I Say a Little Prayer

“Kalo tida’ pi skola, nanti jadi tedong.” (Kalau tidak pergi ke sekolah, nanti jadi kerbau).

“Biarma’ jadi tedong …” (Biar saja menjadi seperti kerbau).

Hahahahha. Kalau ingat yang ini masih ngakak-ngakak sampai sekarang. One of the most memorial conversation back then. Waktu Mama saya membujuk salah satu kakak saya agar mau ke sekolah. Itu katanya si calon tedong kecil itu ngomongnya sambil sesengukan lho. Saking enggak maunya disuruh ke sekolah. Hahahhaha.

“Patteriang la’de’. Terri-terri okko salo’e” (Cengeng sekali. Menangis keras-keras saat di sungai).

This one isn’t less hilarious hihihihi. Kakak saya yang ini memang gampang menangis kata Mama. Suatu kali dibawa naik perahu menyeberang sungai. Lupa saya Mama mau ke mana. Hadeuh, sepanjang jalan menangis berteriak-teriak. Ribetnya bawa anak umur 2 tahun menyeberang sungai yang mengamuk pengin turun dari perahu *LOL*.

Kalau dibawa ke acara-acara juga begitu. Manja sekali. Maunya digendong terus. Kalau enggak digendong ya dia mewek hihihi.

Selamat Hari Ibu Jihan Davincka

Gambar : patheos.com

Terus kakak satu lagi, juaranya! Pernah kedapatan bolos sekolah 2 minggu penuh! Sekali ini, Mama benar-benar murka. Saking marahnya, mama sampai menangis.

Kakak ini akhirnya memilih berhenti sekolah. Tobat kali Bapak dan Mama. Dipindahin sekolah ke sana sini, enggak ada perubahan :p. Pas Bapak meninggal, dia yang ditugaskan menjaga kios. Duh, lagak lagunya. Hanya mau ke pasar kalau sudah makan nasi kuning komplit, susu coklat, atau apalah yang dia mau.

Tidak ada pilihan lain. Siapa lagi yang mau diandalkan ke pasar? Dituruti terus apa maunya. Saya mah ogah ya disuruh-suruh meladeni dia hahaha. Adik saya yang sering ketiban tugas beli-beli makanan yang si Tuan Besar ini mau :p.

Nah, adik perempuan saya, yang paling hobi mappasiterru-terru hihihi. Ini maksudnya, pulang sekolah, dia enggak pulang ke rumah dulu. Entah dia ke rumah temannya, entah dia langsung jalan-jalan sama gengnya. Pokoknya, beda sekali dengan saya yang anak rumahan banget dari kecil hehehe.

Mama kan suka panik. Sudah pulang dari kios, dia belum juga pulang dari sekolah -_-. Eh tahu-tahu diantar pulang temannya naik mobil. Adik saya selalu nge-geng sama teman-teman cewek yang ekonominya jauh di atas kami. Pinter cari temen emang si Buntel nih :p.

Adik saya juga susah benar disuruh belajar kalau mau ujian :p. Maunya mejeng aje sama teman-temannya :D.

Apakah anak rumahan seperti saya berarti enggak punya masalah?

Ini kata Mama waktu suami saya nanya-nanya, “Si Jihan kecilnya gimana, sih, Ma?”

“Takut kita, Nak, mau bawa-bawa dia pergi. Kalau mengamuk, tidak lihat tempat. Tidak takut sama siapa-siapa. Kalau sudah kumat, sepatunya dilempar, bajunya ditarik-tarik, teriak-teriak sambil mukul-mukul.”

Suami saya melirik saya seolah mau bilang, “Kalau hobi ngamuknya sih kayaknya masih lanjut sampai sekarang.” Hahahahaha.

Iya lho, bahkan sampai sudah agak gedean. Saya suka tahu-tahu mengamuk kalau baru bangun tidur. Moody-an banget. Kalau sudah kumat (seperti istilah Mama hihihi), isi lemari baju dikeluarin semua, dilemparin sesuka hati. Enggak ada yang berani menenangkan hahaha *tutupMuka*.

Waktu kecil saya sama sekali tidak mau makan sayur. Pernah sakit sembelit sampai parah banget :p. The real picky eater. Sering pingsan kalau lagi upacara di sekolah. Sampai Mama pernah bete sama guru di sekolah. Karena guru-nya sotoy juga, sih. Masa langsung melontarkan tuduhan bahwa saya kurang dirawat sama Mama jadi pas mau ke sekolah lupa dikasih sarapan hehehe.

Cerewet iya, cengeng iya, gampang mengamuk iya, badan kurus kering iya. Panggilan kecil saya itu “Jihan Tulang.” Duh, kok pas sudah gede begini, susah bener ya mau kurus lagi hahhhahahaha.

Who is this? Hahahahhahaha

Who is this? Hahahahhahaha

Years gone by :). Si anak kecil yang sampai nekat mau jadi tedong itu saking takutnya disuruh ke sekolah … gedenya jadi sarjana Teknik Elektro lulusan PTN, lho ;). Yang cengeng selalu minta digendong sekarang sudah jadi fashion stylist dan mulai merintis lini busananya sendiri ;).

Yang suka bolos, putus sekolah, dan ngeselinnya minta ampun tempo dulu, now is a father of 2 children. Kakak saya yang ini yang dulu egoisnya minta ampun, sekarang yang paling ringan tangan dalam urusan apa-apa ^_^. Such an amazing father too, for his little girl and my cutie little nephew :).

Yang hobi mejeng dan suka ngeceng, pas gedean suka dugem juga nih anak :p, lulus cum laude dari kampusnya. Now, she’s a working Mom with 3 super children (kalah eike bok! hahahaha).

Kalau yang suka mengamuk dan makannya dulu benar-benar bermasalah, langganan juara kelas waktu sekolah ;), kuliah sampai ke UI, bekerja kantoran hingga akhirnya sekarang … menjadi pengangguran! Hahahhahahaha :p. Anti klimaks bener *pukPukDiriSendiri*.

Dulu musuhan sama sayur? Sekarang jadi praktisi FC yang lumayan taat :D.

Waktu anak sulung saya kecil, makannya juga susah minta ampun. Kadang bisa sampai menangis saya biar dia mau makan. Hahahahaha. Drama, drama, drama :p.

Sempat bikin saya kecil hati, karena dulu di Jeddah ya, ada yang kasak kusuk kalau saya tidak pintar mengurus anak makanya anak saya kurus begitu. Duh, sakit hatinya. Kalau ingat, dia dulu minum susu saja, sampai telaten saya cekokin sesendok demi sesendok. Tiga kali sehari! Dulu belum paham FC sih ya :p.

Saya sampai ditegur Mama saya. Karena kadang saking sebalnya, anak saya yang saya marahin :(. Terus saya ingat saya juga dulu makannya susah, Mama bilang ke saya, “Didoakan je’, Nak. Aja tisi mu maceri kesi’.” (Didoakan, Nak. Jangan selalu dimarahi).

Iya, Mama sering bilang begitu. Dalam mengurus anak, menjadi Ibu, tidak selalu semuanya bisa kita kontrol. Makanya, selalu disertai dengan doa, doa, doa. Anak-anak kan tidak akan selalu tumbuh tanpa masalah sama sekali. Waktu kecil rasanya sudah setengah mati orang tua berusaha menjaga dan merawat, ada saja error yang kejadian hehehe.

Siapa sangka, kan, kecilnya bagai “monster”, gedenya bisa finally “normal” jugak! Hahaha.

Selamat Hari Ibu Jihan Davincka

The Magnificient 7! ๐Ÿ˜€

Dulu, sebelum teknologi internet berkembang pesat, kurang informasi bikin kita sulit mengembangkan banyak keinginan. Cenderung “kuper”. Tak semudah seperti sekarang.

Menjadi Ibu di era digital dan saat globalisasi mengantarkan begitu banyak informasi bisa beda lagi tantangannya. Saya tidak bilang, menjadi Ibu sekarang lebih sulit daripada ibu-ibu kita dulu. Saya sudah sering mengatakan, tiap masa tiap zaman punya pertaruhannya masing-masing ;).

Sekarang, kelihatannya banyak saja yang jahat-jahat dan aneh-aneh, ya iyalah, dulu belum ada Facebook dkk dan cuma ada TVRI! Hihihihi. Dulu, masalah anak seperti di SD Padang tempo hari belum tentu bisa go viral sampai ke Sulawesi. Mau disebarin lewat apa? Koran juga masih terbatas. Memang sudah ada detik.com? :p.

Sekarang, semua orang bebas mengoceh di media sosial yang bisa diakses hampir tanpa batas. Jangankan kejahatan beneran, berita hoax saja gampang betul go viralnya ;).

Sungguh semua terasa jadi sulit. Banyak kekhawatiran. Sering galau memikirkan akan seperti apa anak-anak kita nanti tumbuh besar di luar sana. Dunia seperti apa yang akan mereka hadapi? Sad yet true … we’ll never know :(.

Masa depan mereka… di luar jangkauan kita. Kita hanya sanggup mempersiapkan sebaik yang kita bisa, memilihkan yang sekarang bisa kita tentukan, hingga akhirnya mereka akan tumbuh besar dan mengejar dunianya sendiri.

Untuk semua hal-hal di depan sana yang sungguh jauh di luar kuasa, selalu sertakan perlindungan Tuhan di dalamnya. Seperti kita melengkapi segala ikhtiar dan jerih payah dengan … doa seorang Ibu . Let’s always say a little prayer for them. As ‘scared’ as we are, always turn our worries over to God :)..

Siapa tahu, sebagian “keajaiban” dalam perjalanan hidup anak-anak hingga dewasa adalah perlindungan dari doa Ibu yang selalu menyertai :). Bahkan sampai saat kita sudah dewasa dan menikah dan sudah pergi menjauh. Saya yakin, Mama selalu tetap mendoakan kami bertujuh plus para menantu dan segambreng cucu-cucunya :). Let’s do the same.

“Hanya padaMu, Tuhan
Tempatku berteduh
Dari semua kepalsuan dunia”

Don’t worry be a Mommy, Tuhan selalu menyertai doa-doa terbaik kita. Be brave, stay strong … selamat hari Ibu :).

Gambar : glitter.si

Gambar : glitter.si

***

4 thoughts on “I Say a Little Prayer

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *