Bergaya dengan Abaya Arab

Sebelum berangkat ke Jeddah, tidak pernah terbayang jika harus mengenakan sehelai kain hitam kemana-mana. Saya pernah melihat pakaian seperti ini kala sesaat sempat bermukim di kota Tehran. Ternyata itu bukan abaya arab yang umum dikenakan di Saudi. Pakaian hitam-hitam khas ala perempuan Persia tersebut namanya chador.

Biarpun ‘buta fashion’, dalam hal berpakaian saya cukup picky. Lebih suka mengenakan celana panjang, tidak suka rok sama sekali. Nah, bagaimana ceritanya harus tinggal di tempat yang kemana-mana harus mengenakan baju hitam panjang?

Abaya arab

Abaya arab yang modelnya fancy 😀 (gambar : fashstylez.com)

***

Abaya Arab  ada dimana ?

Berburu abaya di Indonesia ternyata tidak sulit. Tapi saya sarankan jangan membeli abaya arab di tanah air. Mahal, booo *penting :P*. Dengan kualitas yang sama, Anda bisa mendapatkan abaya arab dengan harga yang lebih murah di Jeddah.

Catat dulu hal yang pertama , abaya arab itu bukan cuma sehelai kain hitam tanpa bentuk. Abaya juga punya berbagai macam model dan bentuknya tidak melulu hitam 100%.

Rasa nyaman berabaya tidak pernah terpikir sampai akhirnya mudik pertama di tahun 2011. Diajak ke mal sama suami. Langsung kagok. Milih-milih baju, milih-milih celana, cocokin sama jilbab. Suami suka menggerutu, “Lama amat, sih!”

Tak sadar kalau setahun terakhir sebelumnya, tinggal di Jeddah, tidak pernah dipusingkan soal gini-ginian. Lagi ndusel-ndusel sama anak-anak di tempat tidur saja kalau diajak keluar tidak masalah. Tinggal nyamber satu abaya yang selalu tergantung di lemari. Ceplosin, ambil jilbab (warna apa saja, bajunya hitam kan, matching dengan warna apa pun), uwel-uwel di kepala, beres. Lima menit sudah cukup ;).

Satu lagi, saya merasa adem kalau kemana-mana. Tidak pusing dengan, “Idih, celananya lucu amat. Beli dimana, ya?” atau “Wow, blusnya keren. Mauuuuuuu.” Sejauh mata memandang, setiap perempuan berselubung abaya semua. Mau majikan kek, mau baby sitter kek, mau yang non muslim kek, siapin abaya masing-masing. Ini sih pendapat pribadi saya saja, ya. Kalau ada yang malah merasa kebebasannya terenggut dengan kewajiban berabaya ini ya sah-sah saja :).

Masalah abaya juga membuat saya, yang memang dasarnya malas beli-beli baju, jadi kalang kabut sendiri setiap harus liburan ke tanah air. Atau sekarang…saat harus pindah ke tempat lain dimana penggunaan abaya malah akan menjadi hal yang langka.

Abaya arab

Berabaya ramai-ramai dengan teman di Jeddah

Berbulan-bulan hidup damai dengan abaya arab, sekarang harus sibuk mengisi lemari lagi hehehe. Damai di kantong, damai pula saat harus berhadapan dengan kaca, “langsingnya akuuuu” hahaha. Perempuan oh perempuan :P.

Untung Saudi tengah dilanda musim diskon. Mari kembali bergerilya di mal-mal yang tiap dinding kacanya berhiaskan tulisan 50% atau 70% gede-gede. Duh, yang 100% gak ada, nih? Hahaha.

***

Ibu saya kemarin bilang, “Ah, kayak abaya-abayamu itu banyak yang jual di Tanah Abang.”

Saya keluarkan koleksi abaya terbaru yang saya belikan khusus untuk oleh-oleh buat sahabat terdekat. Ibu saya langsung berseru, “Waaahhh, bagusnya yang ini. Ini sih gak ada yang jual di Tanah Abang.”

Saya langsung pongah dong, “Makanya, Ma. Kalau mau lihat tren abaya ya jangan ke Tanah Abang, kali. Lihatnya ke negeri asalnya. ”

Saya pikir dengan adanya aturan kudu berhitam-hitam ria ini membuat hidup akan lebih praktis. Ngapain punya abaya banyak-banyak. Tapi pikiran ini langsung kandas ketika di suatu acara pertemuan para Madam, seorang teman mengobrol basa basi dengan saya :

Madam X : “Mbak Jihan suka sekali ya dengan abaya ini.”
Saya : “Ih, kok tahu?” (menjawab geer berasa artis).
Madam X : “Soalnya Mbak Jihan kemana-mana pakai abaya ini terus.”

Hahaha. Well, I believe she had no intention to be rude :). Tapi begitulah, saya memang tak pernah memperhatikan abaya orang lain. Well, sama-sama abaya hitam gitu, lho. Bedanya apa? Kecuali memang menggunakan motif-mofit berani misalnya loreng-loreng ala macan, atau kembang-kembang segede gambreng, barulah saya bisa ngeh. Hehehe.

Saya langsung kepo mengintip isi lemari teman-teman. Ternyata memang rata-rata memiliki koleksi abaya arab yang cukup banyak. Langsung gembok lemari sendiri yang isinya paling banter 4 abaya doang. Hihihi. Itu pun sudah termasuk abaya favorit pemberian sahabat tercinta di sini. Pakai abaya itu serasa dipeluk Bunda Rani terus :).

Teman saya di Jakarta juga terperangah soal ‘abaya cuma 4 biji’ ini.

“Lu jadi pindah? Abaya-abaya lo buat gue separuh, dong.”

“Adek gue mau 1. Yang satunya udah agak kumel. Lo 2 aja, ya.”

“Ha? Cuma 4?”

“He-eh.”

“2 tahun lebih di Arab, kemana-mana harus pakai abaya, lu cuma punya 4?” Matanya mulai melotot.

“Hehehehhe.”

“Sinting lu. Kikir gak ilang-ilang.”

Hahaha.

Abaya Arab

Cover bunda of Arabia

Btw, bahan abaya arab hitam itu juga adem dan nyaman. Dulunya kan tidak habis pikir, masa negara yang dihujani terik matahari hampir sepanjang tahun tega betul menyuruh kaum perempuan pakai baju hitam-hitam. Gosong gak, nih? :P.

***

Ternyata, pakai abaya hitam itu suatu hal yang positif (buat saya). Dulunya saya suka melepas abaya di acara-acara rumahan. Sekali-sekali ingin dong pamer-pamer jeans atau baju baru hehehe. Belakangan sudah jarang. Membuka abaya hanya dilakukan kalau memang kegiatannya kurang nyaman dilakukan bila harus berabaya.

Walau begitu, menurut saya pakaian lebih lekat ke masalah budaya :). Sekarang sudah bermukim di belahan lain dunia tidak akan memaksa pakai abaya hitam ke mana-mana hehe. Cuaca sini juga kurang cocok dengan abaya hitam yang cenderung adem :D.

 

Saya, sih, prinsipnya tidak menyolok dan tidak mencari perhatian dan jangan yang mahal-mahal lah ya hehehe :p. Soal batasan aurat juga masih banyak pendapat. Panjang pendek jilbab dan model baju juga masih menjadi ruang diskusi yang panjang di berbagai forum diskusi ;).

Kalau di Saudi ya memang wajibnya pakai hitam-hitam. Pakai motif kembang-kembang jelas akan menjadi pusat perhatian. Sebaliknya di INdonesia, siang bolong nunggu angkot di tengah jalan pakai baju hitam-hitam apa tidak menjadi perhatian orang banyak? Hehehe. Di Kuala Lumpur pun, perempuannya masih banyak berbaju kurung dengan motif ramai. Di sana tidak jadi pusat perhatian tuh ^_^. Jadi, definisi ‘menarik perhatian’ ini juga sangat tergantung budaya setempat ;).

Tapi saya tetap menyimpan satu abaya arab sebagai kenang-kenangan sebagai mantan mukimin Jeddah :D.

Abaya Arab

Cover Bunda of Arabia

 

7 thoughts on “Bergaya dengan Abaya Arab

  1. Gak pernah pake abaya dan nggak ngeh abaya itu apa. Mirip-mirip sama baju melayulah yaaa hahhaa…

    Sebagai fans garis kerasmu, daku sungguh durhaka baru ninggalin jejak dimarih…

    • Hahahhahahaha, gak wajib ah ninggalin jejak :p. Yang penting KLIK nya Kakaaaaa hahahahhahha *bloggerKapitalis* :p

Comments are closed.