People We Haven’t Met Yet (8)

“Bu, buuuu, tolongin dong …”

Saya menengok, “Apaan…”

“Ini kemarin sudah ada lagu-lagunya. Tinggal pencet ini. Tapi sekarang mana, ya? Gak ada lagi yang bisa dipencet? Ilang ini pencetannya.”

“Apaan tuh yang dipencet-pencet?” Saya mulai cengengesan.

Si embak menyodorkan ponselnya sambil sibuk nerangin dari awal lagi. Nerangin ala dia. Setelah melihat gambar di ponsel dan keterangan dari mulutnya baru deh bisa sinkron apa itu yang dipencet-pencet segala macam hahaha.

Sebut saja namanya Mbak Paris. Mawar melulu bosan yeeeeee :p.

Mbak Paris ini asisten rumah tangga yang bekerja di rumah yang satu kompleks dengan saya. Di Jakarta, sekitar hampir 7 tahun silam, sebuah pergaulan baru mewarnai hari-hari saya … bergaul dengan embak-embak saban sore sembari nemenin anak main hihihihi.

People we haven't met yet Jihan Davincka

Ikut jongkok bareng-bareng mereka membahas mengapa si Gondrong kalau datang bawanya selalu tempe yang sudah tidak segar. Ikut berdiskusi besok enaknya masak apa biar majikan mereka dan anak-anak semua doyan biar enggak banyak-banyak masaknya. Karena kalau kebanyakan nanti kena marah juga hihihihi.

Eh, siapa si Gondrong? Gondrong ini nama tukang sayur langganan. Satu-satunya gerobak sayur yang boleh masuk ke kompleks kami :D.

Kompleks tinggal saya modelnya town house. Karena sempitnya lahan di tengah-tengah kota, banyak developer yang akhirnya membangun kompleks-kompleks mungil yang biasanya berisi maksimal 20 rumah lah ya. Tapi ada juga yang bisa sampai 30. Minimal bisa 2 rumah doang malah hehehe.

Pulang dari Teheran, saya memang sudah berhenti bekerja sejak setengah tahun sebelumnya. Tak tega meninggalkan anak, saya urungkan dulu niat melanjutkan sekolah ke tingkat S2. Toh dulu niat resign karena kepengin lebih dekat dengan si sulung yang memang aktifnya luar binasa banget deh dari kecil hahahaha. Saya hanya percaya kalau dia dihandle oleh tangan saya sendiri ๐Ÿ˜‰ –> mamah-mamah posesif :p.

Anak baru satu. Suami pergi jauh merantau. Karena visa tak kunjung datang, terpaksa LDR-an hampir setahun.

Tiap sore, saya bawa si kecil (waktu itu anak baru satu) main-main di jalanan kompleks. Kompleks kecil ya jalanannya seadanya juga. Tapi cukup luas buat arena lari-larian kelompok balita dan abege di sana hihihi. Relatif aman juga lah.

Baru saya sadari, mamah-mamah tetangga jarnag ada yang beredar. Anak-anak ditemani oleh embak-nya masing-masing. Jujur, saya sih tidak pernah risih dengan mereka. Mereka yang menjaga jarak dengan saya karena tahu posisi saya sebagai “nyonya”.

Tapi saya pepetin aja terus hahahaha. Saya ajak mengobrol, saya becandai, saya ikut duduk sebelah mereka, walau awalnya mereka langsung bubar kalau saya datang. Idih, berasa gue nenek sihir! Huhuhu.

Saya tidak tahan tidak ada teman mengobrol. Sebanyak itu orang di jalanan kompleks sore-sore, pasti gatal kan pengin bergosip hahahaha.

Saya coba main-main dengan geng balita. Yaela, 5 menit udah bosan. Namanya balita, oper-operan bola aja bisa ngikik-ngikik bareng sampai sejam enggak bakal bisa berhenti. Akhirnya saya dekati satu-satu geng para embak. Dari situ baru mereka mulai “nyaman” dan mulailah saya “diterima” oleh mereka *tsaaaaah*.

Dengan bantuan embak saya juga, sih hihihi.

Pasti kalian mengira mereka suka curhat soal majikan. Tidak juga, lho. Kalau saya sendiri lebih suka bertanya hal-hal yang berkaitan dengan mereka. Ratu kepo mulai beraksi hahhaha.

gambar : mariaelita.com

gambar : mariaelita.com

Ya pertanyaan ngalor ngidul standar khas orang ketimuran yang memang budaya “kepo”nya lebih kuat daripada orang bule ya hihihi, “Asalmu dari mana sih, Mbak? Sudah menikah? Punya pacar? Anak berapa? Umur berapa?” Kalau mereka sudah mulai nyaman, merembet ke pertanyaan lebih pribadi, “Ada suami? Suami di mana?”

Dari situ juga saya didapuk menjadi tukang benerin ponsel atau membantu download mp3 dan semacamnya hihihihi. Sambil saya utak utik ponselnya, mengalirlah banyak cerita dari mereka. Saya kagum sekali dengan cara mereka menertawakan hidup masing-masing, setengah cengengesan bercerita hal-hal yang menurut saya sedih huhuhu.

Saya kan cengeng ya, tapi saya tahan untuk tetap se-kasual mungkin misalnya saya mereka cerita, “Suamiku lari Bu sama janda. Eh, tabunganku dicuri. Jadi anakku berhenti sekolah. Kutitip di Bude. Aku yo cari kerja di Jakarta. Lumayan Bu, jadi bisa jajanin anak.”

“Sekolahnya?” Tanya saya.

“Belum cukup uangnya Bu. Biar ajalah. Lagian ada adeknya masih bayi. Susu mahal. Lumayan yang gede sudah bisa baca tulis. Nanti tunggu gedean dikit bisa jadi supir kargo. Bagus itu supir kargo. Gak sembarangan juga Bu orang bisa jadi supir.”

Hiks, jadi supir kargo :'(.

Si embak, janda 2 anak. Lain lagi cerita yang gadis.

“Sekolahnya jauh, Bu. Capek ah. Jadi ke sini aja cari duit. Mau beli henpon.”

Kata saya, “Idiiih, mending sekolah. Nanti sekolah tinggi lulus kerjanya bisa lebih bagus. Jangankan henpon Mbak, yang lain juga bisa beli.”

Matanya berbinar-binar, “Iya, betul Bu. Tetanggaku bisa jadi TKW ke Arab. Banyak itu duitnya. Betul itu.”

Hiks, sekolah tinggi untuk jadi TKW di luar negeri :'(.

Gambar : pixabay.com

Gambar : pixabay.com

Ada lagi yang membanggakan anaknya yang sudah kelas 2 SMP. Karena katanya di keluarganya, yang lulus SD saja masih sedikit banget. Lulus SMP, siap-siap jadi buruh pabrik di kampung sebelah. Aish *hapusAirMata*.

Jelang ada cuti buat pulang, mereka ribut mau beli baju buat si kecil di kampung. “Kemarin katanya di Pasar Senggol ada celana tentara gitu. Mahal je. 20 rebu.”

Saya diaaaam saja mendengar mereka membahas harga-harga barang. Mereka itu, tidak ada keluhan tidak ada protes. Hanya sekadar berbagi dan saling memberi informasi beli bedak merek apa di mana yang harganya paling murah. Beli pulsa di warung anu yang suka dapat diskon. Majikannya kali yang sibuk teriak, “Harga-harga mencekik rakyat” sambil ngerumpi minum-minum kopi di kafe #eh :p.

Pernah di suatu pagi, saya kepoin si Gondrong, “Ndrong, siang amat ke sininya. Bangun pagi napa?”

Sambil masukin belanjaan saya dia nyengir, “Kan muter dulu Bu. Di sini memang jadwalnya ya jam segini.”

“Pagian dong makanya…” Saya tetap protes sambil memilih ikan di gerobak bagian belakang.

“Kan jam 5 juga sudah mulai muter Bu.”

“Ha? Jam 5?”

“Iya. Sebelumnya belanja dulu. Jam 1 sudah nungguin barang di pasar.”

“Jam 1? Tengah malam? Ngerinya. Gak takut lu Ndrong, malam-malam d pasar?”

Dia tergelak, “Pasar mah jam segitu justru rame Bu. Truk-truk ngumpulnya jam segitu. Bawa macam-macam.”

Ooo…I see. Berat juga ya jadi pedagang sayur keliling. Pantas si Gondrong kalau di sms-in sore-sore gak pernah reply. Sms minta dibawain bahan khusus yang dia jarang bawa sehari-hari hihihi. Memang gitu cara kami memesan daging sapi misalnya. Gondrong ogah membawa daging kalau tidak ada yang pesan. Soalnya modal gede kalau bersisa mau ditaruh di mana?

Tinggal sms, “Ndrong, daging buat dendeng satu kilo. Bilangin ke yang jual, potongin tipis-tipis.”

Gambar : pemudawirausaha.com

Gambar : pemudawirausaha.com

Para embak, si Gondrong, semua tinggal terpisah dari pasangan dan anak-anak mereka. Embak-embak ini … sama-sama perempuan seperti saya. Yang sudah berkeluarga, sama-sama jauh dari suami. Bedanya, ada yang janda ada yang suaminya juga bekerja di tempat lain. Ada yang juga berstatus Ibu.

Sementara waktu bekerja dulu, saban habis gajian, seringnya saya dan beberapa teman jalan-jalan ke toko baju lihat-lihat. Yang diobrolin tas yang bisa jadi harganya juta-juta. Lah di hadapan saya, para embak meributkan celana motif army yang harganya 20 ribu :'(. Mahal banget katanya.

Mereka juga jauh dari anak sendiri malah seharian mengurus anak orang lain. Saya sepanjang hari bisa dekat dengan anak.

Perspektif baru ya tentang kehidupan jauh dari pasangan :). Sedihnya kalau harus LDR. Tapi saya jauh lebih beruntung. LDR pun, tidak kesulitan soal uang. Ngambek dikit tinggal minta duit hahahaha :p. Tinggal pun di rumah sendiri. Bisa dibilang full fasilitas. Punya embak pula yang bantu-bantu. Padahal anak cuma satu *tutupMuka*.

Bosan di rumah sekali-sekali pengin keluar tapi malas nenteng bocah? Tinggal telepon Mama. Mama datang menemani anak saya di rumah. Saya keluar ke mal, janji makan siang dengan teman, kadang nonton di bioskop juga. Me time, me time … hihihihi.

Lah itu embak-embak, me time -nya kapan? Ada gitu duit khusus buat me time?

Berat rasanya melewatkan waktu saat jauh dari suami, tuh. Ada aja gitu masalah. Kesepian dan serba tidak pasti. Ceramahin suami melulu soal pentingnya tinggal bersama bla bla bla. Padahal waktu itu sikon memang sulit. Mau enggak mau harus LDR-an sementara. Sementara saja.

Nah coba si embak-embak tadi, entah harus sampai kapan membanting tulang dengan gaji pas-pasan hanya untuk masa depan selevel sopir kargo dan buruh pabrik untuk anak-anak mereka?

Kita ini memang narsis. Saat kondisi sulit, serasa dunia hanya berputar di sekitar kita saja hehehe. Oh, betapa beratnya hidupku. Oh, betapa malang nasibku. Oh dan oh dan oh lainnya. Saya mah sering bener begitu hahaha *ngumpet*.

Btw, I learned a lot from embak-embak tadi :).

Dengan ritme reguler sebagai ibu rumah tangga di rantau pasti tiap hari ya gitu-gitu aja. Bangun-masak-nyiapin anak-ngurusin anak-facebookan (hhahaha)-masak lagi-cuci piring-ngurusin laundry-beberes bla bla bla.

every mom image

Anytime I feel exhausted regarding this never-ending-daily-routines, I remembered them. Biasanya, jadi lebih enakan walau tetap betenya enggak sepenuhnya hilang hahahaha.

Exhaustion is temporary ;). Ada banyaaaaaaaaaaaaaaak hal lain yang bisa dirayakan and they are permanent ^_^.

Makin dibiasakan untuk tidak gampang fokus ke diri sendiri kalau lagi ribet :p. Sering kan kita begitu, kalau dirasa ada kesulitan, dunia serasa berhenti berputar and oh… I’m the most miserable person in this universe yadda, yadda, yadda …

Urusan dunia, usahakan terus lihat ke bawah.

“You must understand the whole of life, not just one little part of it. That is why you must read, that is why you must look at the skies, that is why you must sing, and dance, and write poems, and suffer, and understand, for all that is life.”-Jiddu Krishnamurti

Have a nice weekend <3.

Gambar : pixabay.com

Gambar : pixabay.com

2 thoughts on “People We Haven’t Met Yet (8)

  1. Exhaustion is temporary ;). Ada banyaaaaaaaaaaaaaaak hal lain yang bisa dirayakan and they are permanent ^_^.

    Agreeeee mba Jihan!! Keren banget! Btw dah lama banget ga mampir sini..ternyata ga muncul di readerku sejak pakai dotcom. Now I follow through feedly.

  2. Keren banget Mba JIhan, ini aku baru nemu blogger emak – emak yang curhat nya bikin mau mewek, bikin sadar kalau selama ini kurang bersyukur, bikin sadar betapa pentingnya bersosialisasi di semua “strata sosial”, gak beda – bedain orang dalam bergaul. Nyes banget yang obrolan celana 20rb dibilang mahal :'( lah kita biasa dengan celana harga ratusan ribu bahakan jutaan, lipstik harga ratusan ribu.
    Nice share mba sangat menginspirasi banget ceritanya… ๐Ÿ˜€

Comments are closed.