“One Moment in Time” from Lausanne Switzerland

Inget Olimpiade, selalu ingat tembang “One Moment in Time”. Hayooo … itu lagu resmi Olimpiade tahun berapa dan di mana dan siapa yang nyanyi?

Penting gitu hafal gini-ginian? -_-.

Sebuah museum yang khusus mengabadikan momen-momen Olimpiade adalah tempat wisata utama di Kota Lausanne Switzerland.

Lausanne Olympic Museum Logo

Kayaknya lagi ada tema khusus sehingga di sepanjang jalan di tepi danau menuju museum, dipajang foto-foto Olimpiade musim dingin tahun 1984 di Sarajevo.

Foto-fotonya epic banget. Sebagian menggambarkan betapa beratnya medan pertandingan karena buruknya musim dingin tahun itu.

Beberapa foto close up sang juara saat momen-momen terbaiknya. Suasana Kota Sarajevo yang agak-agak demam panggung karena posisi dari kota enggak penting menjadi tuan rumah acara internasional.

Berjarak sekitar 90 an km, butuh sekitar 1 jam naik kereta dari Bern menuju Lausanne. Dalam tempo satu jam itu, segala sesuatu di Bern yang berhubungan dengan bahasa Jerman mendadak berganti dengan bahasa Perancis.

Lausanne, City Center

Lausanne, City Center

Yoih, Swiss mengenal 2 bahasa, Jerman dan Perancis. Dan saya enggak mudeng dua-duanya huhuhu.

Mungkin karena negara turis, tak begitu sulit menemukan orang yang bisa berbahasa Inggris di Swiss ini. Wow, jangan-jangan umumnya orang sini trilingual ya, Inggris-Jerman-Perancis. Walau segala petunjuk jalan dan segala macam jarang ada yang berbahasa Inggris, hiks :'(.

Sampai sekarang, saya cap cip cup kembang kuncup aja tuh pake mesin cuci di basement gedung apartemen. Kagak paham satu pun petunjuknya! Hahaha.

Kita sampai nunggu setengah jam sia-sia di halte Sauvabelin karena enggak ngerti baca pengumuman bahwa halte tersebut sementara enggak akan dilewati bus! Parah abis! -_-.

Menjelang kereta hampir mencapai stasiun di Lausanne, tengok sebelah kiri. Lake Geneva terbentang jernih dan dikepung oleh gunung-gunung es. Aih, aih, cantiknyaaaaaa…

Lausanne Lake Geneve

Tantangan terberat di Lausanne adalah medannya yang tidak rata. Dari stasiun menuju halte bus di City Center, jalannya menanjak banget. Bumil sampai beberapa kali harus teriak-teriak, “Guys, wait for me!!!”

Suami jalannya kecepatan cahaya gitu. Anak-anak juga masih seger baru turun dari kereta. Ngintilin bapaknya dari belakang dengan semangat. Kontur geografis Lausanne yang memang penuh tanjakan adalah cobaan tersendiri *pijetPahaDanBetis*.

Ke mana saja kita? Tentu, keluarga Gober selalu mengutamakan sarana wisata gratisan hahahaha. Banyaaaak banget tempat yang layak dikunjungi tanpa perlu mengeluarkan frank sepeser pun :p.

Sauvabelin salah satunya. Sebelum ke Sauvabelin mampir di Hermitage dulu. Rutenya sama. Di Hermitage banyak spot foto bagus. Bapaknya hunting foto, bumil ngemil, anak-anak lari-larian di playground. Semua hepi. Gratis? Pastinya! ๐Ÿ˜€

Hermitage - Lausanne

Hermitage – Lausanne

Baru lanjut lagi ke Sauvabelin.

Landmark Sauvabelin adalah menara pandang setinggi 35 m di salah satu sudutnya. Suami saja yang naik sampai ke atas. Buat potrat potret tentunya. Saya dan anak-anak nungguin di bawah.

Dari lokasi menara, jalan cantik sekitar 5 menit, tibalah kita danau kecil di tengah-tengah lokasi. Anak-anak ya ribut godain bebek dan angsa yang kebanyakan lagi merapat di pinggir danau.

Selain unggas air, di sebelah danau ada peternakan mini. Bisa lihat kandang kambing, kelinci, ayam dan babi. Anak-anak mah paling senang lihat hewan-hewanan. Alhamdulillah ya, enggak perlu ngeluarin duit jor-joran buat bikin mereka senang :).

Menara Pandang di Sauvabelin

Menara Pandang di Sauvabelin

Gini-ginian memang harus dilatih sejak kecil ;). Latih mereka tidak manja, contohkan dengan berjalan kaki dan banyak-banyak naik kendaraan umum misalnya :p. Tunjukkan pada mereka, banyak hal yang bisa dinikmati tanpa perlu buang-buang duit berlebihan.

Ajarkan kesederhanaan dan kerja keras, agar kelak seperti apa pun kehidupan mereka, mereka tidak melumrahkan kemewahan. Setajir apa pun ortunya, latih anak-anak hidup “seperlunya” ;).

And remember, harus diawali dengan contoh nyata dari ortu! :D. Ish, udah kayak yang paling bener aje deh eike hehehe. Saling mengingatkan dan berbagi yaaaa ^_^. Ini saya juga share tips-tips dari mertua yang sudah jelas-jelas sukses hasilnya –> lirik Paman Gober! hihihihi.

Lanjoooodddd …

Dari Sauvabelin, turun ke bawah menuju pusat kota. Katedral Notre Dame salah satu tempat yang dirubung turis. Kagak paham juga istimewanya apaan :p. Kita ngikut arus aja. Di mana orang-orang merubung dan sibuk mainin tustel, di situlah kami ikut merapat. Entar deh cek wikipedia :p.

 

Cathedral of Notre-Dame of Lausanne

Cathedral of Notre-Dame of Lausanne

Depan katedral ada tembok pembatas. Dari situ bisa melihat wajah kota bagian bawah. Cakeeepppp :D. Termasuk ajang latihan selfie juga tempo hari hahahaha.

Dari katedral, kembali menyusuri jalan menuju Metro. Salah satu moda angkutan di sini yang tidak menggunakan tenaga manusia sama sekali. Canggih abis. Tapi ingat, yang canggih-canggih begini ya ongkosnya bukan 5000 perak! Hahahhaha.

Via metro, kita terus turun ke bawah menuju Ochi. Keluar dari stasiun Metronya Ochi, melipir dikit ketemu taman gede. Dari sini bisa ngeliat danau. Pas hujan pula. Jadi merengek minta coklat anget sama Pak Bos. Beli 2 gelas minum berempat! Hahahahha.

Nah, dari sini baru jalan kaki menuju Olympic Museum. Normally, sekitar 10 menit. Cuma karena kita jalannya santai, sekitar 25 menit kali baru nyampe.

Olympic Museum Park, Lausanne

Olympic Museum Park, Lausanne

Suami sambil motret. Anak-anak kejar-kejaran sambil ketawa-ketawa. Emaknya khusyuk ngeliat foto-foto kenangan dari Winter Olympic 1984 di Sarajevo tadi. Sambil sesekali teriakin para bocah, “Stay close, Guys! Not too far, please!”

Harusnya masuk museum. Tapi kurang dari sejam lagi tutup. Ah, nanggung amat beli tiket masuk. Jadi, kami memutuskan muter-muter di lobi dan di bagian-bagian terluar saja. Padahal sih karena malas bayar, tuh! Hahahahha.

Berpose di salah satu sudut gratisan dalam Museum :D

Berpose di salah satu sudut gratisan dalam Museum ๐Ÿ˜€

And … it’s a wrap! :D.

Sekilas ingat komentar salah satu teman soal kerennya Swiss. Dibandingin pula sama Indonesia. Zzzzzz -_-. Dibandingkan juga coba sama negara-negara kayak India-Bangladesh-Pakistan yang sesama Asia dengan penduduk jor-joran juga? ;).

Lagian, jangan gitu, ah ;). Banyak tantangan berat hidup di Eropa yang mungkin luput dari pengamatan kalian.

Tak bermaksud sotoy, tapi dari segi cuaca saja, apa dikira nyaman ya terkurung dalam cuaca dingin berbulan-bulan. Bisa dibilang, mayoritas wilayah Eropa umumnya harus menghadapi cuaca dingin lebih panjang daripada guyuran cahaya matahari.

Untuk nyeritain lain-lainnya, bisa jadi satu artikel sendiri kali hehehe.

Tahukah kalian, konon sebelum menjadi tuan rumah perhelatan akbar sekelas Olimpiade, Sarajevo itu hanyalah sebuah kota kecil yang tidak terlalu dikenal.

Mereka mampu memanfaatkan momentum tuan rumah tadi untuk akhirnya mampu meraih perhatian dunia.

Tapi, apakah mesti menunggu momen-momen luar biasa seperti itu untuk bisa tampil epic? :D.

Usahanya yang penting, ya. Momen itu hanya buahnya saja.

Each day I live I want to be
A day to give the best of me
I’m only one but not alone
My finest day is yet unknown

I broke my heart fought every gain
To taste the sweet I face the pain
I rise and fall yet through it all
This much remains

-Song : One Moment in Time-

Jangan kebanyakan berandai-andai, salahin ini itu, berharap anu-ono, jangan menunggu keajaiban datang. Hanya pecundang yang cuma pandai mengutuk keadaan. Hayuklah menjadi bagian dari keajaiban itu sendiri.

Dikit lagi dari lirik lagu yang sama,

“You’re a winner for a lifetime
If you seize that one moment in time”

De Lausanne, je vous envoie la force et meilleurs voeux.

Let’s seize the day! ^_^. Enjoy the pics ;).

-Salam musim semi dari Lausanne Switzerland-

One of the best View of Lausanne, taken from Hermitage

One of the best View of Lausanne, taken from Hermitage

8 thoughts on ““One Moment in Time” from Lausanne Switzerland

  1. stuju banget mbaakkkkk, tantangan tgl di sana jg ada pasti beratnya.. salah satunya ya dingin ituww..
    saya suka indonesiaaaaaaaaaaaa, hangatt baik manusia dan cuacanya, ehehehe

    • Kalau keramahan manusia sih ada beberapa negara di Eropa yang orangnya juga friendly macam di Irlandia sini :D. Tapi kalau cuaca emang, hidup khatulistiwa lah :D.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *