Atheisme dan Agama, Jika Surga dan Neraka Tak Pernah Ada? (2)

Tan Malaka, tokoh komunis garis keras, lahir dan besar di Ranah Minang. Seperti layaknya pemuda-pemuda Minang, Tan Malaka juga tumbuh dalam dekapan agama Islam yang kental. Boleh dijabanin, Kakaaaaa, biografi beliau yang sudah mulai banyak menghiasi rak-rak toko buku setelah sekian lama rezim Orde Baru berusaha “menghilangkan” kiprah pentingnya dalam sejarah perjuangan bangsa di era sebelum kemerdekaan.

Tidak hanya Tan Malaka, tanah Minangkabau juga banyak melahirkan politikus/sosialis/budayawan yang pemikirannya berpaham kiri atau cenderung sosialis. Dimana sosialisme adalah akar utama dari pemikiran komunisme.

Atheisme dan agama

Gambar : merdeka.com

“Panduan komunisme” yang konon sebagian besar berasal buah pemikiran Karl Marx dalam “Das Capital”.

Karl Marx pula yang mempopulerkan istilah, “Religion is the opiate of the people.” Bagaimana menghubungkan atheisme dan agama ini sebenarnya?

Menurut Marx, agama yang paling sering menjadi penyebab utama pembantaian, peperangan besar dan juga candu yang bisa membungkam kaum miskin untuk melakukan perlawanan.

Mari coba menengok sedikit masa kecil Stalin, salah satu orang besar yang pernah membawa kejayaan komunisme abad 20 di tanah Eropa.

Stalin lahir dan besar di Kota Georgia. Kemiskinan menjerat keluarganya ditambah lagi ayahnya seorang pemabuk dan suka memukuli anggota keluarganya. Ibunya berkeras agar Stalin masuk ke sekolah agama dan berharap Stalin akan menjadi pendeta.

Stalin pernah bertanya kepada ibunya mengapa banyak orang miskin melarat sementara ada juga yang hidupnya sangat mewah. Ibunya tidak memberi jawaban memuaskan dan menyuruh Stalin berhenti memikirkan hal-hal yang tidak penting dan fokus belajar agama saja.

Namun, Stalin sering melihat orang tuanya bertengkar hebat gara-gara tidak punya cukup uang. How ironic.

Mari kita hubungkan juga situasi Eropa saat itu dengan biografi lain yang pernah saya baca. Biografi dari Florence Nighthingale. Berbeda dengan Stalin, Florence terlahir dari keluarga sangat berada. Hidupnya sangat menyenangkan. Tinggal di rumah bak istana dan memiliki banyak sekali pelayan-pelayan yang siapa bekerja untuk keluarganya siang dan malam.

Florence tergugah setelah mendapati dunia lain di luar kemewahan yang dijalaninya sejak lahir. Bahwa ternyata ada keluarga-keluarga miskin yang merelakan anak-anak mereka menjadi pelayan dengan gaji sangat kecil untuk bekerja hampir sepanjang hari.

Hatinya sangat sedih. Dalam buku hariannya, Florence sempat mengeluhkan peranan Gereja. Saat itu, dia merasa gereja tidak berdaya dan malah menenangkan kalangan miskin dengan iming-iming surga di kehidupan mendatang jika tabah menjalani hidup penuh penderitaan tersebut. Bahwa kemiskinan adalah takdir yang tidak bisa dibantah.

Napoleon Bonaparte pernah menjabarkannya sebagai, “Religion is what keeps the poor from murdering the rich.”

Inilah sebenarnya hal yang sangat ditentang oleh Karl Marx. Marx tidak suka kepada kalangan penguasa. Yang dianggapnya memanfaatkan agama untuk melakukan penekanan dengan membujuk-bujuk kaum tertindas dengan rayuan palsu khas agama. Pasrah, pasrah, pasrah untuk surga, surga, surga.

Sebaliknya, Marx juga menyindir bahwa agama bisa digunakan untuk pembunuhan massal. Layaknya candu, “Good people can do good and bad people can do evil. But for good people to do evil — that takes religion”. Istilah ini diperkuat oleh pernyataan Steven Weinberg.

Atheisme dan Agama

Tidak perlu banyak alasan dan buang jauh-jauh semua rasionalitas dan logika berpikir yang sehat, “Nothing can be more contrary to religion and the clergy than reason and common sense.” Francois Marie Arouet (Voltaire)

Terus terang, saya berdesir juga membacanya. Karena saya ingat salah satu misteri kelam pasca Gestapu 1965 silam. Sebagian sejarawan mengklaim kesuksesan Orde Baru membabat habis jutaan jiwa kader dan simpatisan PKI waktu itu adalah dengan menebarkan ketakutan via propaganda agama.

Saya rasa, di era Jokowi pun, belum akan ada yang berani mengungkap kenyataan yang perih ini. Sementara, gema propagandanya berbunyi jauh lebih kuat sampai sekarang :'(.

Saya mencoba mengobrol ringan dengan ibu mertua dan ibu saya. Mereka berdua dari 2 wilayah berbeda dan keduanya di luar Jawa. Satu di Sumatera satunya lagi di Sulawesi.

Jawaban mereka mirip. Suasana justru jauh lebih mencekam pasca peristiwa Gestapu-nya. Orang-orang banyak yang hilang mendadak. Kata ibu saya, saking takutnya, orang menutup lubang-lubang WC dan buang air di atas nampan karena ada kepercayaan, orang-orang itu ditarik dari bawah saking misteriusnya mereka yang hilang dan tidak pernah kembali lagi :(.

Mungkin karena PKI memang hanya besar di Jawa saja. Tapi pembasmiannya menyebar jauh hingga ke ujung terluar Nusantara. Propagandanya secara kontinyu didengung-dengungkan ke seluruh wilayah tanah air.

Lantas, salahkah jika kalangan atheis makin tumbuh subur :(. If we’re speaking about atheism, please stop thinking that they hate moslem (only). Atheisme pada dasarnya tidak percaya pada Tuhan dalam agama mana pun.

Salah satu tokoh atheis modern terkini yang sudah beberapa kali saya tonton videonya adalah Sam Harris. Harris berpendapat, “Tidak akan ada kedamaian secara universal jika agama masih dibiarkan ada.”

“Religion is fundamentally opposed to everything I hold in veneration – courage, clear thinking, honesty, fairness, and, above all, love of the truth.”
Henry Mencken

Untuk poin fairness, Harris punya banyak bukti-bukti konkrit. Ampun dah, tokoh-tokoh atheis ini memang pola pikirnya setajam silet.

Ada satu pertanyaannya yang cukup menohok, “Kita ambil contoh agama Islam. Religion of peace they said. What peace? Di mana? Timur Tengah? Di mana mereka yang sebenarnya punya kekuatan ekonomi yang baik tapi masih mempekerjakan orang dengan upah sangat kecil. Religion of peace. Of course, it’s a peace for people with lots of money!”

Dia melanjutkan, “Saya terkejut jika kalangan Islam selalu mengklaim diri mereka menentang perbudakan. Bahwa ajaran tertinggi mereka adalah manusia semua sama. We, western, are so over it. Lincoln fight for slavery since long-long before. They’re still practising it now. Perhaps … using another form.”

“Mereka mengaku sangat menjunjung tinggi perempuan. But look at them. Mereka melarang perempuanya bersekolah. Mereka melarang perempuannya keluar rumah. Mereka bahkan bisa mengancam mereka untuk bersedia dipoligami dengan ayat-ayat Tuhan. God can make woman stop being cranky if their husband want to marry another woman. Another woman who is much-much younger and perhaps prettier than them. Even if they cried and hurt that much, religion will give them a simple solution. Heaven. That simple.”

“Untuk kasus perkosaan, mereka akan menyalahkan perempuan yang tidak menutup sekujur tubuh dan wajahnya dengan kain yang sangat besar. Anyone who refuse to do that … go to hell fire!”

“Mereka berbicara tentang keadlian. Tapi tentu saja keadilan untuk agama mereka masing-masing. Mereka hanya ribut jika kekerasan menimpa agama yang mereka anut. Other than that, they will blame something else!”

Ini catatan penting juga buat kita kaum beragama. Tempo hari saat ramai kasus Rohingnya, ada karikatur yang menghina Dalai Lama, apakah kita bisa sebegini ributnya? :'(. Maklumlah, umat Budha kan minoritas di Indonesia.

Soal Charlie Hebdo saya malah baru tahu gara-gara ada peristiwa penembakan di kantornya. Sementara karikatur Dalai Lama itu muncul di wall saya, di depan mata saya.

