Baby Blues Pasca Melahirkan, Is It Ok?

Dulu saya juga ‘meremehkan’ masalah baby blues pasca melahirkan ini. Ealah ternyata, diantara 3 pengalaman melahirkan, hanya proses kelahiran anak ke-3 yang bisa dibilang bebas dari drama Baby Blues ini.

Umm…itu berlakunya sampai bayi umur berapa, sih? Sekarang sih #baby3 umurnya sudah menuju 4 bulan, alhamdulillah baby blues belum pernah menghampiri. Jangan (lagi) doooooong huhuhu :(.

gambar : pixabay.com

gambar : pixabay.com

Awalnya saya pikir baby blues umumnya menimpa perempuan saat pasca kelahiran anak pertama.

Tadi saya baca di statusnya Mbak Adinda Bintari di Facebook sedikit informasi mengenai baby blues ini. Menurut beliau, baby blues bisa menghampiri sang Ibu dalam kondisi anak ke berapa pun. Katanya, Mbak Adinda pernah punya klien dengan baby blues saat melahirkan anak ke-3, anak ke-4, dan sebagainya.

Saya sendiri “kena”nya di anak pertama dan anak kedua :p. Doyan? Hahahaha :p.

Pemicu baby blues anak pertama ya pastinya masalah ASI huhuhu. Dan…gagal pula rencana ASI ekslusif yang sudah digadang-gadang sejak masa hamil itu :(. Juga karena kecapekan. Saat melahirkan anak pertama, saya masih tinggal bersama mertua dan sedang tidak ada asisten rumah tangga.

Dulu juga sok idealis, awalnya nekat menggunakan popok kain. Malam-malam nyuci popok padahal badan sudah rontok. Manalagi tentu beda lah ya tinggal bareng Ibu mertua vs ibu sendiri :p.

Tekanan karena gagal memberi ASI ekslusif itu sih yang paling bombastis efeknya. Saya pernah terbangun malam-malam dan menangis di kamar mandi. Didera rasa bersalah karena gagal pakai popok kain, berantakan ASI ekslusifnya, dan ketidakmampuan saya menyalurkan emosi. Mau curhat ke siapeeeeeeee :(.

Anak kedua? ASI alhamdulillah lancar jaya. Walau saya lebih prepare dan tidak seidealis anak pertama. Sudah menyiapkan susu formula juga buat jaga-jaga. Eh, malah ASInya lancar dan sufornya akhirnya kebuang sia-sia karena sudah kemasannya keburu dibuka dan enggak kepake sama sekali.

Dot juga sudah beli. Jadinya mubazir :(. Mau kasih ke orang kan enggak enak, ya. Walau gak kepake, bungkusnya sudah dibuka. Nanti disangka ngasih botol bekas hihihi.

Tapi, melahirkan anak ke-2 di Jeddah tanpa bantuan sanak keluarga sama sekali juga lumayan capeknya. Apalagi sudah anak sulung juga. Double yang harus ditangani. Padahal sudah pakai jasa katering dan bantuan bibik TKW yang datang 3x seminggu.

Saya pikir, ibu macam apa, sih, yang bisa baby blues? Itu mah pasti hanya untuk ibu-ibu yang egois. Kok bisa-bisanya stres sehabis melahirkan? We should be happy. Further more .. WE MUST BE HAPPY! Kita enggak boleh sedih-sedih karena kan sudah punya bayi. Harus kuat, harus kuat, harus kuat.

But I’m not! Huhuhu *mewek*.

Sedari hamil ke-3 di Irlandia ini, saban ke klinik dan rumah sakit, saya melihat banyak poster soal Baby Blues. Malah disediakan konsultan dan ruangan khusus, lho. Ada banyak selebaran yang bisa kita ambil gratis yang menerangkan ciri-ciri Baby Blues segala macam. Dianggap sebagai hal yang serius kelihatannya.

Sementara di Indonesia, bagi sebagian (besar?) kalangan, Baby Blues masih dianggap keluhan tidak penting. Iya lho, banyak yang menganggap baby blues itu “penyakit emak-emak manja gak penting bla bla bla”. Termasuk saya dulunya hihihi.

Gambar : pixabay.com

Gambar : pixabay.com

Melahirkan anak ke-3, pertama kalinya saya didampingi ibu kandung. Ada Mama yang sudah datang sejak 11 hari sebelum melahirkan dan tinggal menemani hingga si bayi hampir berusia 2 bulan. Horeeeee *tepukTangan*.

Waktu di rumah sakit, walaupun melahirkan hanya fasilitas bangsal sempit :p, saya enggak khawatir menginap 2 hari karena ada Mama dan suami yang mengurus anak-anak 1&2 di rumah ^_^. Konsen ke bayi saja. ASI juga karena sudah pengalaman ya dramanya sudah ketebak kan hihihihi.

Puting lecet dan sakit di awal itu sudah pasti. Tapi saya sudah tahu, paling lama 2 minggu juga sembuh sendiri tanpa perlu diapa-apain ;). Kecapekan kurang tidur di  minggu pertama pasca pulang dari rumah sakit? Gak perlu! Bangun agak siangan gak masalah abis  begadang nemenin dedek bayi. Ada Mama yang masak di dapur :p.

Tapi saya sadar, Mama kan cuma sementara. Beberapa hari sejak pulang, saya sudah berusaha memulai ritme normal. Bangun jam  5 pagi misalnya. Meskipun tetap Mama yang memasak tapi saya ogah malas-malasan. Ya biar gendutnya cepet ilang juga sih hahahaha :p.

2 minggu sebelum Mama pulang, bisa dibilang saya sudah menjalankan kegiatan normal. Mama saya minta nonton-nonton tivi aja atau bikin cemilan buat saya :p. Masak + ngurus anak dsb sudah saya ambil alih *tsaaaahhh*. Gladi bersih sebelum Mama benar-benar pulang.

Alhamdulillah, sudah 2 bulan ini Mama kembali ke tanah air, everything is just … ok ;). Alhamdulillah <3.

Ada Mama juga jadi teman bercerita. Teman bergosip teman ngerumpi segala macam deh. Mengalihkan perhatian dari rasa-rasa khawatir terhadap bayi dsb. Biasa lah ya, walau sudah anak ke-3, seperti memulai dari awal lagi.

Berdasarkan 3x tek dung tra la la tadi, kira-kira tips menghadapi atau sebisa  mungkin mencegah baby blues ini adalah :

1- Realistis terhadap kondisi/keadaan. Idealis ya boleh-boleh saja. Tapi tetap berpatokan dengan kondisi diri sendiri dan lingkungan saat melahirkan nanti. Misalnya saya tuh, sok-sok an mau bertingkah bak ratu ramah lingkungan hahahaha.

Kalau memang enggak mampu, ya pakai saja popok sekali ganti macam P*mp*rs dkk :p. Ya dinyinyirin dikit ya telen aja lah :p. Percaya deh, masih menunggu banyak hal penting lainnya di depan sana yang lebih layak kita baper-in ;).

Gambar : pixabay.com

Gambar : pixabay.com

2- Jangan sok kuat! :p. Iya sih, melahirkan kan bisa dibilang proses alami di mana kita memang sudah di-set untuk bisa melewatinya dengan baik bla bla bla… tapi ingat, balik lagi, kemampuan tiap perempuan beda-beda. Jangan gaya-gayaan mau bandingin diri sendiri dengan penjual pecel di stasiun misalnya yang sanggup melahirkan 13x sendiri di rumah tanpa bantuan siapa pun setelahnya.

3- Mempersiapkan support system yang baik. Support system ya termasuk suami dan orang di sekitar lainnya. Bagaimana nanti baiknya, mereka kira-kira bisa bantu apa dsb. Dari sejak hamil bicarakan secara terbuka kira-kira nanti kita mengharapkan suami dan lain-lainnya untuk ngapain segala macam. Jangan jaim-jaim. Diskusikan sejak awal.

Tetapkan aturan-aturan dan ungkapkan hal-hal yang sekiranya menurut kita bisa memperlancar proses melewati “masa transisi” pasca melahirkan.

4- Jangan memendam perasaan. Sudah jadi ibu-ibu tetap boleh curhat kooook hehehe :p. Terserah mau curhat ke siapa. Kalau tidak nyaman ke suami ya mungkin ke sahabat terdekat atau ibu kandung. Kalau punya hubungan karib dengan ibu mertua juga boleh tuh curhat ke beliau ;).

5- Berdamai dengan diri sendiri :). Ini sih hal penting dalam berbagai kondisi ya ^_^. Bukan hanya pas pasca melahirkan saja. Terimalah kenyataan bahwa setelah menjadi ibu (dalam kondisi anak ke berapa pun), things did change :). Dan untuk menghadapi perubahan itu, seringkali kita perlu waktu. Durasinya bisa berbeda untuk tiap orang.

Tapi jangan lantas menjadikan durasi ini sebagai ajang kompetisi. Makin cepat pulih makin berhak mendapat predikat ibu terbaik. Sudah terlalu banyak nih bahan “berantem”an hahhahaha :p.

Sekali lagi ingat ya, ini saya comot dari situs mummy-tips dot com, “Post Natal depression is an illness and not a reflection of you as a mother or as a woman.”

Note : Post Natal Depression/Post Partum Depression vs Baby Blues adalah 2 HAL YANG BERBEDA.

Semoga membantu ya tips-tips mencegah / menghadapi keluhan baby blues pasca melahirkan ini. Go, Mommies, go! <3

9 thoughts on “Baby Blues Pasca Melahirkan, Is It Ok?

  1. hahahaha.. waktu lahiran si Kunyil dulu udah borong cloth diaper karena ya itu tadi, pengen jadi ibu ramah lingkungan.. taunya nyucinya rada ribet ya, akhirnya menyerah dan beli pospak deh…. manalah sempet beberapa kali nangis tersedu-sedu karena ASI seret… dan udah gitu masih ga nyadar aja kalo kena baby blues 😀 nyadarnya setelah berbulan-bulan kemudian.. telat banget…

  2. Berdamai dengan diri sendiri itu penting ya. Waktu lahiran anak pertama aku idealis. Waktu si kembar lebih nyantai 😀

  3. yang sedih kalo suami ga mau ngerti… ini aja belum punya anak kedua , sudah nge judge kalau udah anak ke 2 dst HARUSNYA ga boleh baby blues lagi 🙁

  4. waktu anak pertama aku kena baby blues gini juga mbaak. semoga yang kedua nanti enggak deeh. Dan iya ya, di Indonesia belum digemborkan banget bahayanya baby blues ini 😀

  5. Sementara di Indonesia, bagi sebagian (besar?) kalangan, Baby Blues masih dianggap keluhan tidak penting. Iya lho, banyak yang menganggap baby blues itu “penyakit emak-emak manja gak penting bla bla bla”.
    >>>
    so true mbak, budaya sebagian besar di indonesia meminta ibu untuk tidak cengeng dsb dsb. padahal 2 minggu pasca bersalin adalah masa yg sangat rawan. jika mengalami baby blues dan tidak bisa mengatasi bisa menjurus ke Postnatal depression.

    semoga diberi kegembiraan selalu ya mbak
    salam kenal dari saya

  6. Halo mbak Jihan. Ikutan komen ya. Saya juga yang termasuk prepare. Jauh sebelum memrogram anak kedua, saya diskusi sama suami, bahwa nanti kalau ada anak kedua kita gak bisa idealis pake popok kain, dll dll. Jadi udah siap belum kalo keluar banyak uang untuk beli pospak tapi kita bisa tidur tenang? Udah siap belum kalo gak punya ART trus anak pertama yg juga masih balita bakal rewel+cemburu juga sama adiknya sementara emak bapaknya lagi fokus sama yang bayi? Dan lain-lain. Segala printilan begituan sebaiknya diobrolin sblm punya anak, penting banget!

  7. Thanks remindernya Jihan… untungnya 2 kali tekdung nggak pernah baby blues karena saya termasuk beruntung banyak bantuan, support system. Setuju semua sama 5 tips diatas sama jangan lupa use mom’s insting and feeling dan yang paling penting curhatnya sama yang diatas, gusti Allah mboten sare 🙂

    • Iya Mbak. Saya termasuk yang jaim dan enggak paham dan enggak menyiapkan diri dulu pas anak pertama. Eh, anak kedua masih ngeyel juga hihihihi. Untung anak ketiga sudah sadar sesadar-sadarnya hihihi.

Comments are closed.