Di Timur Matahari Mulai Bercahya

Berdiri berjajar dengan wisudawan lain, back then in August 2002, saya siap-siap disalami oleh segenap jajaran dosen dan pengajar yang sudah mengantar kami mengenakan toga dan menjadi pusat perhatian di Balairung hari itu ^_^.

Pembimbing Akademik (PA) saya, sehabis salaman, bilang ke saya, “Lho? Jihan masih di Jakarta?” PA kan tahu, saya sebenarnya sudah lulus 5 bulan sebelumnya, wisudanya saja yang nyusul :D.

“Masih, Pak. Saya sudah kerja di sini.”

“Enggak pulang ke Makassar saja?”

Entah basa basi atau gimana, rasanya saya tersinggung banget huhuhu. Soalnya beberapa teman juga becanda gitu, “Dih, si Jihan enggak pulang kampung lo! Menuh-menuhin Jakarta saja!”

Sampai sekarang masih ingat. Pendendam banget sih Mbak? Hahahaha. Bukan begitu ;).

Wisuda di Balairung UI 2013 (gambar : antaranews.com)

Wisuda di Balairung UI 2013 (gambar : antaranews.com)

4 tahun sebelumnya, di penghujung bulan Juni 1998, jangan ditanya membuncahnya perasaan melihat nama saya tercatat lulus di Fakultas Ilmu Komputer UI. Semangat yang membubung tinggi langsung layu melihat respons mayoritas teman dan guru di sekolah.

Sakit hati banget waktu di ruang guru, pas lagi mengurus legalitas ijazah dan hendak berpamitan, mereka malah memberi komentar murung begitu, “Wah Jihan, sayang sekali ya cuma lulus di Ilmu Komputer. Kenapa enggak pilih Kedokteran atau Teknik? Sabar ya, nanti tahun depan ikut UMPTN lagi.”

Saya tahu banyak dari teman-teman bertanya-tanya, Ilmu Komputer itu jurusan apaan sih? Sementara ribet juga, karena saya juga tidak tahu nanti di sana bakal belajar apaan hahahaha.

Saya lihat sendiri kakak-kakak saya lulusan Teknik Elektro, masing-masing dari ITS-Surabaya dan UNHAS-Makassar. Ribetnya Tuhan nyari kerja di Makassar :(. Kesempatan sedikit, peminat banyak banget. Lowongan di Makassar juga menjadi incaran sarjana-sarjana muda dari berbagai kota di Indonesia Timur.

Tidak bermaksud menghina universitas negeri di kampung sendiri, saya sudah membulatkan tekad untuk kuliah dan bekerja di Jakarta. Mari menaklukkan ibukota!! *benerinIkatKepala*

Sementara di Sulawesi, orang-orang masih berkerut keningnya mendengar soal Ilmu Komputer … tiba di Jakarta, ucapan selamat bertubi-tubi dari kerabat dan sepupu di Jakarta. Semangat yang sempat menguncup jadi mekar lagi deh ^_^.

Adapun di UNHAS sendiri, kalau tidak salah (CMIIW ya) jurusan Informatika baru mulai dibuka tahun … 2008! Enam tahun setelah saya lulus! -_-. Adik bungsu saya cerita, jurusan lumayan favorit di UNHAS. Oh gitu, ya. 10 tahun sebelumnya saya masuk Informatika, orang-orang cuma bisa bengong! Huhuhu. Telat amat :p.

Monas, Landmark Jakarta (gambar : www.jakarta.go.id)

Monas, Landmark Jakarta (gambar : www.jakarta.go.id)

Bukti nyata betapa timpangnya kondisi wilayah barat vs wilayah timur Nusantara :).

Antara Makassar dan Jakarta saja sudah memprihatinkan, pernah membayangkan wilayah lain di Indonesia Timur? Di Sulawesi saja, Manado-Palu-Kendari-Gorontalo-Mamuju itu hiruk pikuknya jauuuuhh di bawah Makassar. Masing-masing adalah ibukota dari propinsi lain di Pulau Sulawesi.

Belum kalau ngomongin level kabupaten. Liburan sekolah tahun 1994, saya main ke tempat Nenek di Rappang, Sidrap. Hari pertama dan kedua sih senang. Hari ketiga dan seterusnya…bosan! Hahaha.

Selepas magrib, jalanan sudah gelap. Yang punya televisi yang pakai antena parabola kayaknya cuma satu. Di sanalah saban malam orang-orang berkumpul nonton apalagi kalau bukan…sinetron! HIhihihi.

Listrik belum sampai di 3 dusun (www.sinarharapan.co)

Listrik belum sampai di 3 dusun (www.sinarharapan.co)

Soal hiburan memang memprihatinkan. Tapi kalau soal makanan, wuiiihhh, sedaaaappp :D. Pulang kampung malah rasanya makan melulu. Semuanya serba anget-anget kalau mau makan. Nenek ya mana punya kulkas, sih :p. Masak nasi saja masih lebih suka yang pakai dandang, bukan rice cooker.

Jadi, orang-orang di wilayah desa/kota/Indonesia Timur itu jangan dibilang kurang makan. Kalian yang di kota besar yang akan gigit jari kalau tahu di sana tuh bahan makanan malah murah-murah ;).

Soal sekolah, duh ngenessss :(. Rasanya dulu gedung SMA adanya di desa lain. Gedung-gedung sekolah terbatas. Fasilitas apalagi. Kadang bersyukur tinggal dii Makassar. Walau kerabat kenalan di kampung banyak yang lebih berada tetap empati juga dengan anak-anak perempuan yang tak banyak pilihan. Banyak juga yang kawin muda.

Thank God, di kota besar, punya akses relatif mudah ke sekolah-sekolah negeri lumayan bagus walau ekonomi keluarga memprihatinkan hihihi. Sekolah negeri waktu itu kan jatuhnya masih murah ^_^. Ikut UMPTN masih serentak. Belum ada jalur aneh-aneh yang harus bayar puluhan juta itu huhuhu.

Satu kenyataan yang bikin sesak. Anak-anak orang kaya itu juga banyak yang pintar-pintar. Di Fasilkom saya banyak melihat yang model begini. Makanya dulu keukeuh euy nyari suami kudu anak Fasilkom hahahhahaha *ngakakMatre*.

Sebaliknya juga, siapa bilang semua anak orang tak berpunya itu pintar-pintar? :'(.

Seharusnya sih kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang layak adalah hak semua orang tanpa memandang dia pintar-bodoh-kaya-miskin :).

“Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi SEGENAP BANGSA INDONESIA dan SELURUH TUMPAH DARAH INDONESIA dan untuk memajukan kesejahteraan umum, MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA … ”

Segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. Pemerataan pembangunan kuncinya :). Inilah yang menjadi cita-cita besar Bung Hatta.

 

Pertumbuhan ekonomi lebih dinikmati oleh penduduk kaya (slideshare.net)

Pertumbuhan ekonomi lebih dinikmati oleh penduduk kaya (slideshare.net)

Dari dulu, Bung Hatta selalu rewel dengan distribusi. Beliau sadar letak geografis Indonesia yang unik sekaligus menantang perlu penanganan khusus. Kalau tak salah, beliau pernah mengkritik, “Buat apa capek-capek mempertahankan wilayah Irian kalau tak sanggup mengurusnya?” CMIIW ya, lupa-lupa ingat saya :D.

Nusantara, nusa antara, nusa = pulau, kepulauan diantara perairan luas. Membangun infrastruktur tentu bukan main repotnya. Dulu, waktu masih bekerja di Unilever dan mengurusi masalah distribusi, pernah saya diminta membuat sistem “Customer Transport Cost”.

Dari situ saya menjadi paham mengapa sering biaya barang konsumsi tuh makin ke timur makin mahal :(. Dari hasil meeting mengumpulkan user requirement mendapatkan banyak masukan soal suka dukanya mengirim barang ke luar Pulau Jawa. Sumatera, Madura, Bali masih lumayan. Tapi Sulawesi, Kalimantan apalagi Papua, duh, seringkali biaya distribusi jauh lebih mahal dari ongkos produksinya.

Infrastruktur adalah keluhan utama. Susahnya menembus wilayah-wilayah di belahan Timur Indonesia. Sementara tak mudah membuka pabrik di sana. Ya balik lagi ke masalah infrastruktur. Kepadatan penduduk juga timpang.

Gimana orang-orang dari Timur tidak lari ke Barat kalau begini? Kantor-kantor pusat ada di Jakarta semua. Dulu iseng saya tanya ke Bos, buka pos IT di Makassar dan kirim saya pulang ke saya. Bos saya tertawa, “Repot Jihan di Sulawesi. Siapa yang mau handle server di sana? Kalau ada apa-apa ongkosnya mahal.”

21 tahun warga Konawe "nikmati" jalan rusak (regional.kompas.com)

21 tahun warga Konawe “nikmati” jalan rusak (regional.kompas.com)

Seperti lingkaran setan. Kami, orang daerah, sering dicemooh kalau memutuskan hengkang ke kota-kota besar di wilayah barat. Kalau saya bilang, ya sudah tukeran yuk. Situ saja yang lahir dan besar di ibukota yang pindah ke daerah gimana? Yuk ah, pindah ke Maluku sekalian. Lihat kondisi di sana sebelum nyinyirin kami-kami ^_^.

Padahal wilayah di Timur itu punya banyaaaakkk sekali kekayaan alam. Tidak hanya Jawa Timur, Sulawesi Selatan pun termasuk 8 propinsi yang menjadi lumbung padi :). Sulawesi-Maluku itu sangat kaya dengan hasil laut. Udang-udang segar nan gede-gede banyak di sana. Duh, jadi laper hihihihi.

Tapi apa yang terjadi jika melimpahnya hasil bumi tidak bisa didistribusikan? Tahu kan, nilai tertinggi hasil laut itu ada pada saat kondisi segar. Dibawa naik kapal laut saja bisa makan 2 hari, keburu busuk di jalan huhuhu. Pakai pesawat ya siapa yang sudi ngongkosin para nelayan kecil di sana? :(. Aku padamulah Ibu Susi <3.

Itulah yang terjadi. Orang-orang banyak yang memaksa ke kota besar. Menerjang ibukota terutama. Terjadi penumpukan. Tidak semua meraup sukses. Untuk pulang lagi ke kampung ya untuk apa, di kampung pun mau jadi apa?

Banyak juga yang tak sanggup hidup tanpa internet hihihi (ini mah saya! Hahahaha).

Ada teman bilang, sebenarnya menyenangkan berkutat di industri pertanian. Ingin juga tinggal di kampung. Tapi … sesekali ingin dong melihat kota. Jalan-jalan penghubung antara desa dan kota masih hancur-hancuran. Fasilitas umum seperti rumah sakit dan sekolah juga terbatas. Anak-anak piye? Kalau sakit gimana? Mau sekolah gimana? Wajar kan kalau pada mikir-mikir hengkang ke kota kecil/desa/kampung?

Bertahanlah mereka di kota-kota besar walau hidupnya megap-megap. Sementara kalian hanya senang melihat masalah di permukaan. Menganggap kesusahan semata-mata terjadi karena harga barang mahal!

Arus Urbanisasi ke kota-kota besar (metro.news.viva.co.id)

Arus Urbanisasi ke kota-kota besar (metro.news.viva.co.id)

Itu di negara mana sih yang makmur sejahtera karena barang-barang murah doang?

Seperti saya bilang kemarin, pemerataan dan keadilan sosial justru tumbuh subur di negara-negara barat Eropa, Australia dan Kanada :). Kalian kira di negara-negara ini harga-harga barang murah ya? :p. Mentang-mentang liburan ke negara-negara maju, pulang-pulang langsung cerita betapa kerennya luar negeri :p.

Iyalah keren, situ tinggal di hotel, ke negara maju untuk hepi-hepi, mendatangi tempat-tempat wisata, sudah nyiapin budget untuk senang-senang. Pernah membayangkan tinggal dan bekerja di Eropa? Pajak aduhai, harga barang mak nyoss, bensin tidak murah, transportasi umum keren banget tapi ditunjang dengan ongkos fantastis.

Di Irlandia, saya tinggal di desa. Dusun sebenar-benarnya. Jumlah penduduk hanya 20 ribu orang. Belum lagi kalau ke wilayah lain di mana ada yang penduduknya cuma 3 ribu orang, satu kota!

Uniknya, ada teman yang bekerja di Dublin tapi tetap memilih tinggal di Athlone. Biaya hidup terutama sewa apartemen memang jauh lebih murah. Bisa mencapai setengahnya daripada di Dublin dengan fasilitas lebih oke ;).

Kok bisa? Ya karena Athlone-Dublin ditunjang dengan fasilitas transportasi yang mumpuni. Itulah mengapa di negara-negara maju. orang tidak numpuk-numpuk di satu wilayah tertentu. City Center dibuat mahal banget biar orang kaya tidak sok-sok-an tinggal di tengah kota. Justru yang tajir-tajir melipir ke pinggiran kota.

Dublin Bus (gambar : independent.ie)

Dublin Bus (gambar : independent.ie)

Jangan remehkan “dusun” di Eropa. Mau ngadu kecepatan internet antara Jakarta vs Athlone? :p.

Yang kerja di Dublin tidak semuanya tinggal di Dublin. Menyebar di kota-kota kecil lain di sekitar Dublin. Karena bus-bus angkutan manajemennya sudah bagus dan jalanan penghubung mulus-mulus.

Saya sendiri kalau mau kontrol kehamilan harus ke kota lain. Di Athlone tidak ada rumah sakit. Ini dibuat agar kota-kota kecil tidak ‘mati’. Jadi dibagi-bagi fasilitasnya. Athlone kebagian gedung-gedung kantoran misalnya. Balllinasloe kebagian rumah sakit negeri yang gede. Kota lain ya beda lagi. Pokoknya dibuat agar antar satu kota ke kota lain tuh saling bergantung. Tentunya sudah didukung dengan fasilitas infrastruktur transportasi yang oke.

Di Indonesia, semua numpuk di kota-kota besar. Terutama di wilayah barat. Apalagi di Jakarta.

Lihat negara berkembang pada umumnya! Orang-orang kaya malah menyemut di tengah kota. Yang pas-pasan geser ke pinggiran :p. Yang kaya makin kaya, yang pas-pasan makin semaput. Sekarang bertabur kredit konsumsi yang makin bikin pening. Orang biasa bisa upgrage gaya hidup dengan modal … nyicil!

Kesenjangan hidup yang tinggi memaksa kita terpaksa hidup modal gengsi! :D. Emang enak disangka orang miskin? :p.

Pembangunan MRT di Jakarta (gambar : www.tempo.co)

Pembangunan MRT di Jakarta (gambar : www.tempo.co)

Sebagian kita, bertepuk tangan atas subsidi listrik dan BBM selama ini. Cobalah dipikirkan lagi, subsidi-subsidi ini hanya dinikmati oleh kalian di kota-kota besar. Di kampung-kampung? Boro-boro punya mobil, lah ya jalanannya aja bolong-bolong! Hehehe. Boro-boro punya AC, listrik saja belum bisa menembus ke semua wilayah :).

Walau biaya hidup di Eropa memaksa kita berpandai-pandai berhemat kiri kanan atas bawah (hihihihi), pemerintah menyediakan fasilitas kesehatan dan pendidikan…GRATIS! Hampir merata di semua wilayah. Primary school bertaburan dengan fasilitas yang tidak kalah bagusnya bahkan di desa yang kalau kita lewati isinya sapi doang kayaknya hahahahaha.

Itu yang dilakukan negara-negara maju di belahan barat Eropa sini :). Yang sepertinya juga diikuti oleh Australia dan Kanada. US itu beda lagi ‘pola’nya. Mereka serba liberal di sana. Sementara Eropa dkk sifatnya lebih sosialis :).

Kalau mau cari orang kaya jangan ke Eropa-Australia-Kanada :p. Di US mungkin banyak. Pusatnya orang-orang tajir melintir ya di Timur Tengah lah :p. Ironisnya, banyak yang tajir melintir tapi yang miskin enggak ketulungan juga banyak.

Ingat kan, negara-negara maju itu umumnya pendapatan perkapitanya tinggi-tinggi. Penghasilan rata-rata penduduk itu hampir merata.

Tidak seperti di Saudi atau di Indonesia misalnya. Beberapa profesi engineer bisa mendapatkan di atas 30 ribu riyal per bulan sementara simbok TKW harus puas dengan 800 riyal per bulan.

Di Indonesia, beberapa profesi engineer bisa meraup 30-40 juta rupiah sebulan, sementara simbok di rumah dikasih 1 juta rupiah saja sudah banyak majikan yang meradang :p.

Pembangunan infrastruktur transportasi merata di  negara maju. Tram di Bern, Swiss (gambar : bahnbilder.de)

Pembangunan infrastruktur transportasi merata di negara maju. Tram di Bern, Swiss (gambar : bahnbilder.de)

Dan mungkin besok saat buruh meradang di demo-demo tahunan mereka, kalian juga akan ikut marah-marah, “Enak saja buruh minta digaji sama dengan kita-kita!” :p.

Maaf nih sebut-sebut Saudi dan Indonesia, juga Irlandia. Suami saya kan pernah kerjanya lama di sana hehehe.

Pencabutan subsidi memang perlu penyesuaian. Saya tahu sebagian itu khawatirnya karena goncangan harga-harga barang yang mengikuti pergerakan harga BBM yang sudah puluhan tahun disubsidi.

Saya harap pemerintah memikirkan juga soal stabilisasi harga. Walau saya tahu perlu waktu, ya cobalah berikan pengertian dan komitmen :). Dulu ada yang namanya Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID). APa kabarnya itu TPID, Pakde? :).

Indonesia itu punya segalanya. Kekayaan alam melimpah dan berjenis-jenis. Hasil tambang banyak. Walau sekarang kita harus menerima jatuhnya harga barang-barang tambang, kelapa sawit, karet, dsb.

“Komoditi booming” yang pernah dialami Indonesia beberapa tahun lalu kini hanya tinggal kenangan. China, salah satu negara tujuan ekspor kita, kini mengerem pertumbuhan ekonominya untuk mencegah inflasi.

Seiring permintaan yang anjlok, harga ya sudah pasti jatuh. Hal ini adalah pukulan besar bagi ekspor Indonesia yang selama ini memang mengandalkan ekspor barang mentah tadi :(.

Sekarang juga US mulai bangkit. Makin pusing dengan nilai tukar dolar yang makin tinggi. Bisa bayangkan apa yang terjadi pada APBN kita kalau saja pemerintah masih nekat mensubsidi BBM dengan nilai tukar rupiah kembang kempis begini? :D.

Untuk membangun infrastruktur pendidikan, kesehatan, transportasi, dan sebagainya kan perlu duit ya Kakaaaa. Kalau bisa pakai bulu ketek sama upil doang sih, dengan penduduk 250 juta-an orang insya Allah kita bisa provide yaaaaa hihihihihi.

Sayangnya, yang diperlukan itu…UANG :).

Pembangunan tol Solo Kertosono (gambar : www.tempo.co)

Pembangunan tol Solo Kertosono (gambar : www.tempo.co)

Kita juga maunya dana besar ini diturunkan dari langit begitu saja jadi pemerintah tinggal mungut-mungutin dari tanah :p. Tapi yuk ah, mari kita bangkit dari ilusi-ilusi kosong :).

Belum lagi semuanya butuh cepat. Waktu tak mungkin terus menunggu :). Semua masalah butuh diselesaikan …SEKARANG JUGA!

Tapi … apakah mungkin? 🙂

Ada banyaaaakkk banget yang harus diperbaiki. Waktu terbatas, uang pas-pasan, utang juga masih numpuk. Pengin marah, pengin maki-maki. Perubahannya terasa cukup mendadak. Tapi ya begitulah. Diantara semua keterbatasan yang Indonesia miliki, mungkin beginilah cara terbaik yang hendak ditempuh oleh pemerintahan baru kita :).

Bisa apalah mamak-mamak yang lagi hamil pula macam saya ini selain MENDOAKAN dan MENGHARAPKAN yang terbaik untuk NEGERI KELAHIRAN saya TERCINTA :). Termasuk terus bermohon yang baik-baik dan meminta keajaiban Tuhan agar dikuatkan dan diluruskan terus jalan Pak Presiden yang kayaknya sejak menjabat enggak pernah bisa napas saking banyaknya yang harus dikerjakan :D.

Kita sambut dengan optimis dan iringkan dengan doa terbaik, sedikit diantara banyak sekali PR pemerintah yang akhirnya mulai diluncurkan :).

Pembangunan jalan tol trans Sumatera –> http://news.liputan6.com/read/2223212/jokowi-groundbreaking-pembangunan-tol-trans-sumatera

Pembangunan Sejuta Rumah Sederhana –> http://www.beritasatu.com/properti/269773-groundbreaking-sejuta-rumah-dilakukan-hari-ini.html#

Gambar : dnaberita.com

Gambar : dnaberita.com

Saya kutip status Mbak Nurul Wachdiyyah tempo hari :

– Satu kalimat bagus dari Anies Baswedan, “Negara ini kondisinya sudah sedemikian parah, beri kami kepercayaan untuk memperbaikinya, yang terpenting dari semua : Beri kami waktu.” –

Tough times never last, but tough people do.
-Robert H. Schuller-

Stay strong, Pakde. Stay strong :).

“Di Timur Matahari mulai bercahya … Bangun dan berdiri, kawan semua …” :).

Updated :

Kitorang basudara untuk saudara-saudara di Maluku Utara : http://setkab.go.id/kunjungi-ternate-presiden-jokowi-janjika-dana-rp-3-triliun-untuk-pembangunan-maluku-utara/

Jokowi boyong 10 menteri kunjungan ke Papua http://nasional.kompas.com/read/2015/05/09/07313251/Warga.Heran.Jokowi.Kumpulkan.10.Menteri.di.Papua

CIMAL jalan teroooosssss :v :v :v. Masih konsisten beliau dengan kostum putih celana hitam kebangsaan ^_^. Yuk ah yang suka koleksi baju lebay malu sama sederhananya Pak Presiden kita. Jadikan cambuk yuk untuk lebih bersahaja dalam penampilan tapi maksimal dalam berkarya 😉 http://www.tempo.co/read/news/2015/05/08/078664740/Bersandal-Jepit-Warga-Tidore-Kagum-Kesederhanaan-Jokowi

Kota Sofifi dicanangkan sebagai pembangunan kota baru di Maluku Utara http://kieraha.com/headline/sofifi-resmi-dicanangkan-sebagai-pembangunan-kota-baru/#.VU2-p_l_Oko

Gelar adat dari Tidore http://setkab.go.id/presiden-jokowi-terima-gelar-adat-biji-nagara-madafolo-dari-kesultanan-tidore/

Groundbreaking pelabuhan baru di Makassar http://news.detik.com/read/2015/05/22/165023/2922471/10/groundbreaking-pelabuhan-baru-makassar-jokowi-kita-harus-kembali-ke-laut

6 thoughts on “Di Timur Matahari Mulai Bercahya

  1. Kaka, hamil makin produktif aja nih, tiap hari ada aja yang ditulis. sehat terus ya. jadi inget, dasar aslinya anak desa, dulu pas sd punya cita2 pingin jadi guru di daerah terpencil, atau ikut transmigrasi ke luar jawa.
    sekarang kerja dan tinggal di surabaya aja sudah penat sama pembangunan apartemen, mall, hotel, dll yang kurang imbang dengan pembangunan jalan dan angkutan massal cepat (di surabaya sudah ada konsep trem sama monorel juga), apartemen dll sudah jadi/sudah berdiri tapi jalannya belum selesai dilebarkan, trem sama monorelnya juga masih belum selesai tendernya. beri kami waktu ya…;)

  2. Baca artikel ini tuh bikin mata langsung melek, semangat berkobar2, patriotisme melambung, bangga dengan saudara2 dari timur yang mulai mendapatkan pemerataan Insya Allah. Dek Jihan aku Padamu deh …. Salam buat keluarga … Keep strong

  3. Haru teramat sangat menyaksikan pembangunan Indonesia Timur bergeliat sangat kuat. Bangga bahwa Presiden kita sekarang tegas menyatakan dan mewujudkan pembangunan Indonesiasentris, bukan Jawasentris lagi.
    Salut kepada saudara-saudara di Indonesia Timur yang selama ini baik-baik saja (nampak bahagia) walau tersentuh pembangunan sangat minim.

    Sebagai orang Indonesia berdarah Jawa (Solo) yang lahir dan besar di Bandung serta pernah bermukim di Jakarta, saya terus terang jengkel kepada saudara-saudara di kota-kota besar Indonesia Barat yang memaki pemerintah karena penghapusan subsidi bbm, lalu mengalihkan dana yang dibakar selama ini tersebut menjadi dana pembangunan infrastruktur di Indonesia Timur.
    Sungguh saudara-saudara saya di (terutama) Jakarta dan Bandung ini tak tahu malu dan tak tahu diuntung. Selama ini hanya untuk menempuh perjalanan beberapa ratus meter saja mereka dengan mudahnya melaju di atas kendaraan bermotor melalui jalan mulus, sementara saudara-saudara di Indonesia Timur tak sedikit yang harus menempuh perjalanan berkilo-kilo meter dengan berjalan kaki melalui jalanan yang saat musim hujan lebih menyerupai kubangan kerbau hanya untuk mencapai tempat-tempat dimana fasilitas pendidikan, kesehatan dan fasilitas umum lainnya berada. Hiks…

    Tak sabar untuk melihat seluruh bagian Indonesia memiliki infrastruktur seperti Pulau Jawa.
    Dibawah kepemimpinan Pak Jokowi, Indonesia terasa (memang) begitu besar besar. Minimal bagi saya, tidak hanya Bandung, Jakarta dan Solo lagi.
    Kitorang basudara <3

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *