When Silence is Deafening

Di awal abad ke-20, Republik Irlandia akhirnya berhasil merebut kemerdekaannya dari Kerajaan Inggris Raya. Beberapa aktivis Katolik dan nasionalis Irlandia mengklaim kemerdekaan mereka dan tidak disambut mulus oleh pihak Kerajaan Inggris.
 
Katoliknya harus disebut, ya, karena di masa itu, hubungan Protestan vs Katolik ikut mewarnai perebutan wilayah di Pulau Irlandia oleh Kerajaan Inggris dan Republik Irlandia. Mayoritas Kerajaan Inggris adalah penganut Protestan.
Gambar : gtaforums.com

Gambar : gtaforums.com

 
Sebelumnya pula, lebih dari 100 tahun, pertikaian antar kepercayaan ini terus berkobar sejak masa penjajahan Kerajaan Inggris terhadap Republik Irlandia. Penekanan dari sisi agama juga dilancarkan oleh pihak penjajah. Misalnya pemaksaan bahwa warga Irlandia HARUS manut pada ajaran Protestan.
 
Yang begini ini yang bikin perselisihan makin sengit.
 
Dari klaim kemerdekaan di tahun 1916 itulah, muncul IRA (Irish Republican Army). Anggotanya : sukarelawan komunitas Katolik di Irlandia (kaum militan katolik) dan anggota militer Inggris yang berasal dari Irlandia.
 
IRA melancarkan operasi-operasi militer yang akhirnya berhasil memaksa Kerajaan Inggris untuk membagi Pulau Irlandia menjadi 2 bagian. Wilayah utara tetap berada dalam naungan Kerajaan Inggris, wilayah selatan yang hingga kini berdiri sebagai satu negara sendiri, Republik Irlandia. Perjanjiannya dikenal dengan nama Traktat Anglo.
 
Note, mbak yang nulis ini tinggalnya di Republik Irlandia sekarang :p. Jadi suka pening kalau ada yang nanya-nanya soal teroris. Salah woi, salaaaaahhh :p. Terorisnya di bagian utara ituuuuuu :D. Tapi baiklah, mumpung temanya lagi pas bahas teroris, kita tuntaskan tanya kalian via tulisan ini *tsaaaaah* :p.
 
Pasca Traktat Anglo, IRA terpecah menjadi 2 : pro Traktat vs kontra Traktat. Yang pro yang setuju-setuju saja wilayah Pulau Irlandia terbagi 2. Yang kontra sebaliknya, kepengin kalau Pulau Irlandia merdeka secara utuh.
 
Berantem sendiri. Hingga akhirnya yang kontra Traktat terdesak dan kalah. Tapi IRA versi kontra ini terus menerus melancarkan perlawanan dengan aksi bersenjata. Tentu dengan dukungan militan Katolik Irlandia.
 
HIngga akhirnya tahun 1969 pecah kerusuhan besar. Komunitas Protestan pro Inggris dan polisi setempat sukses mendesak komunitas Katolik. Tidak sedikit penganut Katolik di wilayah Belfast (Irlandia Utara) yang rumahnya dibakar oleh pihak lawan.
 
IRA dikecam oleh militan Katolik karena dianggap gagal melindungi umat Katolik di Belfast. Setelahnya, IRA kembali terpecah : Official IRA (OIRA) vs Provisial IRA (PIRA).
 
OIRA lebih moderat. PIRA yang radikal. Umm…bisa dibilang Fatah vs Hamas kali ya kalau di Palestina? CMIIW.
 
PIRA yang terus melanjutkan tradisi kekerasan militer. PIRA melindungi kalangan Katolik di Irlandia Utara dengan tidak segan-segan menggunakan senjata. Inilah bedanya OIRA dan PIRA. OIRA menghindari bentrokan fisik. Namun, PIRA mendapat dukungan dari militan Katolik baik di Republik Irlandia maupun Irlandia Utara.
 
Sejak tahun 1970 mereka memang menggunakan taktik peledakan bom dan metode “urban warfare”, menyerang polisi Inggris di pemukiman padat penduduk.
 
Karena banyaknya korban dari kalangan sipil, lama-lama rakyat di Republik Irlandia pun ogah mendukung PIRA. Tapi PIRA masih didukung oleh kalangan Katolik di Irlandia Utara yang tidak suka dengan kehadiran militer Inggris.
 
Persenjataan modern PIRA disuplai dari Libya (Qaddafi), komunitas Irlandia di US, ETA (Spanyol) dan PLO (Palestina). Konon, Qaddafi rajin menyuplai senjata karena dendam pribadi terhadap US dan Kerajaan Inggris.
 
Masifnya teror bom oleh kelompok PIRA, Kerajaan Inggris yang kepayahan akhirnya membuat aturan baru. Menangkap siapa saja yang tertuduh PIRA tanpa pengadilan. Hal ini malah membuat kalangan Katolik di Irlandia Utara makin bete dengan militer Inggris.
Serangan bom tahun 1996 di UK,, gambar : irishtimes.com

Serangan bom tahun 1996 di UK,, gambar : irishtimes.com

 
Tahun 1979, PIRA meledakkan bom tidak jauh dari kapal pribadi Lord Mountbatten (veteran Perang Dunia II dari Inggris) di perairan Irlandia. Lord Mountbatten tewas dalam serangan tersebut.
 
Tahun 80-an, PIRA makin hot. Tahun 1984, sebuah bom diledakkan di Hotel Grand Brighton (Inggris). Margareth Thatcher yang sedang berada dekat lokasi selamat. Bom menewaskan 5 orang dan melukai 34 lainnya.
 
Tahun 90-an loyalis Protestan mulai melawan dengan bantuan intelijen Inggris. Makin-makin dah PIRA mengamuk. Terdesak di Irlandia Utara, PIRA terus melancarkan serangan bom di Inggris Raya.
 
Tahun 1993, PIRA mengebom wilayah Chesire. Kesalahan teknis. Yang meninggal justru 2 anak kecil :'(.
 
Tahun 1996, pemboman lebih sukses. PIRA meledakkan bom di beberapa titik di London dan Manchester. Peristiwa ini berhasil membuat Kerajaan Inggris menelan kerugian materi hingga ratusan juta pounds.
 
Proses menuju gencatan senjata terus berlangsung. Hingga akhirnya lahir perjanjian Belfast tahun 1998 yang disepakati oleh PIRA. PIRA berjanji hanya akan memperjuangkan kemerdekaan Irlandia Utara via negosiasi damai tanpa aksi kekerasan.
 
Butuh waktu belasan tahun hingga akhirnya PIRA melenyapkan stok senjatanya.
 
Tapi di sini saya bertemu teman dari India yang pindah dari Belfast ke Athlone sekitar tahun 2011 silam. Menurutnya, keadaan di Belfast di beberapa wilayah tertentu masih suka rusuh kecil-kecilan. Masih suka ada ledakan bom iseng-iseng. Duh, iseng-iseng kok ledakin bom? :'(.
PIRA terkikis tapi warisannya itu lho … metode baru menebar teror via penyerangan fisik/peledakan bom di area sipil :'(. Taktik ini menginspirasi banyak pergerakan/pemberontakan di dunia :(.
 
Suami saya bilang, ide teror bom di kawasan sipil ini awalnya ya dari PIRA ini. Saya belum bisa menemukan data yang lebih dulu soal teror bom di kawasan sipil sebelum era PIRA. Apa benar, ya?
 
Lots of things we can learn.
 
Terutama sensitifnya isu agama ini. Sekarang sih kayaknya sudah hampir tidak ada lagi sumbu pendek antara Protestan dan Katolik. Di sini sendiri ya damai-damai saja so far alhamdulillah :). Apalagi saya di kota kecil. Rasanya belum pernah mendapat teror aneh-aneh terkait selembar kain yang selalu melingkar di kepala saya kalau saya lagi berada di luar apartemen.
 
Ada juga saya pernah disangka orang Gipsi, pengungsi dari Rumania yang kebanyakan jadi tukang minta-minta di banyak negara Eropa yang maju hihihihi. Dikasih duit booooo, sayang cuma 1 euro 50 sen :p. Hadeeeeeh,, hahahahaha :p.
 
Dulu pun di Masjidil Haram, oleh seorang jemaah Indoonesia, anak sulung saya dikasih duit 10 riyal, saya disangka TKW hahahahaha. Anak saya disuruh belajar yang rajin katanya biar pengorbanan saya katanya tidak sia-sia. Onde mandeeeee, banyakan fesbukan seharian di rumah kok dibilang berkorban sih hahahahahaha :p.
 
Masa ya, kece begini selalu disangka orang miskin, sih? *nangis*.
 
Berakhirnya tegangan tinggi antara Protestan dan Katolik ternyata diikuti oleh makin runcingnya pertikaian internal antara Sunni dan Syiah dalam Islam, ya? :(.
 
Sebenarnya pemicu awal pertikaian itu SEMUA diawali dengan masalah yang sifatnya sekuler. Enggak jauh-jauh dari perebutan tanah atau wilayah atau kekuasaan atau lebih kekinian di Timur Tengah, merebut pasar minyak :p. Apalagi goncangnya harga minyak membuat kondisi di sana kejang-kejang. Ya gimana, dominasi penghasilan rata-rata dari minyak. Manalagi sudah biasa hidup “hedon-hedon” :p. Makin pusing pala para Abu dan Ummu :D.
 
Kejang-kejangnya ini yang menular ke mana-mana. Dan bumbu agama untuk kesekian kalinya dimanfaatkan untuk menambah romansa pertikaian. Semangat jihad dikobarkan salah satu tujuannya untuk membentuk militansi, sih, ya.
 
Yang “atas-atas” memang nyari duit dan kekuasaan. Tapi mereka perlu serdadu-serdadu yang bisa dimanfaatkan militansinya tanpa perlu keluar uang banyak. Candu apalagi yang paling tepat selain candu agama?
 
PIRA/IRA kan berjuang untuk pembebasan Irlandia. Persoalan agama hanya pelengkap yang justru membuat masalah makin sulit diurai.
 
Palestina? Ya masalah tanah juga. Sudah berhamburan berita bahwa di Palestina itu sebenarnya ada penganut agama lain selain muslim. Demikian pula pemerintahan Israel itu sebenarnya sekuler, tidak mewakilli kepercayaan Yahudi.
 
Tapi yah, kalau sudah urusan Palestina, perdebatannya ujung-ujungnya bahas orang kafir, surga dan neraka. Padahal di belahan dunia lain, banyak kalangan masyarakat yang mati-matian mengutuk Israel. Tapi buat mereka yang sudah “kecanduan”, Palestina ya jihad agama! Terkutuklah kau Yahudi dan Nasrani. Lah jangan-jangan petinggi-petinggi Israel atheis semua hahahahaha :p.
 
Pokoknya kalau sudah bawa-bawa Tuhan, repot ya :(.
Gambar : misacor.org

Gambar : misacor.org

 
Susah kan mau minta konfirmasinya gimana. Enggak bisa kita confirm langsung, “Tuhan, jadi yang benar yang mana nih? Dia apa saya?” Lah masing-masing merasa perwakilan Tuhan :p. Mengkritisi mereka berarti mengkritisi Tuhan, onde mande banget kan? :D.
 
Tapi teman-teman muslimku, saya percaya mayoritas kita sebenarnya BUKAN orang-orang yang sakaw yang menganggap keislaman kita adalah seberapa keras kita mengutuk (bahkan membunuh) orang lain di luar Islam. Saya yakin deh, yang error-error itu cuma sedikit.
 
Problemnya, mereka sedikit tapi BERISIK. Terlalu BISING. Suara mereka yang terlampau kencang ini yang membuat orang-orang di luar Islam merasa bahwa sesungguhnya merekalah perwakilan Islam yang “benar”.
 
Saya kutip nih satu komentar di sebuah video yang membahas soal fanatisme kekerasan dalam Islam, “…kalau umat Islam mengklaim yang suka meneror dengan kekerasan hanya orang-orang tertentu yang ekstrimis lalu mengapa tak ada yang lantang menentangnya? Sisanya kok diam saja? Their silence is deafening.”
 
Kata “mereka”, diamnya kita justru bukti bahwa jangan-jangan kita mengiyakan? Padahal mungkin kita malas saja dituduh LIBERAL kan, kan, kan? Hahhaahahaha.
 
Banyak teman saya mengaku menghindari mengomentari hal-hal seperti ini karena ujung-ujungnya bisa berdebat tiada ujung.
 
Alasan sebagian teman, “Lo sih enak, emang lo doyan berantem! Lah kita yang pengin nyari resep doang di Facebook ya ogahlah ngurusin gituan.” Hahahahaha :p. Husss, eike juga rajin nyatet-nyatetin resep di Facebook kali aaaaahhh ;).
 
Tapi kita mungkin sudah berada di masa di mana DIAM tidaklah cukup :).
 
“Our lives begin to end the day we become silent about things that matter.” -Marthin Luther King Jr-
 
Kecuali…tentu saja, kalian diam karena dalam hati memang sepakat. Atau buat kalian, ini bukan perkara yang penting. 
 
Think about it. Please <3. 
Gambar : pixabay.com

Gambar : pixabay.com

 
***
 
 
 
 
 

3 thoughts on “When Silence is Deafening

Comments are closed.