Wonders are (Still) Waiting to Start

Gambar : kickofjoy.com

Gambar : kickofjoy.com

Pansel KPK versi terbaru baru saja terpilih. 9 orang. Perempuan semua. Kurang kontroversi apa, sih, Pakde-ku yang satu ini? Hahahaha.

Yang menarik sebuah komentar iseng-iseng, “Wah, perempuan kan makhluk yang lemah katanya. Berarti benar, KPK sedang dilemahkan.” Hahaha. Ngakak kuadrat :p.

Tapi memang benar, kontroversi sudah ada namun sayup-sayup. Semacam komentar, “Mau jadi apa negeri ini? Menyalahi aturan Tuhan. Benar-benar sudah mau kiamat.” Hanya karena pansel KPK 9 orang cewek semua, dunia sudah mau kiamat? –> *sodorinKarpetBuatPiknik* :p.

Kalau tebakan iseng saya mengapa beberapa pihak yang biasanya panas dingin kalau urusan beginian tapi soal teranyar ini urung bersuara itu karena…sosok Ibu Risma hehehe :p.

Tempo hari ramai mempertentangkan kepemimpinan beliau hanya untuk melemahkan sosok Ahok misalnya :p. Kan ribet ya, Cyin, kemarin-kemarin memuja Ibu Risma bak Dewi Kuan Im, sekarang kalau protes soal Pansel nanti bisa jadi senjata makan tuan, deh. Hihihihi :p.

Ngomongin perempuan, beuh, bisa panjang urusannya.

Konon ada juga yang menuduh, “Itulah kelemahan perempuan. Terlalu main perasaan!” Wah, wah, wah, mentang-mentang sebuah jargon lama, “9 perasaan dan 1 pikiran pada perempuan” kok tahu-tahu bisa dianggap lemah?

Sudahlah ini sudah dibahas panjang lebar di sini, baca lagi, dong-dong-dong #eaaaaa –> “In Her Shoes” 

Nanti kalian baca di situ justru ‘dominasi perasaan’ itulah yang menjadi kekuatan utama perempuan yang jungkir balik sekali pun tidak akan mungkin bisa dikuasai para laki-laki. Maksudnya? Ya klik dong linknya :p.

Salah satu pencapaian penting sebagai perempuan itu adalah Gelar “Ibu”. Salah satu lho, yaaaaa :D. Tidak berarti kalau belum jadi Ibu berarti anda perempuan yang tidak penting. Bukan itu maksudnya ;). Percaya deh, motherhood itu sudah satu paket sama keperempuanan kita, whether you’re a Mom or not ;).

Motherhood. Such a long way to go :). Di setiap prosesnya, seolah perasaan kita ikut terbanting-banting kiri kanan atas bawah serong sana serong sini hihihihi :p.

Mungkin waktu baru hamil, apalagi hamil pertama, bisa melewati masa hamil muda saja sudah kayak menang perang gitu ya, Booooo, hahaha.

Padahal masih ada fase melahirkan. Habis melahirkan, apalagi kalau prosesnya ribet dan normal pula, beuh, sudah merasa juara lah pokoknya :p. Tambah lagi ngasih ASI sampai segala puting berdarah dan bernanah tapi pantang menyerah hingga akhirnya bisa pamer foto “Anakku sarjana ASI” makin-makin deh … I’m the best mom ever! :p.

Sudahlah. Banyak dari kita memang HARUS melalui fase-fase narsis seperti itu. Ada yang setelah anak ke-2 dan seterusnya langsung tersadar dan menertawakan diri sendiri. Ada yang enggak move on, sampai anak ke-berapa juga, terus aja berkompetisi tanpa kenal lelah hahahaha. Judge sana sini, merepet sana sini dan sebagainya.

Tapi, jangan lantas kita sesama ibu-ibu ikut-ikutan merendahkan fakta bahwa peer pressure itu benar adanya. Merasa paling keren karena katanya tidak suka ikut-ikutan gini-ginian, sudah merasa ini basi, tapi komen juga paling kenceng ya, Ceu! Hahaha.

Gambar : ctworkingmoms.com

Gambar : ctworkingmoms.com

Santai sajaaaaaa ^_^. Faktanya memang begitu. Dunia ibu-ibu gitu, lho. Mari merayakan perbedaan dengan cara apa pun. Lagian perang-perang dunia maya mah, nanti kalau ada lomba blog paling temenan lagi dan tuker-tukeran info lagi. Ya gak, ya gak, ya gak? Kedipin dulu satu-satu ;).

Tapi yah akhir-akhir ini saya sendiri kembali digalaukan dengan motherhood-adventure ini.

Anak pertama saya tahu-tahu sudah besar.

Sekarang bapaknya lagi assignment ke luar pun, dia sudah tidak ‘sudi’ lagi tidur bareng saya :(. Padahal anaknya agak penakut lho hihihi –> like mother like son hahahaha. Dia maunya tidur berdua adiknya saja. Adiknya mah dari dulu tidur sendiri juga enggak pernah takut. Anak bugisku ini memang cetarrrrrrr <3 :p.

Karena bapaknya tidak ada, saya yang antar tiap pagi ke sekolah. Tidak mau lagi tangannya digandeng, “I’m a big boy.”

Apalagi dicium hahahahaha. Pokoknya kalau sudah dekat-dekat sekolahan, dia benar-benar menjaga supaya dia terlihat “mandiri”. Pagi-pagi kan waktunya memang mepet.

Di lampu merah terakhir, kalau lampu menyeberang jalan sudah hijau, saya biarkan dia lari menerobos jalan sendiri dan menghilang di balik gerbang sekolah. Biar hemat waktu juga buat saya. Dan dia senang banget dengan ide ini. Mungkin kesannya kayak anak gede gitu, ya. Sudah boleh menyeberang jalan sendiri.

Saya panggil-panggil juga biar dia nengok gitu, dadah-dadah basa basi gitu. Dia enggak nengok dan cuma mengibaskan tangan seolah pengin bilang, “It’s ok, I’m fine. Just go.”

Huhuhuhu. He’s getting bigger and I’m not ready. Not yet! Secepat itu, ya, ternyata.

Drama hamil-menyusui-melahirkan-nyuapin dia yang susah bener makannya dan badannya mungil pula yang bikin saya harus bolak balik ngelus dada menerima judgement macam-macam dari orang-orang… seolah tak ada artinya lagi dibanding mendapati kenyataan di depan mata bahwa tidak selamanya saya bisa menimang dia di samping saya.

Itu juga belum kejadian. Baru kelas 1 SD pun! Hahahahahha. Masih panjang perjalanan yang harus dilewati sebelum dia benar-benar melambaikan tangan untuk bilang, “Okey Mom, I need to catch my flight. See you next year!”

Oh, no. Tentu pengin ya anak-anak terbang sejauh yang mereka bisa tapi ya, faktanya pedih juga, Euy. Ini baru menepis tangannya tak hendak digandeng saya sudah terpukul begini hahahaha. Gimana kalau nanti dia udah ke rumah bawa-bawa bini dan cucu-cucu. Belum lagi kalau-kalau-kalau… like I’ve said, masih panjang betul perjalanan yang harus dilewati.

Itu baru anak pertama. Lanjut terus sampai ke adik-adiknya.

Tapi, anak pertama memang spesial. Saya ingat waktu kakak pertama saya meninggalkan rumah untuk kuliah di kota lain. Keterima Sipenmaru di PTN Surabaya. Bertepatan perginya dengan Ibu saya berangkat haji. Pulang-pulang naik haji, kakak sudah berangkat ke Surabaya.

Ibu saya terisak-isak melihat sepasang sepatu si Kakak yang mungkin sengaja memang tidak terbawa. Masih nangkring di kotak sepatu. Padahal adik-adiknya masih ada 5 biji (yang bungsu belum lahir waktu itu), tetap saja, pengalaman pertama ditinggal satu anak tuh, rasanya drama banget kali, ya, huhuhu.

Jadi intinya, yang sekarang-sekarang ini kita alami saat mereka masih dalam kandungan misalnya atau masih balita, aduh…masih ecek-ecek lah hihihihi. Ecek-ecek tapi lumayan menguras emosi kan, kan, kan? Hahaha *jabatTangan*.

Still, long way to go ini mah yaaa … rangkul satu-satu dari jauh <3.

Don’t lose your way with each passing day
You’ve come so far don’t throw it away
Live believing dreams are for weaving
Wonders are waiting to start
Live your story Faith, hope and glory
Hold to the truth in your heart
-Diana Ross, “If We Hold On Together”-

Jalan masih panjang begini, save our energy. Wonders are still waiting to start, aren’t they? ;).

Let’s hang on … <3.

Gambar : ctworkingmoms.com

Gambar : ctworkingmoms.com

2 thoughts on “Wonders are (Still) Waiting to Start

  1. Mungkin udah putus asa karena 2 ketua KPK (laki-laki) jatuhnya atau dijatuhkan) gara2 perempuan semua. I wonder what can make a woman go down.

    • Kayaknya ita tuh Mak hihihihi. Jadi ini mungkin mau nyobain formula ‘baru’. Perempuan juga kan lebih teliti ^_^.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *