China, The Rising Dragon!

Sebelum tahun 1990, siapa sih RRC? (People Republic of China). Eh, secara EYD, sudah diganti menjadi Tiongkok apa, ya, kalau enggak salah.

Negara dengan jumlah penduduk paling membludak di dunia, sarat dengan isu-isu sosial-kemanusiaan. Termasuk dengan kebijakan “1 anak cukup” untuk menekan pertumbuhan penduduknya. Saya ingat pernah nonton di acara Oprah, banyaknya adopsi yang dilakukan atas anak-anak perempuan dari Negeri Tirai Bambu ini.

Dalam budaya Tiongkok dahulu kala, tertanam kepercayaan anak laki-laki bernilai “lebih” daripada anak perempuan. Jadi, karena hanya diperbolehkan memiliki satu anak, tak sedikit orang-orang yang berusaha “melenyapkan” anak yang dilahirkannya jika jenis kelaminnya adalah perempuan .

Daratan Cina juga di’kucilkan’ karena potensi ideologinya. Tiongkok, sebagai salah satu sisa-sisa “negara komunis” di dunia, dianggap memiliki bahaya laten bagi perdamaian internasional.

Kini, dalam tempo kurang dari 30 tahun, Sang Negeri Naga sangat berbenah. Kobaran apinya ternyata mampu menyelaraskan diri dengan arah politik global. Sang Naga akhirnya sanggup menata diri menerbangkan sayap untuk segera bersanding bersama negara-negara makmur lainnya.

Instead of keras kepala masalah ideologi, Si Negeri Lampion ini menebarkan ketakutan “baru” kepada para raksasa ekonomi dunia.

Kini, negara yang juga dijuluki Istana Langit ini, menjadi salah satu gudang tenaga kerja, sumber daya alam, dan bahan baku industri. Sang Naga menjadi incaran investasi besar-besaran Jepang, Amerika Serikat, belahan barat Eropa, dan mayoritas negara lainnya dari berbagai penjuru dunia.

Si Tirai Bambu sudah mampu membuka diri pada dunia luas dan menjadikan teknologi industrinya mendapat tempat dalam jajaran negara-negara besar dunia. Baik teknologi nuklir, roket, bahkan obat-obatan tradisional. Soal kemampuan Cina mengglobalkan obat tradisionalnya inilah yang membuat saya tempo hari cukup semangat dalam menulis soal pelestarian jamu.

Saya sudah baca-baca. Amazingly, Indonesia punya potensi pengobatan tradisional jam yang bahkan lebih besar.

Percayalah, kalau Sang Naga itu bisa terbang tinggi … suatu hari nanti, optimisme akan membuat Sang Zamrud Khatulistiwa ini juga sanggup memendarkan cahayanya jauh tinggi ke atas sana. Insya Allah .

Ini cerita jalan-jalan yang saya janjikan tempo hari hehehe. Soalnya suami kan habis assignment ke Negeri Rakit ini. Suami dikirim ke Wuxi. Kami kira Wuxi ini kota kecil saja. Ternyata, level “kota kecil” di daratan Cina ini sungguh jauh di luar bayangan. Dibayangkan sebagai kota kumuh, kotor, dan sebagainya. Wuxi ternyata kerennya di luar dugaaan. Bertolak dari Wuxi, dimulailah acara jalan jalan Shanghai ini :D.

Tapi, cerita jalan-jalannya kali ini dalam bentuk video. Hobi baru suami nih, sekarang selain memotret, dia suka merekam kisah perjalanannya dalam bentuk gambar hidup 😀.

Dan pokoknya, next assignment gue mau ikut, gue mau ikut, gue ikut! Hahhahahahahaha. Btw, traveler dan pembuat videonya itu suami saya, ya. Saya hanya kebagian tugas poci-poci nya ajah hihihihi .

Video ini tentang Shanghai. Kota terbesar dan terbanyak populasi penduduknya di Daratan Cina. Jangan bayangkan kayak Kota Jakarta. Karena … jauuuuuhhhhh hehehe. Kotanya tidak hanya jauh lebih besar tapi juga lebih cantik, rapi, dan bersih. Jalan jalan Shanghai sudah menjadi salah satu destinasi favorit di mata dunia. Shanghai, yang terletak di pesisir Laut Cina Timur merupakan salah satu kota pelabuhan yang paling sibuk di dunia.

Jalan jalan Shanghai

Shanghai – The Bund (photo by Dani Rosyadi)

Kayak apa magisnya kota yang satu ini?

Inilah Shanghai –>

6 thoughts on “China, The Rising Dragon!

  1. Mantap… Jalan-jalan ke negeri China ternyata mengasyikkan juga ya Mbak? Banyak tempat2 menarik yang tak kalah indah utk dikunjungi seperti kota Shanghai ini.. Tiap kali membaca postingan Mbak Jihan di sini serasa aku diajak berkeliling dunia lho saking menikmati bacanya di sini..hehe..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *