To Read More Pages

foto traveling

Abege 90 an biasanya lumayan familiar dengan acara Asia Bagus :D. Paling memorable itu kalau dengar kontestan dari Jepang menyanyi. Kalau lirik dari bahasa lokal mereka ya tidak istimewa.

Masih ingat kalau mereka menyanyikan lirik lagu bahasa Inggris? Saya sampai bengong. Itu beneran bahasa Inggris atau diterjemahkan ke dalam Bahasa Jepang sih? Hihhi. Sungkem dulu sama orang Jepang :p.

Mereka punya aksen dengan logat patah-patah. Kalau berbicara sepertinya mereka punya nafas yang pendek. Jadi, saat berbahasa Inggris, apalagi kalau menyanyi, ngomong patah-patah tadi terus terbawa. Duh, jadi ingat goyang patah-patah hahahaha.

Gambar : youtube.com

Gambar : youtube.com

Gedean dikit, masuk dunia kerja, harus banyak berurusan dengan regional support dengan orang India. Waktu masih di Bern tempo hari, saya ngobrol panjang lebar dengan suami soal aksen Inggris orang India. Suami saya, sekarang juga di development center, harus banyak berurusan dengan developer yang regional supportnya lagi-lagi pakai IT-India :D.

Kita ngakak bareng-bareng berbagi kisah-kisah unik saat berkomunikasi dengan mereka. Satu yang pernah bikin saya putus asa ngomong di telepon waktu lagi sharing user id. Tentu harus dieja kan. Mereka menyebutkan huruf “wo”. Duh, apaan tuh “wo”.

Saya tanya, “Is it O?”

“Wo, wo.”

“You mean double-U (W)?”

“No, no. Wo.”

“Ooooo, maybe it’s Yu (U)?

“Wo, wo!” Dia udah mulai kesal.

Naon etah wo? Hahahaha. Jadi saya minta dia menggunakan ejaan internasional macam a = alfa, b = beta. Busyet, lebih parah lagi hahahaha.

Akhirnya, karena capek ngomong di telepon. Saya minta dia kirim email saja. Dia lagi enggak di kantor dan enggak depan PC/laptop. Kurang ribet apa coba? :v

“Send me a short message.” Lalu saya beri nomor ponsel saya.

Huruf “wo” itu ternyata O, saudara-saudara! *pingsan*.

Singapura dengan Sing-lish nya lebih cetar lagi bukan? Hahahhahahha.

Satu hal dari developer India ini. Segitu “gengges”nya bahasa internasional ala mereka, kemampuan mereka mendunia sungguh luar biasa! :).

IT Park, Bangalore-India (gambar : indiacatalog.com)

IT Park, Bangalore-India (gambar : indiacatalog.com)

Berapa banyak perusahaan besar di dunia selevel Unilever misalnya (consumer goods yang cukup popular di Asia), atau Ericsson (vendor telekomunikasi yang juga cukup oke), menggunakan IT-support asal India. Sebuah kota khusus di sana, Bangalore, sudah dikenal sebagai kota IT internasional :D.

Gin-gini mamak-mamak dasteran pernah juga lah mencicipi kehidupan kantoran yang rasanya keren aja gitu, bahasa Inggris hampir tiap hari, telepon-telepon-an ama akang-akang di Bangalore sana. Walau sebagian diisi dengan mumetnya menerjemahkan mereka ngomong apa. Enakan email-email-an dah! Suwer! hahahaha.

Tapi uniknya, pasca berhenti bekerja, “pergaulan internasional” justru baru saja dimulai. Ikut merantau ngintilin suami :D. Waktu masih di Jeddah, secara bahasa, tak ada tantangan lah. Wong mainnya sama sesama orang Indonesia terus :p.

my-angels-jeddah.jpg

Nah, waktu di Irlandia ini. Jadi super minoritas di kota ini, mau enggak mau harus bergaul dengan bangsa lain. Dengan penduduk lokal Irlandia sendiri yang nyata-nyata berbahasa Inggris, saya dibuat pening dengan aksennya yang luar biasa hahahaha. Awal-awal “excuse me” melulu biar mereka mengulang perkataannya dengan lebih pelan. Aksennya super, Kakaaa :v.

Tapi dua tahun berlalu, lama-lama ya terbiasa. Sudah fasih. Nonton komentator Irlandia bahas bola saja rasanya sudah kayak makan kacang aja. Sombong kauuuuu hahahaha.

Bergaul dengan mamak-mamak India pun menjadi tak terhindarkan. Psttt… justru pendatang Polandia yang juga menjamur di sini banyak yang bahasa Inggrisnya memprihatinkan :D. So that you know, di seantero Eropa mungkin hanya 2 negara yang berbahasa Inggris secara nasional, UK dan Irlandia.

Baik UK dan Irlandia aksennya juga kurang familiar untuk umumnya orang Indonesia yang lebih terbiasa dengan aksen Inggris ala orang US :D. Waktu ke London tahun lalu, dengar mereka ngomong cepat-cepat saya sampai putus asa mau kepoin orang ngobrol di kereta. Niatnya gak bener sih hahahaha.

Tiap hari di sekolah kalau nungguin anak juga ngobrol ngalor ngidur dengan mamah-mamah India/Pakistan. Jadi, lama-lama sudah terbiasa dengan logat mereka juga. Betapa dunia menjadi lebih berwarna, ya ^_^.

Sekarang lagi ramai bahas langgam mengaji :D. Tentu harus kekinian dong *nyengirEksis*.

Urusan mengaji, sebagai orang Bugis, dari kecil sudah biasa dengan langgam Arab yang pakem itu :D. Kalau melihat sejarahnya (sumber : buku Ulama dan Kekuasaan di Nusantara), penyebaran Islam di Sumatera dan Sulawesi memang didominasi oleh ulama-ulama yang langsung belajar di Mekkah :D.

Kain Sutra Bugis, gak nyambung banget gambar sama artikel hahahahha (gambar : klikhotel.com)

Kain Sutra Bugis, gak nyambung banget gambar sama artikel hahahahha (gambar : klikhotel.com)

Agak beda dengan Pulau Jawa yang pergaulannya lebih kompleks dengan pengaruh pedagang-pedagang India di sana yang juga membawa pengaruh Hindu yang besar. Jadi, jangan lebay bilang para Sunan menyebarkan Islam di seantero Nusantara. Itu kurang tepat :). Para Sunan peranannya dominan di Pulau Jawa ;).

Itulah mengapa banyak adat Bugis yang kebawa juga pengaruh Islam. Misalnya dalam tata cara akad nikah, sementara mempelai suami bertegang-tegang ria menjelang ijab kabul, mempelai perempuan diumpetin dulu di kamar. Keluarnya nanti setelah para saksi menjawab tegas, “SAH!”

Sementara suami dan salah satu kakak saya selaku wali nikah sibuk ngapalin ijab kabul, saya mah cekikikan sambil “selfie-selfie” sama kakak saya yang lain dalam kamar hahahahaha.

Pertama merantau pun lama tinggal di Jeddah. Mengajinya juga sama sesama ibu-ibu Indonesia. Guru dari Indonesia. Nyaris tidak ada “konflik” apa pun.

Lagi-lagi di Irlandia sempat ikut pengajian antar bangsa. Mayoritas sih dari India-Pakistan. Wow, sempat bengong mendengar ibu-ibu India/Pakistan ini kalau mengaji. Model alqurannya sendiri agak bingung lihatnya. Soalnya terjemahannya dalam bahasa Urdu. Hurufnya juga bukan latin. Alquran mereka juga umumnya tidak disekat per juz seperti lazimnya di kita. Jadi, kalau mengaji misalnya sudah sepakat per lembar atau per halaman, mereka kurang bisa ngikutin.

Tapi guru mengaji kami yang asal Mesir santai saja. Jangankan tajwid, soal pengucapan huruf juga agak sulit di lidah mereka (India-Pakistan tadi). Padahal kalau mengaji di Jeddah, rasanya jarang ketemu ibu-ibu yang enggak lancar mengajinya. Ada juga mayoritas teman-teman pengajian Indonesia di Saudi sudah pandai melagu yang indah-indah, ala telinga Indonesia kita yaaaa :).

Orang India-Pakistan kalau mengaji cepat sih sesuai logat asli mereka. Tapi ya gitu, panjang pendeknya jadi enggak keruan. Sekilas kalau bukan di pengajian mungkin saya enggak nyadar kalau mereka lagi mengaji hehehehe. Don’t worry, cara mengaji orang Indonesia-Malaysia selalu disambut dengan ucapan “Mumtaaz” dari ibu guru hehehehe *benerinKerudung*.

Urdu vs arabic , sekilas agak nyaru kan? :D (gambar : urduplanet.com)

Urdu vs arabic , sekilas agak nyaru kan? ๐Ÿ˜€ (gambar : urduplanet.com)

Ada satu yang berasal dari Afrika. Wah, yang ini benar-benar dasar sekali pengetahuannya. Patah-patah bacanya. Sementara emak-emak dari Sudan yang memang sehari-harinya berbahasa Arab juga suka ngikutin ngajarin. Problem is, sering saya menangkap ada perbedaan aksen antara si ibu guru Mesir dengan emak-emak Sudan tadi. Jadilah yang dari Sudan suka bisik-bisik nyinyirin “Ih, dasar orang Mesir. Padahal kan tuh bacanya harusnya gini, gini, gini.”

Tak paham sih saya logat-logat Arab. Yang jelas, antara Mesir dan Saudi memang beda :D. Apalagi di Saudi dulu dikenal “langgam ngasal” alias Arab abal-abal yang dipopulerkan oleh para pendatang :p.

Macam swayya-swayya dan mafi mushkilah secara grammar itu kan parah total hahahahaha. “Ana mafi maklum” juga sangat tenar. Yang benar kalau tidak salah, “Ana Laa arif” :). Beda banget kan hahahaha. CMIIW, ya. Yang lebih jagoan bahasa Arab itu suami saya :D.

Terus terang, ada rasa jumawa menyelinap dalam hati mendengar cara mengaji umumnya emak-emak non Arab (selain Indonesia Malaysia) *tutupMuka*. Semacam ada kesombongan dalam hati, “Ih, ancur banget deh ngajinya. Mendingan gue deh ke mana-mana! Apaan tuh ngaji kayak gitu? Ada gitu pahalanya?”

Soalnya ya, dalam lingkungan mereka, hal itu tidak dianggap sebuah ketidaklancaran membaca alquran. Ya memang bacanya begitu untuk keseharian mereka.

Di Indonesia umumnya, tak perlu jadi ustaz besar kalau hanya untuk menguasai cara baca alquran. Apalagi dari kecil pakai pakem Arab yang standar itu hehehe.

Anak-anak belajar mengaji (gambar : joss.today)

Anak-anak belajar mengaji (gambar : joss.today)

Makanya orang Arab itu suka terpesona dengan orang-orang Indonesia-Malaysia yang jagoan baca alquran tapi sama sekali tidak mengerti bahasa Arab! Hahahahha. Buat mereka itu sesuatu hal yang luar biasa! Ini terbukti waktu naik haji dimana satu tenda orang Mesir semua. Heboh itu satu tenda pas tahu saya lancar baca alquran. Lancar baca, artinya NOL! *tutupMukaLagi*.

Dari ilmu kognitif sendiri, mencoba ingat-ingat mata kuliah Psikologi zaman kuliah dulu, menghafal lebih mudah jika kita aktif menggunakan otak untuk menyimpan data dan menghubungkannya dengan pengetahuan yang sudah-sudah. Termasuk mencocokkan makna dan pemahaman arti.

Pastinya lebih mudah menghafalkan teks dalam bahasa Inggris ketimbang teks bahasa Perancis. Jangan ngotot kalau bahasa Perancis itu lebih susah. Lebih susah untuk kita. Buat orang sana mah ya jelas lebih gampang bahasa Perancis daripada bahasa Inggris sekali pun hehehehe.

The thing is, perbedaan itu intinya mendewasakan :). Apalagi jika kita hadapi langsung. Waktu kecil nonton Asia Bagus mana paham saya walau logatnya amburadul, Jepang adalah salah satu kekuatan ekonomi dunia.

Sebelum benar-benar merantau ke mana-mana dan bertemu mereka di mana-mana, mana mengert saya walau aksennya gengges, pamor India di mata internasional jauuuhhh lebih tokcer daripada Indonesia. Walau secara ekonomi, India masih di bawah Indonesia, jangan sakit hati kalau dunia internasional masih mengernyitkan kening mendengar kata Indonesia tapi ngangguk-ngangguk cepat kalau ditanyakan soal India ;).

Bahkan yang kayak Filipina pun yang sering kita pandang sebelah mata, tenaga medisnya menjamur ke seluruh pelosok dunia. Bangsa Tiongkok apalagi. Sudahlah jangan ditanya hehehe. Etos kerja, kedisiplinan, dan kecerdasan mereka sudah jadi buah bibir di hampir semua benua.

Singlish ala SIngapura boleh membuat kita terpingkal-pingkal. Tapi ingat, negara mini ini sangat superior di level internasonal sekali pun ;).

Traveling itu tidak hanya hanya tentang tempat-tempat wisata dan selfie-selfie depan landmark kota dong, ya ;). It’s about knowing each other. Memperluas cakrawala berpikir, melonggarkan hati bukan malah memperkecil wawasan, mempersempit perasaan.

Bergaul dengan rupa-rupa manusia mungkin seperti mengajarkan kita jika selama ini kita yakinnya, “Bangunan datar sisi empat itu kalau enggak persegi panjang ya bujur sangkar.”

Tapi seiring dengan wawasan yang bertambah kita jadi tahu, “Oooohhh, jajaran genjang itu juga punya 4 sisi. Trapesium juga. Diamond juga segi empat. Ada lagi model layang-layang.”

Gambar : sites.google.com

Gambar : sites.google.com

Semuanya punya 4 sisi. Tapi kita enggak familiar dengan modelnya. Secara simbol beda tapi makna kan sama-sama 4 sisi toh ya? Duh, nerd banget sih contohnya. Sungkem dulu, alumnus eksakta pula dimari ya Kakaaaaaaa hhihhi *ngikikSokLogis*.

Terjemahan Al Hujurat ayat 11 hingga 13 menerangkan hal ini dengan sangat indah :).

49:11. Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) …

49:12. Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain …

49:13. Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Seindah itu lho alquran meminta kita untuk tidak mengolok, menjauhi prasangka, instead … menyarankan kita untuk “bergaul” biar saling mengenal. So that we can find out, kalau ternyata pisang goreng yang biasanya secara tradisional tinggal kasih tepung sama air itu juga bisa dikreasikan dengan macam-macam keju, coklat, krim aneka rasa dengan tidak mengubah rasa pisangnya itu sendiri.

Jiaaaahhh, bumil lagi laper nulis serius begini hahahahahhahaha.

Baiklah sementara Bumil bentar lagi kayaknya mau bikin adonan pisang goreng, kita tutup tausiyah kita dengan kata-kata mutiara standar hasil googling barusan :p

The world is a book, and those who do not travel read only a page.
– Saint Augustine

Let’s read more pages, shall we? ๐Ÿ™‚

Masih hari senin. Selamat memulai pekan ini dengan lebih baik ^_^.

***

12 thoughts on “To Read More Pages

  1. Salam kenal Mbak Jihan. Yang soal IT dari India itu bener banget. Kejadian juga sama aku. Sekarang kerja di perusahaan Belanda sih, cuman orang IT nya hampir semuanya India. Dan aku pusiang kalo pas mereka telpon mau ngasih solusi. Disuruh email gak mau. Huhuhuhu.
    Tulisannya bagus banget. Makasih sudah berbagi.

    • Lama-lama juga biasa kok hihihi. Sudah familiar belum dengan “same-same” , “little-little” :p. Mirip juga kadang dengan bahasa Indonesia ya haha.

    • Bener banget hahahahaha. Peserta Filipina dan Malaysia juga kadang ada yang bagus lhooo :D. Yang Jepang emang jarang ya waktu itu yang bagus hihi.

    • Hahahahhahahahaha, UUD yeee, ujung-ujungnya duit :p. Yang penting halal dan barokah *benerinSajadah* :v :v

  2. Dulu pas mau ke korea selatan, aku sih adem ayem saja mbak berangkat hanya dengan modal bahasa Inggris, aku pikir negara semaju korsel pasti penduduknya rata-rata sudah jago bahasa Inggris. Lha kok ladalah begitu nyampe sana rata-rata kemampuan bahasa internasional itu malah beberapa level di bawah Indonesia. Belakangan baru tahu kalau dalam sistem pendidikan disana sama sekali tidak mewajibkan pelajaran bahasa Inggris. Itu diberikan di luar kelas semacam ekstrakurikuler.

    Selama disana aku juga sesekali mengaji dan mereka tahu kalau yang kubaca adalah al-Qur’an yang berbahasa Arab. Untunglah tak pernah sekalipun aku bekerja satu pabrik dengan orang-orang dari timur tengah sehingga tak ada yang tahu kalau aku cuma bisa ngaji tapi tak paham bahasa arab 1 kalimatpun ๐Ÿ˜€

    • Hihihihi, iya Pak. Katanya di Korsel juga parah bahasa Inggrisnya. Jangan di sana, di banyak negara Eropa daratan juga susah nemu yang bisa bahasa Inggris. Kata suamiku di Jerman juga banyak yang ogah bahasa Inggris sehari-hari :D. Karena emang beneran gak terlalu bisa hahaha :p.

      Soal bahasa Arab ya begitulah. Saya juga surprais mereka kaget kalau saya enggak ngerti bahasa Arab. Padahal di kita mah biasa ya. Dari kecil sudah diajarin mengaji. Disuruh menghafal malah. Enggak perlu tahu artinya hahahahaha :p.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *