Baby 3 Parents – Issue, Who are We to Judge

Per 3 Februari 2015, secara resmi MPs (Members of Parliament) di UK meloloskan undang-undang untuk melegalkan seorang anak untuk terlahir dari mengkombinasikan DNA code dari 3 orang.

Isu “Baby-3-Parents” sudah menguak sejak awal tahun 2000-an silam. Dengan demikian UK menjadi negara pertama yang melegalkan praktik medis “Baby-3-Parents” ini.

Saya jadi tertarik menulis dan memberikan informasi terkait karena marak juga ya komentar “salah kaprah” alias asbun soal isu ini hihihihihi :p. Mulai dari tuduhan “melegalkan threesome” (hahahhahahaha, ngakak sampe mules :p) sampai komentar-komentar miring lainnya yang saya yakini, itu pasti yang komen pasti pada kagak ngarti dah apa sebenarnya yang dimaksud dengan “Baby-3-Parents” ini :D.

Misalnya, “Astagfirullah, manusia mulai gila dan melawan tuhan” atau semacam “Semoga kita tidak terjebak dalam sesat pikir macam ini” etc, etc, etc :p.

Sampai kapan sih hobi asbun ini akan terus dibudidayakan? :(. Saya tidak dalam posisi mendukung pelegalan teknik medis ini. Cuma berusaha memberi sudut pandang lebih lengkap biar enggak gemas melihat reaksi-reaksi enggak nyambung menggempur dari berbagai arah :v :v :v.

First of all, “Baby-3-Parents” had nothing to do with any sexual activities macam yang ada di otak-otak kotor kalian yeeeee :p. Baby3P adalah pengembangan lebih lanjut dari proses IVF (In Vitro Fertilization) yang umum kita kenal dengan istilah “bayi tabung” ;).

Penelitian medis menunjukkan terdapatnya kalangan perempuan yang walaupun terlahir dan berkembang normal, mereka membawa gen pembawa penyakit-penyakit yang berbahaya semisal kerusakan otak, gagal jantung, cacat fisik permanen dan vital, dan sebagainya. Mereka ini diistilahkan dengan sebutan “Carrier”, pembawa gen.

A carrier is an individual who carries and is capable of passing on a genetic mutation associated with a disease and may or may not display disease symptoms. Carriers are associated with diseases inherited as recessive traits.
Carrier – Glossary Entry – Genetics Home Reference
ghr.nlm.nih.gov/glossary=carrier

Gen ini bisa mereka turunkan kepada anak-anak perempuan mereka. Anak-anak mereka bisa terlahir normal tapi akan menjadi “another carrier” yang akan terus berlanjut ke generasi selanjutnya. Kemungkinan lain, anak-anak dari para Carrier ini ya menderita cacat seumur hidup sesuai “kerusakan gen” yang diwariskan oleh ibunya :(. Begitu seterusnya.

Nah, sebuah tim medis di UK bertahun-tahun terus melakukan penelitian untuk memberikan alternatif lain untuk mencegah penyakit-penyakit berbahaya ini terus menerus menurun dari generasi ke generasi :). Jadi, tujuannya adalah untuk “menyelamatkan beberapa keluarga dari potensi memiliki anak cacat karena kelainan genetik tadi”.

Penyakit-penyakit yang dimaksud tadi, yang efeknya adalah cacat seumur hidup tanpa bisa diobati sama sekali :(, dikenal dengan nama “mitochondrial disease”. Ternyata, penelitian B3P menghasilkan sebuah teknik baru untuk menghindari si mitokondria-mitokondria “bermasalah” dari sang Ibu ini. Dengan cara mengambil sumbangan mitokondria-mitokondria dari perempuan lain yang “normal” (bukan Carrier).

Dari sinilah, muncul istilah 3 Parents :D. Karena DNA si anak, yang umumnya hanya diwarisi dari ayah dan ibu biologisnya saja, sekarang ada tambahan mitokondria dari perempuan lain.

Mitokondria adalah bagian dari DNA code. Hanya sekitar 0.05% dari susunan DNA. Mitkondria ini juga BUKAN bagian DNA Nuclear yang bertanggung jawab atas pembentukan karakter, sifat, warna kulit, warna rambut, ciri fisik terlihat lainnya, yang pastinya TETAP akan diwarisi dari orang tua “biologis”nya saja ^_^.

DNA Nuclear ini jumlahnya sekitar 22 ribu-an gen, sementara sekumpulan mitokondria tadi hanya sekitar 37 gen. Di video ini ada sedikit ilustrasi sederhana bagaimana proses pembentukan DNA si anak dengan metode B3P ini :). Monggo disimak di video berikut, ya. Mulai dari detik ke-55 … simulasinya jadi agak sedikit mudah dipahami oleh awam-awam medis macam kita-kita ini hehehehe –>

Tentu saja dalam praktiknya, ya pasti tidak sesederhana itu. Lebih rumit dan membutuhkan tingkat kehati-hatian super tinggi.

Salam hormat saya bagi mereka yang berkecimpung di dunia penelitian yang jauh dari gemerlap dunia semata hanya untuk perbaikan kualitas hidup manusia :). Ini pasti penelitiannya ribet minta ampun, menghabiskan waktu berapa ratus jam di lab, melototin hal yang sama tiap hari, bolak balik bereksperimen dengan hal yang itu-itu juga demi hasil yang lebih paten. Tak hanya butuh ketekunan luar biasa, tapi harus dipersenjatai dengan NIAT sekeras baja untuk terus mencoba dan mencoba. Salute.

Tentu saja, teknik medis seperti ini tak lepas dari kontroversial yang cukup tajam. This is very-very-very debatable. Bahkan untuk internal UK sendiri. Uni Eropa pun mulai bersuara dan bereaksi.

Dewan Gereja sejak awal terus konsisten MENOLAK pelegalan upaya medis ini. Concernnya terkait masalah etik dan pendekatan secara agama pastinya ya :).

Ahli-ahli medis di luar tim peneliti B3P pun tidak sedikit yang menentang keras. Efek samping atau jaminan “keamanan” atas bercampurnya mitokondria “donor” tadi dengan DNA nuclear sang orang tua biologis si anak adalah hal yang paling marak disuarakan oleh ahli medis yang kontra tadi. Ditengarai, efek sampingnya justru membuat si anak, secara fisiologis lebih mudah terkena penyakit-penyakit degeneratif seperti kanker misalnya. Semacam pepatah, lepas dari mulut buaya masuk ke mulut singa.

Tentu, banyak pertimbangan yang harus diambil terkait masalah ini. Dari sudut pandang agama, sudut pandang medis, sudut pandang orang tua di mana sang Ibu ternyata adalah Carrier, sudut pandang sosial, sudut pandang ekonomi terkait cost dan lain sebagainya.

So, please kindly have some mercy here :). Kalau sulit menerbitkan sikap simpati, setidaknya pakailah empati kalian. Jangan mentang-mentang punya anak normal, seolah urusan seperti ini menjadi bias dan membuat kita saklek mentah-mentah di satu sudut pandang. Let’s put ourself in those parents shoes :).

Tujuan awalnya sama sekali tidak ada kehendak untuk melawan Tuhan atau menciptakan individu-individu super yang melampaui kodrat manusia biasa heheheh. Soalnya ada juga yang kepikiran soal manusia mutan hahahhhahaha. Jadi ingat Donatello-Michelangelo-Leonardo-Raphael gak sih :D.

Memang sih, bisa saja, pelegalan teknik ini, jika tanpa pengawasan intensif, bisa berkembang ke hal-hal lain yang tidak diinginkan. Seperti kritikan tajam dari Dewan Gereja dan banyak pihak di UK sendiri, “Metode ini suatu saat akan menciptakan profesi-profesi baru seperti ‘designer bayi’ misalnya.” :(.

Tapi di video yang sama tadi, ucapan dari Dame Sally Davies (Chief Medical Officer for England), cukup patut untuk kita renungkan, “The parents want this… and I supposed the question is … why would we allow these families to still suffer when we have it in our hands to do otherwise?”

Muncul banyak pertanyaan penting seperti misalnya :

1. Apakah ibu dengan potensi Carrier tidak seharusnya dibiarkan melahirkan saja? Daripada terus-terusan mewariskan kelainan gen yang menyebabkan cacat vital tadi?

2. Apakah jalan aborsi bisa ditempuh jika kelainan sudah diketahui sejak janin?

3. Apakah memang Tuhan menakdirkan beberapa individu terlahir dengan cacat berat permanen sebagai penguji iman orang tua?

4. Dan apakah kita yang mungkin beruntung tidak ditakdirkan sebagai orang tua dari anak-anak cacat berat seperti ini tidak perlu memikirkan orang tua lain yang punya takdir ‘malang’ begini? Biarin ajalah, suruh banyak-banyak berdoa saja? Itu kan takdirnya dia. Orang mah punya takdir sendiri-sendirilah.

5. Atau jangan-jangan Tuhan sedang menguji perhatian dan ilmu kita? Bukankah konon semua penyakit itu ada obatnya?

6. Atau merujuk ke ucapan Dame Sally Davies di atas, “Mengapa kita harus membiarkan keluarga-keluarga ini terus menderita jika ternyata kita punya cara untuk mengakhirinya?”

Dan seterusnya, dan seterusnya …

Iya sih, this is very-very-very debatable. Semua pihak punya pembenarannya masing-masing.

Menurut saya, respons terbaik yang bisa kita berikan kalau tak mampu memberikan solusi, adalah … DIAM :). Ketimbang asbun pun ya hehehehe. Kalau pun tak mau tahu mungkin lebih baik. Ikuti saja berita dan perkembangannya. Ketimbang cuma baca judul dan langsung menghajar dengan komentar penuh prasangka? ;).

Who are we to judge :).

Saya sih tahu diri pengetahuan medis cetek, pengetahuan agama pas-pasan.

Kontrasepsi buatan saja sangat saya hindari hingga saat ini :D. Apalagi teknis medis tingkat tinggi model begini. Gak nyampe otak kecil ini untuk menyamainya hahahahaha. Untuk diri sendiri lho ya, tidak bermaksud menghakimi kalian yang memilih menggunakan kontrasepsi buatan ^_^.

Mungkin saya ini hokinya bagus, dengan kontrasepsi alami saja, alhamdulillah selama hampir 8 tahun ini sukses mengontrol jarak kelahiran. Allahumma Rabbana.

Rabbana innanā amanna, faghfir lana, dhunoobana wa-qinna ‘adhāāban-naar
(Our Lord! we have indeed believed: forgive us, then, our sins, and save us from the agony of the Fire)
[surah Ali’ Imran; 3:16]

Segala Pujian dan Kuasa hanya untuk Allah semata :). Saya mah apa atuhlah mau sok-sok bikin fatwa hahahahahhaha :p. Jadi, salam damai yaaaa ^_^, kontrasepsi buatan atau alami, yang penting keluarga sehat sejahtera selalu. Amin, amin ya rabbal aalamiin.

Again … who am I to judge :).

Who-am-I-to-Judge katiewebber com

4 thoughts on “Baby 3 Parents – Issue, Who are We to Judge

  1. Kalau menurut mbak gimana? Mbak belum ngasih opininya. yes / no or abstain?
    Saya abstain dulu mbak nunggu fatwa MUI. Itu memang harus lewat Fatwa. Karena ada sesuatu yang sensitif yang berkaitan ciptaan Allah SWT.
    Bukan asbun lho mbak. Kalau menyangkut ciptaan Allah SWT. Implikasinya adalah menyangkut Rahmatan Lil Alamin. Takutnya nggak Rahmatan Lil Alamin. Lahirnya Superman kata mbak tadi. hehehehe….!!!!
    Seperti bagaimana hukum stem cell ? yang di Indonesia udah ada. Kalau Kloning atau Baby 3 Parents masih jauh di Indonesia. Maklum, Negara dunia ketiga. teknologinya jauh ketinggalan dari negara maju. Hahahahaha…!!!!
    Salam dari Solo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *