Akhir Pekan di Jeddah : Pantai, Kuliner Nusantara, hingga Piknik di Gurun

(dimuat di rubrik Jalan-jalan Republika, tapi lupa edisi yang mana hehehe :D)

Oleh : Jihan Davincka

***

Kota Jeddah kerap dijuluki “Pengantin Laut Merah.” Berbatasan langsung dengan tepian laut Merah membuat kota Jeddah memiliki pesisir pantai yang disebut “Corniche Road.” Pesona dari Corniche Road – Jeddah bukan hanya milik Mesjid Apung, yang menjadi tempat wisata kegemaran para jemaah haji dan umrah asal tanah air.

Corniche Road Jeddah foto : Dani Rosyadi

North Corniche, Jeddah (foto : Dani Rosyadi)

Di akhir tahun 2012 lalu, proses pembangunan sebagian wilayah utara dari Corniche Road baru saja dirampungkan. Hasil pemugaran sekitar beberapa kilometer dari wilayah ini menghasilkan sebuah tempat rekreasi baru yang sarat fasilitas modern dengan wajah barunya nan bersih.

“North Corniche”, Rekreasi Seru bagi Seluruh Anggota Keluarga

Jadilah di pagi hari di sebuah akhir pekan, saya mengajak suami menyambangi lokasi “North Corniche” tadi. Setelah berbulan-bulan akses ke lokasi tersebut ditutup untuk umum, dinding-dinding penyekatnya pun akhirnya dibuka juga.

Tempat-tempat parkir disediakan cukup banyak. Tersebar di beberapa titik, tidak menyatu di satu pelataran khusus. Dari kejauhan, anak-anak sudah menempelkan kepalanya ke kaca mobil dan meributkan taman bermain yang langsung menarik perhatian mereka. Suami pun akhirnya memarkir mobil persis di pelataran parkir di samping lokasi taman bermain tersebut.

Playground at Corniche Jeddah, pic by Dani Rosyadi

Playground di Corniche, Jeddah (foto : Dani Rosyadi)

Anak-anak langsung berhamburan ke luar begitu mesin mobil dimatikan. Suasana pagi itu belum begitu ramai. Jadi, anak-anak bebas berkeliaran menyerbu berbagai macam arena permainan yang ada di sana.

Saya memutuskan jalan-jalan sendiri menyisir sisi pantai yang lain. Ternyata perubahannya cukup banyak. Sisi-sisi pantai yang berbatasan dengan jalan diberi pagar-pagar. Disiapkan jogging track segala. Beberapa orang sibuk memancing di bibir pantai. Terlihat pula beberapa orang bersepeda lalu lalang di samping jogging track tadi.

Corniche Road in Jeddah, pic by Dani Rosyadi

Corniche, Jeddah (foto : Dani Rosyadi)

“North Corniche” juga jauh lebih bersih daripada kondisi sebelum pemugaran. Tempat-tempat sampah disediakan di berbagai penjuru. Tempat ini menjelma menjadi tempat rekreasi multifungsi yang dapat dinikmati optimal oleh seluruh anggota keluarga.

Kuliner Nusantara di Distrik Sharafiyah

Salah satu keluhan warga asal tanah air kala harus merantau ke negeri lain adalah masalah perut. Untuk urusan makanan, pemukim asal Indonesia yang tinggal di Jeddah harus banyak-banyak bersyukur. Makanan cita rasa nusantara tak sulit ditemukan di kota terbesar kedua di Arab Saudi ini. Selain mudah ditemukan, harganya pun tidak terlampau mahal.

Salah satu daerah yang memiliki banyak rumah makan yang menyediakan aneka rupa masakan asal tanah air adalah distrik Sharafiyah. Selain distrik Bagdadiyah, Sharafiyah merupakan distrik favorit pemukim asal tanah air. Di kedua distrik inilah, banyak ditemukan keluarga-keluarga asal Indonesia yang sekadar tinggal atau sekaligus membuka usaha. Makanya jangan heran, distrik sharafiyah merupakan pusatnya toko-toko yang menjual barang-barang kebutuhan khas pemukim dari Indonesia.

Rumah Makan "Putri Sriwijaya", Jeddah (foto : Dani Rosyadi)

Rumah Makan “Putri Sriwijaya”, Jeddah (foto : Dani Rosyadi)

Jenis rumah makan Indonesia di Sharafiyah bermacam-macam. Ada yang selevel restoran menengah ke atas, adapula yang berupa warung-warung makan sederhana yang bisa diistilahkan dengan warteg. Untuk kenyamanan anak-anak sebaiknya memilih tempat makan yang cukup bersih dan luas. Misalnya saja tempat yang kami sambangi selepas lelah menghabiskan pagi yang sibuk di “North Corniche” tadi.

Setelah meninggalkan pelataran parkir di Corniche Road, suami mengarahkan mobil menuju sebuah lokasi rumah makan Indonesia di jalan Khalid bin Walid. Jalanan ini merupakan salah satu jalan terbesar dan akses utama menuju distrik Sharafiyah. Restorannya bernama “Putri Sriwijaya.”

Rumah makan Putri Sriwijaya Jeddah

Interior dalam RM Putri Sriwijaya, Jeddah (foto : Dani Rosyadi)

Menilik namanya, kita akan mengira rumah makan ini khusus menyajikan sajian khas dari Sumatera saja. Jangan khawatir, selain menyediakan berbagai menu andalan asal pulau di bagian barat nusantara itu, “Putri Sriwijaya” mencantumkan masakan khas nusantara lain dalam daftar menunya. Sebut saja, ada soto ayam, sate Madura, nasi goreng, macam-macam sup, gado-gado, berbagai macam menu ikan bakar, ayam panggang dsb.

Sate padang merupakan salah satu pesanan wajib para pengunjung di rumah makan ini. Saya dan suami pun penggemar makanan khas Tanah Minang tersebut.

Selain sate padang, meja kami juga dijejali oleh sate ayam dan soto Madura. Rasanya tidak kalah lezatnya dengan masakan yang sama yang disajikan di tanah air. Maklum saja, bukan hanya kasir dan para pelayannya, tukang masak di restoran ini kebanyakan orang-orang Indonesia asli, lho.

Sate Padang rumah makan Sriwijaya Jeddah foto by Dani Rosyadi

Hidangan di RM Putri Sriwijaya, Jeddah (foto : Dani Rosyadi)

Selain makanan utama, minuman yang disajikan juga bermacam-macam. Mulai dari bermacam-macam jus hingga teh manis, kadang-kadang juga ada es kelapa muda katanya. Sayang sekali, saat ke sana, kata pelayannya stok minuman segar satu ini sedang habis.

Harga satu porsi makanan utama bervariasi dari kisaran 15 riyal hingga 30 riyal (1 riyal = 2500 rupiah). Porsinya cukup banyak dan berlebih jika dinikmati untuk seorang diri saja. Minumannya sendiri seharga 2-8 riyal per gelas.

Tempatnya bagus dan bersih. Sesuai kebiasaan umum di rumah-rumah makan di Saudi, tiap meja disekat khusus. Orang Arab sangat menjaga privasi. Apalagi hijab antara perempuan dan laki-laki di tempat umum sangat diperhatikan. Jadi, tiap keluarga bisa menikmati santapan masing-masing tanpa dalam ruang tertutup. Kaum wanita bisa melepas tutup muka / cadar atau bahkan membuka abayanya tanpa khawatir ada orang lain yang memperhatikan.

Selain “Putri Sriwijaya”, ada juga restoran lain sejenis dengan menu dan harga yang mirip yaitu rumah makan “Sumatera.” Lokasinya juga di sekitar jalan Khalid bin Walid, tak jauh dari tempat “Putri Sriwijaya” berada.

Untuk sajian khas soto betawi, pepes ikan dan mie bakso, silakan menyambangi “Restoran Betawi.” Lokasinya lagi-lagi berada di seputaran Khalid bin Walid. Setelah melewati perempatan besar pertama di  Khalid bin Walid, gedung restorannya bisa dicapai dengan membelokkan mobil ke arah kiri.

Menikmati Senja dan Makan Malam di Tengah Gurun

Setelah berpuas-puas di pantai dan menyambangi salah satu rumah makan Indonesia di distrik Sharafiyah, kami diajak oleh teman-teman menghabiskan sore dan malam hari ke Bahrah. Wilayah Bahrah memiliki areal padang pasir yang tak jarang dikunjungi oleh pemilik mobil-mobil besar untuk kegiatan off-road.

Kami berangkat menuju Bahrah dengan konvoi. Ada sekitar 9 keluarga yang ikut serta dengan membawa lengkap anggota keluarga masing-masing termasuk anak-anak.

Bahrah Sand Dune Mekkah pic by Dani Rosyadi

Menuju Padang Bahrah (foto : Dani Rosyadi)

Setelah menyusuri jalanan tol, searah jalan menuju Mekkah, dalam tempo sekitar satu jam tibalah iring-iringan mobil kami di gurun pasir Bahrah. Beberapa mobil yang kondisinya tidak memungkinkan untuk menembus jalanan berpasir di gurun dibiarkan terparkir di sisi jalan yang masih beraspal. Penumpangnya berpindah ke mobil-mobil besar yang sedianya memang akan digunakan oleh bapak-bapak untuk membedah gurun melalui kegiatan off-road.

Susah payah menyetir membawa penumpang penuh dan barang-barang lainnya, sekitar 15 menit kemudian tiba juga rombongan di tengah-tengah gurun. Ibu-ibu bergegas turun, membentangkan tikar dan karpet dan menata bahan makanan. Anak-anak tidak ketinggalan. Tanpa dikomando, mereka kompak berlarian ke sana kemari, naik turun beramai-rami di gundukan-gundukan pasir yang mendominasi wilayah gurun tempat kami  berhenti.

Bahrah Mekkah pic Dani Rosyadi

Anak-anak di Padang Bahrah (foto : Dani ROsyadi)

Sementara para Ibu sibuk mempersiapkan makan malam, bapak-bapak beramai-ramai menjajal mobil yang ada untuk mengasah  keterampilan mengemudi di hamparan padang pasir. Anak-anak kami  biarkan saja berkeliaran semaunya. Beberapa ibu ditugaskan untuk menjaga anak-anak. Tidak ikut berlarian bersama mereka, tapi sekadar menjaga agar anak-anak tetap berada dalam jangkauan pandangan mata kami.

Tak terasa, senja pun hampir habis. Tak lama, sayup-sayup terdengar azan magrib dari kejauhan. Nun jauh di tengah-tengah gurun, ibadah shalat pun tetap menjadi kewajiban mutlak. Bapak-bapak menjalankan shalat berjamaah lebih dahulu.  Disusul oleh para ibu.

Bahrah Sand Mekkah pic Dani Rosyadi

Salat Magrih di Bahrah (foto : Dani Rosyadi)

Saat gelap mulai menjelang, bapak-bapak bersiap-siap membakar sate ayam, salah satu menu makan malam kami saat itu. Aroma bakso pun mulai tercium dari panci besar yang sejak sejam yang lalu disiapkan dan direbus di atas kompor  kecil oleh para ibu-ibu.

Ritual makan malam pun berlangsung dengan penerangan dari cahaya lampu mobil yang sengaja dinyalakan sejak cahaya mentari sudah menghilang sepenuhnya di langit malam. Sambil menyuapi anak-anak, ibu-ibu juga ikut makan sambil mengobrol. Bapak-bapak berkumpul menikmati hidangan malamnya sambil menjaga di samping perapian tempat membakar daging sate tadi.

Kehidupan ibu-ibu di Jeddah

The Mommies ^_^ (foto : Dani Rosyadi)

Setelah kenyang dan puas berbagi cerita, kami segera berbenah sebelum malam bertambah pekat. Kami pun kembali ke tempat dimana sebagian mobil diparkirkan tadi. Para penumpang kembali ke mobil masing-masing. Usai saling berpamitan, masing-masing mobil berangkat sendiri-sendiri menyisir jalan tol menembus malam dengan membawa kenangan indah dalam hati masing-masing.

***

One thought on “Akhir Pekan di Jeddah : Pantai, Kuliner Nusantara, hingga Piknik di Gurun

Comments are closed.