Belajar dari Arena Floyd vs Pacman

Another old post :p. Di wall FB saya memang senang bikin status. Tapi statusnya tuh benar-benar yang panjang gitu. Kadang, cuma mau share berita tapi ngasih pengantarnya sudah kayak satu artikel sendiri hahahaha.

Kali ini lagi-lagi telat mau bahas soal si Floyd vs Pacman. Tapi kan pesan atau inspirasinya mudah-mudahan tidak pernah telat ya *cuih*.

Bukan penggemar tinju sih. Tapi kasihan juga ini Bang Mayweather dibully abis-abisan. Sampai dibikinin video-video penghinaan macam-macam buat lucu-lucuan hehehehe.

Jiwa kepo membawa saya mencari-cari berita yang kira-kira bisa menggambarkan cara perhitungan teknis main tinju ini :D. Kira-kira berita ini salah satu yang lumayan cocoklah beritanya dengan yang saya maksud ๐Ÿ˜€. Kalau ngandelin perasaan penonton, waduh, buat apa bayar juri mahal-mahal cobak hihihihi.

Ini kan bukan macam kontes-kontes nyanyi ala-ala Idol-idol an itu yang kemenangannya ditentukan sama voting sms penonton! :v :v :v.

Kemenangan Mayweather ini mengingatkan saya pada kemenangan Yunani di Piala Eropa 2004 silam. Yunani boooo, Yunani! :D.

Euro 2004-winner (gambar : telegraph.co.uk)

Euro 2004-winner (gambar : telegraph.co.uk)

Sudah gengges dari awal melihat pola permainannya yang bertahan mati-matian di tiap pertandingan. Surprisingly terus melaju ke babak final. Rasanya pengin lempar tipi saat Yunani sukses menghempaskan Ceko dan pengin ikutan menghibur Nedved yang benar-benar sudah mempersembahkan permainan yang oke di semi final itu huhuhu.

Melihat Yunani bermain seperti memasang strategi 1 gelandang + 10 pemain bertahan! Hahahhaahaha. Ngerubuuunggg aja di kotak penalti. Mending di kotak penalti lawan! Di kotak penalti sendiri gitu lho *pingsan*.

Nedved, the end of the Semifinal Greech vs Czech (gambar : standard.co.uk)

Nedved, the end of the Semifinal Greech vs Czech (gambar : standard.co.uk)

Otto Rehhagel, pelatih Yunani, santai saja menanggapi nyinyiran berbagai pihak yang menyesalkan strategi “sepakbola negatif” yang dipilihnya. Iyalah, stres kan nonton bola di mana yang satu sudah menyerang habis-habisan yang lain malah bertahan maksimal -_-. Eh, yang nyerang dengan berbagai gaya malah yang kalah.

Menurut Rehhagel, tujuan permainan kan untuk menang. Enggak penting strateginya apa. Dia justru menyadari kelemahan timnya yang memang tidak punya daya serang dan tidak akan sanggup menghadapi tim-tim besar lainnya. Jadilah dipilih “bertahan aja terus” gitu di sepanjang pertandingan sambil nunggu hoki dari bola-bola mati hihihihi.

Memang kejadian! Gol-gol kemenangan tim Negeri Dewa Dewi ini tercipta dari entah itu tendangan bebas, tendangan sudut, dsb. Yang nonton lama-lama jadi gila gak tuh? Menang pula mereka! *pijatPijatKening*. Yang nonton finalnya lawan Portugal pasti lebih pengin nabok tipi lagi hahahahaha.

Rehhagel berpendapat dia sudah berhasil mengubah kelemahan timnya sebagai strategi kemenangan.

Otto Rehhagel (www.zeit.de)

Otto Rehhagel (www.zeit.de)

Oh well, in this life, kadang… kemenangan itu memang tergantung strategi. Strategi untuk memanfaatkan kelemahan sebagai kelebihan dan mempecundangi lawan. Siapa bilang kelemahan itu selalu mematikan potensi?

Strategi paling penting itu memang gimana caranya mengubah kekurangan menjadi kekuatan.

Rehhagel enggak salah dong kalau memilih bertahan. Bodo amat apa kata para penggemar bola. Pada akhirnya kemenangan kan ditentukan oleh strategi dan keberuntungan. Tergantung berapa skor yang benar-benar berhasil dicetak. Predikat juara tidak ditentukan oleh siapa yang terlihat paling keren di mata penggemar, kan? ;).

Btw, saya enggak nonton pertandingan tinjunya. Saya enggak suka tinju, euy. Ngeri karena pernah membaca apa efek dari hobi bertinju ini yang juga menimpa sebagian besar para pemain profesional :(.

Tapi ini penyeimbang ya untuk mengingatkan kalian yang kayaknya mandang Mayweather itu sebagai orang paling jahat sedunia hahahahahaha. Lengkap dengan teori konspirasi bla bla bla.

Floyd Mayweather (gambar : eurweb.com)

Floyd Mayweather (gambar : eurweb.com)

Gak capek ya booo hihihi. Trauma bener deh sama teori konspirasi ini hahahahaha. Santai sajalah. Ingat, untuk pertandingan tinju kemaren, baik yang kalah maupun yang menang, dua-duanya dapat trilyunan rupiah, Cyin!

Situ dapat dosanya doang membully orang yang bahkan tidak kalian kenal! :p.

Sudah yuk ah. As much as you want Manny to beat Floyd, apa perlu rasa sakit hatinya dipakai untuk membully.

Mending kita ambil pelajaran, deh. Merekonstruksi ulang makna kemenangan, mengatur strategi dan mendefinisikan kembali arti keberanian :). Keberanian mungkin tak selalu berarti menyerang tanpa henti atau menggebrak maju berapi-api.

“Courage is what it takes to stand up and speak; courage is also what it takes to sit down and listen.” –Winston Churchill

Seperti salah satu kata pepatah bijak, “Courage doesn’t always roar…” :).

Be brave on your own way. Have a nice weekend ^_^.

becuo com be brave

2 thoughts on “Belajar dari Arena Floyd vs Pacman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *