7even Sin(s)

Lagi ramai membahas kartu kredit. Dikait-kaitkan dengan riba dan utang. Saya dulu malah rajin banget pakai kartu kredit :D. Fungsi utama kartu kredit buat saya pribadi … untuk mempermudah pembayaran.

Lumayan tuh enggak perlu bawa uang banyak ke mana-mana. Saya dulu dodol banget lho, saya malah enggak tahu kalau kita bisa pakai kartu kredit buat ngutang hahahaha. Saya kira kartu kredit itu hanya perwakilan kartu ATM. Karena dulu pun masih jarang merchant yang menerima pembayaran debit.

Jadi, saya pakai untuk belanja sehari-hari. Tidak pernah melebihi uang yang ada di tabungan. Saya juga tidak menghitung gaji yang belum masuk. Pokoknya uang di tabungan ya itu yang dianggap uang yang ada.

Gambar : pixabay.com

Gambar : pixabay.com

Enggak sebatas itu. Waktu bekerja saya juga selalu menahan batas minimum dalam tabungan. Pokoknya harus cukup untuk bayar kos 3 bulan + biaya sehari-hari dalam 3 bulan itu, in case kena pecat atau kenapa-kenapa dan belum dapat pekerjaan. Orang lain mungkin punya opsi, sementara bisa pulang ke rumah orang tua. Lah eike pulang ke mana? Hahahaha :p.

Enaknya pakai kartu kredit juga, saban ditagih kan dapat surat berisi kegiatan belanja kita selama sebulanan itu. Jadi gak repot nulis-nulis pengeluaran :D.

Tiba saatnya membayar tagihan, selalu saya bayar full. Insya Allah enggak bakal berhutang karena saya tidak pernah belanja melebihi budget ;).

Belakangan saya tahu kalau kartu kredit bisa dinaikkan limitnya. Dulu saya pakai limit kecil banget. Cuma 2 juta apa, ya :D. Jauh lebih kecil daripada gaji bulanan saya ;).

Ternyata, ada juga pengguna kartu kredit yang “korslet”. Memanfaatkan kartu kredit untuk membiayai gaya hidup yang ternyata tidak sesuai kemampuan. Baru deh paham kenapa kartu kredit dikatakan berbahaya. Kalau buat saya mah malah nolong banget. Belum lagi suka ada diskon segala macam hihihi.

Suami saya juga sama modelnya kayak saya. Sama-sama kikir emang dah hahaha.

Beberapa waktu lalu, saya mengobrol dengan suami soal kontroversi riba. Misalnya kaitannya dengan bunga bank. Suami pun berceramah panjang lebar semacam Crash-Course Economy buat bininya yang kemal, kepo maksimal hahaha.

Gambar : pixabay.com

Gambar : pixabay.com

Dia menjelaskan soal inflasi dan bunga bank dan mengapa pinjaman uang perlu dikenakan bunga. Karena nilainya yang memang tidak akan pernah sama. Ibaratnya, nilai uang 1 juta tahun ini tentu berbeda dengan nilai uang 1 juta 10 tahun lagi.

Ya intinya panjang sih. Di akhir, dia menerangkan konsep “greedy” yang membuat saya akhirnya terpikir menuliskannya dalam tulisan ini.

Balik lagi ke urusan bank, btw, yang namanya rentenir itu banyak lho di pedesaan atau di perkotaan. Karena itulah mengapa bank-bank BUMN disebar ke daerah-daerah untuk “melawan” para rentenir serakah ini.

Sistemnya sebenarnya kalau ditinjau lebih dalam ya fair-fair saja. Karena saat meminjam seharusnya memang ada jaminan atau hitung-hitungan sehingga kita tidak boleh meminjam melebihi kemampuan membayar.

Nah, di sinilah masalahnya.

Sifat dasar manusia diuji. Pelaksana di lapangan dari pihak bank misalnya. Karena dikejar target, ada pelaksana pemberi kredit yang “berusaha memudahkan” calon peminjam. Ini nyata. Bisa kongkalikong malah.
Ada juga istilah Kredit Tanpa Agunan yang lebih “berbahaya” lagi.

Si peminjam apalagi. Melihat celah untuk memiliki sesuatu/barang/harta tertentu yang sebenarnya BELUM LAYAK mereka miliki.

Lihatlah itu kredit kepemilikan motor misalnya. Diobral gila-gilaan. Orang-orang “kecil” dihasut buat beli motor dengan uang muka yang “kelihatan”nya kecil dengan cicilan bulanan yang sekilas enggak gede-gede amat.

Si sales dikejar target –> si peminjam kebelet pengin tampil. Cucok kan :p.

Gambar : pixabay.com

Gambar : pixabay.com

Pemegang kendali sebenarnya ya tiap-tiap individu. Musuh setiap kita ya nafsu yang ada dalam diri masing-masing. Sifat buruk itulah yang harus kita lawan. Bukan orang-orang tertentu bukan golongan ini itu bukan pula konspirasi ngana ngunu :p.

Sifat-sifat itulah yang mengendalikan proses kehidupan manusia di dunia. Bukan tentang orang/kumpulan/golongan tertentu. Karena potensi kelemahan ini ada dalam tiap individu.

Kita rakus, ingin punya sebanyak-banyaknya. Kita serakah, ingin memiliki hal-hal yang di luar kemampuan kita. Kita ingin dipandang orang lain makanya kita berusaha memiliki materi melebihi kesanggupan sendiri. Kita emosi kalau kita tidak mampu memiliki hal-hal yang kita kira adalah bagian dari harga diri kita. Kita iri dengan kepunyaan orang lain. Kita tidak sabar menunggu hingga benar-benar mampu memiliki hal-hal yang kita inginkan.

Semua berhubungan satu sama lain. Mengharapkan penghormatan dari orang lain berdasarkan kepunyaan. Semacam pikiran bahwa kita hanya akan dihargai berdasarkan penampilan luar (saja). Berlaku timbal balik. Orang dengan pikiran seperti itu akan memandang hal yang sama terhadap orang lain, “Ish, tasnya murahan. Pasti orang miskin!” –> Jangan curcol, Mbak! Hahaha :p.

Lust, Gluttony, Greed, Sloth, Wrath, Envy, Pride. Komplit 7even Sin(s) :D.

Sebagus apa pun sistemnya, selalu ada celah bagi si 7even Sin(s) ini untuk mengacau. Pelakunya ya bisa beda-beda wink emoticon. Sifatnya yang akan tetap SAMA pengaruh buruknya.

Gandhi pernah menuliskan 7even sin(s) ini dalam bentuk lain, diistilahkan dengan 7even social sins :

Wealth without work.
Pleasure without conscience.
Knowledge without character.
Commerce without morality.
Science without humanity.
Worship without sacrifice.
Politics without principle.

Btw, soal sistem bank konvensional apakah halal atau haram di luar pembahasan ini ya :D. Sila ditanyakan pada ahlinya. Setahu saya, ini wilayah khilafiyah. Ada perbedaan pendapat. Monggo diikuti yang sesuai dengan kata hati masing-masing ;).

Ya intinya, ya itu-itu juga. Jangan menyandarkan hidup pada dinding yang salah ;).

Saya akhiri dengan kutipan bagus nih dari salah satu tulisan Rusdi Mathari (saya sampai catat khusus ini saking bagusnya kalimat ini menurut saya) –>

“Ketahuilah olehmu bahwa hatimu merupakan bejana. Kenalilah dunia dan buanglah ia di belakangmu karena dunia bukan tempat tinggalmu [yang abadi], dan apa yang ditetapkan bagimu tidak ada di sana.”

Have a great tuesday <3.

***

One thought on “7even Sin(s)

Comments are closed.