China … The Rising Dragon (2)

Dua merek asal Jepang dan sebuah merek mobil asal Amerika Serikat dikabarkan “terbenam” di tanah air. Tentu saja … ini efek Jokowi! Hahahaha :p. Becanda, deng :D.
 
Sekarang-sekarang ini memang situasi ekonomi sulit di berbagai wilayah. Di kota tinggal saya nan mungil ini, sekitar 2 minggu lalu saya kaget karena sebuah toko yang menjual peralatan olah raga dan printilannya mengadakan closing sale.
 
Gilaaa, barangnya masih banyak banget. Hampir gila rasanya melihat sepatu-sepatu bermerek terkenal banting harga dari 110 euro ke 25 euro! Sayang, nomor sepatu eike enggak ada! Hahahaha. Anak-anak juga habis beli sepatu. Jadi, saya rapalkan dalam hati berkali-kali, “Jangan beli, jangan beli, jangan beli”.
 
Beberapa hari kemudian, barangnya belum habis juga. Akhirnya terbeli juga baju olahraga yang tadinya seharga 20-30 euro merosot ke harga 4 euro saja hihihi. Beli yang murah-murah aja kalau mamak kikir kita nih hahaha. Harapannya nanti bakal kepake di Jakarta kalau ada kesempatan ikutan tren lari 5 K sama 10 K itu lho. Di sini mah mana bisa lari-lari gitu, lari sambil dorong stroller? Hahaha.
 
Selalu sedih kalau ada yang closing down. Lebih sedih lagi, harga sudah terbanting-banting, yang beli juga sepiiiii :(. Iyalah, pembeli juga lagi ribet keuangannya hehehe. Sampai hari terakhir, baju-baju olahraga sudah meluncur ke harga 2-3 euro saja (dari harga asli di atas 30 euro), barang tidak juga habis.
 
Saya bete berat. Enggak nyangka huhuhu. Sudah keburu beli-beli pas year end sale. Segala oleh-oleh buat ponakan, ipar, kakak-kakak sudah beli semua hihihihi. Jadi pas toko olahraganya mau closing, saya sudah tidak ada yang harus dibeli :(.
 
Sempat saya elus-elus sepatu Nike seharga 15 euro sambil meminta wangsit apa harus dibeli apa tidak hihihi. Tahu-tahu … seorang ibu-ibu gipsi menghampiri saya dengan mata berbinar, “I want that.”
 
Aish, enggak tega. Soalnya emak-emak gipsi ini kayak yang senang banget gitu sama sepatu itu. Murah banget soalnya. Harga asli 80 euro boooo. Jadi, saya kasih saja ke dia. Anggap saja, itu jawaban dari wangsit tadi hihihi.
 
Khusus untuk Jepang, sepertinya sudah lebih dari setahun lalu sudah dibahas soal hegemoni merek-merek Korea dan China yang makin mendesak dominasi Jepang. Konon sih, persaingan di bidang “ongkos produksi” enggak bisa nutup di Jepang. Ironi baru soal pendapatan perkapita yang tinggi :).
 
Fokus ke China ya, bukan ke Korea. Karena yang lagi ramai dan memang melesat jauh dalam tempo 30-40 terakhir tahun itu memang China.
 
Di Indonesia sendiri, mungkin efek propaganda Orde Baru dan lanjut soal “isu anti China” pas Pilpres kemarin, tidak sedikit orang yang memandang rendah pada Negeri Seribu Rakit ini. Jadinya lucu, sih. Seperti seekor hamster mungil yang berteriak-teriak betapa kecil dan kerdilnya Sang Kelinci :p. Pakai analogi hewan imut-imut biar enggak pada kesetrum hahaha.
 
China sendiri mengalami banyak masa “pedih” yang cukup panjang. Mulai dari perubahan Dinasti Kerajaan menuju Republik Kerakyatan yang memakan waktu puluhan tahun. Hingga akhirnya China disatukan oleh partai komunis di bawah pimpinan Mao Zedong.
 
Era Mao Zedong macam-macam kejadian menerpa negeri ini. Mimpi besar komunisme dengan slogan “The Giant Leap” ala Mao Zedong malah menyengsarakan masyarakat kecil. Pertikaian politik di penghujung pemerintahan Mao akhirnya memenangkan Deng Xiaoping.
 
Era Deng Xiaoping inilah, Sang Naga melesat kencang ke udara, menebarkan ketakutan baru kepada raksasa-raksasa ekonomi dunia. Jepang, tetangga Asia-nya, sudah terlampaui (parameter GDP). Kini, China pemegang medali perak, hanya satu peringkat di bawah Amerika Serikat. Dan di Indonesia masih saja lho orang-orang melecehkan, “China kan negara miskin.” Hahaha :p.
 
Belum lagi masalah etos kerja mereka. Di China, kaum buruh sempat disubsidi habis-habisan untuk mengatrol upaya pemerintah menjadikan China pusat industri dunia. Jangan lupa juga, di sana orang enggak bebas berdemo. Enggak bisa dikit-dikit demo, dikit-dikit ngambek :p. Tipikal negara komunis kah? Hehehe.
 
Sudah biasa bekerja di bawah tekanan dengan tetap memegang disiplin yang tinggi. Mereka mungkin “murah” tapi jelas tidak murahan :p.
 
Ironi lagi ya kalau dipikir-pikir :(. Tapi “tekanan” ini mengantarkan China berlari cukup kencang di arena perekonomian dunia. Tahun 1993, pendapatan perkapitanya cuma 490 USD per tahun. Di mana saat itu US sudah nyaris 25 ribu USD dan Jepang hampir 32 ribu USD. Indonesia, 1993, sekitar 740 USD. Masih gedean Indonesia dong yaaaaa. Mepet 2x lipat dari China.
 
Pendapatan perkapita ini kira-kira (sederhananya) bisa diartikan sebagai gaji/penghasilan rata-rata tiap penduduk di suatu negara dalam satu tahun.
 
Tahun 2005, China melesat ke 1760 USD. Sementara Indonesia hanya naik ke 1170 USD. Dalam tempo 4 tahun, di 2009, China melesat ke 3650 USD, sementara Indonesia berada di 2050 USD.
 
Melompat ke tahun 2014, China sudah hampir mencapai 7 ribu USD sementara Indonesia 4 ribu saja belum nyampe :D.
 
Jangan lupa jumlah penduduknya sekitar 1.3 milyar. Indonesia hanya sekitar 260 juta orang. Bisa bayangin tajirnya China :p. Walau pendapatan perkapita Jepang sudah di kisaran 40 ribu-an, penduduknya cuma 120 juta. Kurang dari sepersepuluh jumlah penduduk China, makanya kesalip sudah ;).
 
Informasi tambahan, India juga penduduknya sudah lebih dari 1 milyar tapi pendapatan perkapita belum nyampe 2 ribu USD. Tapi tidak membuat India lebih payah daripada Indonesia. Utamanya urusan diaspora. Enggak usah nyinyirin India lah, malu tauk mereka sudah ada di mana-mana sementara dunia internasional masih meraba-raba itu Indonesia negara apaan sih? Hahahaha :p.
 
Percaya diri boleh. Tapi perluas pergaulan sedikit lah ya :p. Kalau ada lebih-lebih uang, jangan melulu dipakai jajan atau beli-beli barang, menabung sedikit buat backpacker-an ke negara-negara lain. To witness the world with your own eyes ^_^. Biar enggak gampang kena berita hoax juga kan? Hehehe.
 
Anw, masalah yang dihadapi China mirip dengan Indonesia juga. Tipikal negara berkembang dengan penduduk segabruk-gabruk, kesenjangan ekonomi sosial antara si kaya dan si miskin masih menganga. China sendiri sejak 20 tahun terakhir berusaha keras menjembatani hal-hal ini dengan mati-matian membangun infrastruktur untuk pemerataan pembangunan di wilayah kota dan pedesaan.
 
Plus minus hal-hal yang bisa kita pelajari dari 3 negara besar sesama Asia ini ya,Jepang dan China :D. Jepang dengan inovasi dan kedisiplinannya. China dengan kerja kerasnya. Serta India dengan percaya dirinya.
 
Bagaimana mau belajar dari China kalau masih di hati masih menyimpan rasa jumawa cobak hehehe.
 
Lagi ramai soal kereta cepat ini saya kira sedikit banyak juga karena efek China-nya ;). Jangan seperti katak dalam tempurung. Menilai-nilai hal yang kita tahu saja tidak. Contoh komentar yang menuduh China apa sanggup bikin kereta cepat? Yaela Kakaaaaa, di sana mah jalur kereta cepat banyak beneeeer hehehe.
 
Nanti coba piknik ke Shanghai, biar bisa menganga betapa tidak ada apa-apanya kota-kota besar di Indonesia dibandingkan kota-kota besar di China ;).
 
Satu lagi, stigma bahwa China pusatnya barang-barang murah. Wrong! Di China, dari barang KW 100 sampai super original ada semua lho, Sis ;).
 
Saya ingat seorang teman yang jualan tas bermerek sempat panik ketika salah satu customernya mengadu mengapa tas pesanannya ada tulisan “Made in China”. Teman saya juga tidak siap dan tidak menyangka. Setelah bertanya ke toko langsung baru dijelaskan, beberapa model memang sudah lama dibuat di Negeri Lampion tersebut. Jadi, bukan barang palsu! ;).
Info teman di salah satu komentar di wall saya, lebih dari 70% smartphone di dunia dibuat di China ^_^.
 
Konon, sekarang ini, China sudah mulai menekan pertumbuhan industri dan mengejar peluang menjadi negara investor :D. Untuk industri pembangunan kereta cepat, China berusaha mengumpulkan portofolio awal. Agar kelak mereka juga bisa mendapatkan proyek-proyek di tempat-tempat lain.
 
Analoginya sama kayak penjual kue yang baru memulai jualan. Biasanya nawarinnya pakai harga diskon dulu biar punya pelanggan dan bisa dapat testimoni. Kelak, kalau sukses, kan bisa menjadi rekam jejak buat pelanggan-pelanggan berikutnya. Sesimpel itu kok.
 
Cuma mungkin karena sudah kebanyakan konspirasi dan kebiasaan dicekoki sama info nganu-nganu, jadi bisa tajam begini dan ke mana-mana gosipnya hihihi.
 
Memang, harus tetap kritis terhadap rencana besar ini. Tapi ingat, jangan sampai ketelan berita hoax. Pelajari sebaik mungkin detail dan macam-macamnya. Jangan prejudice ke China apalagi hanya bermodal “China di masa lalu”. Update dikit lah teman-teman, China sekarang ekonomi dunia nomor 2! NOMOR 2! :D.
 
Nanti saya bantu jelaskan ya, soal permodalan kereta cepat China ini. Sudah diajarin nih sama suami seminggu penuh hahahaha. Kita tunggu dululah perkembangannya, dengar-dengar Pak Jokowi mau konferensi pers terkait urusan kereta cepat ini. Kalau sudah pasti lanjut, kita bahas agak detail soal permodalan dan isu-isu yang menyertainya ;).
 
Insya Allah ya, kalau saya paham dijelasin suami, ini masih ada yang belum benar-benar saya pahami. Ribet ini menyeimbangkan kemampuan otak di sela-sela aktivitas di seputar kompor dan popok hahahaha.
 
Percayalah, kalau Sang Naga itu bisa terbang tinggi … suatu hari nanti, optimisme akan membuat Sang Zamrud Khatulistiwa ini juga sanggup memendarkan cahayanya jauh tinggi ke atas sana. Insya Allah. Makanya ikut berkontribusi yuk untuk Indonesia yang lebih baik. Minimal kedepankan prasangka baik kalau tidak benar-benar paham persoalan ;).
 
Keep calm and love our country <3.
 
***

2 thoughts on “China … The Rising Dragon (2)

  1. Tulisannya bagus mbak Jihan. Sy emang blom pernah ke China, tapi sering liat liputannya di NGC n BBC Earth. Shanghai…. wuih, reporternya aja (bule) melongo terkagum-kagum … Kemajuan infrastrukturnya beuhhh …. Mereka membangun jaringan rel ratusan km di pedalaman yg tanahnya keras membeku di musim dingin lalu meleleh jadi lumpur di musim panas…. Top abis dah….

Comments are closed.