memahami itu beda dengan MENERIMA. Kita bisa memahami perbedaan dan tidak terganggu karenanya dengan tidak perlu menjadi bagian dari hal-hal yang berbeda itu. Nggg..bener gak tuh nulisnya. Belibet gini hahaha.

Sebaliknya, kita juga tidak bisa memaksa soal kesetiaan atau apalah-apalah ini. Hanya akan optimal jika semunya didasarkan kerelaan bukan tuntutan :).

Seperti kita enggak patut memaksa orang Indonesia kudu pegang paspor Indonesia doang. Macam pesan Sutan Syahrir yang ini nih :

“Kita hendak bekerja atas dasar kemerdekaan jiwa orang, atas dasar kerakyatan, atas dasar sukarela, mufakat dan kerjasama, dan tidak dengan paksaan seperti yang telah dilakukan di negeri-negeri totaliter dan diktatur itu.”
– Sutan Syahrir.

Gambar : pixabay.com

Gambar : pixabay.com

Mengutip doa dari Pak Menag di istana saat perayaan 17 Agustus tahun ini :

“Allah, Tuhan penebar kedamaian.

Jadikanlah peringatan proklamasi kemerdekaan sebagai momentum merekatkan persatuan.

Jauhkanlah kami dari perselisihan, permusuhan, dan perpecahan.
Kuatkanlah ikatan diantara bangsa kami agar saling menyemai kedamaian, saling menjaga kerukunan, saling menyokong kemajuan.

Eratkanlah tali silahturahim antar kami agar saling memelihara persaudaraan sekaligus saling mengingatkan dalam kebaikan.”

Aamiin ya rabbal aalamiin.

Selamat ulang tahun ke-71 untuk Republik Indonesia.

Dirgahayu tanah air tercinta <3.