Kehidupan Orang Arab : “Ngabuburit” ala Orang Arab

Kehidupan Orang Arab : Beberapa kali saya melewatkan bulan ramadan di Negeri Gurun. Tepatnya di kota Jeddah, Arab Saudi. Tentu banyak penyesuaian yang perlu dilakukan.

Ah, saat-saat ramadan dan hari raya, rasa kangen untuk kerabat tercinta di Indonesia pastilah sedang sengit-sengitnya. Untung di Jeddah pun banyak teman-teman baru yang tak kalah serunya.

Dulu saya membayangkan seperti apa, ya, orang-orang Arab menjalani bulan penuh berkah ini? Pastilah lebih ekstrim daripada kita di tanah air. Saya pikir mal-mal pasti ditutup penuh saat bulan puasa. Jangan ditanya ada berapa mal di salah satu kota besar negara Saudi ini. Banyak banget dan besar-besar pula.

Kehidupan orang arab fotografer Dani Rosyadi Masjid Apung
Masjid Apung, Jeddah-Arab Saudi, fotografer : Dani Rosyadi

Di tahun pertama merasakan ramadan di sini, saya heran dengan tetangga depan apartemen saya. Mereka sekeluarga juga dari Indonesia. Sekitar jam sepuluh malam, mereka selalu keluar rumah. Saya tahu, karena selain jarak antar pintu apartemen kami cuma 4-5 meter saja, anaknya ada 3 orang dan mereka cukup bising.

Ini bukan cuma beberapa kali. Namun, hampir tiap hari. Saya tidak tahu jam berapa mereka pulang. Tapi saya bingung, kemana mereka jam segitu, ya? Di Indonesia, saat ramadan tiba, toko-toko malah tutup lebih cepat, bukan? Tidak enak mau bertanya-tanya langsung kepada mereka.

Tapi di Jeddah memang berbeda. Pagi hari nampak bagai kota mati di bulan ramadan. Nyaris tidak ada aktivitas apa-apa. Hanya orang kantoran mungkin yang tampak lalu lalang di jalan raya. Toko-toko kelontong tutup semua. Semua gerai dalam mal tutup. Kecuali tempat-tempat seperti : Hyperpanda, Danube, dan Bin Dawood. Ketiga tempat itu semacam swalayan besar yang umum dikenal di sana.

Semua anak sekolah wajib libur. Dan suasana senyap ini berlangsung hingga waktu ashar tiba. Barulah, setelah ashar, beberapa gerai dalam mal ada yang buka. Tapi tidak semuanya, lho. Tempat makan juga sudah mulai dibuka. Selepas magrib, mereka semua serempak tutup lagi. Sehabis isya, barulah kehidupan dimulai!

Biarpun begitu, aktivitas rutin saya tetap seperti biasa. Tetap tidur paling lambat jam sebelas malam. Tapi suatu hari jadwal belanja bulanan menghampiri. Suami mengajak keluar selepas isya saja. Bukan main suasana jalan raya saat itu. Nyaris macet dimana-mana. Seolah semua orang tumpah ruah di jalan.

Kami parkir seperti biasa dan masuk ke dalam mal. Jeng…jeeeeng…ramainya minta ampun! Saat itu sudah menunjukkan pukul 10 malam lebih. Luar biasa antrian di kasir Hyperpanda. Itu bukan akhir pekan, lho. Pukul satu pagi, barulah acara belanja itu selesai. Dan suasana dalam mal masih penuh hiruk pikuk. Bisa dibilang semua gerai tidak ada yang tutup, termasuk food courtnya.

Kehidupan orang arab di Corniche Road, Jeddah
Corniche Road, Jeddah

Barulah saya mengerti ke mana tetangga saya menghabiskan waktu malamnya. Konon itu berlangsung hingga waktu subuh tiba. Bila subuh berakhir, semua toko akan tutup seperti biasa, dan pelan-pelan ‘pesta’ pun berakhir.

Inilah yang dimaksud istilah teman saya, “Kalau ramadan di Saudi, siang jadi malam, malam jadi siang.” Pantas saja pagi hingga sore hari di bulan puasa, nyaris tak ada aktivitas di luar rumah. Kalau kata suami saya, “Mereka ngabuburitnya abis isya, nunggu sahur.” Beda dengan kita, ngabuburitnya menjelang jadwal berbuka.

Rasanya aneh juga. Saya tak terbiasa menghabiskan waktu puasa di siang hari dengan berdiam diri di rumah. Main ke rumah teman lain juga nyaris tak mungkin. Sebagian besar teman saya sudah mengikuti ‘pola’ hidup seperti ini jika ramadan tiba. Tapi susah juga mau jalan-jalan karena toko dan pasar tidak ada yang buka hingga malam menjelang nanti.

Sisi positif tinggal dekat dari tanah suci saat bulan puasa menjelang, kita bisa melaksanakan umrah ramadan. Duh, jangan ditanya ramainya oarng-orang mengerumuni Ka’bah dan Masjidil Haram di bulan ramadan. Ingat, ramadan tidak seperti waktu haji. Jika haji ada pembatasan jumlah jemaah. Untuk umrah ramadan…tidak ada batasan sama sekali. Paling ramai sehabis ashar hingga waktu subuh. Subuh berakhir, berangsur-angsur agak longgar biarpun tetap ramai. Tapi tak banyak orang memilih melakukan ritual umrah di siang hari.

Meskipun keadaannya sangat berbeda, saya lama-lama menikmati menghabiskan puasa di kota yang berjarak 70 km dari kota Mekkah ini. Memang, rasa rindu pada keluarga tak kunjung habis. Walau saya bingung kenapa di sini orang-orang kok malah kelayapan tengah malam saat bulan puasa, ya?

Mau tak mau sesekali kami pun harus ikut ngabuburit ala mereka. Kelayapan tengah malam demi anak-anak. Kasihan karena mereka tidak ada hiburan.

Aduh, sering merasa ibadah puasa malah tidak khusyuk. Bagaimana mau menikmati bulan penuh berkah ini?

Tapi akhirnya saya menyadari beberapa hal. Ngabuburitnya boleh beda, tapi ibadah puasanya bukan hak kita, sesama manusia, untuk menilai.

Makna puasa itu kan ibadah kepada Allah. Seharusnya kita bisa merasakan kehadiranNya dimana saja, apa pun suasananya. Nikmat berpuasa ada dalam diri sendiri. Bukan karena suasana atau lingkungan dan orang-orang sekitar. Selamat menjalankan ibadah puasa dimana pun Anda berada.

***

11 comments
  1. Jadi pengen ke Arad, suana nya indah bgt,

    Beda dgn indonesia apalagi saya suka bangt dgn jalan” malam.
    Thank info nya 🙂

    1. Kalau saya enggak biasa nih begadang-begadang hehehe. Penginnya kalau puasa tuh aktivitas siang tetap kayak biasa biar tetap produktif :D.

  2. Wah…pengalaman yg menyenangkan walau beda waktunya…jdi pingin tau nih

    1. Yuk, yuk, ngerasain ramadan + lebaran di Jeddah ^_^. Beda lagi serunya 😉

  3. saya tinggal dan bekerja di yanbu, kota industrial berjarak 350km dari pusat kota Jeddah. kotanya masih sepi tapi suasana dan pemandangannya jauh lebih baik dibanding kota Jeddah yang sudah terlalu padat penduduknya. baru kali ini setelah 5 tahun, akhirnya bisa berpuasa dan insha Allah berlebaran dengan anak istri dan orang tua disini.

    1. Saya juga pernah ke Yanbu, ada kok tulisannya juga di blog ini hehehe. Yanbu yang bagian kota industri memang bagus. Tapi wilayah kota tua-nya suasananya kusam, ya :(. Iya saya sendiri 3x kali ramadan + lebaran di Jeddah :D.

  4. Iya, Mbak. Di Jeddah kalau bulan puasa, pecahnya tuh malah pas tengah malam sampai subuh hihihihi. Walau enggak biasa, kadang harus ngikut juga biar anak-anak gak bete di rumah :D.

  5. Wah unik banget ya. Mending gitu drpd tidur sebentar harus bangun lagi, tanggung. Sekarang makin banyak orang Indonesia yg ngincar paket umroh Ramadan. Wah tambah sesaklah disana.

    1. Waktu puasa di Jeddah sih hampir normal kok Mak. Maksimal 15 jam saja. Subuh jam 4 pagi, magrib jam 7 pagi. Beda sama Eropa yang musim panasnya bisa puasa 19-20 jam :D. Dasarnya memang hiburan di sana tuh mal, mal, dan mal. Kasihan perempuan dan anak-anak. Ruang gerak terbatas kalau enggak ada suami. Apalagi Ramadan dari pagi sampai petang, toko tutup semua. Jadi momen jalan-jalannya ya seabis Isya sampai subuh :D. Jadi berasa sering ‘dugem’ (tanda kutip yaaaa) kalau bulan puasa hehehe.

  6. siang jadi malam, malam jadi siang ya mak….
    kudu melek matanya dong klo bulan puasa gni.

    1. Makanya, konon siangnya mereka malah tidurrrr :D.

Comments are closed.