Kalangan atheis menuduh kalangan agama hanya membuat nilai-nilai kemanusiaan secara universal menjadi angan-angan saja. Mereka berpikir Tuhan dari setiap agama secara egois menakut-nakuti jemaahnya dengan neraka dan mengiming-imingi surga bahkan bagi kejahatan sekejam apa pun asalkan itu dilakukan demi menegakkan agama. Candu yang sungguh berbahaya bagi kelangsungan umat manusia.

“You don’t need heaven or hell just to give some money to the poor. You don’t need heaven or hell just to help others. You don’t ask about someone’s religion if somebody called for your mercy. Simply because we are human!”

Setahu saya, dalam alquran, banyak sekali perintah untuk berpikir dan berilmu. Alquran juga tidak pernah menganggap murah nyawa manusia. Tidak ada yang bilang, kalau dia bukan muslim, ya udah bunuh sajalah. Tidak pernah! :).

Yang harus dilawan adalah kejahatan dan kekejaman yang dilakukan oleh SIAPA PUN. Tuduhan bahwa Islam menyuruh umatnya membenci etnis tertentu juga sama sekali tidak berdasar!

Monggo bantu dicek, dalam hampir semua ayat-ayat tentang perintah untuk beriman selalu disertai dengan “mengerjakan kebajikan” atau “berbuat kebaikan” atau “berbuat baik”. Iman tanpa kebaikan itu … tidak ada :).

Setahu saya tidak pernah agama memerintahkan kita untuk mengesampingkan kemanusiaan atas nama agama. Terbalik banget kelessss hehehehe. Justru setahu saya, Allah selalu menegaskan kepada semua nabi, termasuk kepada Rasulullah SAW. Kira-kira isi ayat-ayat tersebut begini, “Kamu hanya sebagai pemberi peringatan. Sisanya serahkan pada Kami/Ku.”

Jadi, tidak pernah rasanya ada perintah, “Kalau gak mau nurut, bunuh saja! Kalau enggak mau khilafah, bom saja!”

Tidak ada itu :).

Tuntunan muamalah (hubungan sesama manusia) dalam alquran itu justru sangat banyak dan cukup detail.

Poligami pun bisa salah kaprah di mata umat lain karena sejatinya poligami BUKAN bawaan Islam. Lagi-lagi terbalik. Islam justru mencoba membatasi karena kondisi umat saat itu, menikahnya ampun-ampunan, Jek. Bisa sampai belasan kali!

Itu pun syaratnya berat. Harus adil. Praktiknya yang memang sering ‘aneh-aneh’ dan justru mencemari teori aslinya yang sangat indah dan bentuk penghormatan kepada kaum perempuan :).

Poligami sebaiknya diambil karena kondisi darurat saja. Kalau pun ditempuh berdasarkan nafsu, ya tetap sah. Tapi tolong, jangan berlindung dibalik sunnah atau amal saleh atau membawa-bawa surga :). Masalah ini juga erat dengan budaya. Di mana budaya kita misalnya di Indonesia kan memang monogami :).

Bedakan dengan Arab Saudi yang kondisi masyarakatnya sudah biasa menghadapi kasus poligami. Jangan memaksa Indonesia untuk mengadopsi hal-hal seperti itu atas nama amal saleh bla bla bla ;).

Ini juga sih karena kita kebanyakan berkaca pada kondisi umat di Timur Tengah :). Ke mana semangat rahmatan lil aalaminnya? Jika hendak membuat seluruh wajah Islam menjadi satu budaya yang kaku dan berpatokan pada satu ras tertentu? :).

Makanya tak heran, jika kalangan atheis modern macam Sam Harris tuh dikit-dikit Timur Tengah dikit-dikit Timur Tengah. Coba dong tengok Malaysia dan Indonesia ^_^. Yang juga mayoritas muslim tapi punya kehidupan sosial yang sangat jauh berbeda dan lebih heterogen dalam keberagaman.

Sori-sori saja, hidup berdampingan dengan umat lain tidak perlu membuat kami jatuh dalam perang saudara berkepanjangan. Semoga selamanya bisa begitu, ya, Allah :).

Tapi hey, mungkin kita juga bisa berkaca, jangan-jangan kita pun begitu :p. Dikit-dikit konspirasi, dikit-dikit konspirasi dikit-dikit Israel dikit-dikit Yahudi hehehehhe :p.

Kita menolak jika satu tindak kekerasan yang mengatasnamakan Islam dituduhkan kepada seluruh umat muslim di dunia. Tapi sebaliknya jangan-jangan kita pun gagal mengidentifikasi banyak problema sosial di sekitar sesuai akar masalahnya masing-masing. Paling enak memang nunjuk ke luar :p.

Urusan Rohingya tiba-tiba menjadi dosa umat Budha di seluruh dunia. Tiba-tiba menjadi konspirasi penghancuran Islam. Padahal ada fakta bahwa Bangladesh pun, yang sebenarnya secara fisik mirip dengan orang-orang Rohingya ini dan sesama muslim juga, menolak mengakui keberadaan mereka dalam teritori Bangladesh secara legal :). Banyak sekali masalah melatarbelakangi kasus ini selain masalah perbedaan agama semata.

Mungkin, mungkin lho ya, kita sebagai umat beragama memandang keTuhanan adalah hal yang jauh lebih tinggi daripada kemanusiaan. Padahal bukankah seharusnya percaya kepada Sang Khalik adalah penggerak utama kita dalam berbuat lebih banyak bagi kemanusiaan? Kita menghindari saling menyakiti karena kita tahu betapa Tuhan yang Mahatinggi itu adalah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Dua sifat Tuhan yang dipilih sebagai pembuka dalam setiap surah dalam alquran :).

Agama tidak seharusnya membawa kita melupakan kemanusiaan. KeTuhanan seharusnya menjadi hal yang individual, hubungannya vertikal. Siapa yang berhak mengukurnya? Dengan mengetahui betapa luasnya kasih sayang Allah, apalah artinya kita yang hanya manusia seorang ini :). Bersikaplah rendah hati senantiasa. Itu harusnya jadi ciri khas orang yang percaya agama.

Sementara kemanusiaan adalah hal-hal yang bisa kita rasakan langsung akibatnya. Tempat dimana seharusnya prinsip-prinsip bisa berlaku secara universal tanpa perlu banyak cekcok dan adu mulut. Horisontal. Jauh lebih terukur dalam kapasitas ke-manusia-an kita.

Ganjaran luar biasa indah berkali-kali disebutkan dalam alquran untuk perintah semacam ,mengasihani kaum papa dan anak yatim. Islam pun menolak kemewahan karena efek sosialnya yang bisa sedemikian menyakitkan dan memicu masalah sosial lebih lanjut. Termasuk akhirnya membuat manusia mendewa-dewakan harta untuk kemudian dipamer-pamerkan karena keyakinan kita akan lebih dihargai kalau orang tahu kita adalah kalangan berada.

Kalau komunisme mencoba melawan hedonisme dengan paksaan, maka seharusnya agama adalah solusi yang lebih bijak dan menyejukkan :). Agama mengkritisi hedonisme atas dasar belas kasihan kepada sesama manusia yang kita tahu tak diciptakan seragam tajir semua :D. Tidak boleh dipaksa orang untuk tidak hidup mewah. Jangan!

Biarkan naluri manusia berbicara dan menghalangi mereka untuk terjebak dalam kemewahan secara ikhlas bukan karena diancam-ancam. Keikhlasan termasuk poin penting dalam mengamalkan perintah agama ;). Tuhan tidak menganjurkan yang instan-instan macam pemaksaan ala kaum komunis.

Kaum komunis menuduh agama menjadi sumber percekcokan. Lah, mereka sendiri hobi menebar teror dan membantai kubu yang tidak sejalan :p.

Biarkan manusia menyadari dan belajar sendiri dari pengalaman-pengalamannya bahwa kesederhanaan memang jauh lebih paten dan menguntungkan dalam menjalani kehidupan di dunia :).

Ini juga untuk menjawab mengapa alquran tidak sejak awal mengharamkan perbudakan. Allah Mahabijak Maha Penuh Perhitungan. Instead of memaksa dan mengancam umat manusia yang kala itu memang sudah terbiasa punya budak/hamba sahaya, Allah menjanjikan pahala yang sangat besar kepada mereka yang sanggup membebaskan seorang budak/hamba sahaya. Satu orang saja yang dibebaskan imbalannya luar biasa :).

Perhatikan tidak, metode “tobat” dari kesalahan tertentu, perintah pertamanya itu biasanya membebaskan hamba sahaya. Satu orang sudah cukup. Nomor 2-nya memberi makan 60 orang miskin. Nomor tiganya, kalau tidak sanggup, baru berpuasa 2 bulan berturut-turut. Atheisme dan agama, mengapa bisa bertolak belakang?

Siapa bilang agama tidak peduli pada kemanusiaan dan memuja-muja ritual individu semata? Tidak benar. Lebih diutamakan membebaskan hamba sahaya dan memberi makan puluhan orang miskin ketimbang puasa sendiri sampai 2 bulan berturut-turut sekali pun :).

Kaum atheis mengklaim orang beragama karena dasar ketakutan. Saking takutnya, disuruh apa saja pada manut lupakan logika lupakan akal sehat lupakan semuanya.

Sementara menurut mereka, berbuat baik itu sejatinya adalah buah cinta dan kasih sayang yang bisa dilakukan lintas agama asalkan masih sama-sama manusia. Jangankan kepada sesama manusia, perintah untuk menyayangi itu juga berlaku untuk hewan dan seluruh jagad raya sekitar kita :).

Bukankah salah satu cara untuk mencapai kebahagiaan adalah dengan membuat orang lain bahagia? Cara tercepat untuk berdamai dengan diri sendiri adalah dengan tidak menyakiti orang

Sanggup membuktikan tuduhan mereka keliru? Yuk :).

Bisakah kita semua
Benar-benar sujud sepenuh hati
Karena sungguh memang Dia
Memang pantas disembah
Memang pantas dipuja

Jika surga dan neraka tak pernah ada
Masihkan kau bersujud kepada-Nya
Jika surga dan neraka tak pernah ada
Masihkah kau menyebut nama-Nya?

(Chrisye, “Jika Surga dan Neraka Tak Pernah Ada”)

Salam rahmatan lil aalamin dari belahan barat Eropa ^_^.

-Jihan Davincka, a very-very-very proud moslem who also admires Mother Theresa/Mahatma Gandhi/Dalai Lama-

11 thoughts on “Atheisme dan Agama, Jika Surga dan Neraka Tak Pernah Ada? (2)

  1. Orang yg mau menjadi atheis pun, kita juga harus hormati pilihannya, krn itu yg dia percaya. Hanya saja, beberapa kali ngebaca artikel yg ditulis oleh orang atheis, seringnya mereka mengejek dan menghina agama orang lain dengan argument-argument dangkal seperti di atas juga, yang bagi sy itu menunjukkan bahwa dia sebenarnya juga ga tau apa-apa mengenai konsep agama tersebut selain yang dia baca sesekali di koran atau internet. Ya lebih bagus kalau orang atheis mau mengkritisi mengenai agama, pelajari dg betul isi ajaran agama tersebut, baru ntar kritisi dan sindir para penganutnya dengan argumentasi yg meyakinkan dan menohok….

  2. mbak jihan tulisannya makjleb, tajam setajam silet. dan saya favorit dengan tulisan mbak. awalnya ada temen yg share link di fb, terus sering kunjungi profil fb dan sekarang coba main2 ke blog nya.

    tulisan yg ini bikin saya ngos2an membaca cepat dari atas ke bawah. intinya sih sesuai banget denga aspirasiku dalam memaknai agama dan juga hubungan dengan dengan pemeluk lain, atau pun penganut ateis. terima kasih tulisannya sudah bikin melek 🙂 salam kenal

  3. Jee, andaikan lebih banyak yang bisa berpikir dan bertutur seperti lo. Menggunakan kepercayaannya untuk menebar rasionalitas dan cinta, dan bukannya perang dan kebencian. Aku padamu, Jee.

  4. Kapan ya bisa nulis sepanjang dan sedetail dirimu 🙂
    Sering-sering disharing tulisan seperti ini, Jihan, biar semakin banyak orang yang melek dan tidak semena-mena mengklaim diri sebagai yang paling baik.

