A whole New World

buat upload foto kawinan

Bangun pagi-pagi di hotel, kaget lihat banyak bener miskol di ponsel. Bersama sebuah SMS bernada bete, “Ke mana aja sih? Kabarin dong kalau udah nyampe!”

In 2007, a project at the office required me to go back and forth Jakarta – Surabaya. Kalau enggak salah, belum sebulan jadi pengantin baru, tugas ya lanjut terus :D.

Waktu masih single, mana pernah sih ngabar-ngabarin kalau tugas luar. Pindah kosan saja sendirian kok :D. Saudara-saudara saya, bahkan ibu juga, saya rasa tidak pernah hafal saya pernah ngekos di mana saja hahaha. Kalau mau ketemuan biasanya di meeting point standar macam di mal dsb.

Dari SMA, sudah tidak tinggal bareng orang tua. Waktu kuliah kemudian kerja juga ngekos terus. Saat kebetulan lagi sakit, ya sudah, coba ditangani sendiri saja. Minum obat paling ya. Kalau belum sembuh ya ke klinik. Sendiri aja.

Waktu SMA, ibu malah pindah ke Jakarta, saya di Makassar. Pas kuliah dan kerja, ibu malah balik ke Makassar, saya pindah ke Depok.

Narsis di kantor, masih gadis nih :D

Narsis di kantor, masih gadis nih πŸ˜€

Di zaman segitu, semua saudara juga belum settle di ibukota. Ada yang numpang juga di saudara sambil cari kerja. Kalau pun kerja ya kerjanya ya gitu deh hehehe. Masih sama-sama berjuang ^_^.

Sebisa mungkin, tidak saling menyusahkan. Apalagi buat ibu, ya. She had been through so many things yang tentunya tidak perlu diceritakan di sini ;).

Pikir saya, it will be easier for her kalau saya tidak perlu merecoki hidupnya lebih jauh. Kalau bisa malah selalu ingin meringankan ^_^. Kecuali darurat banget, cukuplah beliau tahu anak gadisnya yang rupawan dan berbudi pekerti luhur ini SELALU dalam keadaan baik-baik saja.

Masih gadis juga nih, bareng abege-abege di kantor hahahahaha

Masih gadis juga nih, bareng abege-abege di kantor hahahahaha

Galau mau pindah kerja, ada urusan dengan kesehatan, selama bisa dihandle sendiri, apalagi kalau cuma rintihan akibat sempat jomblo cukup lama, cukup ditulis di diari saja hihihihi. Again, ibu dan saudara-saudara saja juga pasti misleading kalau ditanyain saya pernah kerja di mana saja :p.

A marriage, totally a new life for sure.

Kalau ke mana-mana harus laporan sama suami. Ya iyalah. Nah, pas awal-awal kan suka lupa. Berasa masih gadis aja gitu. Pergi jauh pun suka lupa ngabarin kalau sudah tiba di lokasi.

It took me sometime to adapt.

Sementara … suami saya itu kecilnya kayaknya hidupnya “normal” banget. Dari lahir sampai sudah menikah pun, nempel terus dengan orang tua hehe. Dekat banget. Apa-apa diceritakan kepada orang tua. In a positive way dong, ya :).

wedding 1

Ini yang dulu sering bikin berantem. Saya yang sudah biasa sorangan wae menikah dengan suami yang attached banget dengan keluarganya.

Kita juga beda suku. Saya tahu mertua terkaget-kaget melihat saya memanggil semua kakak-kakak saya dengan NAMA saja :p. Itu padahal kebiasaan umum, lho, buat orang Sulawesi hehehe. Sementara orang Minang mau panggilan kepada kerabat itu rupa-rupa abis dah. Pening juga awalnya.

Saya sering menuduh suami manja dan tidak tahu rasanya hidup susah. Sementara dia berpikir saya angkuh karena semacam sudah merasa berhasil menaklukkan hidup *tsaaaahhh*. Apa coba? Hahaha.

Suami saya juga jumlah saudara kandungnya jauh lebih irit. Perhatian ibu mertua rasanya ekstra banget kepada anak-anaknya. Saya tidak terbiasa. Saya sampai risih sendiri jadinya. Beliau pun sangat telaten, disiplin, rapi, bersih dan sangat perfeksionis. Bandingkan dengan saya yang serampangan dan cenderung kurang suka mengurusi hal-hal kecil atau menghindari yang detil-detil.

Padahal sederhana saja, ya. Namanya proses tentu butuh waktu. Untuk suami memahami kalau saya bagai macan yang terbiasa hidup di alam liar mendadak harus masuk kebun binatang –> analogi macam apa iniiiihhh???? Hahaha.

Bareng ibu mertua :D

Hamil anak pertama, foto bareng ibu mertua πŸ˜€

Sementara saya juga harus memahami dong kalau suami saya sudah terbiasa hidup teratur dan ya itu tadi… ‘normal’ bagai kisah keluarga bahagia yang ada di buku cerita anak-anak itu :D.

Dia belajar untuk mengikuti ritme saya yang agak-agak enggak normal (hahahaha) dan saya perlu berlatih jika setelah menikah, like I’ve said before, seorang perempuan seperti menemukan ‘rumah’nya yang baru.

Ibu Mertua adalah bagian dari ‘rumah’ baru yang HARUS saya terima. Apalagi suami memang dekat banget dengan beliau. Setelah punya anak laki-laki, baru deh pelan-pelan mengerti :).

Dulu-dulu ya pasti gengges lah ya, suami saya selalu memihak ibu mertua. Tapi kini, semuanya seperti terpantul dalam kehidupan saya sendiri. Whatever he did hampir selalu membuat saya berpikir, “Alangkah bahagianya kelak kalau anak laki-laki saya bisa mewarisi sifat papanya” <3.

Seperti sebuah kalimat bijak, “A mother holds her children’s hands for a while, but their hearts forever.”

 

Adalah sangat aneh kalau berpikir untuk bersaing dengan ibu mertua dan terlontar kalimat-kalimat bodoh semacam, “Kau pilih aku atau ibumu!” Ayo ngaku, siapa yang pernah kayak gini? Hahahaha :p.

Suami saya, ribuan mil jaraknya dari tanah air, tiap minggu itu minimal 2x menelepon ibunya :). Biasanya menelepon dari kantor. Sebulan minimal sekali mengajak anak-anak skype dengan Oma-Opanya :D. How sweet <3. He showed the best example to our sons.

Mungkin rasanya gimanaa gitu dulu kalau sejak sebelum menikah pun, suami saya sering banget bilang, “Mamiku tuh cantik banget, lho. Orangnya juga enak diajak diskusi.” Kesel-kesel gimanaaa gitu :p.

But now I feel overwhelmed, picturing my sons will tell their girls someday, “Mamaku tuh kece abis tauk! Orangnya juga pinter Kamu baca deh blognya. Tulisannya oke punya, lho. Sempat jadi artis jadi-jadian pula di fesbuk pada masanya.” Hahahhahahaha –> benerin daster kitaaaaaaaa :v :v :v.

Then … how can I not love my mother in law :’).

Kalau mudik, saya berikan keleluasaan kepada suami untuk benar-benar merasa ‘pulang’. Rumah kami juga kan dekat sekali jaraknya dengan ibu mertua. Suami tiap hari mampir ke sana. Anak-anak kan masih kecil-kecil dan liar jadi tidak tiap hari saya ikut ke sana hehehehe. Kasihan Mami-Papi, sudah berumur. Mereka tidak punya asisten rumah tangga yang menetap. Kalau rumah diacak-acak cucu siapa yang beresin coba? Hehehe.

Maksudnya juga biar ibu mertua dan suami bisa benar-benar menikmati waktu mereka berdua.

Lucunya, ya. Ibu mertua itu lebih tough daripada anak mantunya ini. Setiap menjelang keberangkatan balik ke luar negeri lagi, ibu mertua cuma peluk-pelukan aja sama suami. Paling mereka matanya berkaca-kaca doang. Saya yang nangis sesenggukan lihatnya hahaha. Sampai malu dilihat mertua. Cengeng emang kauuuuuuu :v :v.

Untungnya ibu saya juga sepaham. Menurut ibu saya, kesetiaan istri nomor satu pada suami. Termasuk menghormati ibu mertua. Ibu saya sih tak begitu dekat dengan ibu mertua hehehe tapi senangnya ibu tidak pernah ‘meracuni’ macam-macam.

Kalau ada masalah dan saya cerita, ibu saya tak suka banyak bicara. Kalau saya sudah tenang, baru beliau bersuara,

“De na je’ makkiro Nak. Padecengi pappene’dimmu. Iyoro lakkemmu, aja muallapesangngi. Kanja sipa’na, kanja tappana, macca topa massappa dalle’. Iko kapang dekke keddo. Ingngerrangngi kanja’-kanja’na ko maceko.” (Tidak begitu Nak. Tenangkan dirimu. Suamimu itu, jangan terpikir untuk dilepaskan. Baik sifatnya, ganteng wajahnya, pandai pula mencari rezeki. Mungkin kau yang terlalu keras. Ingatlah kebaikannya kalau kau lagi marah).

Mamah Dedeh banget gak sih nyokap eike? :p. U’re the best, Mom <3.

Tapi sebenarnya we’ve been through many tough times together for these last 8 years in this togetherness :D. Kalian cukup tahu yang indah-indahnya saja lah hahaha.

β€œTo say that one waits a lifetime for his soulmate to come around is a paradox. People eventually get sick of waiting, take a chance on someone, and by the art of commitment become soulmates, which takes a lifetime to perfect.”
― Criss Jami, Venus in Arms

This whole new world called marriage … takes a lifetime to be perfect ;). Always in progress.

A whole new world
A hundred thousand things to see
I’m like a shooting star
I’ve come so far
I can’t go back to where I used to be

A whole new world
With new horizons to pursue
I’ll chase them anywhere
There’s time to spare
– A whole New World, Peabo Bryson & Regina Belle-

Let me share this whole new world with you, Love. Happy (very) belated anniversary, Dear Suami <3 <3 <3.

DJ 10 tahun

 

***

13 thoughts on “A whole New World

  1. Hihhihihi, hubungan masih turun naik kok Mbak :D. Tapi memang seiring berjalannya waktu jadi getting banger banget πŸ˜€ <3

  2. πŸ˜€
    artis jadijadian… bisa aja mba Jihan ini.

    hmmm… jd mewek inget alm.ibu mertua :'(

    anyway,
    happy anniversary πŸ™‚
    barakallah ya mbak…
    :*

    • Hihihihihi, maksudnya bukan artis beneran gitu. Ngerasa arts ajah hahahahha. Terima kasih ya Dear <3. Btw, Al Fatihah buat ibu mertua tercinta :).

  3. Mbaak.. Suka banget baca2 tulisan Mbak baik di FB maupun blog. Saya masih gadis baru mau menginjak usia 20, seneng baca tulisan2 Mbak, merasa dapet nasehat tanpa merasa digurui.. Tetap nulis yaa biar nanti anak2nya beneran bisa bilang ke pacar2nya “mamaku itu penulis hebat lho!” , hehe. Salam πŸ˜€

  4. Hoaa.. Baru baca ini, dan ngerasa dapet suami yang begitu juga. Pokoknya tiap kata2 ibunya dianggap “titah” hahaha. In a positive way juga. Dan jadi kepengen banget punya anak cowok karena pengen digituin jugaaa sama anak nanti, hehehe…

    Anw, 8 tahun anak 3 yaa xp

  5. Mbak Jihan salam kenal πŸ™‚

    Wah suaminya urang Minang, ya? Aku baru kali ini punya pasangan urang Minang jadinya agak2 excited gimana gitu kalo ada temennya hahaha. Dan kebetulan sifat kita mirip ya, mbak, aku jarang dipanggil “kakak” sama adek2ku dan emang agak ‘koboi’ juga haha serampangan.. Sementara pasanganku itu keliatan behave bgt (?) πŸ˜† Cuman bedanya kami berdua sama2 perantau jadinya doi kyanya ga attached2 bgt sama emaknyee..

    Ya begitulah mbak langgeng terus sama suaminya ya sampai maut memisahkan πŸ™‚

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *