Secret of The Future?

 

Untuk suku Bugis di Kerajaan Bone, Arung Palakka dianggap sebagai pembebas. Apalagi di Bone, tak jarang ditemui patung-patung besar yang menggambarkan beliau sedang berdiri gagah bertelanjang dada. Memegang tombak panjang dan pandangan sangat menentang.

Arung Palakka, anak bangsawan Bugis yang harus menyaksikan bangsanya diperbudak oleh pemerintah kerajaan yang dipimpin oleh Makassar. Walau Arung Palakka dibesarkan oleh bangsawan Makassar secara terhormat bahkan dibekali pendidikan yang mumpuni, tidak mungkin darah Bugisnya tidak membara melihat perbudakan yang menimpa mayoritas keluarga dan rakyat kerajaannya.

Gambar : bonekab.go.id

Gambar : bonekab.go.id

Kalian jangan hanya memulai saat Arung Palakka berdiri di barisan yang sama dengan VOC untuk menghancurkan benteng pertahanan terbesar Nusantara yang terakhir di Timur Indonesia. Ingatlah, sebelum Arung Palakka melarikan diri dari Sulawesi, hatinya terluka melihat kerabatnya yang dulunya adalah bangsawan terhormat di tanah Bone dipaksa melakukan pekerjaan kasar oleh sang penjajah.

Saat itu rakyat Bugis banyak yang lari dan meninggal karena kerja paksa. Sehingga pihak Kerajaan Gowa mengharuskan kalangan bangsawan untuk menggantikan tugas tersebut.

Arung Palakka mengobarkan perlawanan pemuda Bugis. Kalah telak. Arung Palakka malu dan melarikan diri. Malu kenapa? Kami orang Bugis punya budaya yang namanya SIRI’. Pantang sekali melihat kaum kami dipermalukan tapi tak ada yang bisa dilakukan. Lebih baik mati. Begitu lebih terhormat.

Tapi Arung Palakka tidak memilih bunuh diri. Dia tidak mau mati begitu saja. Dia lari membawa sisa-sisa pasukan dan merantau ke Jawa dengan sebuah sumpah dalam hatinya, bahwa suatu hari akan dibebaskannya bangsanya yang tengah diperbudak. Whatever it takes!

Memang benar, Arung Palakka sudah membabi buta. Bersama gengnya, dia menjadi preman di pelabuhan-pelabuhan Batavia dan menarik perhatian petinggi VOC. Memang itu yang dia cari. Dia bahkan pernah membantu VOC mematahkan perlawanan orang-orang Minang di salah satu wilayah Sumatera Barat.

Arung Palakka mencari muka kepada pihak yang dianggap kuat untuk menjadi sekutunya nanti. Untuk menemaninya mengembangkan layar kembali ke tanah Sulawesi dan sekali lagi … bertempur untuk harga diri kaumnya! Menuntaskan rasa malu kala dulu gagal melepaskan mereka dari perbudakan.

Jangan dikira hepi-hepi saja perantauannya. Sempat Arung Palakka dan teman-temannya kena fitnah. Apalagi saat terjadi chaos di kepemimpinan VOC di Batavia. Kalau tidak salah, kedua sahabatnya terbunuh, sedangkan Arung Palakka berhasil merebut hati pemimpin VOC yang baru.

Singkat cerita, hari yang ditunggu-tunggunya datang juga. Sekian lama berusaha menunjukkan kesetiaannya pada VOC, pucuk dicinta ulam tiba. Akhirnya VOC meminta Arung Palakka dan pasukannnya bergabung dalam penyerbuan ke Pelabuhan Makassar yang dikuasai oleh Gowa-Tallo.

Begitulah hingga akhirnya perdagangan di perairan Timur Indonesia bisa jatuh ke tangan VOC. Salah Arung Palakka? Bisa jadi.

Gambar : indonesianhistorical.blogspot.com

Gambar : indonesianhistorical.blogspot.com

Tapi mengganggu juga itu predikat pengkhianat. Karena siapa yang dikhianati? Saat itu wilayah Nusantara belum dipersatukan dalam wadah NKRI lho :P. Inga’, inga’ hehehehe.

Masing-masing kerajaan berdiri sendiri-sendiri. Jadi ini seharusnya bukan cerita pengkhianatan terhadap Republik Indonesia. Belum ada lho, Kakaaaaa :p. Republiknya berdiri setelah lebih dari 200 tahun kemudian.

Meraba-raba kejadian di masa lampau itu sepertinya bakal repot kalau hanya terus-terusan memandang dari satu sisi. Apalagi hanya sepotong yang sengaja kita tekankan demi tercapainya maksud/tujuan pribadi.

Heran saya, di wall teman ada yang berkomentar soal sejarah pengkhianatan di Kerajaan Makassar yang konon dikomandai oleh orang Bugis. Itu tidak salah. Tapi tolong, kalau melihat asap, diperhatikan juga apinya dari mana ;). Kalau hanya asapnya yang kalian kibas-kibasan kita akan luput melihat kenapa ada asap? Pemantik apinya juga harus diwaspadai.

Lagipula ini perseteruan antara 2 kerajaan besar yang kebetulan masing-masing berasal dari suku yang berbeda. Jangan lagi kalian berusaha percikkan api kebencian yang tidak penting. Karena puluhan tahun lalu, Bugis-Makassar hidup damai berdampingan di tanah Sulsel. Kita sudah MOVE ON, Cuy! ^_^.

Enggak tahu ya dengan kalian. tapi antara Bugis dan Makassar sekarang tuh sudah seperti saudara saja. Kalau pun ada friksi tidak pernah sampai mesti perang atau bunuh-bunuhan. We’re so over it ;).

Jangan melulu hanya melihat kelihaian Arung Palakka membabi buta dalam mencari sekutu. Itu karena dia seorang petarung. Hidupnya tidak hanya untuk memikirkan dirinya sendiri yang seharusnya sudah hidup enak dengan masa depan cerah karena kecerdasannya yang menonjol. Dia bahkan sudah diterima dengan baik oleh orang tua asuhnya yang keturunan bangsawan Makassar.

Tapi dia tidak pernah lupa, dalam darahnya itu mengalir darah Bugis. Darah yang sama yang ada di jantung orang-orang yang tengah terhina hidupnya akibat perbudakan semena-mena.

Pelajaran yang diambil kan banyak. Perbudakan itu hal yang terlarang. Sudah seharusnya kita menentangnya.

Buat yang muslim tentu tahu, sebagian besar dosa yang kita lakukan mungkin bisa terampuni jika kita melakukan 3 hal berdasarkan prioritas. Anda tahu redemption nomor 1 itu apa? Memerdekakan satu orang hamba sahaya. Kemudian jika tak sanggup memberi makan 60 orang anak yatim, dan terakhir berpuasa 2 bulan berturut-turut.

Memerdekakan hamba sahaya dan menyantuni anak yatim lebih dianjurkan daripada berpuasa 2 bulan berturut-turut. Rahmatan lil aalamiin ;).

Dari sisi Arung Palakka juga ya banyak korsletnya :p. Jangan menghalalkan segala cara. Karena pada akhirnya ada yang namanya karma. Konon, saat sudah memimpin di Sulawesi, banyak petinggi-petinggi kerajaan yang bete dan menentang keras karena Arung Palakka loyal banget sama VOC. Selalu ikut bertempur dan membantu. Itu karena “utang” yang harus dibayarnya atas “jalan pintas” yang dipilihnya.

See? Kalau kalian lihat lebih tuntas dan lebih komplit, kalian akan tahu karakter orang itu tidak statis. Orang yang mungkin by default luhur budinya suatu hari bisa kena ujian dengan situasi dan kondisi yang sulit. Tidak itu namanya orang yang jahat sejak lahir kecuali kelainan genetik tertentu (which is very rare) yang pernah saya pelajari dulu saat SMA. Tidak karena dia lapar lalu dia mencuri maka dia adalah orang yang hina luar biasa. Tengok dulu, kenapa dia lapar, siapa yang membuat dia lapar bla bla bla.

Gambar : trashware.eu

Gambar : trashware.eu

Kita tidak sedang melakukan pembenaran tapi kita lebih baik memilih untuk tidak menghakimi. Tidak menghakimi itu sulit kalau kita tidak tahu persoalannya secara utuh. Untuk mengetahui secara utuh butuh waktu dan baca, baca, dan “baca” ;). Maka dari itu, tempo hari di status saya menuliskan kalimat dari seorang teman bahwa “Untuk mengkritik kita perlu ilmu…maka belajarlah” :).

Saya tidak suka, untuk menyerang orang-orang yang mereka benci, mereka membawa-bawa masa lalu dan bertindak seperti Hakim dengan seenak jidat melabeli siapa yang jahat siapa yang berkhianat. Al Hakim, Yang Mahabijaksana, itu sifat Sang Maha Esa, bukan ranah manusia biasa seperti kita ;).

Sejarah bukan untuk mengungkit-ngungkit kebencian untuk menakut-nakuti orang lain untuk mengkhawatirkan masa depan. Sejarah penting untuk penentuan masa depan. Jangan membaca sejarah dengan penuh kebencian apalagi memang sengaja untuk nyari-nyari salah. Satu, itu sia-sia. There’s nothing you can do about it now ;). Dua, untungnya apa coba?

Sejarah itu penentu masa depan. Hanya dan hanya kalau kita bisa petik pelajarannya tanpa perlu pusing memikirkan, “Ya Allah si anu jahat bener ya. Aduh ada ya orang sekejam itu.”

Sudah kau baca masa kecilnya Hitler, what he had gone thru. What he had seen. Napoleon Bonaparte? Lenin? Mengapa komunisme ada? Siapa Stalin? Dengan cara apa yang dibesarkan? Apa yang dialaminya? Di masa apa dia hidup? Bagaimana perputaran dunia saat itu?

Hati hanya akan rusuh dan rusuh kalau niatnya tidak untuk mencari kebaikan.

Dirahasiakannya masa depan itu bukan untuk petantang petenteng tebar-tebar ayat untuk mengancam orang-orang yang enggak sejalan, mengancam-ancam akan makin dekatnya hari akhir? Karena apa yang kalian mau tidak terwujud kalian ancam orang lain yang tidak sejalan? Bahwa hidup akan suram karena yang kalian inginkan tidak tercapai?

Setahu saya, di alquran tertulis jelas, bahkan Rasulullah pun berkali-kali menerangkan kepada kaum yang menentang bahwa Rasulullah sekali pun tidak tahu masalah gaib yang satu ini. 100% rahasia Allah. KetentuanNya semata. Bukan ranah manusia :).

Tugas kita ya terus mengingatkan untuk hal-hal yang baik, bukan mengancam-ngancam, sok-sok meramal masa depan. Bagus kalau ramalannya enak dibaca, lah ini, diramalnya kita bakal hancur -_-. Anu, anu, anu.

Kok senangnya mengutuk-ngutuk orang sih?

Sebuah kalimat teduh yang saya unduh via Google ini mungkin bisa menjadi penyejuk bagi kita semua. Bagaimana sebenarnya rahasia masa depan itu ^_^.

Gambar : notegraphy.com

Gambar : notegraphy.com

Apakah kalau kita sudah melakukan semua itu maka dunia akan berputar sesuai niat baik kita? Ya belum tentu. Penentunya kan Yang Mahakuasa, Maha Menguasai masa depan. Situ Mahakuasa bukan? :p

“God never requires us to succeed. He only requires that we try.” -Bunda Theresa-

Just try! Cobalah lebih banyak berprasangka baik. Tidak takut ya kau ramal buruk bangsamu sendiri. You’re part of us, aren’t you? ;).

Saat galau saat cemas, jika begitu sulit untuk “membaca” maka berdoalah. Berdoa yang baik-baik.

So what’s the secret of the future? Choose happiness over suffering. Always :).

***

14 thoughts on “Secret of The Future?

  1. Kalau hadits Rasulullah SAW tentang tanda-tanda hari akhir banyak kok, Mbak. Saya kira bukan menakut-nakuti cuman menyampaikan bahwa tanda2 Kiamat sudah banyak yang muncul. Untuk introspeksi saja. Jangan sampai kita kecolongan. Prasangka baik saja. Hehehe…!!!! Itu ilmu yang saya pahami selama ini. Salam dari Solo mbak :))

    • Iya setujuuu. Tapi bukannya ayat alquran itu kedudukannya lebih tinggi daripada ‘hadis’ ya :D. Walau banyak tanda-tanda dan menyuruh kita waspada, tak sedikit ayat dalam alquran yang menekankan, “Hanya ALLAH, satu-satunya yang mengetahui kapan hari akhir akan datang.” MOnggo dilahap sendiri ayat-ayatnya ^_^. Saya sulit mau berprasangka baik kalau diancam-ancam euy hihihi.

      • Hadits dan Alquran itu saling melengkapi. Alquran dan Hadits tidak ada yang lebih tinggi atau rendah. Coba dicari referensinya, mesti ada. Alquran lebih bersifat general dan Alhadits yang memperinci. Misal: alquran perintah sholat, hadits yang mendetail tentang gerakan dan waktu sholat yang lima waktu. Keduanya saling melengkapi dan seimbang.

        • masalahnya dalam masalah hari akhir, alquran tidak general.> Tapi membuat statement yang jelas dan tidak bermakna ganda ^_^. Diulang-ulang pula. Tapi tak masalah kalau ada yang mau mengkaji tanda-tanda kiamat. Monggo saja. Yang jelas, HANYA ALLAh yang Mahatahu ^_^. Soal shalat ya beda dong :D.

  2. …Konon, saat sudah memimpin di Sulawesi, banyak petinggi-petinggi kerajaan yang bete dan menentang keras karena Arung Palakka loyal banget sama VOC. Selalu ikut bertempur dan membantu. Itu karena “utang” yang harus dibayarnya atas “jalan pintas” yang dipilihnya….

    Konon, arung palakka pernah berpesan pada kerabatnya, “Seorang manusia dinilai dari mulutnya (baca: janji). Maka hati2lah dalam berbicara. Saya sudah ‘terlanjur’ dengan VOC. Semoga anak cucunya tidak mengulangi kesalahan yang sama”.

  3. “Sudah kau baca masa kecilnya Hitler, what he had gone thru. What he had seen. Napoleon Bonaparte? Lenin? Mengapa komunisme ada? Siapa Stalin? Dengan cara apa yang dibesarkan? Apa yang dialaminya? Di masa apa dia hidup? Bagaimana perputaran dunia saat itu?”

    ouhhh, sejarah.
    what an amazing

    • Hahahhahaha, cuma sebut-sebut doang kok :D. Saya juga enggak paham-paham amat. Sempat baca beberapa biografi tapi belum menyeluruh juga :D.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *