Candu

Dulu ngikutin F1 karena para pria di kantor ngomongin MotoGP melulu. Saya enggak doyan. Mungkin efek dendam gak bisa-bisa naik sepeda? Hahahaha.

Mending nonton F1.

F1 2005 salah satu yang berkesan. US-GP, dong. Karena kisruh pergantian peraturan soal jenis ban, akhirnya hanya ada 6 pembalap (dari 3 tim) yang berlaga. Kedua pembalap Ferrari menempati tempat teratas. Masih era Schumi nih ;).

Rio Haryanto Dana F1

Gambar : f1fanatik.co.uk

Yang seru yang juara 3 hehehe. Heboh beneeerrrr hahaha. Kapan lagi ya bisa bergaya di atas podium :p.

Lupa namanya siapa. Pokoknya bukan dari grup tenar dan bukan pembalap langganan podium.

Saya sih ngefansnya dengan Kimi Rakkonen. Sayang, tahun 2005 jadi milik Fernando Alonso. Sekaligus mencatat rekor sebagai pemenang F1 (satu musim penuh) dengan usia termuda. Sudah pecah belum sih rekornya?

Tapi perjuangan Kimi benar-benar keren, deh. Di 2-3 GP, Kimi selalu pol-polan nginjek gas dengan kondisi mobil yang “payah”. Walhasil, walau peringkat 3 besar dari awal, selalu gagal di putaran-putaran terakhir.

Di salah satu GP, Kimi memimpin posisi. Tapi mobilnya terbakar di … putaran terakhir! Literally, benar-benar putaran terakhir. Ampe bengong itu nontonnya.

Belakangan ketahuan, Kimi diminta untuk tidak menggenjot mesin biar minimal bisa juara 3 lah. Tapi dese ngotot, “All or nothing” gitu kali ya mikirnya. Dan sukseslah itu mobil berasap di pinggir lapangan. Jangankan juara 3, Kimi malah gagal finish. Padahal hanya butuh bertahan beberapa detik sebelum menembus garis finish dan jadi juara 1.

Siapa bilang F1 gak ada dramanya? Hahaha.

Gambar : sportskeeda.com

Gambar : sportskeeda.com

Sebagai (mantan) pencandu F1 saya termasuk lalai nih soal gosip Rio hahaha. Before, the only thing I remembered, Rio pasang ayat kursi di mobilnya :p. Itu berita sudah cukup lama.

Pertama kali baca saya bertanya-tanya, “Ada urusan apa gitu pasang berita tentang ayat kursi di arena balap? Ah, ini medianya saja yang kehabisan berita! Pengin ngemis traffic aja.”

Barulah tidak lama, ada teman yang share soal opini seorang perempuan yang intinya “bete” karena konon ada dana APBN (KONI) sekitar 100 M yang dimintakan buat seorang atlet. Ini saya belum terlalu ngeh ini orang yang sama dengan yang ayat kursi tadi :D.

Opini tersebut mengkritik permintaan biaya karena masih banyak orang miskin yang dia temui di daerah tertentu. Ya saya respons di postingan itu, saya tidak setuju. Apa hubungannya sih prestasi olahraga vs janda tua nan miskin? Dana APBN pasti sudah dibagi di pos masing-masing. Peruntukannya ya beda-beda, dong. Ada untuk Kemensos beda lagi untuk Kemenpora.

Apa kalau masih banyak orang miskin berarti olahraga tidak boleh berkembang? Tidak dong ya ;).

Tapi perspektif lain datang dari suami. Menurut suami saya ya bandinginnya dengan cabang olahraga yang lain. Banyak cabang olahraga yang jelas-jelas lebih “cucok” dengan sikon Indonesia dan sudah menunjukkan prestasi internasional *jempol*.

Cabang lain yang melibatkan lebih banyak orang dan jelas-jelas punya bakat dan sangat mampu bersaing secara internasional.

Banyak cabang ini yang empot-empotan soal pembinaan. Padahal peminat banyak karena rata-rata cabang olahraga ini relatif popular di tanah air. Paling masalahnya ya dana-dana juga. Bisa jadi yang dibutuhkan tidak perlu sampai 100 M. Bulutangkis, karate, panahan, angkat besi misalnya.

Lah, F1?

Tapi justru ini yang menarik. Beritanya justru sangat viral. Makanya saya mau bahas ini-nya aja deh hihihi.

Iseng saya berkomentar di wall embak-embak yang ikut share berita Rio dan ayat kursi-nya. Saya tebak secara profil kok ya apa iya ngikutin F1? Sungkem dulu sama mbak-nya :p. Kira-kira ngobrolnya begini (duh, mudah-mudahan orangnya gak ingat hahaha)

“Wah, suka F1 juga ya Mbak?”
“Enggak juga Mbak Jihan. Dulu sesekali nonton. Sekarang juga kadang masih ngikutin. Masih Valentino Rossi aja ya yang sering menang.”

F1, Valentino Rossi. Okesip :p.

Makanya menarik bukan? Bisa viral begitu lho di media sosial. Menjadi salah satu trending topic yang lumayan hot. Padahal :

1. F1 tentu bukan olahraga popular di tanah air. Peminatnya juga pasti dari “kalangan tertentu” banget.

2. Profesi pembalap biasanya datang dari kalangan atas. Tahu sendirilah di Indonesia, kalau enggak “miskin” susah lah dapat simpati hahaha :p

3. F1 sendiri termasuk jenis olahraga profesional. Selevel tenis pro dan tinju pro. Atau Golf pro. Kan jarang-jarang ya, pemerintah ikut campur dalam pendanaan untuk level profesional begini? CMIIW, ya.

Soalnya memang dananya gede banget. Sponsor swasta yang banyak bermain. Kalau prestasi memang mentereng banget biasanya otomatis berbondong-bondong yang datang. Hukum alam toh ya ;).

Cerdik juga “tim buzzer”nya. Mereka membidik “segi” lain. Mencari perhatian massa melalui hal-hal lain. Maka hadirlah berita-berita beruntun semacam :

“Subhanallah, Pembalap Rio Selalu Baca Ayat Kursi Sebelum Balapan”
“Tunggu Kepastian ke F1, Rio Selalu Berzikir dan Berdoa”
“Rio Akan Baca Ayat Kursi Sebelum F1 Dimulai”
“Doa, Tahajud, dan Ayat Kursi Mengiringi Langkah Rio ke F1”

Gambar : pixabay.com

Gambar : pixabay.com

Fenomena pemerintahan sekarang. Tekanan bisa diluncurkan via media sosial. Pakde dan jajarannya memang terkenal cukup sensitif dengan isu yang viral di media sosial. “Tim Buzzer” si adinda pembalap paham benar tentang hal ini.

Tapi tentu pening kan, dengan kondisi perekonomian empot-empotan zaman sekarang, gimana cara mencari perhatian untuk sponsor dana dari pemerintah? Apa karena mungkin sudah ‘mentok’ di swasta dan BUMN?

Butuhnya ratusan milyar. Untuk olahraga elit yang kurang dikenal di tanah air. Sementara rakyat sekarang juga sensi banget dengan urusan duit. Mengapa justru banyak dukungan mengalir buat Rio? Paradoks abis.

Nah, barulah paham soal berita-berita ayat kursi, suka baca zikir, atlet saleh dll, yang sudah berdengung beberapa minggu yang lalu. Oooooo begitu toh maksudnya hehehe.

Benar-benar wow lho. Tidak sedikit orang yang mungkin seumur hidupnya tidak pernah menonton tayangan F1 (dulu di RCTI rutin diputar ^_^), terus menerus share berita tentang Rio. Caption-captionnya itu lho… “Masya Allah, saleh banget ya. Ganteng pula. Masya Allah, masya Allah.”

Ya mungkin urusan F1 buat negara sekelas Indonesia ini seperti ingin memasang lampu kristal di salah satu kamar tidur di rumah yang tipenya masih tipe 45 :D.

Iya sih, lampu kristal di atas tempat tidur tentu bisa mengundang decak kagum bagi yang melihat. Tapi apalah arti lampu kristal di sana kalau lampu-lampu di ruang lain yang lebih fungsional… bohlamnya saja tidak ada :p.

Terus, cat-cat dinding rumahnya juga masih kopek-kopek. Perabotan ruang tamu masih acak kadut. Logikanya, mana ada penghuni rumah yang tergila-gila mau beli lampu kristal yang harganya tidak murah itu? Ada juga mereka pasti protes minta lampu ruang tamu dulu misalnya yang dibenerin.

Tapi ternyata bisa lain cerita kalau di lampu kristalnya ditempelin ayat kursi ya ‪#‎eh :p.

Jadi ingat salah satu quote yang sering dikutip dari tulisannya Karl Marx, “Religion is the opium of the people.”

Katanya, agama itu candu bagi sebagian orang. Hmm…

***

3 thoughts on “Candu

  1. kalo gak salah yg juara 3 di USGP 2005 namanya Tiago Montero.
    Ga nyangka mbak JD doyan F1 juga 😀

    • Kartikeyan bukan? Yang Orang India hehehe. Iya, dulu doyan. Sekarang mah udah jarang nonton. Bosenin ah. Yang juara ketebak banget hahahaha :p

Comments are closed.