What’s Your Hajj Story (3)

Bagian 1, bagian 2

***

Tenda di Arafah bentuknya juga compound. Hamla kami khusus menyewa kumpulan tenda secara terpisah. Kamar mandinya juga khusus. Gak kalah nyamannya dengan tenda Mina.

Tendanya tapi cuma beralas karpet tebal. Mungkin karena gak menginap. Tapi tiap jemaah dibagi-bagikan kantong tidur. Lumayan, dapat gratisan lagi hehehe. Asyik nih hamlanya :D. Sebelumnya dapet travelling bag, alquran kecil, sajadah, dan buku doa.

Untuk perempuan, ada 5 tenda besar. Satu tenda isinya sekitar 70 – 80 orang. Tendanya lapang dengan atap yang tinggi. Pendingin ruangan disediakan di setiap penjuru tenda. Plus satu kipas angin besar.

Tapi memang nih, orang-orang Arab, rasa sabarnya memang pas-pasan hehehehe. Sejam pertama tiba di Arafah, diisi dengan drama perebutan AC. Iya, masing-masing berkeras mengontrol arah angin dari AC besar tersebut. Duh, ributnya mereka saling berdebat :(.

Sembari ibu-ibunya sibuk adu mulut, anak-anak kecilnya meraung-raung. Mungkin kegerahan. Padahal kok ya buat saya, rasanya adem-adem aja, ya hehehe. Untungnya anak saya lagi-lagi gak ikut-ikutan rewel. Dia asyik saja bermain-main dengan kantong tidur.

Akhirnya ‘kerusuhan’ berakhir saat azan dzuhur. Setelah salat berjamaah, makanan datang. Nasi kabsah yang disajikan dalam bentuk nampan. Sempat bingung juga. Secara ‘beda warna’ sendiri. Satu tenda disapu bersih orang Arab. Teman-teman satu tenda di Mina duduknya sudah tersebar-sebar pula.

Tapi akhirnya dengan membawa nampan kosong, memberanikan diri mendekati 3 orang ibu-ibu yang asyik makan senampan, “Can I have a little?”

Mereka menyambut dengan ramah nampan saya. Diisinya malah banyak banget sampai saya mesti berkeras, “khalas, khalas. It’s too much.”

Salah seorang dari mereka memandangi saya sambil senyum-senyum, “You should eat more. Look at you. You’re too skinny.” La ya jangan disamain atuh bodi Asia ama bodi Arab hihihihihi.

Sembari menikmati segambreng hidangan dalam nampan seorang sendiri, saya didekati seorang Ibu yang datang dengan menggendong balita. Dia berbahasa Arab. Saya sedikit-sedikit menangkap maksudnya. Dia minta nasi sedikit.

Saya menyodorkan nampan saya, “Sorry, mafi Arabic. But you can sit here, eat with me.” Alhamdulillah, orang Mesir ternyata. Dan fasih berbahasa Inggris. Akhirnya saya punya teman makan (sekaligus temen ngerumpi sembari ngunyah) :D.

Sehabis makan, sebagian besar ibu-ibu di tenda saya malah ketiduran. Anak-anak ramai berlari-lari. Si kecil lagi ganti shift ke bapaknya hehehe. Kata suami, dia sudah pules ;).

Biarpun suasana tenda agak gaduh dengan suara ibu-ibu lain yang malah asyik mengobrol, saya berusaha konsentrasi berdoa. Mengeluarkan buku-buku doa yang sudah disiapkan sejak jauh-jauh hari. Sembari sesekali mengecek BB, intip-intip siapa saja yang menitip doa via BBM dan FB. Hehehe.

Alhamdulillah, kesendirian tidak menghalangi niat beribadah. Malah ketika terbenam seorang diri dalam tangis, seseorang menepuk bahu saya perlahan, menyodorkan tisu dan air mineral. Masya Allah :). Syukron katsiiran ya, Ukhti.

Setelah usai memanjatkan doa, saya saling bertukar buku dengan suami. Kami janjian di pintu batas tenda perempuan dan laki-laki. Sekaligus ganti shift jagain si kecil hehehe.

Tiba kembali di tenda perempuan, anak saya lagi-lagi tertidur pulas. Nampaknya tahu kalau mamanya butuh konsentrasi untuk memanfaatkan sedikit waktu memohon belas kasihan melalui munajat panjang kepadaNya. Di tempat dan waktu yang konon salah satu yang paling mustajab itu.

Saya terharu mendengar kisah suami. Katanya menjelang senja, beberapa laki-laki keluar dari tenda. Mereka duduk bersama-sama memandangi senja yang mulai merambat turun. Mereka berharap waktu bisa berhenti berputar saat itu dan matahari jangan sampai terbenam :'(.

Akhirnya waktu magrib tiba. Kami berkemas-kemas. Selanjutnya berjalan bersama-sama lagi, berbaris di jalanan. Antri menuju stasiun untuk kembali ke Mina, dengan menggunakan fasilitas kereta.

Sangat sedih melihat jalanan yang mulai kosong oleh para haji koboi tapi meninggalkan tumpukan sampah dimana-mana. Bau pesing yang menyengat pula :'(. Saya tahu, ibadah kepada Allah itu nomor satu, tapi bukankah kebersihan pun sebagian dari Iman? :(.

Tahu tidak, dari buku sejarah “Perang Suci” karya Karen Armstrong dituliskan bahwa orang-orang Eropa Barat belajar mandi dari orang-orang muslim di jazirah Arab. Mereka belajar kebersihan justru dari kaum muslimin. But look at us now :(. And look at them now.

***

Jika paginya suasana antri menuju stasiun tertib dan syahdu oleh lantuntan talbiyah, maka suasana pulang berubah 180 derajat! Kami mengantri hingga 3 jam!!!

Dalam 3 jam itu, berdesakan dan berhimpitan, diselingi suara orang-orang yang berteriak mengamuk. Anak-anak kecil bergantian meraung. Keringat sudah mengucur dari atas hingga ke alas kaki. Entah berapa kali kena sikut.

Saya, yang stok sabarnya sering negatif ini :P, mendadak ‘kalem’. Salah satu penyebabnya ya karena anak kami. Anak kecil umur 1.5 tahun ini tidak sedikit pun rewel. Tak ada tangis sebutir pun. Mukanya lempeng aja. Sesekali tertidur malah. Padahal badannya sudah basah penuh keringat. Masya Allah, anakku sayang :'(. Penyemangat Mama selama hajian kemarin.

Suami juga anteng banget. Tidak pernah tersulut sedikit pun. Tidak sekali pun ikut berteriak-teriak atau memasang wajah emosi. Padahal lumayan kan gendong si kecil non stop 3 jam! Sambil sikut-sikutan dan sesekali tangannya memeluk saya. Maklum bininya mini begini hehehehe.

Dari tawaf qudum selama 1.5 jam, hingga perjalanan jalan kaki lainnya, saya tak pernah menggendong si kecil sedetik pun.

Untuk suami dan anak luar biasa ini, beberapa kali saya menitikkan airmata dan lagi-lagi berucap dalam hati :

Bismillahirrahmanirrahim… fabiayyi alaa irabbikuma tukazziban..

“Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang… Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”

Terima kasih, ya Allah.

***

(bersambung ke sini)