  5. Kalau aku memeluk agama karena alasan hitung-hitungan dagang. Kalau ternyata surga dan neraka memang ada, sedangkan aku memilih ateis, wah rugi besar aku…
    Tapi kalau ternyaa surga dan neraka tidak pernah ada, sedangkan aku penganut agama, yah nggak rugi-rugi amatlah …
    Sedangkan alasan aku memilih islam, karena aku penyuka sejarah, dan menganggap muhammad orang yang sangat hebat. Hanya butuh kurang dari 20 tahun sejak mendirikan negara madinah, beliau bisa mengalahkan dua negara adidaya saat itu, romawi dan persia.
    Sebagai seorang guru, teori beliau (tanpa melihat itu dari Tuhan atau karangan beliau) tentang ketidakmungkinan adanya kebenaran universal sebagaimana di-klaim golongan sekuler, terasa lebih sesuai dengan kenyataan. Kisah beliau tentang lukmanul hakim, anaknya, dan keledai yang membuat orang tidak pernah sepakat tentang keadilan, terasa lebih nyata dibanding teori kebenaran universal seperti HAM, pluralisme, dll. Pertanyaan singkat aja, apakah seluruh manusia bisa bersepakat apakah homoseksual itu hak asasi yang harus dilindungi, atau justru kelainan seks yang harus dihilangkan? Pasti tidak bisa bersepakat, dan memang kebenaran universal itu tak pernah ada.
    Untuk menjadi ateis, mau tidak mau kita akan jatuh percaya kepada teori evolusi darwin, bahwa ras manusia adalah hasil dari evolusi mahluk ber-sel satu. Tapi aku melihat, bahwa kemampuan manusia berbahasa dan meng-identifikasi hal-hal baru dengan penciptaan istilah baru sama sekali tidak mirip dengan mahluk manapun. Itu bukan hasil evolusi, tetapi suatu revolusi yang radikal. Kemampuan bahasa tidak mungkin didapat tanpa diajarkan dari luar. Bayi yang sejak lahir jika tidak diajarkan berbahasa oleh orang lain, maka sampai besar dia tidak bisa berbahasa. Jadi manusia tidak mungkin bisa berbahasa jika muncul dari evolusi. Manusa ada yang menciptakan.

  6. Panjang umur mbak jihan trus pulang dan diam di indo trus mari sama2 berjuang disini smoga smakin byk pemikir sperti mbak jihan amin

  7. Q tipe gk pandai ngomng,yg jls semkin orng cerdas tpi semakin lupa akan hati nurani yg timbul adlh radikal…den cenderung nafsu yg menguasai.krn rsa emosionl yg menguasai dan menimbulkn ketidkpuasan.

  8. jika surga dan neraka tidak ada maka tdk ada juga kepintaran manusia,manusia punya otak tapi bisa jadi kelakuan mereka seperti hewan tdk berpikir.berbagai macam dokumen dokumen yg menjelaskan tentang hidup tanpa agama itu menyenangkan tapi hidup manusia semakin menderita karena hati yg tdk mengenal mana yg baik dan mana yg buruk.mereka yg punya agama saja bisa berbuat dosa apalagi yg tdk punya agama mereka berpikir dosa adalah hak segala umat manusia,mengatakan agama ini salah agama itu salah.dengan mengatas nama kan pemikir bebas tanpa adanya agama mereka berusaha mencoba untuk menyadarkan manusia tanpa agama kita damai.sebenarnya tanpa agama manusia tetap sama saja akan ada jiwa dendam nya,sombongnya,pembohong nya dan lain lain.klo kita lihat sejarah terdahulu nya bangsa yunani tdk sepintar bangsa bangsa lain,bangsa inggris tdk se modern sekarang dan berbagai macam negara negara luar yg belum secanggih dan mempunyai pemikiran yg luas.hanya bangsa saudi arabia pada waktu itu yg mempunyai pemikiran yg luas karena ada agama melalui kitabnya.bangsa yahudi,khatolik,protestan yg lahirnya di tanah israel belum mempunyai pemikiran yg luas saat perang salib pun banyak berkas dari islam tentang astronomi yg di curi bangsa salib dan di pelajari hingga pada kejayaan eropa barulah mereka berpikir cara agar dapat melihat bumi di luar angkasa smua itu dri islam.sya tdk ingin mengajak klian membenci agama apa pun biarkan kami percaya dengan agama kami seberapa hebatnya mereka berpikir bahwa tuhan itu ada dan tiada biar nanti hati mereka yg menggatakan nya pada suatu hari nanti. ingat kita manusia di ciptakan untuk menentang tuhan atau mengikuti tuhan kata kata itu sdh ada di setiap agama masing masing. jadi sekian komentar ku ini 😊

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *